10 Januari 2013

Nasihat untuk Sahabat

Sahabat untuk segalanya......
Di manaSahabat,
Bersama kita mulai belajar
Untuk tidak memiliki sesuatu

Apa yang pernah Rabb berikan
Apa yang pernah Rabb kasihkan
Apa yang pernah Rabb titipkan
Semuanya milik yang Maha Rahmaan

Jadi adakah bagi kita alasan
Untuk merasa keberatan
Jika sebagian harta kita sisihkan
Jika sebegian kerat roti kita berikan
Jika sebagian waktu kita infakkan
Jika sebagian permata kita dermakan
Pada saudara kita yang lebih membutuhkan

Ataukah
Engkau merasa akan dilanda kemiskinan
Jika berbuat yang demikian



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk tidak dimiliki oleh sesuatu

Apa yang pernah Rabb sediakan
Apa yang pernah Rabb sandingkan
Apa yang pernah Rabb mudahkan
Semuanya dijadikan sebagai ujian
Untuk membuktikan bahwa cinta yang pernah kita ikrarkan
Tidak sebatas dalam ucapan

Haruskah kita lebih mencintai abi
Haruskah kita lebih mencintai umi
Haruskah kita lebih mencintai istri
Haruskah kita lebih mencintai puri
Haruskah kita lebih mencintai merci
Haruskah kita lebih mencintai deadline tak bertepi
Haruskah nyawa kita berakhir di ujung sepi

Mengapa engkau lebih mencintai dirimu sendiri
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah mengadakanmu di muka bumi

Mengapa engkau lebih mencintai semuanya ini
Ketimbang mencintai Rabb
Yang telah menyediakan semua yang kamu cintai di dunia ini

Ataukah
Engkau merasa
Bahwa engkau dipersulitkan
Bahwa engkau direpotkan
Bahwa engkau disiksakan
Karena yang engkau ingin adalah ketenangan
Karena yang engkau inginkan adalah keselamatan
Karena yang engkau inginkan adalah bersenang-senang

Tanpa pedulikan umat yang mulai dihujani tusukan
Tanpa pedulikan saudaramu yang mulai dilanda kelaparan
Tanpa pedulikan saudaramu yang kini mulai ditimpa kemusyrikan
Tanpa pedulikan saudaramu yang dalam setiap sujud ditemani mortir dan dentuman
Tanpa pedulikan risalahmu yang kini mulai dicincang
Sementara kamu hirup gratis hawa ini setiap pekan



Sahabat
Bersama kita belajar
Untuk berbuat sesuatu bukan karena sesuatu
Tetapi karena Rabbmu

Apa yang pernah Rabb perintahkan
Apa yang pernah Rabb larangkan
Apa yang pernah Rabb tunjukkan
Semuanya adalah hidayah yang harus kita jadikan tuntunan

Berbuat baiklah
Karena kita memang harus berbuat baik

Beramallah
Karena memang kita harus beramal

Berjuanglah
Karena memang kita diperintahkan

Bersujudlah
Karena memang kita harus bersujud di hadapan

Dan berbuatlah
Bukan karena engkau ingin dipuji
Bukan karena engkau ingin dicintai
Bukan karena engkau ingin dikenali

Dan berbuatlah
Lebih dari sekadar takut akan azab-Nya
Lebih dari sekadar harap akan jannah-Nya
Lebih dari sekadar rindu akan cinta-Nya

Tapi berbuat baiklah
Karena kita memang begitu tulus mencintai-Nya

Sahabat,
kah ujung keihklasan
Ia ada dalam setiap nikmat
Yang benar-benar membekas dan dapat kamu rasakan

Maka, adalah sebuah keniscayaan
Jika kelak kamu dapat masuk dalam jannah-Nya
Melalui sekerat roti yang pernah kau sisihkan
Melalui setitik kebaikan yang pernah kamu berikan

Bukan karena sekerat roti yang kau dermakan
Tapi karena engkau kini mulai pahamkan
Akan arti satu dari sejuta nikmat yang kamu rasakan


Palmerah Bumi Allah Syaban 1424 H

alhikmah.com [18.12.2003]


Kenangan Indah untuk Mantan Kekasih






Mantan Kekasihku....

Seorang sahabat dengan wajah sangat bersedih datang ke rumah saya. Belum lagi uraian keterangan menghiasi pembicaraan, air matanya telah berderai dengan deras hingga akhirnya tercetuslah keinginan yang sungguh mengagetkan saya.

“Saya ingin mati saja. Buat apa saya hidup lebih lama lagi jika begini keadaannya? Saya ingin bunuh diri mbak.”

Innalillahiwainnailaihirajiun. Sesungguhnya, segala sesuatu itu datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Itu yang sesungguhnya. Artinya, hidup dan mati kita ada di tangan Allah. Tak seorang pun yang kuasa untuk mendatangkan kematian pun tak ada seorang pun yang kuasa menghadirkan kehidupan. Tapi mendengar keinginan yang tercetus tersebut, tak urung membuat saya tercenung. Mengapa?

Mengapa tercetus keinginan yang sebegitu dasyat tersebut? Apakah memang hidup sudah begitu memuakkannya hingga harus segera diakhiri? Apakah hidup memang sudah sangat sedemikian tidak berartinya hingga harus segera dihentikan? Apakah karena hidup sudah begitu tak sedapnya hingga harus disingkirkan? Tak ada yang tahu jawabannya.

Tapi ada reka-rekaan. Yaitu urutan awal permasalahan atau biasa disebut sebab musabab hingga lahirlah keinginan dasyat tersebut. Yaitu kehendak yang tidak tercapai.

Usut punya usut, ternyata sahabat saya itu baru putus cinta dengan kekasihnya. Kekasihnya itu memutuskan hubungan karena dalam perjalanan percintaan mereka, kekasihnya tersebut bertemu dengan orang ketiga yang ternyata dirasakan lebih cocok ketimbang ketika bersama dengan sahabat saya itu. Akhirnya. Sahabat saya ditinggalkannya dan jadilah kejadian kemarin terjadi. Sahabat saya merasa kecewa berat dan ingin bunuh diri karenanya. Apakah ini jalan pintas?

“Buat apa kamu bunuh diri hanya karena putus cinta?”

“Entahlah mbak. Saya ingin mati saja karena saya sangat mencintai dia. Rasanya hidup ini tidak akan indah lagi jika dia tidak ada di sisi saya.” (Alamak.. )

“Tapi apa dampak terbesar yang akan kamu peroleh dengan peristiwa bunuh diri tersebut?” Saya bertanya padanya, mencoba mengajaknya berpikir dahulu sebelum dia melakukan peristiwa dasyat tersebut.

“Yang pasti, dia akan tahu bahwa saya sangat kecewa dengan tindakannya itu dan agar dia tahu bahwa saya sangat mencintainya.”

“Hanya itu?”

“Ya, Hanya itu.”

“Hanya itu?” Kembali saya bertanya dengan pertanyaan yang sama. Sahabat saya tidak menjawab. Sebaliknya dia mengkerutkan keningnya keheranan karena saya bertanya dua kali. Lalu saya kembali bertanya, “Ayo apa lagi alasannya, masa hanya itu?” Dia semakin keheranan.

“Apa lagi?” Ujarnya.

“Terserah. Tapi saya mengharapkan jawaban alasan yang lebih dasyat dari itu. Bunuh diri itu peristiwa yang sangat dasyat. Ganjarannya kamu akan masuk neraka, kelanjutannya kamu tidak akan lagi hidup di dunia ini, sambungannya kamu akan berdiam di alam kubur dengan azab kubur yang menanti. Ke depannya, semua kenangan yang pernah kamu miliki akan dilupakan orang. Semua prestasi, semua pangkat, semua kedudukanmu akan habis dilupakan orang. Yang orang akan kenang dari dirimu hanya satu, itu si A yang mati bunuh diri karena putus cinta. Tak ada lagi yang kenal kamu sebagai A yang pandai, atau yang cantik, atau yang berprestasi, dan sebagainya. Jadi, untuk semua itu, untuk memperoleh semua kemalangan yang bererot panjang tersebut setelah kamu meninggal kelak, harus ada alasan yang maha dasyat. Sangat dasyat. Itu sebabnya saya bertanya, mengapa hanya itu alasannya.” Sahabat saya tercenung.

“Tapi setidaknya saya bisa menunjukkan pada mantan saya itu bahwa saya sangat mencintainya.”

“Dia tahu itu. Itu sebabnya selama ini dia bersedia jadi pacar kamu.”

“Saya ingin dia tahu bahwa saya sangat kecewa dengan tindakannya.”

