18 Desember 2012

I Love Mom


Maksih Mom...


Suatu saat ibu saya mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya.

Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya.

Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya.

Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya ... dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu... With Love to All Mother

"JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DIDUNIA INI DAPAT MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA ".

Note: Berbahagialah yang masih memiliki Ibu. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya...........

"Lakukanlah yang Terindah dan Terbaik yang Anda dapat persembahkan Untuknya"

Kolusi dan Korupsi

Koruptor Tikus Berdasi



republika - Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika menerima laporan gubernurnya di Mesir, Malik Al Asytar, menghadiri jamuan yang hanya dihadiri para pengusaha, menjadi khawatir. Dia takut kalau pembantunya bisa terseret untuk berkolusi, tidak bisa berlaku adil dan bertindak tegas dalam memerangi penyelewengan.

Dalam suratnya Ali menulis, ''Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan Anda dan dalam diri Anda sendiri. Carilah kepuasan rakyat, karena ketidakpuasan rakyat memandulkan kepuasaan segelintir orang yang berkedudukan istimewa. Sedangkan ketidakpuasan segelintir orang itu hilang dalam kepuasan rakyat banyak. Ingatlah! Segelintir orang yang berkedudukan istimewa itu akan meninggalkan Anda bila Anda dalam kesulitan.''

Kolusi (persekongkolan) antara pejabat dan penguasa yang berdampak pada penyuapan, penyogokan, korupsi, dan katabelece dianggap sebagai perilaku menyimpang. Perilaku yang menyebabkan kerugian dan penderitaan bagi rakyat banyak.

Begitu besar dampak kejahatan ini yang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pelakunya dianggap tidak memiliki etika dan moral. Apalagi bila diingat, seorang pejabat ketika dilantik, atas nama Allah dia bersumpah tidak akan menerima suatu pemberian yang diketahui atau diperkirakan akan merugikan negara dan jabatannya.

Itulah sebabnya, ketika Umar bin Abdul Azis khalifah yang terkenal dengan keadilannya ketika oleh sejumlah pengusaha diberikan iming-iming hadiah, dengan tegas menolaknya. Ketika seorang dari mereka menyatakan bahwa Nabi mau menerima hadiah, Umar menjawab, ''Tidak disangsikan lagi hadiah itu memang untuk Nabi. Tapi, kalau diberikan kepadaku itu penyuapan dan penyogokan.''

Dalam Islam, menerima uang sogok dan menyelewengkan keputusan menurut keinginan para penyogok adalah dosa besar. Islam yang menekankan agar manusia hidup dengan cara terhormat, menganjurkan agar umatnya memilki perilaku yang bersih, jujur, dan mengutuk keras segala bentuk penyimpangan dan penyogokan yang merugikan rakyat banyak. Ini dijelaskan dalam banyak ayat Alquran. Sedangkan Nabi Muhammad SAW bersabda, ''Orang yang memberikan sogokan, yang menerimanya, dan menjadi perantara semua masuk neraka.''

Ketika menggoda Nabi Yusuf AS, Zulaikha menutupkan kain ke atas wajah berhala yang biasa disembahnya. ''Wahai Zulaikha, engkau malu di hadapan seonggok batu, maka tidakkah aku mesti malu di hadapan Dia yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi,'' kata Nabi Yusuf.

Dari peristiwa ini, Imam Al Ghazali mengajak kepada kita, agar dalam setiap denyut kehidupan kita senantiasa merasakan kehadiran Allah. Merasa takut dan malu pada Allah, seperti yang sering difatwakan para ulama, merupakan langkah pencegahan paling efektif untuk menangkis segala kejahilan dan penyelewengan, termasuk korupsi dan kolusi. Ini menyangkut masalah etika moral atau akhlak seorang hamba di hadapan Tuhannya, bahkan di hadapan diri, bangsa, dan negaranya. Karenanya, rakyat sangat mendukung pemberantasan korupsi. [Alwi Shahab]

Misteri Natal


Oleh
By Herbert W. Armstrong

Sejarah Natal

Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran "Yesus". Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.

Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul "Christmas", anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:

"Christmas was not among the earliest festivals of Church ? the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas."

"Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja ? bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus."

Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul "Natal Day," Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:

"In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world."

"Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."

Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:

"Christmas was not among the earliest festivals of the church? It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism."

"Natal bukanlah upacar-upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala."

Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:

"Christmas It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth?" (The "Communion," which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) "? A feast was established in memory of this event (Christ's birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ's birth existed."

"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut.." ("Perjamuan Suci" yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus)"? Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa Matahari." Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."

Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian - jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat - upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.


swaramuslim.net

Teruntuk (Calon) Istriku by JampanG


Istriku....Ooooo Istriku

"Di Jalan Dakwah Aku Menikah", sebuah karya pena Cahyadi Takariawan, masih tergeletak di atas tumpukan kamus bahasa Inggris milik adik saya. Buku dengan tebal 270-an halaman itu belum juga selesai saya membacanya. Padahal buku tersebut telah menjadi milik saya selama kurang lebih 6 bulan yang lalu. Mungkin karena minat saya untuk membaca yang masih kurang, maka tak heran bila baru setengah lebih sedikit dari lembaran-lembaran buku itu yang telah saya baca.

Ketika saya membaca bagian awal dari buku tersebut, sebuah harapan atau keinginan yang lahir dari masa lalu menguat kembali...

--oo0oo--

terima kasih, karena engkau telah menjadi istriku
engkau adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku
dengan kelebihan pemahaman agama yang kau miliki, kau tak pernah jemu
mengajarkan dan mengingatkan diriku selalu
agar tak terjerumus dalam kesalahan yang sama di masa lalu
engkau selalu berpesan kepadaku agar selalu mencari nafkah yang halal lagi berkah, karena itu yang kau mau
"Adek, enggak mau ada harta syubhat apalagi haram yang akan masuk ke dalam mulut-mulut yang ada di keluarga kita," begitulah pintamu

selalui kuakui
bahwa kau jauh lebih baik dari diri ini
dengan pengetahuan yang engkau miliki
kau telah membimbingku untuk senantiasa memperbaiki diri
kau pun selalu berbagi apa yang kau ketahui
di sela-sela kesibukan yang harus kau jalani
tanpa bosan, tanpa jemu di setiap hari

selalui kuakui
dengan kelebihan pengamalan agama yang kau miliki
kau mengingatkanku agar tidak selalu bermalas diri
dalam beramal dan beribadah tuk merengkuh ridho Ilahi
di sepertiga malam terakhir, kau bangunkan aku yang sedang berselimut mimpi
kau percikkan air ke wajahku agar segera bangkit dan berdiri
tuk tahajjud dan berserah diri

kau pun selalu mengingatkanku agar selalu sholat berjama'ah
membetulkan kesalahan bacaanku ketika tilawah
dan menemaniku dalam bermuraja'ah
agar hafalankuk tidak akan punah
sungguh kau adalah anugerah terindah

apakah kiranya kau seperti itu?
walaupun tidak, aku pun tetap berterima kasih kepadamu
karena sebagai seorang pendamping, kau menjadi api semangat hidupku
agar selalu bersama dalam menimba ilmu
datang ke majlis ta'lim atau membaca buku
lantas bertanya kepada guru atu orang yang lebih tahu

"setiap hari, ilmu kita harus bertambah, bang!"
di telingaku ucapan itu yang selalu terngiang
kau pun melanjutkan, "itu kan aa gym yang bilang."
aku pun tersenyum bahagia dan senang
sekaligus tenang untuk menghadapi masa yang akan datang
karena didampingi istri solehah istriku sayang

adakah dirimu seperti itu?
walaupun tidak, aku pun tetap berterima kasih kepadamu
karena engkau telah memilih dan menerimaku
tuk manjadi pendamping hidupmu
tuk menjadi imam yang akan memimpin dan membimbingmu
walau telah kukatakan kepadamu
aku bukanlah lelaki yang sesoleh atu sehanif seperti yang ada dalam bayanganmu
insya Allah, aku akan berusaha mewujudkan harapan dan impianmu


--oo0oo--

Kuakhiri harapan dan keinginanku dalam doa dengan lafazh 'aamiin', semoga Allah mewujudkan apa yang terbersit dalam sanubari yang paling dalam ini.

Kapan Engkau Datang?

Menantimu dari perpisahan ini.

Assalammu'alaikum Wr. Wb....

Apakabar calon suamiku? Bagaimana keadaanmu sekarang ini? Aku berharap di manapun kau berada, kebahagiaan serta rahmatNya selalu menyertaimu.

Calon suamiku, ...
Di mana Engkau sekarang? Aku selalu setia menantimu, pun saat usiaku jelang duapuluh lima tahun. Setiap usai shalat aku berharap pada Yang Kuasa untuk mengakhiri penantianku ini. Setiap malam, aku selalu menanti pagi, akankah engkau segera datang menjumpai. Mengajakku meniti jalan ilahi untuk mengayuh hidup menguatkan tekad untuk terus menjalankan titahNya juga Sunnah RasulNya.

