SANG TRAINER MUHAMMAD HADIDI MERAIH MIMPI
(Merajut Mimpi Dalam Perjuangan Dari Pulau Simeulue Hingga Ke Jawa Timur)
(Merajut Mimpi Dalam Perjuangan Dari Pulau Simeulue Hingga Ke Jawa Timur)
|
|
| Muhammad Hadidi (Adid) |
Adid sejak kecil di besarkan dari
keluarga yang sangat sederhana, Ayah bekerja sebagai Petani dan orang tunya perna diamanakan menjadi Kecik atau Kepala Desa daerah kepeulaun Simeulue tepatnya di Desa Padang Unoi kec. Salang. Ibunya bekerja
sebagai Ibu Rumah Tangga. Adid sewaktu masih kanak-anak tidak perna mengeyam
pendidikan Tingkat Kanak-Kanak (TK). Karena di Desa Padang Unoi Kec.
Salang Kab. Simeulue-Aceh merupakan desa yang masih tertinggal saat itu dan di
desa tersebut tidak mempunyai sekolah
TK satupun. Namun pada usia kanak-kanak tersebut Adid menghabiskan masa kecilnya itu lewat pendidikan dalam keluarga. Ayah
dan Ibunyalah yang menjadi guru dan perpustakaan pertamanya untuk mengenal
lebih luas betapa pentingnya mempunyai ilmu dan berakhlak mulia.
Hadidi: Anak Desa Yang Gemar Membaca, dan Mengikuti Lomba![]() |
| Hadidi dan Kawan-Kawan |
Usia enam tahun Hadidi menempuh Sekolah Dasar (SD) di SDN 06 Kecamatan. Salang Kab. Simeulue-Aceh. Selama bersekolah
di SD tersebut Hadidi gemar mengikuti kegiatan kesiswaan berupa lomba antar siswa dan sering meraih beberapa prestasi tingkat sekolah, tingkat
Desa, hingga tingkat Kecamatan diantaranya, Hadidi perna memenangkan lomba Cerdas Cermat
(CC), lomba Pidato, Lomba Sholat, Lomba Surat Hafalan pendek, hingga lomba
menulis Cerita Pendek (Cerpen) di tingkat desa dan Kecamatan.
Tidak hanya itu, Hadidi aktif di beberapa organisasi kesiswaan diantaranya ,PRAMUKA Tingkat Siaga dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang waktu itu perna dipercayakan sekolahnya untuk didelegasikan menjadi Dokter kecil
untuk mewakili sekolah dalam mengikuti lomba tingkat kecamatan. meskipun tidak mendapat Juara atau hasil yang memuaskan namun Hadidi tetap semangat mengikutinya, Selain itu, setiap ucapara bendera di sekolah Hadidi sering diamanakan menjadi Komandan upacara atau pembacaan teks UUD dan PANCASILA.
Terkait prestasi akademiknya atau prestasi belajarnya sewaktu sekolah dasar Hadidi tidak terlalu pinter-pinter amat soalnya anak-anak di kelasnya juga pinter-pinter sehingga Hadidi sewaktu SD dari kelas satu sampai kelas Enam tidak perna meraih pringkat (rangking satu di kelas) Namun tidak terlalu bodoh-bodoh amat Hadidi juga perna meraih pringkat empat, peringkat tiga, bahkan pernah satu sekali meraih peringkat dua dan itu capaian paling tinggi yang perna diraihnya selama enam tahun sekolah di SD tersebut.
Hadidi: di SMP Ketua OSIS dan Sang Juara Kelas
Terkait prestasi akademiknya atau prestasi belajarnya sewaktu sekolah dasar Hadidi tidak terlalu pinter-pinter amat soalnya anak-anak di kelasnya juga pinter-pinter sehingga Hadidi sewaktu SD dari kelas satu sampai kelas Enam tidak perna meraih pringkat (rangking satu di kelas) Namun tidak terlalu bodoh-bodoh amat Hadidi juga perna meraih pringkat empat, peringkat tiga, bahkan pernah satu sekali meraih peringkat dua dan itu capaian paling tinggi yang perna diraihnya selama enam tahun sekolah di SD tersebut.
