7 Desember 2012

Antara Isteri dan Copet...

Oleh


Muhammad Hadidi
Universitas Muhammadiyah Malang
Mama di copet...
Copet, siapa yang tidak kesal dibuat oleh ulahnya. Boleh Anda tanyakan kepada siapa pun yang pernah mengalami nasib nahas mendapati dirinya kecopetan barang berharga. Dompet misalnya, sebagian korban menganggap uangnya tak seberapa karena yang terpenting adalah surat-surat penting dalam dompet tersebut. Atau barang berharga lainnya seperti telepon selular, yang paling mengesalkan bagi sebagian korban adalah saat harus memberi tahu nomor baru kepada kolega-koleganya, itu belum termasuk mendata ulang nomor telepon yang sudah pasti tak dihapalnya satu persatu.

Bicara soal copet, saya teringat sebuah perjalanan bersama seorang teman ke sebuah Mall di kawasan Kuningan, Jakarta untuk membeli piranti komputer. Tiga jam berputar-putar sepanjang Mall akhirnya barang yang dicari pun didapat dan setelah sepuluh menit lebih sedikit tawar menawar, tibalah saatnya membayar. “Eh, uang saya kemana ya?” tanya teman saya. Saya pikir ia tengah berkelakar dengan berpura-pura uangnya tak ada di kantongnya.

Ternyata sungguhan, ia yakin sejak semalam menyimpan uangnya di saku depan celananya dan tak pernah memindahkannya hingga berangkat pagi tadi bersama saya. “Dasar copet nih,” keluarlah kalimat sumpah serapahnya. Untunglah saya membawa uang yang cukup agar ia tak menanggung malu karena sudah melakukan tawar menawar.

Sepanjang jalan menuju rumah ia terus saja mengumpat sekaligus menyesali dirinya yang tak sadar menjadi korban pencopetan. Ia pun mengira-ngira dimana ia mengalami nasib nahas itu, entah di bis atau di angkot. Tapi sudah lah, uang sudah hilang mungkin bukan rezekinya, gerutunya masih tak rela.

Sore hari setelah sholat Ashar, teman yang pagi tadi saya antar membeli piranti komputer itu menelepon sambil tertawa terbahak-bahak. Aneh, siang tadi wajahnya merah dan hatinya pun kacau balau mengutuk perbuatan copet kurang ajar, sore ini malah terdengar senang sekali. Awalnya saya mengira ia sudah ikhlas dan mengambil hikmah dari kecopetan itu, tapi “Kamu tahu nggak, ternyata yang ngambil uang saya tuh isteri saya. Semalam dia ngambil dari kantong nggak bilang. Dan uangnya disimpan di laci,” ujarnya sambil terus terbahak-bahak.

Saya menduga, setibanya di rumah ia langsung menceritakan kejadian nahas yang menimpanya siang tadi sehingga harus meminjam uang saya. Mendengar ceritanya yang masih terus sambil terbahak-bahak itu, saya pun tak mampu menahan diri untuk tertawa. Yang saya tertawakan tentu saja kalimat kutukan dan sumpah serapahnya siang tadi, “Kalau ketemu saya cekek leher yang ngambil uang saya,” sudah pasti tak mungkin ia mencekek isterinya kan?

Semoga ia sudah menarik dan melupakan ucapannya siang tadi karena bisa jadi isterinya melakukan itu hanya untuk memindahkan saja. Pun sebenarnya ia juga hendak meminta izin kepada suaminya, bisa jadi saat itu suaminya sedang tidur atau tidak di tempat, namun ia terlupa untuk memberitahunya di waktu kemudian.

***

Terpikirlah saya tentang isteri, pernahkah ia mengambil atau memindahkan uang di saku kemeja atau celana saya yang sering tergantung menantang di balik pintu kamar? Cukup lama saya mencari jawabnya karena untuk bertanya pun saya tak berani, masak sih mencurigai isteri sendiri?

Rasa penasaran itu pun terjawab sudah ketika saya mendapati beberapa lembar uang kertas yang terpanggang di atas tutup panci untuk memasak air. Beberapa hari sebelumnya, di celana yang lain saya dapati beberapa lembar uang yang tergulung-gulung tak berbentuk. Rupanya lembaran-lembaran itu ikut tercuci dan terjemur bersama dalam saku celana kotor saya. Ooh…
Sumber : Bunga Rampai seri XII Keluarga - Publikasi : Monday, July 25, 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar