3 November 2013

Analisis Formulasi Qishash dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 178.


        Makalah Fiqih Jinayah
Ditulis Oleh 

Muhammad Hadidi
Mahasiswa Islamic Law University Muhammadiyah Of Malang




A.    Landasar Hukum Qishas dalam Al-Qur’an.

        Dalam Al-Qur’an tidak ada keraguan bahwa Islam  melalui al-Qur’an mewajibkan qishash- terhadap tindak pidana pembunuhan dengan memberikan sanksi yang sepadan sebagaimana perbuatan yang dilakukan kepada korban. Argumentasi ini bersesuaian dengan asas legalitas, karena sudah jelas disebutkan dalam surat al-baqarah ayat 178:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
        Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yangmelampaui batas sesudah itu.(Q.S Al-Baqarah 178).

   Berdasarkan nash di atas, jelas bahwa khitab yang menyebutkan “ya ayyuha al-ladzina amanu” dalam teori balaghah mempunyai faedah “li al-Syumul”,[1] artinya diperuntukkan bagi muslim secara keseluruhan yang tidak terbatasi oleh tempus (waktu) dan locus (tempat) tertentu, sebelum
terdapat dalil lain yang merubah atau keterangan yang merincinya. Dengan begitu, seluruh pemeluk Islam yang termasuk dalam kategori “alladzina amanu” terkena taklif hukum tersebut. Selanjutnya jelas pula makhtub fihnya; “kutiba ‘alaikum alqishash fi al-qatl”. Kutiba dalam kutipan ayat di atas ditafsiri dengan wujiba” (diwajibkan). Dengan demikian pensyari’atan itu hukumnya pastidan tidak ada keraguan dalam penunjukan hukumnya.[2]