![]() |
| Hadidi (Kiri) Bersama Keluarga Tercinta. |
Hadidi: di SMP Ketua OSIS dan Sang Juara Kelas
Setelah menamatkan pendidikan
sekolah dasar, Hadidi melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Pertama
(SLTP) di SMP Negeri 01 Salang Kabupaten Simeulue-Aceh. SMPN 1 Salang satu-satunya SMP favorit
yang ada di Kec. Salang Kab. Simeulue-Aceh pada waktu itu. Selama bersekolah di SLTP tersebut Hadidi Kelas VII semister pertama meraih peringkat satu di kelasnya, namun
pada semister kedua prestasinya menurun, ia hanya meraih peringkat dua di sebabkan
keaktifannya di beberapa organisasi kesiswaan yang ada di sekolah tersebut.
Seperti aktif di PRAMUKA tingkat
Penggalang, menjadi anggota UKS, hingga menjadi Bidang keagamaan pada Organisasi Intara
Sekolah (OSIS). Setelah naik kelas VII SMP Hadidi di kampanyekan
untuk menjadi salah satu calon ketua OSIS di SMP Negeri nomor satu
tersebut. Setelah di adakan pemilihan ketua Hadidi terpilih menjadi ketua OSIS SMPN I Salang selama satu periode. Namun di sisi lain prestasi akademik selama
menjabat menjadi ketua OSIS, Alhamdulillah masih tetap bisa di pertahankan. Terbukti pada semister satu kelas VII (Kelas II) Hadidi meraih
peringkat II, selanjutnya pada semister dua Hadidi memacuh semangat belajarnya
hingga meraih kembali pringkat I yang sebelumnya perna diraihnya.
Selanjutnya, pada kelas IX (Kelas III) SMP Hadidi konsen belajar untuk bisa lulus pada semister pertama Hadidi berhasil
mempertahankan prestasi yaitu meraih
pringkat Pertama, dan pada semister dua atau Ujian Akhir Sekloah Hadidi juga masih dapat mempertahankan
pringkat satu dikelas IPA. Alhamdullah Pada Ujian Nasional Juga lulus
dengan hasil yang sangat memuaskan.
Hadidi:Mengalami Dua Cobaan yang Bertubi-Tubi
Di balik kenikmatan dan prestasi tingkat lokal yang sering di raih Hadidi tersebut di atas bukan kemuadian tidak perna diberikan cobaan dan tantangan untuk meraih semua prestasi tersebut, diantara cobaan yang maha berat dan bertubi-tubi yang dirasakan Hadidi adalah ikut merasakan Pristiwa Gempa Bumi dan TSUNAMI Aceh dan dipanggilnya Ayahanda tercinta menghadap Allah SWT .
Gempa Bumi dan TSUNAMI Aceh yang dirasakan seluruh masyarakat yang ada di sentaro bumi Serambi mekah tersebut, salah satunya di kabupaten Simeulue Aceh Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami (Smong/Omong bahasa Simeulue) pada 26 Desember 2004 yang memporak-porandakan Aceh, di Pulau Simeulue juga salah satu daerah yang mengalami kerusakan karena secara geografis pusat gempa sangat dekat dengan pulau yang berbatasan lansung dengan Samudra Hindia itu. Gempa yang berkekuatan 7,9 Skala liter tersebut meruntuhkan semua rumah-rumah penduduk termasuk rumah Hadidi, ditamba trauma yang berkepanjangan sehingga waktu itu Hadidi sekeluarga dan seluruh masyarakat Simeulue terpaksa mengungsi di dataran tinggi dekat pengunungan karena dikhawatirkan terbawak atau hanyut oleh gelombang Tsunami.
Selama Enam bulan di kelas VIII (kelas II) SMP belajar mengajar di Sekolah tidak begitu efektif karena anak-anak korban Gempa dan Tsunami mengalami trauma yang mendalam sehingga banyak dari siswa memilih berkumpul dan membantu orang tuanya di rumah dari pada pergi kesekolah, sehingga yang terjadi sekolah sepi tidak ada Guru dan Muridnya termasuk sarana dan prasarna pembelajaran di sekolah semuanya sudah hancur. Gedung-gedung sekolah yang dulunya menjulang tinggi keatas hanya bisa di diganti dengan tenda-tenda yang dibuat dari swadaya masyarakat.
