31 Maret 2013

MANUSIA PERADABAN






Oleh 
Muhammad Hadid
Mahasiswa Islamic Law University
 Muhammadiyah  of Malang




   Saudaraku  sekalian saya ingin menguraikan masalah ini dengan sedikit pendekatan fakta-fakta supaya lebih mudah difahami, dan bisaa lebih sederhana. Waktu Rasulullah SAW itu hidup kira-kira jumlah umat manusia yang hidup waktu itu adalah sekitar seratusan juta orang, seratus juta ini mendiami 3 benua. Eropa, asia dan afrika yang lain-lainnya belum ditemukan menyusul belakangan Amerika, Australia.

     Jumlah orang yang masuk Islam yang kemudian disebut sebagai sahabat, apabila kita mendefinisikan sahabat itu adalah orang yang masuk Islam pada masa Rasulullah dan sempat bertemu Rasulullah waktu itu, yang kita hitung melalui jumlah orang yang ikut Rasulullah dalam hajjatul wada’ pada tahun kesepuluh hijirah, itu jumlahnya antara seratus ribu sampai seratus dua puluh lima ribu riwayatnya seperti itu jadi kira-kira rasio umat Islam terhadap penduduk bumi ketika itu satu per mil, nah dari seratusan ribu orang yang masuk dalam agama Islam, kalau kita baca di Al-Qur’an itu angka seratus ribu itu angka yang juga merupakan jumlah umat nabi-nabi lain, misalnya nabi Yunus itu setelah kembali kedarat habus ditelan ikan kembali ke darat umatnya itu beriman jumlah umatnya juga kira-kira sekitar seratusan ribu.

      Dan rasulullah ini juga sekitar seratusan ribu orang jadi perbandingannya dengan jumlah umat manusia itu satu per mil. Dari seratus ribu orang ini yang dikategorikan sebagai ulama menurut catatan ibnu qoyyim dalam kitab I’lamu waqi’inan rabbil ‘alamin.itu sekitar seratus sampai seratus sepuluh orang. Jadi rasionya antara ulama dengan umat Islam sepersepuluh. Dari seratus orang ini ibnu qoyim membagi mereka dalam 3 kategori. Kategori yang pertama yaitu orang yang paling banyak memberikan fatwa, yang kemudian kita sebut dengan ulama besar, yang kedua adalah orang yang pertengahan dan yang ketiga adalah orang-orang yang sedikit dengan fatwa, nah jumlah ulama pada kategori yang pertama itu jumlahnya 7 orang.

   Kalau kita belajar sejarah pemikiran islam, kemudian belajar tentang sejarah mazhab-mazhab di dalam islam belajar tentang sejarah aliran pemikiran islam kita akan menemukan bahwa akar pemikiran islam itu berasal dari 7 orang ini. Sekarang saudara sekalian, salah satu cirri dari pekerjaan aqidah adalah kesinambungan jadi satu usaha dimulai itu tidak putus berlanjut terus, kalau kita tarik lagi mundur kebelakangan lebih jauh ini orang bisa berbeda-beda tentang beribu-ribu tahun yaitu kepada nabi Ibrahim as.
    Di jazirah arab itu, pada mulanya ada nabi ibrahim, siti hajar beserta ismail. Tiga ini penghuni pertamanya, makanya jazirah arab itu  dilukiskan itu biwadin ghoiri bi dzar, pada suatu lembah yang tidak ada tumbuhannya, kalau sekarang kita sebut sebagai no man land (gurun kosong). Nabi ibrahim ini yang pertama kali memulai usahanya dan bisa bayangkan apa gunanya bangun ka’bah di situ tidak ada orang, orang-orang kan semuanya ada di syam, kalau sekarang Palestina, libanon, syiria dan Jordan itu syam.
     Orang-orang kan kumpulnya disitu, kenapa ka’abah dibangun di daerah kosong seperti itu ? itu untuk siapa tempatnya, tapi nabi ibrahim berdoa disitu dan diantara doanya Ya Allah jadikanlah hati-hati umat manusia berdatangan ke sini. Beberapa ribu tahun kemudian. Ini tidak jelas catatan sejarahnya tapi kira-kira kita dapat membuat ukuran seperti ini, dari nabi ibrahim ke nabi ismail, nabi ismail itu mempunyai sebelas anak, dari sebelas anak nabi ismail ini satu diantaranya turun sampai cucu yang ke dua puluh satu. Dari nabi ismail sampai ke cucu 21 ini tidak ada catatan sejarahnya hilang, rasulullah mengatakan kalau ada catatan tentang nashab ini disini itu bohong.       Yang tercatat kemudian adalah kakek yang ke 21 bernama adnan kakeknya rasulullah, dari kakeknya adnan sampai ke rasulullah itu berjumlah 21 turunan. Jadi kira-kira dari nabi Ibrahim sampai nabi Muhammad itu berjumlah 42 generasi. Namun kita tidak dapat menentukan umur satu generasi. Jumlah orang yang mendatangi ka’bah yang didirikan oleh nabi ibrahim itu setelah 42 generasi kemudian itu adalah seratusan ribu orang tapi sekarang setiap tahun haji sekitar 5 juta orang. Ini tidak terlalu menarik mungkin dibanding dengan angka lain yang jauh lebih menarik. 

