29 Januari 2014

Pemimpin Harus Berjiwa Besar...!


 
Muhammd Hadidi S.S,y.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (QS Al-Hujurat: 49) Betapa banyak pribadi yang besar dalam sejarah tetapi yang berjiwa besar sungguh sangat langka. Pribadi tersebut mampu mengalahkan diri sendiri dan mengesampingkan egonya demi kepentingan umat yang jauh lebih besar.

Diantara butiran mutiara itulah Khalid bin Walid ada di barisan terdepan. Satu riwayat yang menyebutkan tentang pemilihan Khalifah yang kedua yaitu Umar Bin Khattab, setelah Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq meninggal. Padahal, pada saat yang bersamaan sedang terjadi peperangan melawan Romawi yang dikomandani Khalid bin Walid. Sebelum Umar menjadi Khalifah, beliau telah berpendapat bahwa posisi Khalid harus diganti karena beliau mengkhawatirkan umat Islam terjatuh dalam kebinasaan, yaitu mereka berperang karena Khalid bukan karena Allah.

Pertahankanlah Citra Diri Anda..!!


   Sebagai makhluk moral, manusia selalu dihadapkan pada piliham untuk berbuat baik dan buruk. Kecenderungan baik dan buruk itu terus bergulat dalam diri manusia sepanjang waktu. Namun perlu disadari bahwa kehormatan dan kemuliaan manusia justru terletak pada kemampuannya mengorganisasi dan memanage kecenderungan-kecenderungan yang bersifat antagonistik itu secara baik dan proporsional. Dalam terminologi akhlak Islam, usaha manusia untuk membangun kehormatan dan citra diri yang baik sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya itu dinamai sifat muru'ah. Muru'ah berarti menjaga diri hingga mencapai puncak kesempurnaannya, sehingga dalam dirinya tak tampak sedikitpun keburukan maupun kekurangan.

Sifat muru'ah menurut Imam Al-Mawardi, menjadi salah satu indikasi kesucian jiwa dan kesuburan budi pekerti. Dikatakan demikian, karena seorang tak disebut memiliki muru'ah kecuali bila ia mampu memelihara diri dari dosa-dosa, tidak berbuat dosa, tidak berbuat zalim, tidak tamak atau loba, tidak membantu orang kuat untuk menghancurkan yang lemah, serta tidak melakukan sesuatu yang dapat merusak nama baik dan kehormatannya. (Kitab Adab Ad-Dunya Wad-Din, hal. 206).

Sudahkah kita melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar???

  Rasulullah Saw bersabda, "Bersungguh-sungguhlah kalian dalam menyeru yang makruf, bersungguh-sungguh pulalah kalian dalam mencegah yang munkar. Jika tidak, maka Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, dan doa orang-orang baik di antara kalian (tetapi diam terhadap kemunkaran) tidak akan dikabulkan oleh Allah," (HR Imam Bazzar).

    Hadis di atas menjelaskan kepada kita akan kewajiban setiap Muslim untuk senantiasa melakukan aktivitas dakwah Islamiyah. Kita diperintahkan oleh Rasulullah Saw untuk senantiasa menegakkan kebenaran di manapun kita berada, dan dalam posisi apa pun. Seorang hakim yang baik, pastilah ia akan berusaha melandaskan keputusannya pada prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran.

Pilih Menjadi "Ayam" atau Menjadi Seekor 'Angsa'?

Muhammad Hadidi (Adid.com)

    Pada suatu hari seorang petani menemukan sebutir telur angsa di halaman rumahnya dan memasukkan telur tersebut ke dalam kandang ayam di antara telur-telur ayam yang sedang dierami. Beberapa minggu kemudian telur angsa itu menetas dan karena berada di lingkungan ayam, sang anak angsapun berperilaku seperti ayam. Anak angsa tersebut makan seperti ayam, berkokok seperti ayam dan berkumpul di tengah-tengah para ayam. Ketika sedang bermain-main di tengah hutan, tak jarang sang anak angsa memandang iri kepada kerumunan para angsa yang sedang berenang di tengah danau dan berharap di dalam hati seandainya saja ia mampu berenang dan menikmati indahnya danau seperti para angsa tersebut.

     Hingga suatu hari, para pemburu liar yang mengejar mangsa buruannya ke tengah hutan melepaskan tembakan dan membuat panik para warga hutan. Sang anak angsa berlari dengan kencang hingga ia terhenti di tepi danau dan dengan kesedihan yang mendalam hanya mampu menyaksikan gerombolan para angsa berenang menyeberangi danau untuk menyelamatkan diri. Ia menyesal terlahir sebagai seekor ayam yang tidak mampu berenang. Di tengah-tengah kepanikan, kesedihan serta ketidakberdayaannya, sebutir peluru pemburu bersarang di tubuh sang anak angsa tersebut. Anak angsa itupun mati tanpa pernah mengetahui bahwa ia seekor angsa dan bahwa ia sebenarnya mampu survive dari kejaran pemburu tersebut.

     Ilustrasi di atas adalah gambaran umum dari kondisi para pemuda, khususnya para pemuda Islam, sekarang ini. Banyak di antara kita yang merasa cukup puas dengan apa yang telah kita raih, tanpa menyadari bahwa sebenarnya dengan potensi yang kita miliki dan dengan izin Allah s.w.t kita mampu untuk menjadi sesuatu yang lebih dahsyat. Dan tidak sedikit di antara kita yang bahkan tidak pernah mengetahui potensi diri kita sesungguhnya, karena kita sudah merasa nyaman dengan tidak menjadi apa-apa. Kita hanya mampu memandang takjub dengan kegemilangan orang lain, tanpa pernah menyadari bahwa mungkin kita memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih dari orang tersebut.