Cobaan yang kedua yang tidak kalah dahsyatnya adalah dipanggilnya Ayahanda tercinta menghadap Allah Rabbul Alamin, Ayahanda yang satu-satunya tulang punggung keluarga dan figur keteladanan keluarga sudah tiada. Otomatis Hadidi harus memikul beban membantu Ibunda untuk menghidupi keluarga, karna saudara-saudara Hadidi yang kakak pertama sudah menikah dan sudah mengikuti suaminya. Sementara dua saudara laki-laki Hadidi juga sedang menempuh sekolah di kota Sinabang dengan jarak dari Desa Had sekitar 150 KM dari desa Padang Unoi temapat Hadidi tinggal dan merekapun bekerja serabutan juga untuk membiayai kolahnya dan biaya hidupnya masing-masing. Sehingga mulai saat itu Hadidi setelah pulang sekolah lebih banyak membantu Ibunda menjaga dua Orang adik prempuanya yaitu Arumi (Rumi Arimayani) masih kelas empat SD sedangkan satunya yang bungsu Venny Fitriani saat itu Venni masih balita sekitar umur 2,5 Tahun.
SMA, Hadidi Merantau di Kota Sinabang Hingga Ke Kota Banda Aceh
Hadidi:Mengalami Dua Cobaan yang Bertubi-Tubi
Di balik kenikmatan dan prestasi tingkat lokal yang sering di raih Hadidi tersebut di atas bukan kemuadian tidak perna diberikan cobaan dan tantangan untuk meraih semua prestasi tersebut, diantara cobaan yang maha berat dan bertubi-tubi yang dirasakan Hadidi adalah ikut merasakan Pristiwa Gempa Bumi dan TSUNAMI Aceh dan dipanggilnya Ayahanda tercinta menghadap Allah SWT .
![]() |
Selama Enam bulan di kelas VIII (kelas II) SMP belajar mengajar di Sekolah tidak begitu efektif karena anak-anak korban Gempa dan Tsunami mengalami trauma yang mendalam sehingga banyak dari siswa memilih berkumpul dan membantu orang tuanya di rumah dari pada pergi kesekolah, sehingga yang terjadi sekolah sepi tidak ada Guru dan Muridnya termasuk sarana dan prasarna pembelajaran di sekolah semuanya sudah hancur. Gedung-gedung sekolah yang dulunya menjulang tinggi keatas hanya bisa di diganti dengan tenda-tenda yang dibuat dari swadaya masyarakat.
Cobaan yang kedua yang tidak kalah dahsyatnya adalah dipanggilnya Ayahanda tercinta menghadap Allah Rabbul Alamin, Ayahanda yang satu-satunya tulang punggung keluarga dan figur keteladanan keluarga sudah tiada. Otomatis Hadidi harus memikul beban membantu Ibunda untuk menghidupi keluarga, karna saudara-saudara Hadidi yang kakak pertama sudah menikah dan sudah mengikuti suaminya. Sementara dua saudara laki-laki Hadidi juga sedang menempuh sekolah di kota Sinabang dengan jarak dari Desa Had sekitar 150 KM dari desa Padang Unoi temapat Hadidi tinggal dan merekapun bekerja serabutan juga untuk membiayai kolahnya dan biaya hidupnya masing-masing. Sehingga mulai saat itu Hadidi setelah pulang sekolah lebih banyak membantu Ibunda menjaga dua Orang adik prempuanya yaitu Arumi (Rumi Arimayani) masih kelas empat SD sedangkan satunya yang bungsu Venny Fitriani saat itu Venni masih balita sekitar umur 2,5 Tahun.
SMA, Hadidi Merantau di Kota Sinabang Hingga Ke Kota Banda Aceh
Setalah lulus dari SMP Negeri I Salang, Hadidi melanjutkan pendidikan di Kota Sinabang (logat Simeulue dibaca;Sinafang) Ibu kota Kab Simeulue-Aceh
untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA). Hadidi meniggalkan Desa untuk
melanjutkan SMA lantaran di Desa Padang Unoi belum ada SMA pada masa itu. Jarak
antara Desa Padang Unoi dengan ibu kota kabupaten kepualauan Simeulue itu sekatar 150 KM.