Wahai calon suamiku, ...
Apa yang beratkan langkahmu untuk menjumpaiku? Apa yang sedang kau lakukan sekarang ini? Mencari rupiah demi rupiah sebagai ongkos agar kita dapat mengayuh bahtera itu bersama? Berapa besar ongkos itu? Berapa jumlah rupiah yang akan engkau cari? Bahtera seperti apa yang ingin kau tumpangi? Ekonomi, standar, atau eksekutif?

Tak soal buatku, bahtera apa yang akan kita kayuh, toh yang penting untukku kita akan menjalani semua itu dengan keikhlasan yang amat sangat. Tak perlu risaukan berapa rupiah yang kau miliki saat ini. Berapapun jumlahnya, aku selalu akan menerimamu. Asal rupiah yang kau dapatkan bukan dari jalan tak kau ketahui dari mana asalnya.

Wahai calon suamiku, ...
Apa yang sedang kau lakukan hingga kau menunda untuk bertemu dengan ku? Apakah ada amanah lain yang harus kau tunaikan? Seberat apa amanah itu? Aku ingin mendampingimu. Menemanimu menunaikan amanah itu bersama-sama.

Calon suamiku yang selalu ku nanti,...
Di mana kau sekarang? Apa yang kau lakukan saat ini? Aku selalu memudahkan langkahmu untuk mencapai cita-cita dan asa yang kau inginkan. Allah punya rencana untuk menunda mempertemukan kita sekarang ini karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk menghusung amanah yang jauh lebih berat. Ia ingin kita lebih matang merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya.

Calon suamiku,...
Siapapun yang Allah berikan untuk mendampingi hidupku, Aku akan selalu menantimu. Aku percaya Allah Yang Terkasih punya rencana yang terbaik untuk menyusun rencana hidupku juga hidupmu.

Calon suamiku,...
Kapan engkau datang? Aku akan tetap setia menantimu.

Dari ku yang merindukanmu

sebuah catatan menjelang usia 25

Kelola Konflik dengan Cantik

Pemenrintah Mengoalh konflik dengan Cantik ..


Masalah sekecil apapun dalam rumah tangga berpotensi memunculkan konflik besar yang mengarah pada prahara rumah tangga.

Menurut Yati Utoyo Lubis, MA Psikolog UI, bila salah satu pasangan jorok, sementara yang lainnya sangat rapi itu saja sudah bisa memunculkan konflik, Dengan catatan masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut hingga berbalut emosi dan panas hati. Oleh karena itu, pasangan suami istri perlu menata masalah agar tidak berujung pada konflik. Apa saja kiat-kiatnya?

1. Tenangkan diri dan intropeksi.

Begitu merasa ada masalah, sebelum mengambil keputusan dan tindakan lanjutan, berhentilah sejenak. "Coolingdown dululah, sebagai langkah awal untuk menata emosi, agar hati menjadi tenang," kata Ustadz Amang Syafruddin.

Dalam tahapan ini, lanjutnya cobalah bertanya pada diri sendiri, berpikir tentang masalah yang dihadapi, benar-benar perlukah dipermasalahkan? bisa jadi, setelah direnungkan, masalah yang dirasakan hanya sekedar luapan emosi sesaat. Mudah diatasi dengan memaafkan atau meminta maaf. Dalam masa tenang ini, kita mempunyai kesempatan untuk intropeksi diri, apa sebab hal itu menjadi masalah? Masalah bagi siapa? bagi saya atau bagi pasangan?

Psikolog Universitas Islam Indonesia Fauzil Azhim mengungkapkan, kita harus selalu siap mengevaluasi masalah niat, tujuan dan orientasi pernikahan selama ini, jika suatu saat nanti berhadapan dengan masalah dalam perkawinan. Ia menjelaskan, dari sebagian besar kasus rumahtangga yang dirinya tangani adalah berawal dari persoalan niat, tujuan dan orientasi pernikahan yang tidak tepat. Jadi tanyakanlah kepada diri sendiri, apakah nilai-nilai agama sudah menjadi landasan anda dalam mengarungi bahtera rumahtangga? Apakah problem anda muncul, karena anda sudah menyimpang dari tujuan dan orientasi pernikahan yang Islami?

Mengapa Rasulullah menjadikan agama sebagai orientasi utama, yang perlu diambil seseorang saat memilih pendamping hidup, disamping alasan harta, fisik dan faktor keturunan. Ustadz Amang menambahkan, Orientasi ini akan menjadi panglima bagi upaya penyelesaian konflik dalam rumahtangga. Apakah semua konflik suami istri bisa diselesaikan dengan berpegang pada harta yang banyak? Atau fisik yang rupawan dan faktor keturunan seperti misalnya campur tangan mertua?