    1500 tahun kemudian ketika jumlah penduduk bumi ini hamper 6 milyar orang jumlah umat islam itu yang merupakan hasil kerja dari 100 ribu orang ini kesinambungan dari 100 ribu orang ini dan hasil kerja yang lebih terorganisir dari seratusan ulama ini jumlah nya itu 1,3 milyar. Dari rasio 1 per mi menjadi 1 per lima, 20% penduduk buminya adalah umat islam. Kira-kira ini angkanya terus naik.By. Adid.com
   

Persiapan Memasuki Awal Kehidupan Berumah Tangga


Mr. Hadidi Mahasiswa  Family Law FAI UMM
Menikah merupakan sunnah para nabi dan para rasul, disamping sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan dan karunia nikmat dari Allah. Melalui pernikahan, manusia yang berpasangan laki dan perempuan akan memulai menjalani kehidupan baru, yaitu kehidupan rumah tangga, yang menjadi dambaan setiap manusia di muka bumi ini. Demikian ini sudah sunnatullah, yang merupakan siklus kehidupannya sebelum semuanya berakhir, yaitu mendapatkan keturunan. 

 Di hadapan sepasang suami-istri tersebut membentang berbagai permasalahan yang harus dihadapi bersama. Permasalahan di dalam keluarga sangatlah kompleks dan saling berkaitan, antara satu dengan lainnya. Tidak hanya dari segi syari'at, dunia kesehatanpun akan dihadapinya serta akan mempengaruhi bagaimana syariat itu dijalaninya. 

Masturbasi (Onani) Ditinjau Dari Sisi Agama, Kesehatan dan Psikologis


Mengintip sejenak masalah ini, yang banyak dialami oleh kalangan muda. Bukan rahasia umum lagi bahwa onani (masturbasi) sering dilakukan oleh generasi muda yang belum menikah. Bukan hanya pria diantara wanita pun ada yang melakukannya.

“Merekonsturksi Ulang Kelurga Sakinah Mawaddah Warahma, Pada Pasangan Suami Istri Pasca Konflik Perselingkuhan,”



 
Mohd. Hadidi Islamic Law FAI UMM

Landasan
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. 4:1)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. 30:21)
B. Pengertian
Ditinjau dari sisi lughah (bahasa) sakinah berasal dari kata “Sakana” yang berarti “Tenang, Tenteram, Damai” sedang dari sisi istilahi bermakna “Keluarga yang terbangun atas dasar cinta kasih dan kasih sayang serta rahmah dengan bimbingan Allah swt dan tuntunan Rasulullah saw, sehingga terbentuk rumah tangga yang tenang, tenteram dan damai”  
C. Esensi Nikah
Secara bahasa (lughah) “Nikah” berasal dari kata “Nakaha” yang berarti “Berkumpul, Bersatu atau Bersinergi” oleh karena itu, berkeluarga secara esensial adanya sinergi dalam membangun rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan anak dengan memahami peran masing-masing. Maka orang yang menikah mestinya berkeinginan untuk tetap bersatu, tidak ada niatan bercerai, melainkan hidup dalam kebersamaan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, semangat persatuan dan perdamaian antara suami, istri dan anak-anak harus dipertahankan karena menikah itu akan berdampak berbagai macam antara lain :
  1. Unik, artinya bahwa setelah berkeluarga adanya berbagai ragam problematika yang akan dihadapi untuk diselesaikan, diatasi dan dibicarakan bersama sebagai anak tangga menuju kebahagiaan dan kemulyaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
  2. Anak, bermakna bahwa setelah berkeluaraga diharapkan dapat meneruskan generasi (keturunan) dalam hal ini adalah anak dan harta kekayaan seperti dalam firman Allah swt dalam surat Ali-Imran ayat 14 yang berbunyi :

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS.3:14)
  1. Enak, maksudnya adalah bahwa dengan berkeluarga dan setelah dikaruniai anak dan harta benda maka akan tercipta harmonisasi dengan harapan adanya kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian serta sebagai curahan rasa cinta kasih dan kasih sayang yang paripurna.
  2. Ennek, artinya bahwa tidak selamanya dalam perjalanan rumah tangga itu selalu diliputi kebehagaiaan, ketenteraman dan kedamaian, tetapi terkadang adanya penderitaan, dikarenakan persoalan dan permasalahan hidup yang tidak dapat terselesaikan dengan baik.
D. Landasan Nikah

Berbagai macam alasan mengapa seseorang itu menikah, dari yang bersifat instingtif, lahiriah/fisik sampai yang bersifat alasan agama dan hal tersebut memang dibolehkan dalam agama seperti dalam hadits Rasulullah saw yang artinya “Dinikahi seorang wanita karena empat pilihan, karena kecantikannya, karena hartanya, karena keturunannya dan     karena agamanya, maka pilihlah yang taat beragama engkau akan selamat”  Demikianlah arti dari hadits Rasulullah, yang menyerahkan pilihan kepada setiap orang tetapi Nabi menggaris bawahi untuk menentukan pilihannya yang taat beragama, baik calon mempelai pria atau wanita. Dari apa yang disampaikan oleh Nabi tersebut luas pengertiannya, dan dalam maksudnya, maka disinilah kunci awal kesuksesan seseorang dalam berkeluarga, apa yang mendasari seseorang untuk memutuskan dirinya menikah. Dalam Al-Qur’an Allah swt memberikan gambaran beberapa alasan seseorang menikah :
  1. Hubb (rasa cinta diri) atau kecenderungan, cinta ini merupakan tingkatan terendah, karena menikah hanya mendasarkan hanya kepada instingtif dan lahiriyah/fisik saja berupa libido atau penyaluran seksual yang hanya mengharapkan kenikmatan sesaat dan harta berlimpah seperti yang digambarkan oleh Allah swt dalam firman-Nya tersebut di atas dalam surat Ali-Imran ayat 14.
  2. Mawaddah (semangat saling memberi) cinta model ini adalah cinta tingkatan berikutnya yang memiliki semangat merengkuh/memiliki, maka apabila seseorang dalam menikah itu landasannya adalah saling cinta kasih dan kasih sayang akan terbangun antara suami dan istri adanya semangat saling memberi, saling menyayangi, saling melengkapi dan saling menghormati.
  3. Rahmah (semangat saling melindungi) cinta yang terbangun atas dasar ketidak relaan seorang suami istri yang tidak rela apabila salah seorang anggota keluarga menderita, maka akan terdorong untuk saling melindungi, menghormati dan saling menghargai maka akan ertanam adanya komitmen bersama, tanggungjawab dan pengorbanan.
  4. Radhiya (semangat saling menerima apa adanya) cinta model ini adalah cinta tingkat tinggi yaitu cinta yang memerdekakan, cinta tak bersyarat. Maka suami istri saling menerima apa adanya apapun kondisinya terkait dengan lahiriyah/fisik dan materi.
E. Model (gaya) Rumah Tangga
Dari sebuah survey terbatas ternyata di masyarakat kita ada 6 (enam) macam gaya rumah tangga, kita boleh menentukan kira-kira rumah tangga kita yang ada sekarang dan yang telah dibangun saat ini sepertia apa, adapun prototype  model (gaya) dari ke enam rumah tangga dimaksud adalah sebagai berikut :
  1. Model Hotel, rumah hanya dijadikan sebagai tempat transit, hanya untuk tidur, istirahat, makan, buang air, apabila terjadi permasalahan yang terjadi dirumah tangganya  tidak mau ambil pusing, bahkan tidak memiliki kemauan untuk menyelesaikan. Mau tinggal dan berada di rumah apabila dirumah tersebut tidak ada masalah, model rumah tangga ini adalah antara suami dan istri selalu ingin lari dari masalah.
  2. Model Rumah Sakit, antara dokter dan pasien merasa orang yang paling berjasa, keduanya (suami istri) cenderung mengedepankan egoisme masing-masing, semua merasa yang paling hebat dan berjasa, sedangkan yang lain tidak berarti apa-apa.
  3. Model Pasar, kesepakatan antara penjual dan pembeli tergantung kepada kecocokan harga, apabila harga cocok transaksi dilanjutkan, tetapi jika harga tidak cocok transaksi dihentikan dan langsung berpisah. Rumah tangga ini model rumah tangga coba-coba.
  4. Model Ring Tinju, model rumah tangga ini tidak pernah berdiri pada sudut yang sama, keduanya terlibat dalam pertengkaran dan tidak ada yang mau mengalah, saling ingin menjatuhkan dan merasa yang paling hebat, rumah tangga ini model rumah tangga yang tidak pernah ada titik temu (saling bermusuhan)
  5. Model Kuburan, rumah tangga antara suami, istri dan anak tidak adanya komunikasi, (saling tegur sapa), kata-kata senda gurau persis seperti kuburan antara penghuni lama dan penghuni baru tidak tegur sapa. Keadaanya begitu sunyi, tetapi penuh misteri dan menegangkan serta menakutkan.
  6. 6. Model Masjid, Masjid adalah sebuah gambaran model rumah tangga “Asmara” (as-sakanih mawaddah wa rahmah) yang menjadi dambaan dan harapan setiap keluarga, rumah tangga gaya masjid memiliki  empat ciri (dibangun dengan wudhu, ada imam dan ma’mum, semangat kebersamaan dan diakhiri dengan salam)
 F. Prototipe Keluarga Sakinah
Dari penjelasan model (gaya) rumah tangga tersebut diatas, maka rumah tangga yang terbaik adalah model (gaya) masjid, adapun prototype keluarga sakinah model masjid adalah sebagai berikut :
  1. Tidak sah kalau tidak dibangun dengan wudhu, dimulai dengan berwudhu untuk mensucikan batin dari sifat-sifat dan niat yang tercela dan dosa, membersihkan lahir untuk membersihkan hadats dan najis dari kotoran lahir atas pengaruh dari luar dengan cara membasuh telapak tangan, berkumur, membasuh muka, tangan, mengusap kepala, membasuh telinga dan kedua kaki dengan tujuan kebersihan hati ketulusan jiwa.
  2. Ada muadzin, imam dan makmum dengan tujuan agar setiap diri memahami perannya masing-masing dan system berjalan dengan baik. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga jika yang jadi imam adalah suaminya, istri dan anak-anaknya menjadi makmum. Diawali dengan muadzin mengundangkan adzan sebagai tanda masuk waktu, dan iqomah pertanda dimulainya shalat berjama’ah, imam tampil kedepan menyerukan aturan main dan menjadi suritauladan yang harus diikuti sebagai pemimpin, makmum mengikuti bacaan dan gerakan imam dibelakangnya sebagai pertanda komitmennya sebagai makmum dan mengingatkan jika imam salah.
  3. Masjid sebagai pusat penyemaian peradaban (penanaman dan internalisasi nilai-nilai) yang dibangun dengan pondasi ruh keimanan dan tembok semangan kerjasama, tiang komitmen bersama, dengan ornament kepercayaan dan dihiasi dengan komunikasi dan atap saling melindungi, menghagai dan menyayangi.
  4. Shalat diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri dengan tujuan untuk memberikan keselamatan, ketenangan, kedamaian dan ketentaraman tidak saja kepada rumah tangga kita tetapi juga kepada tetangga dan lingkungan senantiasa mewarnai suasana dalam rumah tangga gaya masjid yang kita bangun. Bukan keresahan, konflik, fitnah dan pukan pula baku hantam (berakhir dengan perceraian dan saling mendendam).
G. Jalan Menuju Keluarga Sakinah
Rumah tangga sakinah tidak datang begitu saja dari langit, maka harus ditempuh melalui langkah-langkah dan dirancang, dipahami, dilaksanakan dengan komitmen dan selalu saling mengevaluasi, adapun langkah-langkah menuju keluarga sakinah adalah sebagai berikut :
  1. 1. Untuk menjadi keluarga yang unggul kita harus menentukan mabda’ (mulai) harus dimulai dengan niat yang baik), manhaj (cara, metode) tidak cukup hanya niat yang baik tetapi harus diikuti dengan cara yang benar, dan Ghayyah (tujuan) harus juga menentukan tujuan akhir yang kita inginkan dalam kehidupan rumah tangga (ibtigha-a mardhatillah).
  2. Apakah keluarga sakinah telah menjadi tujuan dan komitmen bersama ? karena itulah, mengapa pernikahan itu harus diawali dan dinilai syah jika ada akad nikah (mitsaqan ghalidha) perjanjian/ikatan yang kokoh seperti tertera dalam surat A-nisa ayat 21 :
Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat.
  1. Langkah selanjutnya adalah tentukan model rumah tangga yang tepat, kemudian tanamkan dalam pikiran dan hati pasangan kita komitmen untuk memulai, tidak ada kata terlambat untuk memulainya dari sekarang.
  2. Sadari bahwa tidak ada manusia sempurna selain Nabi Muhammad, masing-masing disatukan untuk saling melengkapi, seperti dalam firman Allah swt surat Al-Baqarah