Dengan jarak yang sangat jauh tersebut, ditambah alat transportasi darat dan laut masih sangat sulit, kondisi jalan raya belum semuanya di aspal dan listrik di desa Padang Unoi belum masuk termasuk singal Hanphone juga belum ada, maka selama di kota Sinabang Hadidi jarang pulang kampung paling-paling hanya satu tahun sekali itu pun pada waktu lebaran saja.Selainnya itu, Hadidi selama satu setengah tahun sekolah di kota Sinabang bekerja untuk menyambung hidup dan mencari biaya sekolah sendiri.
Namun dari tantangan dan rintangan untuk meraih mimpinya untuk dapat sekolah yang lebih tinggi di benak Hadidi pada saat itu hanya satu kata "Perjuangan" setiap detik yang dialui, menit, serta jam yang terus berlalu Hadidi gunakan dengan kerja keras tanpa pantang menyerah dan apapun saat itu semua pekerjaan dikerjakan yang penting halal dan bermanfaat bagi dirinya untuk bisa menyambung hidup dan tetap bisa melanjutkan sekolah.
HADIDI: Bekerja dari Warung Kopi Hingga Jualan Tempe Di Sekolah
Diantara pekerjaan yang perna dilakukan Hadidi selama sekolah SMA di Kota Sinabang Hadidi bekerja di Warung Kopi (Pelayan di warung Kopi), Pemungut Pajak disteribusi daerah dari warung kopi dan warung makan di kota Sinabang. (Red Pajak distribusi Daerah untuk warung yang dikelolah Kadis Pariwisata saat itu), Jualan tempe setiap hari dibawa ke sekolah, di sekolah untuk dijual enceran yang dibuatnya sendiri, Tukang bersih sekalain tinggal di sekolah menjaga sekolah di Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) Sinabang, hingga buru bangunan dan tukang bersih kebun. Itu semua Hadidi lakukan semata-mata untuk dapat meraih mimpi yaitu untuk bisa melanjutkan
sekolah.
Dari banyak kendala yang di hadapi Hadidi tersebut terutama terkait biaya sekolah termasuk biaya hidup di kota karena pada saat itu merupakan tekat yang kauat untuk meraih mimpi-mimpinya. Menurut Hadidi meskipun Ayahanda Hadidi telah meninggal dunia sejak duduk di kelas XII SMP. Ibu Hadidi hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga yang tidak mempunyai penghasilan tetap. Namun Hadidi tidak perna menyerah dari keadaan tersebut dan tetap bersikukuh pada saat itu melanjutkan Sekolah meskipun harus bekerja keras untuk biaya sekolah dan juga menyisihkan sebagian penghasilan kerja kerasnya untuk dapat di kirim ke Ibunda dan Adeknya di Kampung di Desa Padang Unoi kec Salang Kabupaten Simeulue tersebut.
![]() |
| Kota Sinabang Ibu kota Kab.Simeulue. |
Dengan jarak yang sangat jauh tersebut, ditambah alat transportasi darat dan laut masih sangat sulit, kondisi jalan raya belum semuanya di aspal dan listrik di desa Padang Unoi belum masuk termasuk singal Hanphone juga belum ada, maka selama di kota Sinabang Hadidi jarang pulang kampung paling-paling hanya satu tahun sekali itu pun pada waktu lebaran saja.Selainnya itu, Hadidi selama satu setengah tahun sekolah di kota Sinabang bekerja untuk menyambung hidup dan mencari biaya sekolah sendiri.
Namun dari tantangan dan rintangan untuk meraih mimpinya untuk dapat sekolah yang lebih tinggi di benak Hadidi pada saat itu hanya satu kata "Perjuangan" setiap detik yang dialui, menit, serta jam yang terus berlalu Hadidi gunakan dengan kerja keras tanpa pantang menyerah dan apapun saat itu semua pekerjaan dikerjakan yang penting halal dan bermanfaat bagi dirinya untuk bisa menyambung hidup dan tetap bisa melanjutkan sekolah.
