 |
| Mantan Kekasihku.... |
Seorang
sahabat dengan wajah sangat bersedih datang ke rumah saya. Belum lagi uraian
keterangan menghiasi pembicaraan, air matanya telah berderai dengan deras hingga
akhirnya tercetuslah keinginan yang sungguh mengagetkan saya.
“Saya ingin
mati saja. Buat apa saya hidup lebih lama lagi jika begini keadaannya? Saya
ingin bunuh diri mbak.”
Innalillahiwainnailaihirajiun. Sesungguhnya,
segala sesuatu itu datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Itu yang
sesungguhnya. Artinya, hidup dan mati kita ada di tangan Allah. Tak seorang pun
yang kuasa untuk mendatangkan kematian pun tak ada seorang pun yang kuasa
menghadirkan kehidupan. Tapi mendengar keinginan yang tercetus tersebut, tak
urung membuat saya tercenung. Mengapa?
Mengapa tercetus keinginan yang
sebegitu dasyat tersebut? Apakah memang hidup sudah begitu memuakkannya hingga
harus segera diakhiri? Apakah hidup memang sudah sangat sedemikian tidak
berartinya hingga harus segera dihentikan? Apakah karena hidup sudah begitu tak
sedapnya hingga harus disingkirkan? Tak ada yang tahu jawabannya.
Tapi
ada reka-rekaan. Yaitu urutan awal permasalahan atau biasa disebut sebab musabab
hingga lahirlah keinginan dasyat tersebut. Yaitu kehendak yang tidak
tercapai.
Usut punya usut, ternyata sahabat saya itu baru putus cinta
dengan kekasihnya. Kekasihnya itu memutuskan hubungan karena dalam perjalanan
percintaan mereka, kekasihnya tersebut bertemu dengan orang ketiga yang ternyata
dirasakan lebih cocok ketimbang ketika bersama dengan sahabat saya itu.
Akhirnya. Sahabat saya ditinggalkannya dan jadilah kejadian kemarin terjadi.
Sahabat saya merasa kecewa berat dan ingin bunuh diri karenanya. Apakah ini
jalan pintas?
“Buat apa kamu bunuh diri hanya karena putus
cinta?”
“Entahlah mbak. Saya ingin mati saja karena saya sangat mencintai
dia. Rasanya hidup ini tidak akan indah lagi jika dia tidak ada di sisi saya.”
(Alamak.. )
“Tapi apa dampak terbesar yang akan kamu peroleh dengan
peristiwa bunuh diri tersebut?” Saya bertanya padanya, mencoba mengajaknya
berpikir dahulu sebelum dia melakukan peristiwa dasyat tersebut.
“Yang
pasti, dia akan tahu bahwa saya sangat kecewa dengan tindakannya itu dan agar
dia tahu bahwa saya sangat mencintainya.”
“Hanya itu?”
“Ya, Hanya
itu.”
“Hanya itu?” Kembali saya bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Sahabat saya tidak menjawab. Sebaliknya dia mengkerutkan keningnya keheranan
karena saya bertanya dua kali. Lalu saya kembali bertanya, “Ayo apa lagi
alasannya, masa hanya itu?” Dia semakin keheranan.
“Apa lagi?”
Ujarnya.
“Terserah. Tapi saya mengharapkan jawaban alasan yang lebih
dasyat dari itu. Bunuh diri itu peristiwa yang sangat dasyat. Ganjarannya kamu
akan masuk neraka, kelanjutannya kamu tidak akan lagi hidup di dunia ini,
sambungannya kamu akan berdiam di alam kubur dengan azab kubur yang menanti. Ke
depannya, semua kenangan yang pernah kamu miliki akan dilupakan orang. Semua
prestasi, semua pangkat, semua kedudukanmu akan habis dilupakan orang. Yang
orang akan kenang dari dirimu hanya satu, itu si A yang mati bunuh diri karena
putus cinta. Tak ada lagi yang kenal kamu sebagai A yang pandai, atau yang
cantik, atau yang berprestasi, dan sebagainya. Jadi, untuk semua itu, untuk
memperoleh semua kemalangan yang bererot panjang tersebut setelah kamu meninggal
kelak, harus ada alasan yang maha dasyat. Sangat dasyat. Itu sebabnya saya
bertanya, mengapa hanya itu alasannya.” Sahabat saya tercenung.
“Tapi
setidaknya saya bisa menunjukkan pada mantan saya itu bahwa saya sangat
mencintainya.”
“Dia tahu itu. Itu sebabnya selama ini dia bersedia jadi
pacar kamu.”
“Saya ingin dia tahu bahwa saya sangat kecewa dengan
tindakannya.”
“Dia mungkin tahu itu. Tapi kamu harus ingat satu hal. Dia
juga tahu apa yang dia inginkan untuk kebahagiaan hidupnya sendiri. Bisa jadi,
sebelum dia bertemu dengan orang lain, dia terus mempertimbangkan apakah kamu
memang layak jadi pendamping hidupnya. Setelah waktu berjalan dan tanpa sengaja
bertemu dengan orang lain, dia akhirnya sadar bahwa kamu bukan yang terbaik
untuk kebahagiaan hidupnya. Percayalah. Dia tahu bahwa sudah mengecewakan kamu,
tapi dalam hal ini, dia di hadapkan pada dua pilihan. Kebahagiaan dia sendiri
atau kebahagiaan kamu. Jika dia bertahan denganmu, bisa jadi dia akan bahagia
tapi mungkin hanya sampai huruf M, tidak sampai Z, dan dalam perkiraannya dia
akan mencapai kebahagiaan sampai huruf Z jika bersama dengan yang baru. Begitu.
Semua orang jika dihadapkan pada pilihan antara dirinya dan diri orang lain,
maka cenderung untuk lebih memilih dirinya terlebih dahulu baru orang lain.
Apalagi hal-hal yang menyangkut warna hidup kita seterusnya.”
“Kalau
begitu biarlah dia mengenang saya selamanya.”
“Percayalah, jika kamu
tetap mempertahankan hidup, lalu di hari depan kamu lebih berprestasi ketimbang
hari ini, kenangan indah yang ada di dalam benaknya lebih berarti karena akan
menerbitkan kebanggaan. Bisa jadi, dia suatu hari akan melihat wajahmu di koran
misalnya karena baru habis memenangkan nobel misalnya sambil bilang, ‘lihat,
dulu dia pernah jadi teman dekat saya’. Itu kenangan yang dasyat ketimbang
kenangan memperhatikan wajahmu di photo album dengan pandangan kasihan karena
kamu mati bunuh diri.”
Ah. Jika hidup masih bisa diberi arti yang lebih
spesial dan bermakna, mengapa harus diakhiri dengan cara melawan takdir?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar