Sebagai
mahasiswa harus pandai menjaga dirinya dari bahaya NAPZA. NAPZA bukan
sekedar meninabobokan mahasiswa
tetapi juga mengancam masa depan mahasiswa baik secara individual maupun
sebagai generasi muda. Telah banyak data yang membuktikan tentang kehancuran
masa depan akibat NAPZA ini, mulai dari studi yang tidak pernah selesai sampai
hukuman pidana yang yang harus dijalani. Ada beberapa alasan yang menyebabkan mahasiswa terperosok
ke dalam NAPZA, antara lain: Mengira NAPZA
dapat menguatkan eksistensi diri (perasaan ingin diakui)
b.
Mengira NAPZA
dapat menambah rasa percaya diri
c. Mengira NAPZA
dapat melepaskan diri dari kebosanan dan frustasi
d. Menangkap pesan
keren dari media yang menayangkan figur yang pernah terjerumus penggunaan NAPZA
e.
Mengira NAPZA
dapat membuat pergaulan lebih luas dan beken
f.
Mengira dapat
terlihat lebih dewasa dengan menggunakan NAPZA
g. Mengira NAPZA
sebagai ekspresi pemberontakan
h.
Mengira NAPZA
dapat menghilangkan stress secara instan
i.
Alasan mencoba-coba
Mahasiswa
yang telah terjerumus dalam penggunaan NAPZA cenderung sulit keluar dari
kondisi tersebut, karena secara biologis
telah muncul “ketagihan”, secara
psikologis telah merasa nyaman dengan penggunaan NAPZA yang dianggap mampu
menjadi alat “pelarian” problem
psikologis dan dalam konteks jaringan peredaran, mereka akan selalu diawasi dan
dikendalikan agar tidak memberkan informasi “terlarang”
kepada pihak lain yang berakibat terbongkarnya jaringan tersebut.
Kondisi-kondisi inilah yang perlu dipahami oleh mahasiswa tentang betapa
berbahayanya apabila kita mulai menggunakan NAPZA.
Ada
beberapa solusi yang dapat kita lakukan agar tidak terjerumus dalam pemakaian
NAPZA, antara lain: memilih lingkungan pergaulan yang sehat dan aman yang mampu
menunjang peningkatkan kualitas diri (akademik dan non akademik), mengarahkan
perhatian terhadap hal-hal yang positif, mengalokasikan waktu lebih banyak
kepada kegiatan pengembangan potensi diri, memikirkan masa depan yang akan
dijalani dengan melihat masa-masa sebelumnya yang sudah dijalani (pengorbanan
orang tua, tanggungjawab terhadap keluarga dan harapan orang lain) serta adanya
upaya peningkatan dan mengaplikasikan perilaku dan nilai-nilai agama dalam
kehidupan sehari-hari.
Sumber Rujukan
Fajar, M & Effendi M. 2000. Dunia
Perguruan Tinggi & Kemahasiswaan. UMM Press: Malang.
Hadi, Sutrisno. 1989. Metode
Research. Yayasana Penerbitan Fak. Psikologi
UGM: Yogyakarta.
Havighurst, R.1992. Psikologi
Perkembangan. Erlangga: Jakarta.
Mu’tadin, Z.2002. Kemandirian Sebagai
Kebutuhan Psikologis Pada Remaja, diakses pada tanggal 4 November 2014 dari
http//www.e-psikologi.com/remaja/250602.htm
Rini,J.2001. Asertifitas, diakses
pada tanggal 4 November 2014 dari http//www.e-psikologi.com/dewasa/assertif.htm
http://www.kopertis4.or.id//akreditasi/PEDOMAN/Buku/Suasana Akademik.pdf

Tidak ada komentar:
Posting Komentar