| Muhammad Hadidi S.S,y |
Berbicara dua sekte besar Sunni dan Syiah suatu hal yang sangat memprihatinkan
apabila sampai pada hari ini umat Islam masih bertengkar mempermasalahkan status
madzhab, pola pikir atau juga sekte. Seolah merasa kebenaran adalah mutlak milik
madzhab dan golongan masing-masing, diluarnya salah dan sesat. Lantas sampai sejauh ini Islam apakah akan dibawa
kepada pertarungan panjang yang melelahkan? haruskah fanatisme dan kebutaan
pemikiran senantiasa melingkupi hati kita, mencemari kesucian roh dan
mencampakkan Nafs? Haruskah semuanya kita lanjutkan sampai masa
yang akan datang ? Semoga Allah mengampuni kita yang tidak
mengerti betapa agung dan pluralnya Islam itu, kenapa kita menyianyiakan satu
ajaran yang konon gunungpun tak kuasa menerimanya ?
Jika dengan mencintai para keluarga Nabi,
membela kebenaran yang ada didiri Fatimah, Ali, Hasan dan Husin maka seseorang
disebut sebagai Syiah, maka saya akan dengan bangga menyatakan diri saya Syiah,
sebaliknya jika mengagumi ketokohan Umar bin Khatab dan mengamalkan hadis-hadis
selain riwayat dari para ahli Bait Nabi maka seseorang disebut sebagai Ahli
Sunnah, maka sayapun menyebut diri saya demikian.
Tidak ada yang salah dengan kedua istilah
tersebut, Syiah dan Sunni merupakan istilah yang terbentuk setelah ajaran Islam
selesai diwahyukan, keduanya pada dasarnya merupakan polarisasi pemahaman yang
berawal dari pemilihan pemimpin umat Islam pasca kematian Nabi yang akhirnya
meluas sampai pada tingkat penyelewengan dimasing-masing pemahaman oleh
generasi-generasi sesudahnya.