HADIDI: Bekerja dari Warung Kopi Hingga Jualan Tempe Di Sekolah
![]() |
| Hadidi di Warung Kopi Condek SP.5 SNB. |
Dari banyak kendala yang di hadapi Hadidi tersebut terutama terkait biaya sekolah termasuk biaya hidup di kota karena pada saat itu merupakan tekat yang kauat untuk meraih mimpi-mimpinya. Menurut Hadidi meskipun Ayahanda Hadidi telah meninggal dunia sejak duduk di kelas XII SMP. Ibu Hadidi hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga yang tidak mempunyai penghasilan tetap. Namun Hadidi tidak perna menyerah dari keadaan tersebut dan tetap bersikukuh pada saat itu melanjutkan Sekolah meskipun harus bekerja keras untuk biaya sekolah dan juga menyisihkan sebagian penghasilan kerja kerasnya untuk dapat di kirim ke Ibunda dan Adeknya di Kampung di Desa Padang Unoi kec Salang Kabupaten Simeulue tersebut.
Selanjutnya sewaktu di Sinabang Hadidi memilih sekolah
Madrasah Aliyah Muhammadiyah(MAM) I Sinabang. Hadidi selama di MAM juga berjuang
mencari biaya sekolah dan biaya hidup. Hadidi bekerja menjadi pelayan di
Warung Kopi Condek, warung yang setiap malam di buka dari jam 04 Shubuh hingga di tutup sampai Jam 24.00 Wib malam itu, tepatnya di Suka Damai di kota
Sinabang. Jarak tempu dari warung kopi ke sekolah MAM sekitar 3 KM itu
setiap hari Hadidi tempuh untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Tidak
hanya itu Adid menjalankan pekerjaan itu selama dua semister atau satu tahun di
kelas X MAM.
Lebih
lanjut, Setelah naik kelas XI di MAM Sinabang Hadidi pindah pekerjaan karena
tidak sanggup lagi setiap malam menjadi pelayan di Warung, bergadang hingga
jatuh sakit, Akhirnya Hadidi, di tawarin pekerjaan baru oleh salah satu Guru di
MAM bernama Pak. Bujang (Sultan Nasliminsyah, pegawai Kadis Pariwaisata dan juga Guru Bantu di MAM I Sinabang). Pekerjaanya
sangat simple namun membutuhkan kejujuran dan kerja keras, pekerjaanya
setiap hari setelah pulang dari sekolah mendatangi seluruh pemilik Warung
Kopi dan Warung Nasi yang ada di kota Sinabang untuk di tarik pajaknya.Jumlah
nominalnya memang tidak besar setiap warung hanya ditarik minimal Rp. 5
ribu sampai Rp.10 ribu tergantung besar
kecilnya warung tersebut. Setiap sore hari Hadidi menyetor pajak kepada Bos (sapaan Hadidi untuk Pak Bujang) Pendapatannya bersih Sekitar 300 Ribu. itu sudah di potong
dengan upah saya satu hari hanya 20 Ribu. Hadidi berusaha untuk mencuykupi
kebutahan sehari-hari, dan biaya sekolah, bahkan setiap bulan dari uang
tabungan Hadidi tersebut untuk disiskan dikirim kepada ibunda dikampung untuk membantu Ibunda.
Prestasi akdemik Adid pada saat SMA.
Berbicara
prestasi Akademik sewaktu di MAM. Prestasi, Adid sangat menurun karena di
himpit oleh beban ekonomi untuk bertahan hidup di kota, dengan membiayai
sekolah dan mencari biaya hidup sendiri. Prestasi Adid hanya perna
meraih peringkat X di kelas bahkan perna anjlok sangat turun menjadi pringkat
XI. Namun di sisi lain Adid sangat aktif di Organisasi Ikatan Pelajar
Muhammadiyah (IPM).
Serta sering mengikuti pelatihan di PKPA, Coordaid, Care, dan LSM NGO lainya.
yang konsen memperhatiakan anak remaja pasca Tsunami di Aceh pada saat itu.
Tidak hanya samapai di situ, Adid sewaktu kelas XI di MAM perna menjabat
sebagai Ketua IPM Ranting MAM Sinabang. Kalau di SMA Negeri setara dengan katua
OSIS. Namun tidak lama hanya menjabat selama 3 bulan, karena Adid
mendapatkan panggilan biaya siswa dari perserikatan Muhammadiyah Wilayah
(Provinsi) Aceh untuk di sekolahkan di SMA Muhammadiyah 1 Banda Aceh, ibu kota
provinsi Serambi Mekah itu.
Berbekal
biaya siswa tersebut Adid, meniggal kota kecil Sinabang menyebrang 100 Mil laut
menuju daratan pronvinsi Aceh untuk melanjutkan Sekolah. Berkat semangat dan
motivasi serta dukungan dari muhammadiyah, Alhamdullah Adid, resmi pindah
sekolah SMA dari MAM Sinabang, ke SMA Muhammadiyah I Banda Aceh. Selanjutnya,
selama menjadi siswa di SMA Muhammadiyah I Banda Aceh. Adid mulai menata
kembali semangat belajar dan kerja keras untuk meraih prestasi, karena untuk
biaya sekolah dan biaya hidup sudah di tanggung oleh Muhammadiyah, maka hanya
satu kata "Harus Berprestasi,".
Alhamdullah
berkat semangat dan kerja keras serta keinginan yang kuat pada semister kedua
kelas XI di SMA Muhammadiyah I Banda Aceh, Adid dapat meraih peringkat I
di kelas IPA SMA tersebut.Tidak hanya itu, Adid juga masih sempat aktif di
organisasi IPM Daerah Kota Banda Aceh, saat itu perna menjabat sebagai Sekbid
Pengkaderan, serta menjadi Kabid Bidang Agama di Osis SMA Muhammadiyah I Banda
Aceh.
Serta pada ujian naik kelas XII
Adid juga meraih peringkat kedua. Selanjutnya selama di kelas XII , di
SMA Muhammadiyah I banda Aceh Adid fokus pada pelajaraan di sekolah, fokus
untuk remedial (Kursus) mempersiapkan Ujian Nasional (UN). Alhamdullah berkat
kerja keras Adid dapat lulus dengan hasil yang sangat memuaskan.
Setelah
lulus dari SMA Muhammadiyah I banda Aceh, Adid mendapatkan tawaran biaya siswa
dari perserikatan Muhammadiyah Pusat (PP) untuk melanjutkan study ke perguruan
Tinggi Muhammadiyah tepatnya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur
Indonesia. UMM Perguruan Tinggi terunggul di Jawa Timur serta di tingkat
PTM UMM termasuk Perguruan Tinggi No Wahid Se Nusantara.
Kampus yang mempunyai jargon "Dari
Muhammadiyah Untuk Bangsa itu," Kini di juluki sebagai kampus White Campus tempat berbagai ras, suku,
agama maupun bangsa yang kuliah di dalamnya, dari Indonesia dari sabang sampai
meraukue tidak terkeculi mahasiswanya dari manca negara.
Kini Aku bangga menjadi salah satu sivitas akademika di kampus UMM, kampus yang
sejak SMP dulu ku impikan untuk bisa kuliah disana, namun hari ini impian itu
sudah terwujud Teman..... Namun tidak sampai di sini saja mimpiku, masih banyak
mimmpi-mimpi yang ingin ku wujudkan....satu kata yang selalu ku tanam pada
diriku " Bermimpilah setinggi langit, Wujudkan mimpi itu dengan kerja
keras dan dan pantang menyerah..!(Penulis Adid.com). Nantikan Cerita saya
selanjutnya untuk menuju SUKSESS Salam Perjuangan
Teman...!!! BERSAMBUNG.
Selain
rutinitas kuliah, saya juga menyempatkan diri dalam dunia aktivisme, organisasi
yang pernah membesarkan saya antara lain;
- Ikatan Mahasiswa Muhammadiah (IMM) komisariat “Tamaddun” FAI UMM. Pernah menjabat sebagai Sekretaris Bidang Dakwah Tahun 2011/2012, Coordinator Kroups Mubalig Mahasiswa Muhammadiyah (KM3) Se Malang Raya Tahun 2011/2012. Anggota Krups Instruktur Pengkaderan IMM Cabang Malang Tahun 2011/2012. Selanjutnya menjabat Kadiv Forum Jurnalistik Intelektual Ikatan (FORJII) di komisariat Tamaddun FAI UMM Tahun 2012/2013.