Ternyata, kata Ustadz Amang Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah, yang bisa mengatasi semua konflik rumah tangga adalah faktor agama seseorang. Bila orientasi pernikahannya mengacu pada kehendak Allah, berlandaskan pada nilai-nilai agama, maka setiap persoalan dapat diatasi tanpa menunggu hadirnya konflik. Misalnya, lewat nasihat, kesabaran, rasa cukup, tidak berburuk sangka, cek and ricek (tabayun), akhlak yang mulia dan lain-lain.

2. Komunikasian segera

Bila masalah yang muncul masih dianggap cukup mengganggu, sebiknya jangan menunggu hingga berlarut-larut, apalagi sampai meninggikan ego dengan berpikir, seharusnya dia ngerti dong kalau aku ada masalah, seharusnya dia mikir dong..., seharusnya dia merasa dong...

"Manusia itu kan tidak mampu membaca pikiran," ujar Yati Utoyo Lubis.

Untuk itu, Yati mengatakan begitu ada yang tidak pas, tidak setuju, ada konflik kepentingan, cobalah dikomunikasikan. Jangan sampai menunggu pasangan sampai peka, lebih baik if we have something, sebaiknya kasih tahu saja. "Biasanya masalah memang terasa banyak, tapi cobalah untuk mengurai satu-persatu lewat komunikasi yang santun yang perlu diingat, komunikasi bukan hanya sekedar memberitahu, tapi berlaku dau arah yaitu mau mendengarkan," ungkapnya.

Sementara itu, Fauzi Fahmi mengungkapkan siapa saja yang merasa bersalah terlebih dahulu, maka ia memiliki amanah paling awal mengingatkan pasangannya atau membenahi rumah tangganya.

"Jadi bukan hanya menyalahkan pasangan atau berharap pasangan mau mengakui kesalahannya, tapi harus bisa menunjukan jalan untuk menuju rumah tangga yang lebih indah, bersahabat dan bertabur kebaikan," tegasnya.

Ia menilai memendam masalah berlarur-larut, ibarat membuat tumpukan bom yang sewaktu-waktu dapat meledak dan mengguncang rumah tangga. Sehingga menimbulkan dampak negatif, seperti hilangnya kepercayaan, depresi bahkan putus asa.

3. Cari Penengah yang terpercaya

Adakalanya konflik suami istri sudah semakin akut sehingga sulit untuk diselesaikan. Dalam situasi seperti ini diperlukan seorang penengah yang bisa bersikap netral, misalnya orang tua, mertua, Ustadz, BP4 atau psikolog. Namun, Yati Utoyo Lubis menyatakan sebelum kita meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah, sebaiknya masalah itu diselesaikan dulu sendiri. Maksimalkan dulu usaha kita, karena ini merupakan tanggungjawab orang berumah tangga untuk mempertahankan pernikahannya.

Menurut Ustadz Amang, penengah yang dapat dipilih adalah orang yang berpandangan objektif dan adil dalam menimbang masalah. dalam surat annisa ayat 35 dikatakan diutuslah dua orang hakim, yang bermakna dari pihak istri dan pihak saumi yang bisa menengahi masalah. Bila keduanya benar-benar berkeinginan kuat untuk ishlah, Insyaallah hubungan suami-istri ini akan membaik.

4. Mengalah untuk menang

Sangatlah wajar jika dalam sebuah konflik masing-masing pihak merasa paling benar, dan karenanya dirinya harus memperoleh kemenangan. Tetapi, tambah Yati kelanggengan pernikahan sangat dipengaruhi oleh banyaknya toleransi yang terbangun antara suami istri, yang kadang diartikan sebagai mengalah.

Memilih mengalah jelas Yati, tidak akan menjadi masalah, bila diambil untuk memperoleh kebaikan, karena dengan bertoleransi kita sadar bahwa apa yang kita harapkan tidak selalu sama dengan apa yang kita terima. "Bukankah ketika menikah kita pun sudah bertekad untuk menerima pasangan apa adanya?" ungkapnya.

Tentu saja tambah Yati, yang terbaik adalah mengalah dalam rangka memperbaiki situasi, dan harus dilakukan oleh kedua belah pihak dengan keikhlasan. Jadi bukan hanya sekedar terpaksa mengalah atau harus selalu mengalah. Sehingga yang akan terjalin di antara pasangan suami istri adalah klausul, "Sometimes dia menang, sometime kita yang menang..." katanya.

Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi No. 2/XVI Juni-Juli 2004/1425 H