“Dia mungkin tahu itu. Tapi kamu harus ingat satu hal. Dia juga tahu apa yang dia inginkan untuk kebahagiaan hidupnya sendiri. Bisa jadi, sebelum dia bertemu dengan orang lain, dia terus mempertimbangkan apakah kamu memang layak jadi pendamping hidupnya. Setelah waktu berjalan dan tanpa sengaja bertemu dengan orang lain, dia akhirnya sadar bahwa kamu bukan yang terbaik untuk kebahagiaan hidupnya. Percayalah. Dia tahu bahwa sudah mengecewakan kamu, tapi dalam hal ini, dia di hadapkan pada dua pilihan. Kebahagiaan dia sendiri atau kebahagiaan kamu. Jika dia bertahan denganmu, bisa jadi dia akan bahagia tapi mungkin hanya sampai huruf M, tidak sampai Z, dan dalam perkiraannya dia akan mencapai kebahagiaan sampai huruf Z jika bersama dengan yang baru. Begitu. Semua orang jika dihadapkan pada pilihan antara dirinya dan diri orang lain, maka cenderung untuk lebih memilih dirinya terlebih dahulu baru orang lain. Apalagi hal-hal yang menyangkut warna hidup kita seterusnya.”

“Kalau begitu biarlah dia mengenang saya selamanya.”

“Percayalah, jika kamu tetap mempertahankan hidup, lalu di hari depan kamu lebih berprestasi ketimbang hari ini, kenangan indah yang ada di dalam benaknya lebih berarti karena akan menerbitkan kebanggaan. Bisa jadi, dia suatu hari akan melihat wajahmu di koran misalnya karena baru habis memenangkan nobel misalnya sambil bilang, ‘lihat, dulu dia pernah jadi teman dekat saya’. Itu kenangan yang dasyat ketimbang kenangan memperhatikan wajahmu di photo album dengan pandangan kasihan karena kamu mati bunuh diri.”

Ah. Jika hidup masih bisa diberi arti yang lebih spesial dan bermakna, mengapa harus diakhiri dengan cara melawan takdir?

Jaga Pandangan? ... Siapa Takut...


Wahai Pemuda Tundukkan Pandanganmu
“Ciaaatttttt….” Tubuh mungil Siou Lien terbang di udara seiring dengan gerakan kakinya yang menghentak bumi.

“Wah.. bagus, Siao Lien, sekarang langsung pegang lutut kamu, tundukkan kepala dan banting punggungmu ke depan.” Segera aku memberi aba-aba pada Siao Lien. Dia langsung mengikuti petunjukku. Dipegangnya lututnya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut itu hingga tubuhnya kini tampak membulat. Dari jauh, persis seperti seekor trenggiling yang sedang meluncur dari puncak bukit, hanya saja trenggiling yang satu ini memakai jilbab warna putih.

“Yak… Sekarang. Banting ke depan !” Sioa Lien gugup, konsentrasinya buyar. Jangankan mendorong punggungnya ke depan, melepas pelukan kedua tangannya di lututpun dia lupa hingga masih dalam keadaan membulat dia meluncur bebas menuju bumi. Tiiiiiiiiiiiiing… BUK !

“Aduh… “ Siao Lien tampak terhempas dengan sisi tubuh sebelah kirinya terlebih dahulu menghantam tanah. Aku segera berlari menghampirinya. Wajahnya tampak meringis, jilbab putihnya pun tampak berantakan hingga beberapa helai rambutnya tampak mengintip ke luar.

“Sakit Lien ?“

“Nggak, enak kok.. Mantaf…” Di tengah wajah meringisnya dia masih menyelipkan kalimat canda. Hmm, pertanyaanku yang rasanya bodoh. Tentu saja sakit jatuh dari ketinggian satu meter di atas tanah seperti tadi. Dalam diam, kugosokkan balsem ke sekujur tubuhnya sambil memijitnya perlahan-lahan. Siao Lien tampak menikmati pijitanku sambil sesekali berteriak kesakitan jika aku menyentuh bagian tertentu dari permukaan kulitnya yang mulai terlihat lebam.

“Duh.. maaf yah kak. Lien tuh susah banget yah diajarinnya. Habis, Lien gugup banget sih kak.” Aku hanya tersenyum mendengar permintaan maafnya.

“Nggak papah Lien. Mungkin kakak saja yang terlalu bernafsu ngajarin kamu. Habis, kejuaraan sebentar lagi kan diadakan di ibukota. Kakak pingin kamu bisa tampil dan meraih setidaknya yah harapan satu atau harapan dualah di kejuaraan itu. Hmm, jurus berputar di udara itu adalah jurus Angin Berputar yang dimiliki hanya oleh perguruan kita. Kakak mempelajarinya dari kakek guru almarhum dan sudah memodifikasinya sedemikian rupa sehingga gerakan itu lebih kaya sekarang. “

“Harusnya kakak saja yang muncul kak.”

“Iyah.. tapi kamu kan tahu sendiri bahwa kakak harus turun gunung besok siang, karena ada musibah di desa Sampan Jauh. Kakak harus membantu penduduk di sana yang sedang dilanda perang saudara dengan desa di sebelahnya. Jadi, kita bagi tugas. Masing-masing kita berjuang dengan peranan masing-masing. Mengenai latihan… kakak sudah punya rencana sendiri khusus untuk kamu.” Aku terus memijit kaki Siou Lien sementara Siou Lien sudah berkurang suara mengaduhnya.

“Apa rencana kakak buat aku ?” Siou Lien lebih tertarik pada rencana yang belum kuucapkan ketimbang lebam di tubuhnya. Aku tersenyum dan dari arah belakang kami terdengar suara teriakan salam.

“Assalamu’alaikum !” Dengan kompak aku dan Lien menjawab salam tersebut. Wah.. tepat waktu. Aku berbalik punggung dan di depanku kini telah tampak seorang pemuda kekar yang memakai kacamata hitam dan sedang tersenyum lebar.

“Lien… Ini rencana kakak. Sementara kakak pergi, kamu akan dilatih oleh Kak Li Ping Tse… Hmm.. kenalan dulu kali yah. Li Ping, ini Siou Lien, Siou Lien, ini Li Ping. Li Ping ini kakak perguruan kamu yang dua tahun lalu belajar ke gunung sebelah dan sekarang kakak panggil pulang untuk melatih kamu.” Aku memandang mereka berdua yang sama-sama menunduk dalam diam.

“Lien.. kamu bisa istirahat sekarang, kakak mau bicara dengan Li Ping.” Kutepuk pundak Siou Lien dan sedetik berikutnya Siou Lien sudah melesat pergi.

Kini tinggal aku berdua dengan Li Ping Tse. Kujelaskan semua jurus modifikasiku pada Li Ping Tse yang mendengarnya dengan penuh khikmat. Matahari sudah semakin condong ke arah barat, ba’da ashar aku sudah harus turun gunung agar ketika maghrib tiba, aku sudah berada di kota. Sebelum pergi meninggalkan Li Ping Tse, kudekati dia hati-hati.

“Jaga Pandangan kamu yah terhadap Siou Lien. Ingat, kalian tetap berlainan jenis dan non muhrim. ” Dengan tegas kuberi Li Ping Tse peringatan.

“Siip kak. Lihat, perbekalan sudah memadai.” Li Ping Tse memperlihatkan kacamata hitam pekat yang masih bertengger di atas hidungnya sambil memamerkan senyum lebarnya yang khas.

---ooo000000ooo---


Wahh.. tak terasa sudah enam bulan aku meninggalkan perguruan. Rindu rasanya pada semua adik-adik perguruan, juga pada pohon Cemara di depan jendela kamarku, yang selalu meliuk rendah sekali jika angin datang menerpanya. Atau pada kitiran angin yang terbuat dari bambu dengan sehelai bulu sayap burung elang di ujungnya hingga bambu itu akan berputar riang jika tertiup angin. Putaran bulu elang inilah yang memberikan inspirasi pada modifikasi gerakan tendangan angin berputar perguruanku. Tiga bulan lalu, Siou Lien memberiku kabar bahwa tahun ini perguruan kami berhasil memenangkan pertandingan antar perguruan hingga perguruan kami diakui sebagai perguruan yang patut diperhitungkan di dunia persilatan. Alhamdulillah.

Dari jauh kulihat Li Ping Tse sedang duduk menipu seruling di atas batu cadas ceper yang ada di depan gerbang perguruan. Lagu yang dinyanyikannya sedih sekali. Tumben. Biasanya, keceriaan dan senyum tidak pernah hilang dari perilakunya sehari-hari. Dengan sekali hentak, kuputar tubuhku melayang di udara hingga dalam sekejap bisa berada tepat di depan Li Ping Tse.

“Assalamu”alaikum !” Li Ping Tse tampak terkejut dan segera bangkit dari duduk bersilanya.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh… Ahlan Kak Chou CHou, kapan datang ?” Dengan gugup Li Ping Tse tampak gugup dan grogi menyembunyikan serulingnya. Dia pasti malu karena dalam hal ini dia benar-benar sudah kehilangan kewaspadaannya. Bayangkan jika yang datang itu musuh, tentu dengan mudah dia sudah dikalahkan dan musuh bisa dengan mudah masuk ke dalam perguruan kami tanpa ada perlawanan apa-apa.

“Bagaimana kabar kamu dan adik-adik ?”

“Baik alhamdulillah.” Sekilas kulihat dia menelan air liurnya dengan susah payah. Hei, tidak biasanya Li Ping Tse begini gugup. Kucari wajahnya yang menunduk sangat dalam tersebut dan menatapnya dengan seksama, membuat wajahnya yang dihiasi kacamata hitam itu kian bersemu merah.

“Ada apa ?” Tidak ada jawaban selain gelengan kepala. Secara sekelebat di kepalaku terlintas wajah Siou Lien. Apakah ada hubungannya ?

“Bagaimana kabar Siou Lien setelah kutitipkan dia padamu ?” Li Ping Tse tampak langsung menelan kembali air liurnya, keringatnya tampak membayang di pelipisnya. Membuatku kian khawatir.

“Ada apa dengan dia ?” Pertanyaanku semakin memburu.

“Tidak.. tidak ada apa-apa. Sungguh kak. Hubungan kami baik, sangat baik. Dia menganggapku seperti kakaknya sendiri…,” Kalimat Li Ping Tse terasa menggantung.

“Lalu ?” Aku kian penasaran. Tak peroleh jawaban, tapi sebaliknya Li Ping Tse mulai terisak. Loh ? Ada Apa ini ? Permainan apa lagi yang mau ditunjukkannya. Dari dulu, Li Ping Tse memang terkenal sebagai murid yang paling selengek’an, sehingga guru menugaskan dia untuk belajar di gunung sebelah.

“Loh ?… Ih, bingungin, kamu kenapa sih ?” Aku mengggaruk-garuk kepala kebingungan berhadapan dengan Li Ping Tse kali ini. Tapi pemuda di depanku ini malah terisak kian hebat. Wah.. memalukan. Tubuh kekarnya jadi tidak lagi berarti. Pendekar kok menangis. Apa kata dunia persilatan?

“Hei…cup.. cup.. kenapa ?” Tiba-tiba Li Ping Tse menghentikan tangisnya dan memamerkan senyum lebarnya yang khas. Itu senyum isengnya, aku sudah hapal sekali. Jika ini senyum isengnya, artinya tadi itu air mata buayanya. Wah. Aku mundur beberapa langkah menjauhi Li Ping Tse dan mengambil sikap bersiaga menghadapinya.

“Sedih kak, karena aku pingin dia tidak menganggapku sebagai kakaknya, tapi.. sebagai …nggnn…. kekasihnya.”

“Wayooooooo…” Aku berteriak spontan. Ih, gemes banget deh menghadapi anak ini, sungguhan.

“Kamu kan aku beri amanat untuk jaga pandangan kamu Li Ping, ingat. “

“Yup. Sudah. Lihat. Aku tidak pernah melepas kacamataku, kami tidak pernah bertatapan secara langsung dalam waktu yang lama, pokoknya murni profesional. Tapi kan, mana tahu kalau keadaan jadi begini, sebab..” Huh, aku benci melihat gaya LI Ping Tse menguraikan alasannya.

“Stoooopppppp.. Jangan bicara lagi, sebel dengarnya. Jaga pandangan itu tidak harus berbentuk fisik tidak melihat secara langsung atau menggunakan bantuan benda seperti kacamata, bukan hanya itu. Tapi jaga pandangan itu juga harus diiringi dengan jaga hati, jangan mengotori hati kamu begitu saja. Huhhh… kamu tuh sudah mengecewakanku deh. Sekarang, aku beri hitungan sampai tiga untuk kamu menyelamatkan diri dari hukumanku. Sudah gatal rasanya kakiku untuk menendangmu. Ayo.. satu….” Li Ping Tse yang sedang tersenyum lebar tergagap dan tampak kebingungan menengok ke kiri dan ke kanan.

“Dua…” Melihat kesungguhanku dalam berhitung juga kuda-kudaku yang mulai terpasang, Li Ping Tse segera tahu bahwa aku memang sungguhan akan memberinya hukuman. Segera dia berlari sekuat tenaga meniti anak tangga yang jumlahnya ratusan ke atas gunung, tempat perguruan kami berada. Bajunya dari belakang tampak berkibar-kibar tertiup angin.

“Tiga… Tendangan Angin berputar, terima ini. Ciaaaaaattttttttt..”