- Koran Kampus UMM (BESTARI). Menjadi Reporter sejak tahun 2010 Jabatan terkahir sebagai Koordinator Liputan (Korlip) Sketsa Tahun 2012/2013.
- Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFAI). Sebagai Staft Bidang Kesejatraan Masyarakat (Kesos) BEM FAI Tahun 2011/2012.Selanjutnya menjabat sebagai Wakil Gebernur Mahasiswa (Gubma) Fakultas Agama Islam UMM Tahun 2012/2013.
- Lembaga Semi Otonom (LSO) FORSIFA FAI UMM
Sebagai Anggota tetap sejak
tahun 2010/2011. Selanjutnya menjabat sebagai Wakil Ketua devisi Inces
2011/2012.
5.
UKM-Kerohanian Jamaah AR.Fachruddin (JF) UMM.
Sebagai Anggota sejak 2010 terakhir menjabat sebagai sekretaris bidang
pengkaderan (PPSDM).
- Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Aceh Malang (IPPMA Malang) Sebagai anggota tetap dari 2010 sampai sekarang
- Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Simeulue Malang (IPPELMAS MALANG). Katua Bidang Organisasi Tahun 2010. Salanjutnya Humas 202/2013. Dan termasuk sebagai salah satu pendiri.
Selain
itu beberapa pelatihan yang pernah saya ikuti antara lain:
- Training Of Trainer (TOT) Trainer dan Co. Trainer Pelatihan Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Malang
- Pelatihan Pembentukan Keperibadian dan Kepemimpinan (P2KK) UMM Tahun 2010 Sebagai Peserta Terbaik.
- Pelatihan Aplikasi Internet (Aplinet) Universitas Muahmmadiyah Malang Tahun 2010.
- Latihan Kehumasan dan Keperotokoleran seluruh Lembaga Intra se UMM Tahun 2011 delegasi dari BEMFAI.
- Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi Mahasiswa (LKMM) lembaga Intra Kemahasiswaan UMM. Delegasi dari Koran Kampus Bestari. Tahun 2013.
- Latihan Instruktur Dasar (LID) IMM Cabang Malang Tahun 2012
- Pelatihan Darul Arqom Dasar (DAD) IMM Komisariat “Tamaddun” FAI UMM Tahun 2010.
- Darul Arqom Madyah (DAM ) di IMM Cabang BSKM Jogjakarta Tahun 2012
- Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) Koran Kampus BESARI UMM Tahun 2011
- Latihan Kepemimpinan Manajerial Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMMTD) FAI UMM.Tahun 2011.
- Pelatihan dan Worshop Bidang Dakwah IMM Tingkat Nasional di Jakarta Tahun 2012
- Latihan Manajemen dan Instruktur Darul Arqom Tingkat Wilayah Majelis Pendidikan Kader PWM Jawa Timur Tahun 2012.
- Pelatihan Taruna Melati (TM I ) Pimpinan Daerah IPM Banda Aceh Tahun 2009
- Pelatihan Taruna Melati (TM II ) Pimpinan Daerah IPM Banda Aceh Tahun 2009
- Pelatihan Taruna Melati (TM II ) Pimpinan Wilayah IPM Banda Aceh Tahun 2009
- ESQ Leadership Training Tahun 2010
- Pelatihan Penguatan Hygiene promotion Tahun 2008
- Seminar-seminar Regional/Nasional
- Sekolah Tamaddun di Komisariat IMM FAI UMM. Tahun 2011 Sampai Sekarang
Latar
belakang saya sebagai aktivis, mendorong saya untuk mendirikan Blok ini. Bagi
saya berbagi adalah ilmu pengethuan merupakan kewajiban sesama pecinta ilmu,
disini saya bisa mengekspresikan dan menungkan ide-ide saya. Blog ini saya
jadikan media berkomunikasi dan juga sebagai penyimpan data-data, catatan-catan
kuliah saya. Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan baik
tulisan maupun gagasan yang tertuang di Blog ini. oleh sebab itu kritik dan
saran yang siafatnya membangaun selalu
terbuka untuk anda.(Adid.com)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar