21 Juni 2016

Menghindari Penggunaan NAPZA (Narkotik, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya)



Sebagai mahasiswa  harus pandai menjaga dirinya dari bahaya NAPZA. NAPZA bukan sekedar meninabobokan mahasiswa tetapi juga mengancam masa depan mahasiswa baik secara individual maupun sebagai generasi muda. Telah banyak data yang membuktikan tentang kehancuran masa depan akibat NAPZA ini, mulai dari studi yang tidak pernah selesai sampai hukuman pidana yang yang harus dijalani. Ada beberapa alasan yang menyebabkan mahasiswa terperosok ke dalam NAPZA, antara lain: Mengira NAPZA dapat menguatkan eksistensi diri (perasaan ingin diakui)

b.      Mengira NAPZA dapat menambah rasa percaya diri
c.       Mengira NAPZA dapat melepaskan diri dari kebosanan dan frustasi
d.      Menangkap pesan keren dari media yang menayangkan figur yang pernah terjerumus penggunaan NAPZA
e.       Mengira NAPZA dapat membuat pergaulan lebih luas dan beken
f.       Mengira dapat terlihat lebih dewasa dengan menggunakan NAPZA
g.      Mengira NAPZA sebagai ekspresi pemberontakan
h.      Mengira NAPZA dapat menghilangkan stress secara instan
i.        Alasan mencoba-coba
Mahasiswa yang telah terjerumus dalam penggunaan NAPZA cenderung sulit keluar dari kondisi tersebut, karena secara biologis telah muncul “ketagihan”, secara psikologis telah merasa nyaman dengan penggunaan NAPZA yang dianggap mampu menjadi alat “pelarian” problem psikologis dan dalam konteks jaringan peredaran, mereka akan selalu diawasi dan dikendalikan agar tidak memberkan informasi “terlarang” kepada pihak lain yang berakibat terbongkarnya jaringan tersebut. Kondisi-kondisi inilah yang perlu dipahami oleh mahasiswa tentang betapa berbahayanya apabila kita mulai menggunakan NAPZA.
Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan agar tidak terjerumus dalam pemakaian NAPZA, antara lain: memilih lingkungan pergaulan yang sehat dan aman yang mampu menunjang peningkatkan kualitas diri (akademik dan non akademik), mengarahkan perhatian terhadap hal-hal yang positif, mengalokasikan waktu lebih banyak kepada kegiatan pengembangan potensi diri, memikirkan masa depan yang akan dijalani dengan melihat masa-masa sebelumnya yang sudah dijalani (pengorbanan orang tua, tanggungjawab terhadap keluarga dan harapan orang lain) serta adanya upaya peningkatan dan mengaplikasikan perilaku dan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber Rujukan

Fajar, M & Effendi M. 2000. Dunia Perguruan Tinggi & Kemahasiswaan. UMM Press: Malang.

Hadi, Sutrisno. 1989. Metode Research. Yayasana Penerbitan Fak. Psikologi UGM: Yogyakarta.

Havighurst, R.1992. Psikologi Perkembangan. Erlangga: Jakarta.

Mu’tadin, Z.2002. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Pada Remaja, diakses pada tanggal 4 November 2014 dari http//www.e-psikologi.com/remaja/250602.htm

Rini,J.2001. Asertifitas, diakses pada tanggal 4 November 2014 dari http//www.e-psikologi.com/dewasa/assertif.htm

http://www.kopertis4.or.id//akreditasi/PEDOMAN/Buku/Suasana Akademik.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar