7 Desember 2012

Perempuan di Otak Lelaki



                                           Oleh
                                         Muhammad Hadidi

Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab? Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimanasaya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi. Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul terbuka", menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada menantang!" Astaghfirullah... kemana lagi mata ini harus memandang?

Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "ngeres" dan hatipun menjadi keras.

Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk memakai aset berharga yang mereka punya.

Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi. Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitunya: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya "lelaki" bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki dijaman sekarang ini.

Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.

Allah Taala telah berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31).

Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggung jawabkan nantinya. Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?


So, berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempersona dan tentunya sejuk dimata.

Antara Isteri dan Copet...

Oleh


Muhammad Hadidi
Universitas Muhammadiyah Malang
Mama di copet...
Copet, siapa yang tidak kesal dibuat oleh ulahnya. Boleh Anda tanyakan kepada siapa pun yang pernah mengalami nasib nahas mendapati dirinya kecopetan barang berharga. Dompet misalnya, sebagian korban menganggap uangnya tak seberapa karena yang terpenting adalah surat-surat penting dalam dompet tersebut. Atau barang berharga lainnya seperti telepon selular, yang paling mengesalkan bagi sebagian korban adalah saat harus memberi tahu nomor baru kepada kolega-koleganya, itu belum termasuk mendata ulang nomor telepon yang sudah pasti tak dihapalnya satu persatu.

Bicara soal copet, saya teringat sebuah perjalanan bersama seorang teman ke sebuah Mall di kawasan Kuningan, Jakarta untuk membeli piranti komputer. Tiga jam berputar-putar sepanjang Mall akhirnya barang yang dicari pun didapat dan setelah sepuluh menit lebih sedikit tawar menawar, tibalah saatnya membayar. “Eh, uang saya kemana ya?” tanya teman saya. Saya pikir ia tengah berkelakar dengan berpura-pura uangnya tak ada di kantongnya.

Ternyata sungguhan, ia yakin sejak semalam menyimpan uangnya di saku depan celananya dan tak pernah memindahkannya hingga berangkat pagi tadi bersama saya. “Dasar copet nih,” keluarlah kalimat sumpah serapahnya. Untunglah saya membawa uang yang cukup agar ia tak menanggung malu karena sudah melakukan tawar menawar.

Sepanjang jalan menuju rumah ia terus saja mengumpat sekaligus menyesali dirinya yang tak sadar menjadi korban pencopetan. Ia pun mengira-ngira dimana ia mengalami nasib nahas itu, entah di bis atau di angkot. Tapi sudah lah, uang sudah hilang mungkin bukan rezekinya, gerutunya masih tak rela.

Sore hari setelah sholat Ashar, teman yang pagi tadi saya antar membeli piranti komputer itu menelepon sambil tertawa terbahak-bahak. Aneh, siang tadi wajahnya merah dan hatinya pun kacau balau mengutuk perbuatan copet kurang ajar, sore ini malah terdengar senang sekali. Awalnya saya mengira ia sudah ikhlas dan mengambil hikmah dari kecopetan itu, tapi “Kamu tahu nggak, ternyata yang ngambil uang saya tuh isteri saya. Semalam dia ngambil dari kantong nggak bilang. Dan uangnya disimpan di laci,” ujarnya sambil terus terbahak-bahak.

Saya menduga, setibanya di rumah ia langsung menceritakan kejadian nahas yang menimpanya siang tadi sehingga harus meminjam uang saya. Mendengar ceritanya yang masih terus sambil terbahak-bahak itu, saya pun tak mampu menahan diri untuk tertawa. Yang saya tertawakan tentu saja kalimat kutukan dan sumpah serapahnya siang tadi, “Kalau ketemu saya cekek leher yang ngambil uang saya,” sudah pasti tak mungkin ia mencekek isterinya kan?

Semoga ia sudah menarik dan melupakan ucapannya siang tadi karena bisa jadi isterinya melakukan itu hanya untuk memindahkan saja. Pun sebenarnya ia juga hendak meminta izin kepada suaminya, bisa jadi saat itu suaminya sedang tidur atau tidak di tempat, namun ia terlupa untuk memberitahunya di waktu kemudian.

***

Terpikirlah saya tentang isteri, pernahkah ia mengambil atau memindahkan uang di saku kemeja atau celana saya yang sering tergantung menantang di balik pintu kamar? Cukup lama saya mencari jawabnya karena untuk bertanya pun saya tak berani, masak sih mencurigai isteri sendiri?

Rasa penasaran itu pun terjawab sudah ketika saya mendapati beberapa lembar uang kertas yang terpanggang di atas tutup panci untuk memasak air. Beberapa hari sebelumnya, di celana yang lain saya dapati beberapa lembar uang yang tergulung-gulung tak berbentuk. Rupanya lembaran-lembaran itu ikut tercuci dan terjemur bersama dalam saku celana kotor saya. Ooh…
Sumber : Bunga Rampai seri XII Keluarga - Publikasi : Monday, July 25, 2005

Bermesraan, Berpahala dan Menghapus Dosa


Oleh
Muhammad Hadidi
Jurusan Syariah FAI UMM
Kemesraan Suami dan Istri
"Kemesraan hubungan suami istri tentunya merupakan dambaan setiap keluarga. Kemesraan bukan hanya ada pada saat suami istri melakukan hubungan seksual (jima') saja, akan tetapi ada banyak hal yang dapat menjadikan hubungan suami istri mesra dan harmoni."

Hal ini terkadang tidak disadari, sehingga jarang dilakukan secara sadar untuk menjaga kemesraan tersebut. Padahal bila dilakukan dengan niat yang benar dapat menambah kemesraan, mendapat pahala dan sekaligus dapat menghapus dosa-dosa.

Kita sebagai muslim patut bersyukur, karena Rasululloh SAW sebagai uswah terbaik kita telah memberikan tuntunan yang lengkap termasuk dalam hal menjaga kemesraan hubungan suami istri. Dengan demikian kita tidak perlu mencari-cari sumber lain yang kadang justeru menjerumuskan ke dalam hal-hal yang melanggar syari'at. Beberapa hal yang dituntunkan Rasululloh SAW dalam menjaga kemesraan hubungan suami istri, antara lain :

a. Bergandengan Tangan

Bergandengan tangan (saling memegang tangan) nampaknya merupakan hal sepele yang kadang dilupakan oleh pasangan suami istri. Padahal bila ini dilakukan dengan lemah lembut dan perasaan kasih sayang yang mendalam, merupakan satu hal yang dapat menjadikan suasana semakin mesra bagi pasangan tersebut. Ini sangat bermanfaat jika sebelumnya ada hal-hal yang kurang mengenakkan, sehingga untuk membicarakannya perlu suasana yang tenang dan penuh kasih sayang.

Yang lebih penting lagi, bila dilakukan dengan niat untuk mencari keridhoan Alloh, ketika seorang suami memegang tangan istrinya dengan penuh kasih sayang, dosa-dosa mereka akan keluar melalui celah-celah jari tangan mereka, seperti yang diriwayatkan dalam hadits dari Abu Sa'id.

Ada perkataan bijak yang perlu dipertimbangkan setiap pasutri : "Sungguh bila seorang suami memandang istrinya (dengan rasa kasih sayang) dan istrinya juga memandang suaminya (dengan rasa kasih sayang), maka Alloh akan memandang keduanya dengan pandangan kasih sayang. Dan bila suami memegang tapak tangan istrinya, maka dosa-dosa mereka keluar dari celah-celah jari mereka."

b. Membelai

Hal yang kedua yang dicontohkan Rasululloh SAW, yang menambah kemesraan hubungan suami istri adalah membelai. Dengan belaian yang lembut penuh kasih sayang dari suaminya, seorang istri akan merasakan ketenangan batin, sehingga hal ini dapat menjadikan dia semakin sayang kepada suaminya. Hal ini dilakukan Rasululloh SAW kepada para istrinya, sekalipun beliau belum akan mencampurinya. Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat :

"Rasululloh SAW biasa setiap hari tidak melupakan untuk mengunjungi kami (para istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampirinya dan membelainya, sekalipun tidak mencampurinya, sehingga sampai ke tempat istri yang tiba gilirannya, lalu bermalam disitu. " (HR. Abu Dawud).

Hal ini kadang tidak dilakukan oleh pasangan suami istri, karena mungkin dinilai memperlakukan istri seperti kanak-kanak, atau memang belum mengetahui bahwa hal ini sebenarnya diperlukan istri untuk menunjukkan kasih sayangnya.

c. Mencium

Ada cara lain untuk menciptakan suasana kemesraan suami istri yang juga dicontohkan Rasululloh SAW, diantaranya adalah beliau mencium istrinya sekalipun ia sedang berpuasa. Berciuman merupakan cara sederhana dan mudah dilakukan untuk tetap menjaga kemesraan suami istri.

Berciuman tidak hanya dilakukan ketika akan melakukan hubungan seksual. Hal ini baik juga dilakukan pada saat terlarang untuk berhubungan seksual. Misalnya ketika sedang berpuasa dan saat istri sedang haid atau nifas. Pada saat-saat itu kemesraan tetap harus dijaga. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya :

Dari Umar bin Abu Salamah, sungguh ia pernah bertanya kepada Rasululloh SAW : "Apakah seorang yang berpuasa boleh mencium?" Beliau menjawab : "Tanyakan kepada orang ini (maksudnya Ummu Salamah)." Lalu (Ummu Salamah) memberitahukan bahwa Rasululloh sering berbuat begitu." (HR. Muslim).

Dalam beberapa riwayat lain juga dijelaskan bahwa Rasululloh SAW pernah mencium istrinya setelah beliau berwudhu sebelum menjalankan sholat.

d. Tidur Seranjang

Jika suami istri tidur seranjang, tentunya lebih banyak hal yang dilakukan dalam bermesraan. Dengan tidur satu ranjang memungkinkan mereka saling berdekapan dan berpelukan. Hal ini menjadikan keduanya merasa tentram dan tenang. Hal ini juga dapat menjadi wahana hiburan atau penyegaran setelah melakukan tugas rutin sehari-hari.

Mengingat pentingnya tidur seranjang ini, maka Rasululloh SAW mencontohkan bahwa, beliau tetap tidur seranjang dengan istrinya sekalipun istrinya sedang haidh, seperti diceritakan pada sebuah hadits :

Dari Aisyah ra, ujarnya : "Rasululloh SAW dahulu biasa menyuruh kami berkain, lalu beliau sentuhkan dirinya padaku, padahal saya sedang haidh." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya seorang istri yang tidak bersedia tidur seranjang akan mendapat laknat malaikat, sebagaiman sabda Rasululloh SAW pada hadits berikut :

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasululloh SAW pernah bersabda : "Jika seorang istri semalaman tidur memisahkan diri dengan suaminya, maka malaikat melaknatnya hingga shubuh." (HR. Bukhari).

e. Mandi Bersama

Mandi bersama juga merupakan hal penting untuk menjaga kemesraan suami istri. Mandi bersama dapat menjadikan hiburan yang menyenangkan sekaligus menyegarkan. Rasululloh SAW sebagai tauladan kita juga mencontohkan mandi bersama istrinya, sebagaimana diriwayatkan pada hadits berikut :

Dari Aisyah ra, ia berkata : "Aku biasa mandi bersama Rasululloh SAW dalam satu tempat mandi. Antara tanganku dan tangan beliau saling bergantian mengambil air, tetapi beliau mendahului aku, sehingga aku berkata : 'Sisakan untukku, sisakan untukku'. Ketika itu kami sedang junub." (HR. Bukhari dan Muslim).

Di samping sebagai sarana menambah kemesraan hubungan suami istri, seorang istri yang memandikan suaminya dengan niat mencari ridho Alloh akan mendapatkan rahmat. Hal ini dijelaskan pada hadits berikut :

Dari Aisyah ra, ia berkata : "Rasululloh SAW pernah bersabda : 'Semoga Alloh merahmati suami yang dimandikan istrinya dan ditutup (kekurangan) akhlaqnya." (HR. Baihaqi).

Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menambah kemesraan hubungan suami istri sesuai dengan tuntunan Rasululloh SAW, dengan harapan kita mendapat pahala dan sekaligus dosa-dosa kita terampuni.

Sumber : Majalah NIKAH, oleh Abu Fath

Inikah Pahlawannya?




Muhammad Hadidi.
Kang Asep sudah tiga hari terbaring di rumah gubugnya. Sakit batuk dan sesak nafas telah memaksanya menghentikan aktivitas sehari-harinya. Istri dan tiga anaknya yang masih kecil terpaksa menggantikan pekerjaannya sebagai pemungut sampah di kompleks kami. Sambil menggendong anaknya yang paling kecil diiringgi dua orang anaknya, Bu Asep mendorong gerobak sampah yang penuh dengan muatan berjalan dari rumah ke rumah menyusuri jalanan kompleks. Sesekali anak di gendongannya menangis karena lapar sejak pagi belum terisi makanan. Sesampai di depan rumah saya, Bu Asep berhenti dan mengetok-ketok pintu pagar. “Assalamu’alaikum, Pak!” Saya terkejut sembari menjawab dari dalam rumah “Wa’alaikum salam,” sambil tergopoh-gopoh saya buka pintu pagar.

“Ada apa Bu? Nyari siapa?” tanya saya. “Maaf Pak. Sekali lagi saya minta maaf,” pintanya dengan suara memelas. “Ibu salah apa?” tanya saya. “Enggak Pak, maaf...saya disuruh suami saya, Kang Asep, untuk ke rumah Bapak. Kang Asep sudah tiga hari sakit. Saya nggak punya uang buat berobat. Kalau Bapak tidak keberatan saya minta tolong pinjam uang. Sebenarnya sangat malu, tetapi karena terpaksa. Sekali lagi maaf, Pak!”

Kang Asep memang telah mengenal saya sejak lama. Itu lantaran saya suka mengobrol dengannya di masjid sehabis salat berjamaah, mengenai pekerjaannya, ibadahnya, keluarganya, tujuan hidupnya, harapannya dan masalah-masalah keseharian lainnya. Saya memang sangat suka mengobrol dengan orang-orang kecil yang selama ini terpinggirkan, tidak ada yang mau peduli dengan nasibnya, seperti tukang sol, tukang bakso, tukang es cendol, tukang ketoprak dan pedagang keliling lainnya. Sehabis shalat zuhur biasanya mereka istirahat di masjid sembari melepaskan kepenatannya. Walaupun risikonya biasanya sering dimintai tolong.

“Sebentar, Bu,” Bergegas saya masuk rumah. Saya mengambil dompet dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan.

“Ini Bu! Nggak usah minjam. Ini pemberian. Kalau ada masalah ibu tidak usah sungkan-sungkan ke mari,”

“Terima Kasih Pak! Kok banyak banget. Paling butuhnya hanya lima puluh ribu saja. Terima kasih, Pak,”

Kang Asep orangnya sangat amanah dan menjaga harga diri. Walaupun hanya pengumpul sampah, dia tidak pernah ingkar janji. Kalau berhutang selalu melunasi. Kalau tidak karena sangat terpaksa, dia tidak akan berhutang. Kerjanya sangat rajin, demikian juga ibadahnya. Walaupun pekerjaannya menuntut badannya kotor, dia tidak pernah ketinggalan salat jamaah di masjid. Bahkan dia selalu yang mengumandangkan azan. Kadang merangkap menjadi imam. Disamping pemungut sampah, Kang Asep juga rajin berkebun di samping rumahnya. Kebun singkong, labu, pepaya, jambu dan mangga. Setiap berbuah selalu dia bagikan kepada tetangganya. Selain itu dia juga menjadi tukang panggilan untuk pekerjaan-pekerjaan serabutan, seperti membersihkan rumput, menebang pohon, membetulkan rumah, dan sebagainya. Sangat rajin dan rapih pekerjaannya. Jika dipanggil tidak pernah menolak. Terkadang kalau pekerjaannya ringan, dia tidak mau dibayar. Sehabis maghrib Kang Asep mengajar anak-anak kampung tetangganya belajar membaca al-Qur'an. Kang Asep pernah bercita-cita menjadi ustadz. Dulu pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren. Tetapi karena alasan ekonomi, memaksanya berhenti sebelum tamat. Kang Asep sangat disukai oleh para tetangganya dan seluruh warga kompleks.

Tiga bulan yang lalu, karena alasan pekerjaan saya pindah ke kota lain. Sejak saat itu saya tidak mendengar lagi kabar dari Kang Asep. Maklum dia tidak memiliki telepon. Untuk mengirim surat pun rasanya saya belum sempat karena disibukkan oleh pekerjaan. Kisah Kang Asep yang tengah ditimpa musibah seolah menghilang dari ingatan saya.

Minggu lalu saya mendapat telepon dari teman yang masih tinggal di kompleks itu. Tak lupa saya tanyakan kabar Kang Asep. Teman saya bilang bahwa sekarang Kang Asep sudah tidak bekerja lagi. Karena sakit yang dideritanya menyebabkan Kang Asep tidak dapat menjalankan tugasnya. Istrinya tidak sekuat dia. Warga mengeluh sampahnya sudah tiga hari belum terangkut. Akhirnya pihak RW memutuskan menggantikan angkutan sampah dengan truk dari Dinas Kebersihan Kota. Walaupun iuran sampah naik, warga menyambutnya dengan gembira karena setiap hari sampahnya terangkut. Teman saya tidak tahu nasib Kang Asep, apakah mendapat pesangon atau pulang kampung ke Sukabumi. Di akhir pembicaraan saya menitipkan salam buat Kang Asep.

Sejak siang hujan lebat disertai angin kencang mengguyur komplek. Gelap gulita akibat PLN mematikan lampu. Warga sudah mulai was-was. Sebagaimana sebelumnya jika hujan seperti ini air sungai akan meluap sampai masuk ke rumah-rumah. Ada yang memindahkan barang-barangnya ke loteng. Ada yang sudah bersikap-siap mengungsi dan ada yang pasrah saja sambil berjaga-jaga.

Memang sejak Kang Asep tidak lagi memungut sampah, setiap kali hujan turun semalaman, selalu diikuti dengan banjir sampai menggenangi rumah mereka. Warga heran, mengapa sampah makin bersih, tetapi selalu banjir. Teka-teki ini tidak ada yang bisa menjawab, sampai pengurus RW juga kebingungan. Yang dilakukan para warga hanyalah pasrah dan bersiap-siap. Ada yang pindah ke tempat lain, yang mampu membangun loteng dan tempat penyimpanan barang yang lebih tinggi.

Malam itu, hujan lebih lebat dari biasanya. Bahkan dari berita diumumkan bahwa ketinggian air di pintu air Katulampa telah melebihi batas normal. Itu artinya sudah siaga satu. Warga sudah diminta untuk mengungsi. Ketinggian air kali ini diprediksi bisa mencapai lebih dari 2 meter. Itu artinya komplek ini akan terendam habis. Tersiar kabar bahwa komplek sebelah telah terendam air setinggi 1 meter. Selepas Isya’ warga sudah mulai sibuk mencari tempat mengungsi. Seluruh jalanan sudah tertutupi air.

Namun anehnya sampai jam 12 malam air tidak naik. Warga bingung, tidak seperti biasanya hujan selebat ini air tidak sampai masuk rumah. Mereka yang sudah siap mengungsi mengurungkan niatnya. Mereka kembali ke rumah masing-masing, namun tetap waspada dan berjaga-jaga. Pukul 3 pagi satpam memukul tiang listrik 3 kali. Tak lama setelah itu listrik pun menyala. Warga yang tidak tidur menyambutnya dengan gembira. Itu pertanda bahwa banjir tidak jadi menimpa rumah mereka. Azan subuh pun bergema. Warga berduyun-duyun mendatangi masjid dengan hati penuh syukur.

Rasa syukur warga terasa ada yang kurang. Warga bertanya-tanya kemana Kang Asep. Biasanya Kang Asep tidak pernah absen salat subuh berjamaah, walaupun dalam kondisi sakit. Namun pagi itu warga tidak menemukan Kang Asep di masjid. Selepas shalat warga langsung menuju ke rumah Kang Asep. Ada apa gerangan? Apakah Kang Asep sakit keras? Atau pergi ke luar kota?

Warga tidak menemukan Kang Asep di rumahnya. Mereka hanya mendapat jawaban dari istrinya, bahwa Kang Asep semalam keluar. “Saya sudah melarangnya, Hujan lebat begini Bapak mau kemana? Kan Bapak lagi sakit, nanti sakitnya makin parah,” Bapak cuma menjawab katanya tugas penting. Itu saja. Bapak tidak menjelaskan tugas penting apa. Sampai pagi ini Kang Asep belum pulang. Warga makin bingung tugas penting apa kira-kira yang dilakukan Kang Asep sampai hujan-hujan tetap dijalankan. Belum sempat warga meninggalkan rumah Kang Asep, tersiar berita ditemukan mayat seorang laki-laki mengapung di pintu air. Warga langsung menghambur ke pintu air. Warga tidak ada yang berani mengangkat mayatnya sampai polisi datang. Tiba-tiba seorang wanita berteriak histeris, “Itu Kang Asep! Itu suami saya! Dari pakaiannya saya mengenali itu pakaian Kang Asep waktu meninggalkan rumah!” Tangis Bu Asep tak bisa dibendung. Suami yang dicintainya meninggal mengenaskan.

Akhirnya teka-teki yang selama ini terjawab. Penyebab banjir di komplek ini karena warga yang seenaknya membuang sampah di kali. Padahal di hilir terdapat pintu air. Sampah menumpuk di pintu air dan menyebabkan air tertahan dan terjadi banjir. Dulu waktu Kang Asep masih memungut sampah, beliau rajin membersihkan sampah-sampah itu sehingga tidak pernah terjadi banjir. Melihat hujan yang sangat lebat Kang Asep terpanggil jiwanya. Walaupun sudah tidak menjadi pemungut sampah, jiwa penolongnya tidak menghalanginya untuk melakukan tugas mulia. Dia korbankan jiwa dan raganya demi mendengar bencana yang akan menimpa saudara-saudaranya. Padahal Kang Asep tinggal di samping komplek yang lebih tinggi dan tidak pernah tersentuh air. Kalau dia hanya memikirkan dirinya sendiri niscaya tidak akan dilakukannya tugas mulia itu.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Seorang hamba yang mulia telah menemui-Mu dengan penuh rasa hormat. Kang Asep ibarat mata air di padang yang gersang masa kini. Di saat banyak orang butuh penghargaan, popularitas, dan balasan materi, dia korbankan jiwa raga tanpa perlu dilihat orang. Dia pahlawan yang tidak pernah dikenang.

Sosok Kang Asep membekas dalam hati saya. Walaupun penghasilannya pas-pasan, bahkan menurut saya kurang, tetapi dia tidak pernah mengeluh. Dia selalu pandai bersyukur. Dia selalu ceria dan bersahaja. Dia juga pandai mendidik istri dan anak-anaknya untuk selalu bersyukur dan menjaga harga diri. Sosok dia telah menginspirasi hidup saya. Ketika mengalami kesulitan keuangan, saya sering merasa sedih. Pada saat itu saya ingat Kang Asep dan langsung kesedihan itu hilang. Saya malu pada Kang Asep dengan penghasilan hanya 300 ribu rupiah sebulan dapat selalu bersyukur, sementara saya dengan penghasilan yang beberapa kali lipatnya sering mengalami kesedihan karena masalah keuangan. Saya malu pada Allah dengan mengambil ibrah kehidupan Kang Asep
200