11 Maret 2015

KETERAMPILAN AKADEMIK


          
Muhammad Hadidi S.Sy
Perkuliahan adalah dunia kompleks yang penuh tantangan bagi mahasiswa baru, transisi dari dunia remaja menuju kedewasaan, mengharuskan setiap individu bisa lebih mandiri dan tegas atas langkah yang akan diambil. Dalam pengambil keputusan dibutuhkan kematangan emosional, wawasan yang luas, dan tanggung jawab tentunya.
            Berbekal itu saja tidak cukup, karena dunia kampus adalah dunia akademisi, dimana semuanya adalah ilmiah, sehingga menuntut para personal yang berada didalamnya untuk selalu meng up- grade diri dari waktu ke waktu terkait keilmuan, bila tidak seperti itu maka kita akan seperti seseorang yang tidak mengerti apa- apa dan akan tertinggal dari yang lainnya.
            Kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap akademisi adalah membaca, berbicara dan menulis. Tiga serangkai ini adalah kemampuan yang tidak bisa dilepaskan dalam dunia kampus, karena kecenderungan kegiatan/ aktivitas yang dijalani menggunakan tiga hal tersebut. Seseorang dapat meningkatkan wawasan keilmuannya dengan membaca, dan kualitas berbicara seseorang dapat terlihat dari seberapa banyak dia membaca, serta tidak kalah pentingnya adalah menulis, karena dengan menulis ilmu yang disampaikan akan tetap bertahan, dengan tiga bekal kemampuan tersebut akan menghantarkan seorang akademisi menuju gerbang kesuksesan.     



MEMBACA ITU MENARIK
Perkembangan zaman, mempengaruhi konteks dari definisi buku itu sendiri yakni tidak terbatas sebagai lembaran kertas yang penuh tulisan dan dijilid, namun telah berkembang luas seperti buku digital, yang dapat diperoleh di halaman – halaman internet atau perbincangan anak sekarang “ingin mengetahui apapun langsung ke mbah google aja”. Dengan perkembangan media informasi yang telah berkembang memudahkan akses masyarakat untuk membaca segala hal yang ingin diketahui.
Buku adalah jendela dunia, dan kunci untuk membuka jendela tersebut yaitu dengan membaca. Membaca memang sebuah aktifitas yang cukup melelahkan, karena dibutuhkan kerja otak untuk bisa menerima dan memasukkan kedalam memori. Bahkan Nabi Muhammad Saw. sampai meminta tubuhnya diselimuti karena menggigil ketika malaikat Jibril meminta untuk membaca.
http://madaraonline.files.wordpress.com/2011/04/read1.gif?w=300&h=193Tarigan (1979:7) berpendapat bahwa    Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh   penulis   melalui   media    kata - kata atau bahasa tulis. Sedangkan Kridalaksana Harimurti (1984:122) mengatakan Membaca adalah menggali informasi dari teks, baik yang berupa tulisan maupun dari gambar atau diagram maupun dari kombinasi itu semua dan Soedarso (1989:4) berpendapat bahwa Membaca adalah aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat.

A.    Manfaat Membaca
Bobbi (2009) menuliskan dengan membaca akan membantu menemukan apa yang kita inginkan, mengikuti keinginan serta bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Membaca tidak sekedar menambah keilmuan, melainkan juga bisa memberikan perubahan pada hidup seseorang, dan aktifitas membaca bukan sekedar pada buku,  tapi “bacalah” karena Tuhan-mu telah menciptakan. Karena disini seluruh jagad raya merupakan “buku” yang harus kita baca untuk dipahami.
Al-Qarni, dalam bukunya, “La Tahzan” (2003:128-129) mengungkapkan tentang banyaknya manfaat membaca, yaitu di antaranya sebagai berikut :
1.        Membaca menghilangkan kekhawatiran, kecemasan dan kegundahan.
2.        Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan.
3.        Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
4.        Dengan sering membaca, orang bisa mengembangakan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5.        Membaca membantu mengembangkan akal,mencerahkan pikiran dan membersihkan hati nurani.
6.        Membaca meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan daya ingat serta pemahaman.
7.        Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para ulama
8.        Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
9.        Menambah keimanan, serta membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
10.    Membaca dapat membantu pikiran agar lebih tenang, hati lebih terarah, dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma.
11.    Membaca dapat membantu memahami, proses terjadinya kata secara lebih detil,  proses pembentukan kalimat, untuk menangkap konsep dan untuk memahami apa yang berada di balik tulisan.
http://i18.photobucket.com/albums/b136/bulatpenuh/pencilbooks/teknik-baca.jpgSelain hal- hal diatas manfaat dari membaca bagi mahasiswa yaitu bekal dalam pembuatan makalah, karya tulis dan juga tugas akhir yaitu skripsi. Kualitas dari tiga hal tersebut dapat terlihat dari kemampuan membaca seseorang, dan kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia dalam hal budaya membaca masih rendah, oleh karena itu diharapkan budaya baca harus ditanamkan sejak dini.
    
B.     Metode SQ3R
Kemampuan setiap orang dalam memahami apa yang dibaca berbeda-beda. Hal ini tergantung pada perbendaharaan yang kita miliki, minat, jangkauan mata (fiksasi), kecepatan interpretasi, latar belakang pengalaman sebelumnya, kemampuan intelektual, keakraban dengan ide yang dibaca, tujuan membaca dan keluwesan mengatur kecepatan. sistem membaca ini dikemukakan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941 dengan menggunakan 5 (lima) langkah yaitu :
a.         Survey
Survey atau prabaca adalah teknik untuk mengenali bahan sebelum membacanya secara lengkap, dilakukan untuk mengenal organisasi dan ikhtiar umum yang akan dibaca. Prabaca dilakukan hanya beberapa menit tetapi dengan cara yang sistematis. Tujuan dari survey (prabaca) ini adalah untuk mempercepat menangkap arti, mendapatkan abstrak, mengetahui ide-ide yang penting, melihat susunan (organisasi) bahan bacaan tersebut, mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan dan memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah. Misalnya untuk survey bahan bacaan berupa buku kita dapat menelusuri daftar isi, kata pengantar, table atau grafik dan indeks buku. Setelah melakukan prabaca, kita dapat menentukan sikap apakah akan membaca buku tersebut atau tidak.
b.        Question
Bersamaan pada saat survey, ajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan tersebut dengan mengubah judul atau subjudul dengan menggunakan kata-kata siapa, apa, mengapa, kapan, dimana atau bagaimana (who, what, why, when, where atau how). Misalnya judul buku “Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan”, maka pertanyaan yang bisa kita berikan adalah mengapa perlu pembentukan kepribadian dan kepemimpinan, kapan dilakukan, siapa yang melakukan atau bagaimana membentuknya. Dengan memberikan berbagai pertanyaan, baik yang secara umum maupun detail, kita bisa lebih aktif dan mudah menangkap gagasan yang ada dalam buku tersebut.
c.         Read
Pada tahap ini konsentrasikan pada penguasaan ide pokok dan detail yang penting yang mendukung ide pokok. Kita bisa memperlambat cara membaca di bagian-bagian penting atau dianggap sulit dan mempercepat kembali pada bagian-bagian yang tidak penting atau yang telah kita ketahui. Pada tahap ini disarankan untuk tidak membuat catatan-catatan karena hal ini dapat memperlambat bacaan kita dan mungkin hanya kutipan kata-kata penulisnya saja. Disamping itu jangan membuat tanda-tanda seperti garis bawah pada kata atau frase tertentu karena bisa jadi setelah menyelesaikan bacaan tersebut kita salah dalam memilih kata atau frase tersebut. Jika ada sesuatu yang menarik atau dianggap penting, kita cukup memberi tanda silang di pinggir halaman kemudian di akhir bacaan dapat kita cek lagi.
d.        Recite (Recall)
Setiap selesai membaca suatu bagian, berhentilah sejenak dan mencoba menjawab beberapa pertanyaan pada bagian tersebut atau menyebutkan hal-hal penting dalam bagian tersebut. Pada tahap ini kita juga dapat membuat catatan-catatan seperlunya dan mengulangi lagi bacaan tersebut jika masih mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan. Tahap mengutarakan kembali ini merupakan hal yang penting agar kita tidak mudah melupakan apa yang telah kita baca. Sebelum memasuki langkah berikutnya, kita harus memastikan bahwa semua langkah sebelumnya telah kita lakukan.  Adapun waktu yang kita butuhkan untuk mengulangi lagi adalah separuh dari waktu yang kita gunakan untuk membaca. Hal ini bukan berarti kita memboroskan waktu, melainkan kondisi ini memang perlu dilakukan. Justru kalau kita sekedar membaca itulah dapat dikatakan memboroskan waktu jika kita mengerti sebentar apa yang kit abaca kemudian segera lupa terhadap isi bacaan tersebut.
e.         Review
Sekalipun saat membaca kita menguasai isi bacaan sebanyak 85%, dalam waktu 8 jam penguasaan detail bahan bacaan kita tinggal 40% dan dalam waktu 2 minggu pemahaman kita tinggal 20%. Ini artinya daya ingat kita terbatas dan dibutuhkan tahap review untuk membantu daya tahan ingatan kita dan memperjelas pemahaman hal-hal penting yang mungkin kita lewati. Caranya adalah dengan mengulangi menelusuri kembali judul dan subjudul  atau bagian-bagian penting lainnya setelah menyelesaikan seluruh bacaan untuk menemukan pokok-pokok penting yang perlu diingat kembali.
Qurash Shihab (2006) dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an menjelaskan bahwa perulangan ini mengindikasikan bahwa membaca memang harus dilakukan terus menerus, bahkan berulang untuk bacaan yang sama pun tidak sedikit pun memberikan kerugian. Membaca sesuatu secara berulang dapat menghadirkan pemahaman baru, dengan memberikan tafsir baru atas bacaan.

C.     Trik dan Tips Dalam membaca
“Ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi”
Pepatah diatas bukan sekedar sebagai wacana, namun begitulah harusnya. Seseorang bisa mengetahui banyak hal atau bisa melakukan berbagai karya adalah karena belajar. Belajar disini tidak sekedar kita menggunakan akal pikir namun aplikasi. Membacapun demikian, dibutuhkan aplikasi dari apa yang telah kita baca.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan aktifitas membaca, diantaranya:
1.      Kemauan / Motivasi
Kemauan atau motivasi adalah hal utama yang harus dimiliki untuk membaca. Selain itu kemauan sebagai sumber energi yang menggerakkan seseorang untuk melakukan amal, termasuk didalamnya adalah membaca. Seperti apa yang ingin diketahui? apa yang ingin dipelajari? Karena bila kita membaca tidak memiliki kemauan atau motivasi maka apapun yang kit a baca tidak menjadikan kita bertambah keilmuan dan akan sia-sia. Ketika kita membaca buku atau apapun bertanya pada sendiri tentang apa yang bisa membuatku tertarik? Kemudian memikirkan beberapa jawaban. Maka pemahaman akan bertambah saat otak berusaha menemukan jawaban-jawabannya.
Aplikasi dalam membaca bukan sekedar dari motivasi diri, motivasi dari luar juga penting. Misalkan tempat kita membaca, pencahayaan untuk membaca, bolpoint warna-warni dan kertas atau notes untuk mencatat hal-hal yang dirasa penting
2.      Konsentrasi
Banyak orang menganggap bahwa berkonsentrasi atau memusatkan perhatian pada suatu hal adalah pekerjaan berat dan sulit dilakukan. Apalagi orang berada di tengah himpitan pekerjaan dan kesibukan yang tidak sedikit. Tak heran, perhatian orang sering lari tak karuan ke beberapa hal. Jika anggapan ini masih tetap dipertahankan, kemungkinan besar hasilnya tidak seberapa. Jika Anda membaca buku, tetapi pada saat yang sama konsentrasi Anda terbang ke mana-mana, isi atau pesannya tak akan kuat melekat. Anda mesti ingat baik-baik bahwa berkonsentrasi berarti memusatkan kesadaran. Untuk bisa memahami isi sebuah buku, Anda mesti bisa sadar pada apa yang sedang Anda baca. Itu harus.
3.      Hasrat dan gairah
Untuk bisa tenggelam dan kemudian betah pada halaman-halaman buku, Anda harus punya hasrat dan gairah yang besar. Hasrat untuk memahami isinya dan gairah untuk meraup ilmu dan pengetahuan. Tanpa kedua elemen kunci ini, Anda hanya akan membuang-buang waktu. Tanpa kedua sukma membaca ini, Anda tak ubahnya patung di tengah lautan kalimat, kata, huruf, dan angka yang terbuka lebar. Hasrat dan gairah yang besar akan melecut semangat Anda untuk "menghabisi" isi buku dalam batas waktu tertentu.
4.      "Menghilangkan" suara batin
Anda pasti sering berhadapan dengan godaan dari dalam hati. Baru saja beberapa halaman Anda lewati, muncul suara batin yang menggoda Anda untuk mengalihkan perhatian ke hal-hal lain di luar buku atau tema yang sedang Anda hadapi. Suara batin seperti itu jelas menghambat gerak mata dan kecepatan pikiran Anda. Tak heran, Anda bisa menghabiskan satu atau dua jam di atas satu atau dua halaman buku. Supaya Anda tidak tergoda, apalagi terjebak, Anda harus bisa "menghilangkan" suara itu. Salah satu cara sederhana adalah meyakinkan diri bahwa sekarang adalah saat untuk membaca buku dan mengerti persoalan dan bukannya berkhayal. Usaha ini jelas tak sekali jadi. Butuh keberanian yang besar, kehendak yang kuat dan latihan yang terus menerus.
5.      Gunakan jari sebagai penunjuk (jika diperlukan)
Salah satu cara sederhana untuk menghilangkan suara batin dan mempertahankan konsentrasi adalah melibatkan jari tangan sebagai penunjuk. Banyak orang mungkin beranggapan bahwa campur tangan jari ketika membaca dapat mengganggu konsentrasi. Padahal, gerakan jari tangan justru merangsang kesadaran dan konsentrasi Anda untuk terlibat penuh dan terarah pada halaman dan barisan kalimat yang sedang Anda hadapi. Gerakan jari tangan bisa membuat Anda tetap fokus dan berada dalam kecepatan membaca yang konstan.
6.      Warnai dengan stabilo
Selain dengan jari tangan, trik sederhana lain yang bisa Anda gunakan adalah mewarnai kalimat, frasa atau kata dengan stabilo atau spidol. Kata, kalimat, klausa atau frasa yang digarisbawahi mesti penting dan punya arti. Mengapa? Tidak semua kata atau kalimat dalam buku atau halaman yang dibaca itu penting. Bisa jadi banyak kata atau kalimat yang menjadi penjelasan atau penjabaran lebih lanjut. Di sini Anda ditantang untuk menemukan inti yang tepat. Frasa, kata atau kalimat yang digarisbawahi berguna sebagai benang merah atau penuntun untuk mendapatkan idenya. Jika perlu, gunakan satu atau dua warna untuk membedakan makna dan arti.
7.      Maju terus
Kadang-kadang, ketika Anda sedang membaca sebuah kalimat, Anda merasa ingin membaca keterkaitannya dengan kalimat sebelumnya. Ada baiknya demikian. Tapi jika Anda tetap berpegang pada prinsip itu, Anda tak akan maju-maju. Yang harus Anda lakukan adalah maju terus. Baca terus. Pasti ada penjelasan di depan yang mempertahankan laju pemikiran Anda. Biarkan saja kalimat yang telah Anda lewatkan dan tetaplah fokus untuk membaca bagian selanjutnya.
8.      Lompati hal yang tidak menarik
Tidak semua yang ditulis itu perlu diingat. Tidak semua pokok bahasan yang diulas itu penting. Bisa juga ulasan atau rentetan kalimat yang panjang itu hanyalah permainan bahasa semata. Karena itu, lewati saja bagian-bagian yang tidak penting. Itu sebabnya minat yang tadi muncul menjadi sangat bermanfaat di sini.
9.      Setengah jam, setengah jam
Tidak disarankan untuk membaca dua jam penuh sekaligus. Lebih baik dibagi empat sesi, di mana masing-masing sesi berlangsung selama 30 menit plus istirahat 5-10 menit. Menurut penelitian tentang cara kerja otak, otak manusia memiliki kemampuan menerima informasi yang penuh (100 persen) ketika pertama kali membaca. Kemampuan ini akan terus berkurang selama proses membaca. Jeda itu bisa Anda gunakan untuk meneguk segelas air putih, mendengarkan musik, jalan-jalan sebentar atau relaks sejenak.
10.  Membuat peta pikiran (Mind Mapping)
Ini adalah teknik meringkas suatu tema atau pokok pikiran yang ada di dalam buku. Awali dengan menuliskan tema pokok di tengah-tengah halaman kertas kosong, lalu kembangkan seperti sebuah pohon dengan banyak akar. Akar-akar itu adalah penjabaran atau subtema. Dengan cara seperti itu, pikiran Anda akan tertata mengikuti pokok pikiran buku yang sedang Anda baca.
11.  Sekelompok kata atau kalimat
Coba tangkap sekelompok kata dengan mata Anda setiap kali menggerakannya. Jangan tergoda untuk membaca kata per kata atau kalimat per kalimat. Untuk buku-buku berbahasa Indonesia, Anda hanya perlu menggerakkan sekali mata pada setumpuk kata atau kalimat. Demikian pun untuk menerjemahkan kata demi kata. Tangkap sekelompok kata atau sebaris kalimat dan pahami isinya. Itu sudah sangat membantu

D.    Membaca Kritis
Membaca adalah aktifitas wajib bagi siapapun yang ingin mengetahui lebih banyak tentang hal-hal yang ada di luar dirinya. Dengan membaca kita akan tahu hal-hal baru yang ada di dekitar kita, namun aktivitas membaca tidak tidak akan memberikan manfaat banyak kepada si pembaca, jika tidak dibarengi dengan sikap kritis terhadap bahan bacaan yang kita baca. Oleh sebab itu dibutuhkanlah sikap kritis dalam membaca. Critical reading adalah sejenis membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati, mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan hanya mencari kesalahan (Albert dalam Tarigan 1979:89).
a.         Tahapan Membaca Kritis
-       Membaca Baris.
Pembaca harus memahami segala sesuatu yang dikatakan oleh penulis, dengan artian bahwa pembaca harus mampu memahami isi bacaan secara menyeluruh.
-       Membaca Antar Baris.
Pembaca harus mampu memahami maksud penulis yang tercermin dalam wacana yang ditulisnya. Dalam hal ini berarti pembaca harus mampu menggali lebih jauh pemahaman atas makna bacaan sapai pada ditemukannya berbagai maksud pengarang menulis teks tersebut.
-       Membaca di Balik Baris.
Artinya pembaca harus mampu menggambarkan generalisasi isi bacaan dan mampu membuat evaluasai atas isi bacaan tersebut bersarkan skemata yang dimilikinya.
            Berdasarkan tahapan membaca kritis tersebut, maka tahapan pelaksanaannya menggunakan metode sebagai berikut:
Ø  Tahap Prabaca
1.      Mempersiapkan bahan bacaan
2.      Trainer mendemonstrasikan kemampuan membaca kritis
3.      Menyusun hepotesis
Ø  Tahap Membaca
1.      Membaca baris
2.      Membaca antar baris
3.      Membaca dibalik baris
Ø  Tahapan Pasca Baca
1.      Membuktikan hipotesisi
2.      Menulis kratif



DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Memebaca Berbasis Pendidikan Karakter. PT Rafika Aditama. Bandung
Al Qarni, 2003. La Tahzan: Jangan Bersedih. Qisthi Press. Jakarta.  
Bobbi, 2009. Quantum Reader Membaca Lebih Efektif, Lebih Bermakna, dan lebih cerdas. Kaifa. Bandung
Hernowo, 2003. Quantum Reading. Bandung: MLC.
Kridalaksana Harimurti (1984), Kamus Linguistik. PT Gramedia, Jakarta.
Shihab, Q. (2006). Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Tarigan Henry Guntur, 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa, Bandung.



MENULIS ITU MUDAH

“ Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta dibiarkan
menumpuk tanpa dimanfaatkan’’ [Gordon Smith]


A.      Menulis Menurut Para Ahli
218321_0_kursus_menulis_writing_course            Definisi menulis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: Menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat, dan sebagainya) dengan tulisan. Menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa. Dalam pembagian kemampuan berbahasa, menulis selalu diletakkan paling akhir setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca. Meskipun selalu ditulis paling akhir, bukan berarti menulis merupakan kemampuan yang tidak penting.
Dalam menulis semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh agar mendapat hasil yang benar-benar baik. Henry Guntur Tarigan (1986: 15) menyatakan bahwa menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai.
Menurut Djago Tarigan dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) menulis berarti mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Lado dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) juga mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis yaitu: meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain.
Menulis dapat dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Heaton dalam St. Y. Slamet (2008: 141) menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks.
Menurut Gebhardt dan Dawn Rodrigues (1989: 1) writing is one of the most important things you do in college. Menulis merupakan salah satu hal paling penting yang kamu lakukan di sekolah. Kemampuan menulis yang baik memegang peranan yang penting dalam kesuksesan, baik itu menulis laporan, proposal atau tugas di sekolah.
Pengertian menulis diungkapkan juga oleh Barli Bram (2002: 7) in principle, to write means to try to produce or reproduce writen message. Barli Bram mengartikan menulis sebagai suatu usaha untuk membuat atau mereka ulang tulisan yang sudah ada.    Menurut Eric Gould, Robert DiYanni, dan William Smith (1989: 18) menyebutkan writing is a creative act, the act of writing is creative because its requires to interpret or make sense of something: a experience, a text, an event. Menulis adalah perilaku kreatif, perilaku menulis kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu: sebuah pengalaman, tulisan, peristiwa.
M. Atar Semi (2007: 14) dalam bukunya mengungkapkan pengertian menulis adalah suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Burhan Nurgiantoro (1988: 273) menyatakan bahwa menulis adalah aktivitas aktif produktif, yaitu aktivitas menghasilkan bahasa. Menulis menurut McCrimmon dalam St. Y. Slamet (2008: 141) merupakan kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu subjek, memilih hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara menuliskannya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas. St. Y. Slamet (2008: 72) sendiri mengemukakan pendapatnya tentang menulis yaitu kegiatan yang memerlukan kemampuan yang bersifat kompleks. (Anonimous,2011).

B.       Pilar-Pilar Menulis
1. Menulis Tidak Perlu Bakat.
Menulis itu ketrampilan praktis dan tidak ada hubungannya dengan bakat. Artinya seorang akan bisa menulis kalau latihan terus-menerus. Bedakan antara “belajar berenang” dengan belajar “tentang berenang”. Jika seseorang ingin belajar berenang maka ia harus terjun langsung ke air. Pertama-tama tentu akan sulit, bahkan diselingi dengan minum air, tetapi lama-kelamaan akan bisa. Sedangkan belajar tentang berenang adalah belajar “tentang” saja, dan ia ada dalam dunia imajinasi/abstrak.
2. Teori Kendi
Amati sebuah kendi. Kendi itu hanya akan bisa dituangkan airnya untuk diminum kalau ia sudah diberi air sebelumnya. Otak kita ibaratkan kendi itu tadi. Seberapa keras usaha kita untuk menulis tetapi tidak pernah “memberi air” pada tubuh kita, sulit untuk tak mengatakan tidak bisa menulis. “Air” yang dimaksud adalah membaca, mengamati, mengikuti diskusi, membaca koran dll.
3. Filsafat Jalan Kaki
Orang menulis perlu tahapan. Sama seperti orang jalan kaki harus dimulai dari satu langkah terlebih dahulu. Bagaimana mungkin ia bisa langsung menapak dalam jarak 10 meter? Maka menulis dimulai dari thema-thema ringan (dunia mahasiswa, remaja, televisi, musik atau yang Anda senangi dulu), termasuk memilih media yang lebih gampang. Suatu saat nanti “langkah” kita akan semakin menjauh. Jadi, jangan punya motto “Nafsu besar, tenaga kurang”. “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)” (Al Insyiqaq: 19).
4. Sekolah Dimana?
Menulis tidak perlu sekolah formal. Siapa saja bisa menjadi penulis. Sekolah formal hanya katarsis (pemercepat proses) dan bukan faktor utama. Sekolah menulis ada di masyarakat itu. Bukankah Emha, Soedjatmoko, Adam Malik, Arswendo Atmowiloto sukses menulis tanpa pendidikan formal yang tinggi? Maka, jangan ragu menulis karena tidak kuliah di Fakultas/Jurusan Komunikasi. Itu belum jaminan.

C.      Motivasi Menulis
            Sesungguhnya kita semua memiliki bakat untuk menulis, mengirim sms pastinya melalui tahap menulis, yakni merangkai huruf menjadi kata dan akhirnya menjadi kalimat yang indah dan tersusun rapi. Bukan saja Sms,senam jari juga sering dilakukan saat meng up-date Facebook, Twitter dan Blog.
            Menurut Solihin (2007) dalam Kuncoro (2009), Ada beberapa hal yang dapat menumbuhan motivasi menulis yakni sebagai berikut :
  1. Memposisikan bahwa menulis merupakan bagian dari Ibadah. Jika Motivasi menulis atau menjadi penulis adalah ibdah, maka ketika tidak menjalankan berarti tidak menjalankan ibadah.
  2. Menulis adalah perjuangan. Perjuangan tidak selalu identik dengan mengangkat senjata, kita ketahui sendiri dizaman sekarang ini banyak hal- hal yang terjadi keluar dari norma, hukum dan juga etika, dengan menulis kita bisa melawan itu semua melalui tulisan.
Selain itu, penulis merasakan sendiri kebermanfaatan dari menulis yakni dapat mendapatkan penghasilan. Penghasilan kaitan erat dengan uang, berbicara tentang uang, tidak akan ada habisnya. Tidak ada satu orangpun didunia ini yang tidak memerlukan, meski uang bukan segala-galanya, namun dari uang kita bisa melakukan sesuatu.  Setiap orang juga pastinya memiliki kemampuan yang berbeda termaksud dalam hal kepemilikkan atas uang, ada beberapa mahasiswa yang masuk ke dunia kampus dengan modal Beasiswa, atau ada juga yang secara finance mampu dengan backingan dari orangtua namun merasa ketidakpuasan sehingga ingin mencari penghasilan sendiri. Dengan beberapa alasan yang berbeda, menulis dapat menjadi kegiatan yang menarik untuk dilakoni karena Motivasinya adalah mendapatkan penghasilan.
Bila masih tidak mau menulis,semoga alasan yang satu ini bisa membangkitkan semangat dan menumbuhkan motivasi untuk menulis. Ada kata bijak yang menurut penulis cukup memotivasi yakni Dengan Prestasi Orang Akan Mengingat Dirimu.

D.      Persiapan Menulis
1. Menggali Ide
-          Mengamati
Mengamati di sini adalah mencermati keadaan sekitar. Berbagai fenomena di masyarakat itu semua merupakan bahan  untuk menulis.
-          Membaca Koran
Sering ide muncul setelah kita membaca koran. Bagaimana mungkin kita akan bisa menemukan ide tanpa tahu informasi yang terjadi sehari-hari? Maka, membaca koran adalah wajib.
-          Rencanakan Tulis Apa Adanya
Ada kalanya penulis pemula malu untuk menulis. Rencanakan tulis apa adanya. Biarkan teman yang lain menggunakan teori mutakhir. Tetapi bisa jadi mereka hanya “pinter ngomong” saja dan tak bisa menulis. Maka, jangan resah Anda belum menguasai “teori” itu. Suatu saat yakinlah semua akan bisa di atasi.
2. Mengolah Ide
-          Merenung
-          Mengkaitkan dengan hal lain
3. Menuang Ide
-          Tunggu mood (suasana hati)
Ada kalanya mood muncul dalam situasi yang sepi. Maka, mood biasanya muncul      setelah jam 9 malam atau sebelum Subuh. Meskipun, kalau kita sudah biasa menulis, mood bisa muncul sewaktu-waktu.
-          Tulis Ada adanya
      Tulislah dengan dikonsep dulu, lakukan editing, suruh orang lain    membaca.

4. Menguji Ide
            - Aktualkah ide tersebut?
            - Bergunakah ide tersebut bagi publik.
- Cukupkah wawasan yang kita miliki untuk mengembangkan ide tersebut dalam sebuah tulisan?
- Pernahkah ditulis oleh orang lain? Jika pernah, temukan angel (sudut pandang) lain!

5. Mengumpulkan Bahan (referensi)
Setelah mendapatkan ide untuk menulis tentang suatu masalah, maka siapkan bahan-bahan (referensi) yang dapat mendukung pengembangan ide tersebut menjadi sebuah tulisan (artikel): buku, tulisan-tulisan, atau kliping koran tentang masalah yang akan kita tulis itu. Di sinilah pentingnya kita memiliki perpustakaan pribadi atau kliping koran/majalah.
6.    Mulai menulis
Bagi pemula, ketika memulai menulis, jangan pikirkan harus langsung membuat tulisan bagus. Langsung saja tuliskan apa yang ada di pikiran dengan gaya bebas, layaknya menulis surat, mengisi diary (buku harian), atau sejenisnya.

E.       Proses Menulis
Mendaftar
 
 
Pilih dan batasi topik
 
 
 



























DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2011. Pengertian Menulis Menurut Para Ahli, diakses di http://duniabaca.com/pengertian-menulis-menurut-para-ahli.html (4 Maret 2012) 
Hernowo, 2010. Mengatasi Hambatan Menulis, diakses di http://tetikfirawati.com/2010/05/10/mengatasi-hambatan-menulis, (9 Maret 2012)
Kuncoro, 2009. Mahir Menulis (Kiat Jitu Menulis artikel Opin, Kolom & Resensi Buku). Jakarta : Erlangga.
Resist, Jurnal. 2008. Writing Project. Malang.
Ridwan, 2009. Pengertian Dan Panduan – Petunjuk Teknik Menulis Makalah, diakses di http://ridwanaz.com/umum/akademik/pengertian-dan-panduan-atau-petunjuk-teknik-menulis-makalah/, (6 Maret 2012)
Nurudin. 2001. Menulis Artikel itu Gampang. Semarang: Effhar.
_______.  2009. Kiat Meresensi Buku di Media Cetak. Jakarta: Murai Kencana.
_______.  2007. Dasar-dasar Penulisan. Malang: UMM Press.







KETERAMPILAN BERBICARA

A.    Fungsi Komunikasi
Flowchart: Process: Fungsi komunikasi :
1.	Menyampaikan pikiran dan perasaan
2.	Membangun hubungan interpersonal
3.	Penggambaran diri

Ketrampilan berkomunikasi merupakan salah satu hal terpenting yang harus dipelajari dalam kehidupan manusia. Melalui komunikasi kita menyampaikan apa yang kita fikirkan dan juga rasakan. Melalui komunikasi pula kita membangun hubungan dengan sesama, suatu hal yang menjadi kebutuhan dasar manusia (mahluk sosial). Oleh karenanya ketidakmampuan berkomunikasi dapat menyebabkan keterasingan, depresi, kegagalan pemenuhan kebutuhan hidup, bahkan kematian itu sendiri.
Dalam proses perkuliahan, ketrampilan berkomunikasi sangat diperlukan, mulai dari bentuk cara bertanya yang baik, berargumentasi, hingga memaparkan suatu ide. Komunikasi juga diperlukan untuk membangun hubungan yang baik dengan teman, dosen, maupun staff Tata Usaha. Melalui komunikasi yang baik tersebut, dipastikan selama perkuliahan kita tidak akan ketinggalan informasi-informasi penting, seperti pemberitahuan UAS, magang, atau tugas-tugas kuliah. Selain itu kebutuhan kita juga akan terlayani, seperti saat registrasi, mengurus surat-surat penting dsb.
Merujuk pada uraian diatas, ternyata komunikasi bukan hanya berfungsi untuk menyampaikan pikiran dan perasaan serta membangung hubungan interpersonal saja. Komunikasi juga berfungsi sebagai penggambaran diri kita. Bagaimana kita berkomunikasi dan apa yang kita komunikasikan pada dasarnya memberitahu orang lain siapa diri kita, tingkat kecerdasan kita, pendidikan kita, dan juga seperti apa kepribadian kita. Ketika kita bertutur senantiasa dengan sopan, hangat, tertata, dan apa yang disampaikan juga berisi kebaikan, jujur, dan apa adanya (asertif) menggambarkan kematangan emosi dan kepribadian kita. Sebaliknya ketika kita berbicara dengan cara yang kasar, penuh kemarahan, isinya pun penuh keluhan, mencari kesalahan, atau bahkan makian, tentu hal ini juga isi dari kepribadian kita.
Selain itu ternyata komunikasi juga berfungsi sebagai sarana penyajian diri (self presentation) kita kepada khalayak. Kita membuat orang lain percaya akan kemampuan kita, yakin dengan ide, jasa, atau produk kita, semuanya terjadi melalui komunikasi dalam presentasi diri yang efektif dan persuasif. Dalam situasi seperti sekarang dimana persaingan begitu ketat, siapa yang bisa mempresentasikan dirinya dengan cara terbaik maka dialah yang memenangkan persaiangan. Oleh karena itu tepat kiranya jika dikatakan bahwa ketrampilan komunikasi juga sangat diperlukan sebagai bagian dari penyiapan diri menjadi sukses. Contoh paling sederhana adalah bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan baik saat wawancara kerja sehingga dapat meyakinkan interviewer bahwa kitalah yang layak untuk diterima. Sepandai dan setrampil apapun kita namun kita tidak dapat meyakinkan orang bahwa kita pandai dan trampil maka orang tidak akan pernah tahu dan yakin bahwa kita pandai dan trampil, pada akhirnya tidak ada orang yang memanfaatkan kepandaian dan ketrampilan kita.
Komunikasi sendiri merupakan hal yang harus dipelajari. Hal ini karena dalam komunikasi kita dituntut harus efektif, persuasif (bisa meyakinkan orang), dan kredibel (jujur bisa dipercaya). Banyak dari kita yang mungkin pandai bicara, kalau berbicara sampai berbusa-busa, tetapi ternyata banyak orang tidak mengerti, tidak suka, atau tidak percaya dengan omongan kita, yang ini berarti kita bukan komunikator (orang yang berkomunikasi) yang baik.
Selain itu ketrampilan berkomunikasi juga harus dipelajari karena pola komunikasi sangat terkait dengan budaya (culture bond), bagaimana cara seseorang dari suatu budaya menyampaikan pikirannya berbeda dengan gaya orang dari budaya lain menyampaikan hal yang sama. Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannnya. Jika demikian, komunikasi seperti apa yang dikatakan baik.

B.     Komunikasi Yang Efektif
Komunikasi yang efektif mempersyaratkan terpenuhinya tiga faktor yang saling terintegrasi dan ketiganya harus terpenuhi (disarikan dari Jalaluddin, 2003, dan Woods, 2002). Tiga faktor tersebut adalah :
(1)   Integritas Personal Komunikator
(2)   Isi pesan baik secara verbal maupun non verbal
(3)   Cara penyampaian








a.      Integritas Komunikator
Sebuah pesan akan tersampaikan (berarti tujuan komunikasi tercapai) bilamana komunikan (orang yang diajak berkomunikasi/lawan bicara) percaya kepada komunikator. Kepercayaan ini bisa lahir dari beberapa kemungkinan :
(1)     Kejujuran Komunikator. Hal ini diperoleh dari pengalaman panjang komunikan berinteraksi dengan komunikator dimana komunikan tidak pernah merasa dicederai, dibohongi, atau dikhianati oleh komunikator. Namun bila interaksi panjang belum terjadi (baru kenal), kepercayaan komunikan akan kejujuran kita sebagi komunikator bisa dicapai dengan penjelasan yang lugas dan terbuka mengenai tujuan dan maksud dari komunikasi kita. Walau demikian, bilamana di keesokan hari ternyata apa yang kita sampaikan ternyata palsu maka kepercayaan komunikan akan kejujuran kita sudah pasti hilang dan sangat sulit membangunnya kembali. Oleh karena komunikasi efektif (termasuk berdaya tahan lama efek persuasinya) tidak hanya ditentukan seberapa pandai kita bicara, tetapi juga seberapa jujur kita dalam komunikasi tersebut.
(2)     Keahlian Komunikator. Pesan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mulut dengan rajin sikat gigi akan tersampaikan dan dituruti oleh komunikator bila yang menyampaikan adalah seorang dokter gigi, lain halnya bila yang menyampaikan seorang montir sepeda motor. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi akan efektif ketika kita berbicara mengenai apa yang menjadi keahlian kita atau apa yang kita ketahui pasti. Hal ini menunjukkan pentingnya kita memperluas pengetahuan dan belajar tiada henti.
(3)     Flowchart: Process: Integritas komunikator meliputi :
1.	Kejujuran komunikator
2.	Keahlian komunikator
3.	Kepercayaan diri komunikator


Kepercayaan Diri komunikator. Kepercayaan diri kuat yang ditampilkan komunikator juga sangat kuat pengaruhnya untuk menimbulkan keyakinan komunikan terhadap apa yang dikatakan komunikator. Terlepas dari jujur tidaknya komunikator, kepercayaan diri yang kuat memberi kesan pertama yang positif bagi komunikan akan kemampuan komunikator. Namun demikian apabila dalam perjalanan waktu ternyata terdapat ketidakjujuran, maka kepercayaan diri sekuat apapun yang ditampilkan komunikator tidak akan lagi memberi pengaruh bagi komunikan untuk mempercayai komunikator.
Kepercayaan diri sendiri lahir dari sebuah konsep diri yang positif. Sedang konsep diri lahir dari :
(i)       Pengenalan yang akurat akan kelebihan dan kekurangan diri
(ii)     Penerimaan yang positif atas semua kelebihan maupun kekurangan tersebut, dan
(iii)   Penghargaan diri yang sepantasnya atas kelebihan dan kekurangannya tersebut (tidak sombong atas kelebihan dan tidak pula rendah diri atas kekurangan yang dimiliki), serta
(iv)   Orientasi yang lebih diarahkan pada pengembangan potensi positif (kelebihan) ketimbang terkungkung resah dengan kekurangan diri, kecuali untuk perbaikan.
b.      Isi Pesan
Indikator dari efektifitas komunikasi adalah tersampaikannya pesan komunikator kepada komunuikan. Pesan akan tersampaikan dan dipahami penuh oleh komunikan apabila pesan tersebut jelas dan lugas (tersurat dan tidak tersirat). Pesan sendiri tertampilkan dalam bentuk verbal dan non verbal yang keduanya harus selaras. apabila tidak, maka pesan akan membingungkan komunikan dan membuatnya tidak paham apa yang dimaui komunikator, dan ini berarti komunikasi gagal. Contohnya kita marah kepada teman kita : “Hoi..perilakumu begitu buruk, hentikan!”, tetapi kita menyampaikannya dengan ekspresi muka cengengesan. Komunikan tentu bingung, kita ini lagi marah atau mengajak bergurau. Pada akhirnya ia tidak menanggapi perintah kita agar ia menghentikan perilakunya.
 














Disarikan dari Woods, 2002

c.       Cara Penyampaian
Makanan seenak apapun ketika disajikan dengan penataan yang tidak indah apalagi diantar oleh pelayan yang bermuka cemberut dan tidak sopan tentu akan membuat selerea makan kita hilang sekejap. Begitu pula halnya dengan komunikasi. Pesan cinta yang menggelorapun ketika disampaikan dengan cara tidak tepat akan membuat orang yang kita cintai malah marah besar.
Disinilah kita perlu mengasah kepekaan dan belajar empatis. Komunikasi adalah proses timbal balik. Berbicara dan mendengar. Inti dari penyampaian komunikasi yang efektif adalah memahami lawan bicara (komunikan), mencoba memahami perasaan, pikiran, serta situasi kondisinya. Sebagai misal, janganlah kita mencela teman yang sedang lelah atau meminta tanda tangan dari dosen yang sedang sibuk atau sedang makan siang. Sehalus apapun kita menyampaikannya tentu dapat membuat teman atau dosen tersebut marah. Mungkin kita bisa belajar dari ungkapan berikut :
“Bagaimana kita meminta teman kita mendengar kita jika kita tidak pernah mau mendengarnya,
Bagaimana kita meminta teman kita percaya pada kita jika kita tidak pernah percaya padanya,
Bagaimana kita meminta teman kita terbuka jika kita tidak pernah terbuka padanya
Bagaimana kita meminta teman kita mengasihi menyayangi kita jika kita tidak pernah menyayangi mengasihinya”.

C.     Prinsip Komunikasi
Flowchart: Process: Prinsip komunikasi :
1.	Menghargai (respect)
2.	Empati (empathy)
3.	Audio (audible)
4.	Jelas (clarity)
5.	Rendah hati (humble)


Satu hal yang harus kita penuhi dalam seni berbicara adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain secara baik sehingga dapat melahirkan kesan yang baik dan respon yang positif. Ada 5 (lima) prinsip komunikasi yang harus kita miliki agar berhasil dalam meraih respon yang positif, yaitu :
a.       Menghargai (Respect)
Respect mencerminkan sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang akan kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan prinsip pertama dalam berkomunikasi dengan orang lain. Jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang, sehingga seseorang tidak merasa direndahkan harkat dan martabatnya. Kondisi ini akan dapat menciptakan sinergi dan kerja sama yang baik antara komunikator dan komunikan.

b.      Empati (Empathy)
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Empati akan muncul manakala kita mempunyai kemampuan untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Salah satu manfaat dari rasa empati dalam berkomunikasi adalah kemudahan dalam menyampaikan pesan dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan menerimanya. Empati juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perspektif atau siap menerima masukan maupun umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Jika kita menggunakan empati secara sungguh-sungguh dalam berkomunikasi, maka kita akan mendapatkan perubahan yang luar biasa dalam proses komunikasi dengan penerima pesan (komunikan) tersebut.
c.       Audio (Audible)
Audible adalah suatu cara agar pesan kita dapat didengar atau dimengerti. Pesan seharusnya disampaikan dengan cara atau sikap yang dapat diterima oleh penerima pesan, sehingga dapat dimengerti dengan baik dan tidak menimbulkan misunderstanding atau miscommunication. Prinsip ini menekankan kita menggunakan berbagai media untuk menyampaikan pesan, baik media yang berasal dari luar diri kita (peralatan komunikasi)  maupun yang telah kita miliki sendiri (verbal maupun non verbal)
d.      Jelas (Clarity)
Pesan yang baik adalah pesan yang jelas, tidak menimbulkan multiinterpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan dari pihak penerima pesan. Dalam prinsip clarity ini, perlu dikembangkan keterbukaan dan transparansi, sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya terhadap pemberi pesan dan pesan itu sendiri.
e.       Rendah hati (Humble
Sikap rendah hati merupakan cerminan dari sikap melayani, menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong, berani mengakui kesalahan, mau memaafkan, lemah lembut, penuh pengendalian serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Komunikasi akan semakin efektif manakala kita mengembangkan prinsip ini dalam menjalin komunikasi (menyampaikan pesan) dengan orang lain.
Pada dasarnya, hubungan sosial yang terjalin antar individu dibangun melalui komunikasi, baik komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Komunikasi verbal biasanya dilakukan dalam bentuk berbicara. Namun, tidak semua orang didalam berbicara itu memiliki kemampuan yang baik didalam menyampaikan isi pesannya kepada orang lain sehingga dapat dimengerti sesuai dengan keinginannya, dengan kata lain, tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik didalam menyelaraskan atau menyesuaikan dengan detail yang tepat antara apa yang ada dalam pikiran atau perasaannya dengan apa yang diucapkannya sehingga orang lain yang mendengarkannya dapat memiliki pengertian dan pemahaman yang pas dengan keinginan si pembicara.
Untuk penyampaian hal-hal yang sederhana mungkin bukanlah suatu masalah, akan tetapi untuk menyampaikan suatu ide/gagasan, pendapat, penjelasan terhadap suatu permasalahan, atau menjabarkan suatu tema sentral, biasanya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi seorang pembicara yang belum terbiasa, bahkan tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik. Dibutuhkan suatu keterampilan atau kecakapan dengan proses latihan yang secukupnya untuk dapat tampil dengan baik menjadi seorang pembicara yang handal.
Keterampilan berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orang yang didalam kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arah  maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki ketermapilan berbicara yang baik, akan memiliki kemudahan didalam pergaulan, baik di rumah, di kampus, maupun di tempat lain. Dengan keterampilannya segala pesan yang disampaikannya akan mudah dicerna, sehingga komunikasi dapat berjalan lancar dengan siapa saja.
Perlu disadari bahwa keterampilan berbicara seseorang, sangat dipengaruhi oleh dua faktor penunjang utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun non fisik (psykhis), faktor pisik adalah menyangkut dengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicara  misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor non fisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter, temparamen, bakat (talenta), cara berfikir dan tingkat intelegensinya. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan. Namun demikian, kemampuan atau keterampilan berbicara tidaklah secara otomatis dapat diperoleh atau dimiliki oleh seseorang, walaupun ia sudah memiliki faktor penunjang utama baik internal maupun eksternal yang baik. Kemampuan atau keterampilan berbicara yang baik dapat dimiliki dengan jalan megasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada.

D.    Hambatan Dalam Berbicara
  1. Melupakan potensi diri
Prinsip inilah yang perlu disadari sejak dini. Jadi, jangan pernah membatasi talenta yang ada dalam diri Anda, tegasnya. Anda juga harus menyadari kemampuan diri serta batasan kemampuan yang ada pada pribadi Anda. Dengan berbekal prinsip ini, Anda sangat mampu mengembangkan potensi dengan terus belajar dan mengasah talenta.
  1. Flowchart: Process: Hambatan dalam berbicara :
1.	Melupakan potensi diri
2.	Meredupnya kepercayaan diri
3.	Tak menguasai materi
4.	Tak menguasai khalayak (audiens)


Meredupnya kepercayaan diri
Kurangnya kepercayaan diri menghambat Anda mengeluarkan potensi dalam diri saat tampil di depan umum. Kunci sukses public speaking, salah satunya, memupuk kepercayaan diri Anda. Pahamilah bahwa tak perlu menjadi orang sempurna untuk mengaplikasikan public speaking. Seperti apa yang telah ia katakan "Anda tetap bisa tampil dengan kemampuan yang kecil", Apapun apresiasi orang yang mendengarkan Anda berbicara, hargai saja. Maju terus dengan apa yang Anda miliki. Tak perlu melakukan apa yang orang lain inginkan. Namun Anda tetap harus mendengarkan suara atau kritik yang membangun, dan lakukan apa yang benar. Kesiapan mental seperti inilah yang membantu seseorang meraih kembali kepercayaan dirinya.
  1. Tak menguasai materi
Public speaker juga penting untuk selalu siap dengan materi yang akan disampaikannya. Public speaker adalah true messenger. Pengalaman, background personal, sosial, juga pendidikan serta kapasitas talenta setiap orang berbeda. Faktor inilah yang memengaruhi keterampilan seseorang saat berbicara dan tampil di depan publik. Meski begitu, semua faktor ini bukan menjadi pembenaran jika ternyata Anda belum sukses menjalani public speaking. Dengan kemauan untuk belajar dan menambah wawasan, kendala ketiga dalam public speaking bisa diatasi. Dengan menguasai materi, pesan yang ingin disampaikan dapat diterima baik oleh publik. Tak menguasai materi adalah kondisi yang bisa terjadi saat Anda sebagai penyampai pesan maupun orang yang diminta pendapatnya atas suatu isu. Salah satu cara mengatasi kondisi ini adalah dengan memberikan materi atau jawaban yang sistematis. "Untuk mendapatkan pointers yang tepat dan memilih kata yang tepat, Anda perlu memberikan jawaban yang sistematis. Jika tahu apa yang harus dijawab, mulailah dari landasannya, kemudian ungkapkan pengalaman, dan terakhir berikan opini Anda. Jika tidak memahami materi, jujur saja apa adanya. Jangan menjawab apa yang Anda tak ketahui maksudnya. Katakan dengan cara yang santun dan tepat kejujuran Anda ini.

  1. Tak menguasai khalayak
Cobalah untuk tetap rileks, sehingga Anda bisa menikmati saat bicara di depan umum dan tidak merasa terintimidasi. Jika Anda salah bicara atau merasa tampil buruk, segera kembalikan fokus pada apa yang ada, bukan pada kesalahan yang baru saja Anda lakukan. Untuk bisa menguasai khalayak, kekuatan ada di tangan Anda sendiri. Saat bicara cobalah untuk mengesampingkan jabatan. Jabatan atau status apapun yang melekat pada diri Anda bisa menjadi beban tersembunyi. Anda merasa harus sempurna bicara karena Anda adalah presenter ternama, misalnya. Tak apa salah, karena kesalahan adalah normal. Akui saja kesalahan begitu Anda melakukannya di depan umum. Berbicaralah dengan santai atau dengan kunci "Humble is Powerfull".


E.     Seni Berbicara
Hampir semua orang menginginkan dapat berbicara dengan baik dan benar, sehingga mampu membuat lawan bicara mengerti apa yang kita sampaikan. Secara umum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam seni berbicara yaitu :
1.      Jujur
Kejujuran dapat memberikan suasana batin dalam berbicara secara lebih baik. Kejujuran dapat membuat lawan bicara merasakan kedekatan dan rasa simpati, sehingga menjadikan pembicaraan lebih menarik dan memunculkan respon positif dari lawan bicara.
2.      Tunjukkan perhatian terhadap lawan bicara
Setiap orang ingin mendapat perhatian, maka dalam seni berbicara kita juga dituntut untuk memberikan perhatian terhadap lawan bicara. Kedalaman perhatian yang kita berikan akan membuat lawan bicara merasa nyaman dan dapat memberikan respon yang positif dalam proses pembicaraan berikutnya.
3.      Fokus pada satu topik yang disukai lawan bicara
Sebelum kita memilih topic tertentu sebagai bahan pembicaraan, kita harus mengetahui topic apa yang menjadi ketertarikan dari lawan bicara. Hal ini akan membantu kita memulai pembicaraan dengan menyenangkan dan mendapat perhatian dari lawan bicara. Meskipun kita tidak menguasai penuh terhadap topic yang disukai lawan bicara, paling tidak kita mengetahui poin-poin penting dalam topic tersebut.
4.      Menikmati pembicaraan
Kenyamanan lawan bicara sangat dipengaruhi oleh kenyamanan kita dalam berbicara, sehingga kita perlu mengusahakan menikmati apa yang menjadi topic pembicaraan kita karena jika kita tidak menikmati pembicaraan, maka hal itu akan terlihat oleh lawan bicara dan berujung pada ketidaknyamaan dalam pembicaraan.
5.      Buatlah lawan bicara ‘merasa’
Pada dasarnya setiap orang senang jika diajak berbicara tentang dirinya atau hal-hal yang berkaitan dengan diri dan keluarganya (yang positif). Oleh karena itu dalam pembicaraan tidak ada salahnya kita juga menyinggung atau mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya agar dia merasa berharga atau nyaman dan secara tidak sadar akan mengikuti alur pembicaraan kita.
6.      Pilihlah topik yang aman
Untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti lawan bicara tersinggung, kita harus pandai mencari topic-topik yang aman. Kita bisa memulai pembicaraan dengan hal-hal yang ringan sebelum benar-benar mengetahui latar belakang lawan bicara. Jika kita sudah terlanjur memilih topic yang tidak disukai atau dikuasai lawan bicara, kita bisa mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang ringan dan sesuai dengan keinginan lawan bicara.
7.      Hindari pertanyaan dengan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’
Jika kita harus memberikan pertanyaan kepada lawan bicara, kita bisa mengupayakan agar pertanyaan tersebut tidak hanya dijawab dengan ya atau tidak karena hal tersebut dapat menyebabkan kemandekan atau kebuntuan dalam sebuah pembicaraan.
8.      Akhiri pembicaraan dengan pertanyaan, “bagaimana menurut anda ?”
Untuk membuat kesan yang baik, kita dapat mengakhiri pembicaraan dengan pertanyaan “bagaimana menurut anda”. Hal ini akan menimbulkan kesan yang sulit dilupakan karena lawan bicara mendapatkan tempat untuk berpendapat dan berada pada posisi yang dipentingkan.

F.     Diskusi dan Presentasi
            Pada materi pertama telah dibahas mengenai Membaca, untuk tahap selanjutnya yaitu terkait diskusi dan presentasi. Ini juga wawasan yang harus diketahui dan dipelajari oleh mahasiswa angkatan pertama demi menunjang pembelajaran didalam dan luar kelas serta lomba-lomba akademik/ non akademi dalam wilayah cakupan kegiatan perguruan tinggi.


1.      Diskusi
Diskusi adalah proses bertukar pikiran, pendapat, pengalaman untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Dalam dunia perkualiahan diskusi sering dilakukan baik antar individu maupun kelompok, dengan itu pertukaran informasi akan terjadi.
Setiap Indvidu memiliki pendapat sendiri atau memandang sesuatu berbeda- beda, sehingga dengan perbedaan tersebut tidak sedikit mengundang konflik atau perdebatan yang berkepanjangan dan dapat saling menjatuhkan, untuk meminimalisir hal tersebut maka harus menggunakan cara- cara yang tepat dalam berdiskusi.

a.      Adab- adab dalam berdiskusi
Flowchart: Process: Diskusi adalah proses bertukar pikiran, pendapat dan pengalaman untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan


Tata krama dalam menyampaikan pendapat atau sanggahan dalam berdiskusi, ada formal dan non formal. Penyampaian pendapat atau sanggahan saat kondisi formal biasanya dilakukan saat presentasi makalah di kelas, seminar, bedah buku dan lain sebagainya sedangkan non formal yakni  diskusi lepas dengan teman sekelas, teman satu organisasi, atau diskusi di forum- forum non formal. Maka adapun adab- adab menyampaikan sanggahan saat diskusi formal diantaranya adalah sebagai berikut:
1.        Mengangkat tangan terlebih dahulu
2.        Menunggu dipersilahkan terlebih dahulu oleh moderator
3.        Ucapkan salam pembukaan, & ucapan terima kasih telah memberikan kesempatan
4.        Menyampaikan secara singkat dan jelas
5.        Mengucapkan salam penutup
Lima hal diatas adalah adab ketika melakukan diskusi formal, ada beberapa hal juga yang harus diketahui oleh seorang muslim terkait adab- adab dalam berdiskusi dalam Al- Quran, antara lain  :
1.      Janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
2.      Menahan amarah dan bisa memaafkan kesalahan orang lain
3.      Tidak sombong atas pengetahuan yang dimiliki, sebab diatas pengetahuan kita akan ada yang lebih mengetahui
4.      Tidak menyombongkan diri dan angkuh
5.      Bersikap rendah hati, dan lunakkan suara
6.      Tidak merendahkan orang lain, ataupun menghina orang lain dan Tidak memanggil orang dengan panggilan yang menghina atau panggilan yang buruk
7.      Menjauhi persangkaan, mencari cari keburukan orang lain, dan bergunjing

b.      Prinsip- prinsip Diskusi 
Menurut Sarjoni (2011), proses diskusi akan berjalan secara efektif jika peserta menyadari hakikat diskusi dan memegang teguh prinsip-prinsip pelaksanaan diskusi. Berikut ini beberapa prinsip berdiskusi yang harus diperhatikan:
1.        Diskusi merupakan forum ilmiah untuk bertukar pikiran dan wawasan dalam menyikapi suatu permasalahan yang dihadapi bersama. Diskusi bukan forum untuk berbagi pengalaman (sharing), perasaan (curhat), kepentingan (musyawarah), atau ilmu kepintaran (mengajar).
2.        Dalam diskusi, harus terjadi dialog atau komunikasi intelektual dan ilmiah. Dalam hal ini, harus dijauhkan unsur emosional dan mengabaikan kedekatan hubungan personal sehingga terlahir pemikiran – pemikiran yang rasional dan objektif.
3.        Diskusi merupakan forum resmi, formal, dan terbuka. Oleh karena itu, proses komunikasi menggunakan bahasa nasional yang baku sehingga dapat dipahami semua kalangan dengan baik. Diskusi bukan forum kekeluargaan yang ditujukan pada kelompok terbatas.
4.        Diskusi berlangsung dalam situasi yang tertib, teratur, dan terarah serta bertujuan jelas. Oleh karena itu, diperlukan adanya perangkat dan instrumen pendukung seperti ketua/moderator, notulis, dan tata tertib. Proses diskusi dikatakan hidup dan sehat jika seluruh peserta terlibat secara aktif dengan mengikuti tatanan yang ada. Sebaliknya, akan dikatakan tidak sehat jika proses bertukar pikiran didominasi oleh satu atau dua pikiran saja.

c.       Tujuan dan Bentuk Diskusi
Sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok menghasilkan interaksi diskusi. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut.


Diskusi ditinjau dari tujuannya dibedakan menjadi :
1.        The Social Problem Meeting, merupakan metode pembelajaran dengan tujuan berbincang-bincang menyelesaikan masalah sosial di lingkungan
2.        The Open ended Meeting, berbincang bincang mengenai masalah apa saja yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dimana kita berada
3.        The Educational Diagnosis Meeting, berbincang-bincang mengenai tugas/pelajaran untuk saling mengoreksi pemahaman agar lebih baik.
Adapun jika ditinjau dari bentuknya, dibedakan menjadi :
1.        Whole Group, merupakan bentuk diskusi kelompok besar (pleno, klasikal,paripurna dsb).
2.        Buz Group, merupakan diskusi kelompok kecil yang terdiri dari (4-5) orang.
3.        Panel, merupakan diskusi kelompok kecil (3-6) orang yang mendiskusikan objek tertentu dengan cara duduk melingkar yang dipimpin oleh seorang moderator. Jika dalam diskusi tersebut melibatkan partisipasi audience/pengunjung disebut panel forum.
4.        Syndicate Group, merupakan bentuk diskusi dengan cara membagi kelas menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari (3-6) orang yang masing-masing melakukan tugas-tugas yang berbeda.
5.        Brainstorming, merupakan diskusi iuran pendapat, yakni kelompok menyumbangkan ide baru tanpa dinilai, dikritik, dianalisis yang dilaksanakan  dengan cepat (waktu pendek).
6.        Simposium, merupakan bentuk diskusi yang dilaksanakan dengan membahas berbagai aspek dengan subjek tertentu. Dalam kegiatan ini sering menggunakan sidang paralel, karena ada beberapa orang penyaji. Setiap penyaji menyajikan karyanya dalam waktu 5-20 menit diikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari audience/peserta. Bahasan dan sanggahan dirumuskan oleh panitia sebagai hasil simposium. Jika simposium melibatkan partisipasi aktif pengunjung disebut simposium forum.
7.        Colloqium, strategi diskusi yang dilakukan dengan melibatkan satu atau beberapa nara sumber (manusia sumber) yang berusaha menjawab pertanyaan dari audience. Audience menginterview nara sumber selanjutnya diteruskan dengan mengundang pertanyaan dari peserta (audience) lain Topik dalam diskusi ini adalah topik baru sehingga tujuan utama dari diskusi ini adalah ingin memperoleh informasi dari tangan pertama.
8.        Informal Debate, merupakan diskusi dengan cara membagi kelas menjadi 2 kelompok yang pro dan kontra yang dalam diskusi ini diikuti dengan tangkisan dengan tata tertib yang longgar agar diperoleh kajian yang dimensi dan kedalamannya tinggi. Selanjutnya bila penyelesaian masalah tersebut dilakukan secara sistematis disebut diskusi informal. Adapun langkah dalam diskusi informal adalah : (1). menyampaikan problema; (2). pengumpulan data; (3). alternatif penyelesaian; (4). memlilih cara penyelesaian yang terbaik.
9.        Fish Bowl, merupakan diskusi dengan beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang  ketua mengadakan diskusi untuk mengambil keputusan. Diskusi model ini biasanya diatur dengan tempat duduk melingkar dengan 2 atau 3 kursi kosong menghadap  peserta diskusi. Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi sehingga  seolah-olah peserta melihat ikan dalam mangkok.
10.    Seminar, merupakan kegiatan diskusi yang banyak dilakukan dalam pembelajaran. Seminar pada umumnya merupakan pertemuan untuk  membahas masalah tertentu dengan prasaran serta tanggapan melalui diskusi dan pengkajian untuk mendapatkan suatu konsensus/keputusan bersama. Masalah yang dibahas pada umumnya terbatas dan spesifik/tertentu, bersifat ilmiah dan subject approach.
11.    Lokakarya/widya karya, merupakan pengkajian masalah tertentu melalui pertemuan dengan penyajian prasaran dan tanggapan serta diskusi secara teknis mendalam. Dalam diskusi ini bila perlu diikuti dengan demonstrasi/peragaan masalah tersebut. Peserta lokakarya pada umumnya para ahli. Tujuannya mendapatkan konsensus/keputusuan bersama  mengenai masalah tersebut. Telaahnya : Subject matter approach. (Anonimous. 2008).
new berry presentation tsNamun tidak semua orang berani mengungkapkan pendapatnya dimuka umum, bila terjadi hal seperti ini akan menghambat diri dalam mengaktualisasikan dirinya, apalagi di dunia perkuliahan. Maka cara yang terbaik yakni sebagai berikut :
1.    Melawan rasa takut; Ingatlah bahwa yang patut di takuti hanyalah Allah Swt. Para penonton/penyimak adalah sama- sama makhluk Allah Swt, takut salah, di cela dan dianggap remeh. Sesuatu yang benar berawal dari yang salah (kecendrungannya), hilangkan rasa takut, keberanian berawal dari ketakutan.
2.    Mengembangkan potensi diri ; Setiap orang memiliki kemampuan masing-masing dan itu adalah potensi. Sukses atau tidaknya tergantung setiap individu tersebut mau mengembangkan potensinya atau tidak, orang yang tidak meyakini akan adanya potensi yang dimiliki akan terkurung dalam kegagalan.
3.    Meningkatkan Keprcayaan diri ; Hal penting yang harus selalu ditingkatkan, meski memiliki bakat dan potensi diri namun bila tidak percaya diri dalam melakukannya, bakat, potensi diri dan kemamampuan tadi akan meredup.   
4.    Selalu memotivasi diri bahwasannya ketika kita menutupi diri dari berdiskusi,  maka kita menghambat diri kita untuk maju dan menjadi orang sukses. adapun hal yang harus dilakukan agar kita mampu berbicara dan berdiskusi.

2.      Presentasi
Ketrampilan berkomunikasi merupakan salah satu hal terpenting yang harus dipelajari dalam kehidupan manusia. Melalui komunikasi kita menyampaikan apa yang kita fikirkan dan juga rasakan. Melalui komunikasi pula kita membangun hubungan dengan sesama, suatu hal yang menjadi kebutuhan dasar manusia (mahluk sosial). Oleh karenanya ketidakmampuan berkomunikasi dapat menyebabkan keterasingan, depresi, kegagalan pemenuhan kebutuhan hidup, bahkan kematian itu sendiri.
Flowchart: Process: Presentasi adalah kegiatan menyampaikan informasi kepada khalayak umum


Dalam proses perkuliahan, ketrampilan berkomunikasi sangat diperlukan, mulai dari bentuk cara bertanya yang baik, berargumentasi, hingga memaparkan suatu ide. Komunikasi juga diperlukan untuk membangun hubungan yang baik dengan teman, dosen, maupun staff Tata Usaha. Melalui komunikasi yang baik tersebut, dipastikan selama perkuliahan kita tidak akan ketinggalan informasi-informasi penting, seperti pemberitahuan UAS, magang, atau tugas-tugas kuliah. Selain itu kebutuhan kita juga akan terlayani, seperti saat registrasi, mengurus surat-surat penting dsb.
Pembahasan komunikasi kali ini, di fokuskan pada presentasi.  Presentasi merupakan bagian dari komunikasi. Hanya saja, bagi orang- orang yang tidak berkecimpung dalam dunia pendidikan, organisasi, dan kegiatan yang berkaitan dengan public, presentasi seolah menjadi hal yang tidak pernah dilakukan.
Presentasi adalah salah satu kegiatan penyampaian informasi kepada khalayak umum. Smart (2010: 15), menyampaikan bahwa Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak hadirin yang disebut audiensi. Berbicara yang dimaksud di sini bukanlah berbicara asal- asalan, tanpa intonasi atau membicarakan hal- hal yang tidak berguna, namun membutuhkan seni yang unggul agar menarik perhatian audiensi.