…..mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. ….(QS.2:187)

  1. Pahami dan usahakan secara maksimal untuk mewujudkan fungsi-fungsi keluarga sebagai berikut :
    1. Salah satu bentuk ibadah kepada Allah swt, (sepiritualisasi diri) sebagai anak tangga menuju kemuliaan dan kebahagiaan yang paripurna.
    2. Mengikuti sunnah Rasulullah saw.
    3. Mencegah diri dari dosa (maksiat mata, telinga, hidung, mulut, hati dst).
    4. Reproduksi (mengembangkan keturunan) yang qurrata a’yun sebagai penentram hati sejuk dipandang mata.
    5. Berkarya (mengembangkan potensi diri, karir, karya-karya nyata).
    6. Ekonomi (mengembangkan semangat kemandirian dan tanggung jawab).
    7. Rekreasi (mengembangkan keceriaan, kebersamaan, dan kegembiraan bersama).
    8. Sosialisasi diri (sarana untuk bergaul, bermasyarakat dan berbangsa).
H. Cara Membangun Keluarga Sakinah
Dalam membangun rumah tangga sakinah harus diperhatikan dan dibangun terlebih dahulu pondasinya, sebab apabila pondasinya kuat, maka akan kuat pula bangunan di atasnya adapun pondasi yang dimaksud adalah :
  1. Quwwatul-Aqidah, dalam arti didasari aqidah salimah yang berbasis keislaman dan keimanan yang kokoh karena aqidah merupakan persoalan yang sangat penting dan atas dasar tauhid personal dan social yang tangguh.
  2. Quwwatul-‘Ibadah, mempraktikan ajaran islam (ubudiyah) dengan penuh ketundukan dan kepatuhan baik pada dimensi ritual maupun dimensi social.
  3. Quwwatul-Khulukiyyah, memiliki integritas dan moralitas yang luhur dan mulia.
  4. Quwwatul-Iqtishadiyyah, mengembangkan kemandirian ekonomi dan kehidupan yang halalan thayyiban.
  5. Quwwatul-Ijtima’iyyah, belajar hidup bersama, bersosialisasi diri, dan bermasyarakat secara sehat, bermartabat dan berbudaya.
I. Indikator Keluarga Sakinah
Berdasarkan Sabda Rasulullah saw, ada empat indicator kebahagiaan keluarga seseorang adalah :
  1. Suami/istri sholeh/sholehah.
  2. Anak-anak berbakti (Qurrata-A’yun).
  3. Teman pergaulan dan kolega shalih.
  4. Rizki berada di negeri sendiri yang halalan thayyiban, berkah, dekat dengan istri/suami dan anak-anak.
Dalam hadits lain Rasulullah mengutarakan :
  1. Rumah yang lapang.
  2. Kendaraan yang baik.
J. Penutup.
Demikian tulisan yang sederhana ini semoga dapat kiranya menjadi bahan diskusi, perenungan dan apabila dinilai baik sesuai dengan petunjuk Allah swt dan tuntunan Rasulullah saw, bagi yang menghendaki rumah tangganya sakinah dengan bermodalkan mawadah, rahmah dan penuh dengan keridhaan Allah swt sebagai bentuk dari pengejawantahan dari pengamalan ajaran Islam dengan baik maka hal ini dapat menjadi bahan masukan bagi para pembaca yang budiman.

KETELADANAN ADALAH KUNCI PENDIDIKAN SEPANJANG MASA



Foto : Muhammad Hadidi Islamic Law FAI UMM
Artinya : Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim)
  
 Sungguh hadits ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan contoh, apalagi sebagai orang tua, kita dituntut lebih hati-hati. Sengaja atau tidak, ada efek negatif maupun positif. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi dengan keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak. 

   Memang banyak tips dan cara untuk mendidik anak, ada yang dengan metode A ada yang menyarankan dengan metode B. Namun, dari setiap metode-metode yang selama ini saya baca, keteladanan adalah metode yang jitu dalam pendidikan anak-anak di keluarga. Disini saya akan membahas fakta tentang pendidikan di rumah, pentingnya keteladanan dalam pendidikan, dan bagaimana orang tua agar mampu menjadi tauladan yang baik untuk anak.

Pertama, cara mendidikan anak-anak dalam rumah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya dirumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan dirumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan. 

Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa tujuan mereka mendidik anak-anaknya, apakah hanya sekedar bisa survive di dunia ini ataukah menginginkan anak-anaknya menjadi generasi yang unggul. Tujuan utama pendidikan adalah untuk melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), atau dengan kata lain, tujuan kita mendidik anak adalah untuk menjadikan mereka anak-anak yang sholeh/sholehah. Dan ini merupakan tugas utama sebagai orang tua. 

   Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun diakherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggan keluarga, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah.
Kedua, pentingnya teladanan dalam mendidikan. Sebagaimana kita ketahui, Allah juga memberikan contoh-contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. al Mumtahanah [60]: 6).
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab [33]: 21).
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Luqman [31]: 12)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (Qs. al-Lahab [111]: 1)

   Oleh karena itu, keteladanan dalam dunia pendidikan adalah sangat penting, apalagi kita sebagai orang tua yang diamanahi Allah berupa anak-anak, maka kita harus menjadi teladan yang baik buat anak-anak. Kita harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, kita harus menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini. Jadi jika kita menginginkan anak-anak kita mencintai Allah dan RosulNya maka kita sendiri sebagai orang tua harus mencintai Allah dan RosulNya pula, sehingga kecintaan itu akan terlihat oleh anak-anak. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang taat pada syari’at jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah.

 Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Allah jika kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke ceramah-ceramah, dan akan terasa susah untuk membentuk anak yang mempunyai jiwa pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika bapak ibunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan dakwah. 

Sebagai contoh, apa yang terjadi di Palestina, setiap generasi disana sejak kecil sudah menjadi mujahid, jiwa mereka sudah tidak ada rasa takut terhadap kematian dan mereka siap melakukan apa saja demi kejayaan Islam, ini semua karena orang tua mereka memberikan contoh nyata kepada mereka. 

Disamping itu, tanpa keteladanan, apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita akan hanya menjadi teori belaka, mereka seperti gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah merealisasikan dalam kehidupan. Kita selalu mengajarkan agar anak kita mencintai Allah, namun kita sendiri lebih mencintai dunia…maka pengajaran tentang hal itu akan sulit untuk direalisasikan. 

Yang lebih utama lagi, metode keteladanan ini bisa kita lakukan setiap saat dan sepanjang waktu. Dengan keteladanan pengajaran-pengajaran yang kita sampaikan akan membekas dan metode ini adalah metode termurah dan tidak memerlukan tempat tertentu. Jadi…mampukan kita menjadi uswatun hasanah bagi anak-anak kita??

Untuk mampu menjadi uswatun hasanah, syarat utama adalah kita sebagai orang tua harus tahu Islam secara menyeluruh, bagi yang belum tahu Islam tidak ada kata terlambat, belajar Islam menjadi prioritas agar kita menjadi uswah yang ideal buat anak-anak. Islam adalah landasan yang ideal untuk membentuk suatu kepribadian, karena Islam adalah aturan yang menyeluruh bagaimana manusia hidup di dunia ini.

Khatimah
  Mempunyai anak sholeh (anak yang berkepribadian Islam) adalah impian setiap orang tua, dengan keteladanan sepanjang masa adalah metode paling efektif. Orang tua juga harus mampu menjadi uswah yang baik buat anak-anaknya, namun janganlah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi sholeh/sholehah.

Sumber :http://Adi.blogresss.com.id.wordpress.com/2010/02/07/keteladanan-adalah-kunci-pendidikan-sepanjang-masa/