a.      Kesalahan- kesalahan Dalam Presentasi
            Tidak ada yang ingin gagal dalam melakukan sesuatu, pasti semua ingin berhasil, namun layaknya bumi ini berputar kadang diatas kadang dibawah, sehingga demikian halnya                                                          dengan kondisi yang terjadi yakni kegagalan sering menyapa, apalagi bagi para pemula dalam melakukan presentasi. Beberapa kesalahan yan sering dibuat saat presentasi menurut Smart (2010:24) antara lain :
  1. Asumsi yang keliru saat memulai presentasi, yang mana kebanyakan orang menganggap kemampuan  berbicara didepan public adalah bakat sejak lahir padahal tidak selamanya seperti itu namun membutuhkan yang namanya latihan
  2. Tidak mementingkan fakta, yaitu memberikan informasi data yang salah
  3. Tidak melakukan persiapan yang memadai.
  4. Kurang latihan
  5. Catatan yang tidak memadai (catatan kecil yang sekali- kali bisa dilihat namun tidak jelas dan memadai dapat menggagalkan presentasi)
  6. Terlalu berlebihan dalam penyampaian visual, sebagai contoh memasukan data statistic atau grafik sebanyak- banyaknya dalm peraga sehingga membuat peserta presentasi semakin lama memahami apa yang disampaikan
  7. Kurang senyum, tanpa ekspresi, kaku dan diam dapat menghambat kesuksesan saat presentasi.
  8. Gagal mempersiapkan tanyajawab
b.      Unsur-Unsur dalam Sebuah Presentasi
Keberhasilan di dalam sebuah presentasi setidaknya terletak pada empat unsur yang ada di dalamnya.
  1. Presenter- nya, yaitu orang yang menyampaikan presentasi secara langsung di depan audience.
  2. Materi  yang disampaikan,  yaitu  bahan yang  ingin dikomunikasikan dengan audience sasarannya.
  3. Sarana yang  dipergunakan untuk menyam- paikan presentasi. Hal ini lagi-lagi yang pertama adalah slide show yang disusun  berdasarkan materi  yang  ingin disampaikan. Oleh karena fokus kita membicarakan teknik presentasi dengan Power- Point, maka yang dimaksud tentu  saja bagaimana Anda menge- mas materi presentasi dalam bentuk slide show. Faktor berikutnya adalah peralatan untuk  menyampaikan slide show tersebut meliputi LCD Projector, sound system (apabila pada ruang yang cukup besar dan jumlah audience yang cukup banyak).
  4. Audience Yang Dijadikan Sasaran sebagai penerima informasi. Jika ketiga unsur di atas telah dipersiap- kan  dengan  baik,  tetapi  ternyata  tidak  ada  audience-nya,  atau tidak dihadiri oleh audience yang tepat sebagaimana yang dimak- sud sebagai sasaran tersebut, maka rangkaian  acara presentasi tersebut tidak akan sukses sebagaimana yang diinginkan. (Anonimous)

c.       Teknik Presentasi
Halim (2009) Teknik presentasi sangat diperlukan jika kita ingin menyampaikan gambaran suatu produk/objek pada client/pihak tertentu. Banyak orang yang gagal memenuhi targetnya karena kesalahan dalam teknik presentasi. Teknik presentasi bukanlah sekedar ilmu berkomunikasi ataupun ilmu teori belaka karena memang ada fokus-fokus tertentu dalam presentasi yang harus dipenuhi agar presentasi tersebut dapat memikat para pendengarnya. Seperti apakah teknik presentasi itu ? Berikut adalah point-point-nya.
1.         Persiapan Presentasi
a.       Rumuskan sasaran
b.      Apa yang sudah diketahui
c.       Apa yang ingin diketahui
d.      Apa yang harus disampaikan
e.       Buat alur presentasi
f.       Persiapan alat peraga

2.         Pada Waktu Presentasi
a.                Sikap dan penampilan positif
b.                Kontak mata
c.                Pembukaan yang menarik
d.               Penjelasan alur
e.                Gunakan suara dengan sebaik-baiknya
f.                 Mengarah pada sasaran
g.                Penutup yang menyakinkan

3.         Perancangan Presentasi
a.  Rancangan isi
b.      Rancangan penutup
c.       Kerangka isi
d.      Teknik pembukaan
e.       Beri bumbu dalam tanda kutip
f.       Alat bantu visual
g.      Sesuaikan dengan pendengar
h.      Kertas pengingat
i.        Latihan

4.         Langkah Persiapan
a. Tujuan
b.    Pendekatan
c.     Penutup
d.    Analisa Pendengar (apa yang ingin mereka dengar dan ketahui)
e.     Jumlah peserta
f.     Jabatan, Pengalaman, Pendidikan
g.    Masalah potensial
h.    Bumbu penyegar suasana

5.         Bentuk Dasar Presentasi
a.  Pembukaan terdiri atas : (dapatkan perhatian, tujuan presentasi, garis besar  pembahasan + Menarik minat)
b.    Isi
·         Sajikan materi inti
·         Cari data pendorong
·         Ajak pendengar melihat hubungan data pendukung dengan materi inti yang diajukan
·         Nyatakan kembali materi tersebut
·         Transisi pada materi selanjutnya
·         Sajikan materi tambahan
c.    Penutup, terdiri atas :
·         Rangkuman presentasi
·         Memberikan penutup/akhir presentasi

d.      Presentasi yang Baik
            Smart (2010 :18), presentasi yang baik adalah presentasi yang mampu membuat para audiensnya terpakau dengan penampilan sang presentator.  Maka tidak akan kita temuai teman yang sms, BBM, berbicara dan lain sebagainya.
            Ada empat elemen Kunci untuk membangun keterampilan Presentasi, menurut Smart (2010: 33), yakni
1.        Intonasi suara yang pas
2.        Bahasa Tubuh yang tepat
3.        Materi yang Sistematis
4.        Keterampilan membangun Interaksi.
Selain mengetahui bagaimana seharusnya melakukan presentasi  dengan baik, seorang mahasiswa juga harus memperhatikan berbagai hal di bawah ini yang berkaitan dengan kemampuan public speaking, yaitu :
1.        Beradab dalam berbicara
Berbicara juga harus beretika, karena tanpa etika maka perkataan kita akan tidak terkontrol dan cenderung membahayakan orang lain. Beberapa etika (adab) dalam berbicara, antara lain  bebas dari sifat kepalsuan (kebohongan dan kemunafikan), hasutan (adu domba dan fitnah) dan kekerasan dalam berbicara. Percakapan atau pembicaraan yang kita lakukan hendaknya dilakukan untuk menciptakan kenyamanan dan persaudaraan, saling menghargai dan tolong menolong, sehingga mahasiswa harus senantiasa berbicara dengan baik dan benar.
2.        Menjadi pribadi yang kontekstual
Pribadi yang kontekstual adalah pribadi yang tahu arti suatu kalimat dan kapan saat yang tepat untuk diungkapkan. Kalimat-kalimat yang kita ucapkan hendaknya memiliki tujuan yang jelas (baik), memiliki fakta, senantiasa mengikuti perkembangan informasi dan menjaga keaslian (kebenaran).
3.        Menjaga keseimbangan pikiran
Dalam berbicara kita harus menjaga kualitas ucapan-ucapan kita, artinya apa yang kita ucapkan merupakan bentuk dari isi pikiran kita, bukan banyak ngomong tapi isinya kosong. Hal ini juga berarti kita memfilter terlebih dulu apa yang akan kita ucapkan, tidak menolak suatu pendapat yang tidak cocok atau menyenangkan kita dan tidak menyukai satu pendapat saja yang sesuai dengan pandangan atau menyenangkan kita.
4.        Hindari debat kusir
Jangan sampai kita terjebak dalam saling membantah suatu hal yang sama (debat kusir), kecuali bantahan tersebut berkelanjutan yang bermuara pada satu kesimpulan. Menghindari menyalahkan orang lain dan menganggap pendapatnya yang selalu benar akan membawa pada perdebatan yang tidak berujung dan membawa kemudharatan.
5.        Memiliki pedoman benar dan salah
Pendapat yang kita kemukakan hendaknya memiliki landasan (benar dan salah) baik secara ilmu agama maupun pengetahuan umum, bermanfaat dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain jika dilakukan. Kita harus menghindari ungkapan-ungkapan yang tidak benar yang membawa kerugian dan penderitaan serta tidak sesuai dengan ilmu agama dan pengetahuan umum.
6.        Menghindari bergosip
Bergosip merupakan suatu tindakan yang menceritakan diri seseorang di hadapan orang lain. Kegiatan ini perlu dihindari karena akan memberikan citra yang kurang baik dalam diri kita, menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak manfaat, bahkan jika tidak terkontrol akan jatuh pada fitnah dan penyebaran berita buruk yang berkepanjangan.















DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2008. Diskusi dan Macamnya.

Anonimous. Presentasi Sukses dengan Power Point. http://referensi.dosen.narotama.ac.id (25 Februari 2012)

Halim Robert, 2009. Teknik Presentasi Yang Memikat. http://usaha-onlines.blogspot.com/2009/09/teknik-presentasi-yang-memikat.html  (27 Februari 2012)

Hudoro, Sumeto. 2004. Cara Berbicara dan Presentasi dengan Audio Visual. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Smart Aqila, 2010. Presentasi Maha Dahsyat. Mitra Pelajar. Jogjakarta.

Sarjoni, 2011. Berdiskusi dengan Tata Cara yang Benar. Diakses di http://sarjoni.wordpress.com/2011/01/01/berdiskusi-dengan-tata-cara-yang-benar/ (22 Februari 2012 )

Arman, Agung. 1989. Laporan Program Pembelajaran Pendidikan Kader (Materi Rethorika) di Kampus IKIP. Gunungsari Baru Ujung Pandang, Ujung Pandang.

Syatra, Abdul Kahfi. 2010. Seni dan Tips Piawai Berbicara Hebat. FlashBooks. Jogjakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar