7 Desember 2012

Inikah Pahlawannya?




Muhammad Hadidi.
Kang Asep sudah tiga hari terbaring di rumah gubugnya. Sakit batuk dan sesak nafas telah memaksanya menghentikan aktivitas sehari-harinya. Istri dan tiga anaknya yang masih kecil terpaksa menggantikan pekerjaannya sebagai pemungut sampah di kompleks kami. Sambil menggendong anaknya yang paling kecil diiringgi dua orang anaknya, Bu Asep mendorong gerobak sampah yang penuh dengan muatan berjalan dari rumah ke rumah menyusuri jalanan kompleks. Sesekali anak di gendongannya menangis karena lapar sejak pagi belum terisi makanan. Sesampai di depan rumah saya, Bu Asep berhenti dan mengetok-ketok pintu pagar. “Assalamu’alaikum, Pak!” Saya terkejut sembari menjawab dari dalam rumah “Wa’alaikum salam,” sambil tergopoh-gopoh saya buka pintu pagar.

“Ada apa Bu? Nyari siapa?” tanya saya. “Maaf Pak. Sekali lagi saya minta maaf,” pintanya dengan suara memelas. “Ibu salah apa?” tanya saya. “Enggak Pak, maaf...saya disuruh suami saya, Kang Asep, untuk ke rumah Bapak. Kang Asep sudah tiga hari sakit. Saya nggak punya uang buat berobat. Kalau Bapak tidak keberatan saya minta tolong pinjam uang. Sebenarnya sangat malu, tetapi karena terpaksa. Sekali lagi maaf, Pak!”

Kang Asep memang telah mengenal saya sejak lama. Itu lantaran saya suka mengobrol dengannya di masjid sehabis salat berjamaah, mengenai pekerjaannya, ibadahnya, keluarganya, tujuan hidupnya, harapannya dan masalah-masalah keseharian lainnya. Saya memang sangat suka mengobrol dengan orang-orang kecil yang selama ini terpinggirkan, tidak ada yang mau peduli dengan nasibnya, seperti tukang sol, tukang bakso, tukang es cendol, tukang ketoprak dan pedagang keliling lainnya. Sehabis shalat zuhur biasanya mereka istirahat di masjid sembari melepaskan kepenatannya. Walaupun risikonya biasanya sering dimintai tolong.

“Sebentar, Bu,” Bergegas saya masuk rumah. Saya mengambil dompet dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan.

“Ini Bu! Nggak usah minjam. Ini pemberian. Kalau ada masalah ibu tidak usah sungkan-sungkan ke mari,”

“Terima Kasih Pak! Kok banyak banget. Paling butuhnya hanya lima puluh ribu saja. Terima kasih, Pak,”

Kang Asep orangnya sangat amanah dan menjaga harga diri. Walaupun hanya pengumpul sampah, dia tidak pernah ingkar janji. Kalau berhutang selalu melunasi. Kalau tidak karena sangat terpaksa, dia tidak akan berhutang. Kerjanya sangat rajin, demikian juga ibadahnya. Walaupun pekerjaannya menuntut badannya kotor, dia tidak pernah ketinggalan salat jamaah di masjid. Bahkan dia selalu yang mengumandangkan azan. Kadang merangkap menjadi imam. Disamping pemungut sampah, Kang Asep juga rajin berkebun di samping rumahnya. Kebun singkong, labu, pepaya, jambu dan mangga. Setiap berbuah selalu dia bagikan kepada tetangganya. Selain itu dia juga menjadi tukang panggilan untuk pekerjaan-pekerjaan serabutan, seperti membersihkan rumput, menebang pohon, membetulkan rumah, dan sebagainya. Sangat rajin dan rapih pekerjaannya. Jika dipanggil tidak pernah menolak. Terkadang kalau pekerjaannya ringan, dia tidak mau dibayar. Sehabis maghrib Kang Asep mengajar anak-anak kampung tetangganya belajar membaca al-Qur'an. Kang Asep pernah bercita-cita menjadi ustadz. Dulu pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren. Tetapi karena alasan ekonomi, memaksanya berhenti sebelum tamat. Kang Asep sangat disukai oleh para tetangganya dan seluruh warga kompleks.

Tiga bulan yang lalu, karena alasan pekerjaan saya pindah ke kota lain. Sejak saat itu saya tidak mendengar lagi kabar dari Kang Asep. Maklum dia tidak memiliki telepon. Untuk mengirim surat pun rasanya saya belum sempat karena disibukkan oleh pekerjaan. Kisah Kang Asep yang tengah ditimpa musibah seolah menghilang dari ingatan saya.

Minggu lalu saya mendapat telepon dari teman yang masih tinggal di kompleks itu. Tak lupa saya tanyakan kabar Kang Asep. Teman saya bilang bahwa sekarang Kang Asep sudah tidak bekerja lagi. Karena sakit yang dideritanya menyebabkan Kang Asep tidak dapat menjalankan tugasnya. Istrinya tidak sekuat dia. Warga mengeluh sampahnya sudah tiga hari belum terangkut. Akhirnya pihak RW memutuskan menggantikan angkutan sampah dengan truk dari Dinas Kebersihan Kota. Walaupun iuran sampah naik, warga menyambutnya dengan gembira karena setiap hari sampahnya terangkut. Teman saya tidak tahu nasib Kang Asep, apakah mendapat pesangon atau pulang kampung ke Sukabumi. Di akhir pembicaraan saya menitipkan salam buat Kang Asep.

Sejak siang hujan lebat disertai angin kencang mengguyur komplek. Gelap gulita akibat PLN mematikan lampu. Warga sudah mulai was-was. Sebagaimana sebelumnya jika hujan seperti ini air sungai akan meluap sampai masuk ke rumah-rumah. Ada yang memindahkan barang-barangnya ke loteng. Ada yang sudah bersikap-siap mengungsi dan ada yang pasrah saja sambil berjaga-jaga.

Memang sejak Kang Asep tidak lagi memungut sampah, setiap kali hujan turun semalaman, selalu diikuti dengan banjir sampai menggenangi rumah mereka. Warga heran, mengapa sampah makin bersih, tetapi selalu banjir. Teka-teki ini tidak ada yang bisa menjawab, sampai pengurus RW juga kebingungan. Yang dilakukan para warga hanyalah pasrah dan bersiap-siap. Ada yang pindah ke tempat lain, yang mampu membangun loteng dan tempat penyimpanan barang yang lebih tinggi.

Malam itu, hujan lebih lebat dari biasanya. Bahkan dari berita diumumkan bahwa ketinggian air di pintu air Katulampa telah melebihi batas normal. Itu artinya sudah siaga satu. Warga sudah diminta untuk mengungsi. Ketinggian air kali ini diprediksi bisa mencapai lebih dari 2 meter. Itu artinya komplek ini akan terendam habis. Tersiar kabar bahwa komplek sebelah telah terendam air setinggi 1 meter. Selepas Isya’ warga sudah mulai sibuk mencari tempat mengungsi. Seluruh jalanan sudah tertutupi air.

Namun anehnya sampai jam 12 malam air tidak naik. Warga bingung, tidak seperti biasanya hujan selebat ini air tidak sampai masuk rumah. Mereka yang sudah siap mengungsi mengurungkan niatnya. Mereka kembali ke rumah masing-masing, namun tetap waspada dan berjaga-jaga. Pukul 3 pagi satpam memukul tiang listrik 3 kali. Tak lama setelah itu listrik pun menyala. Warga yang tidak tidur menyambutnya dengan gembira. Itu pertanda bahwa banjir tidak jadi menimpa rumah mereka. Azan subuh pun bergema. Warga berduyun-duyun mendatangi masjid dengan hati penuh syukur.

Rasa syukur warga terasa ada yang kurang. Warga bertanya-tanya kemana Kang Asep. Biasanya Kang Asep tidak pernah absen salat subuh berjamaah, walaupun dalam kondisi sakit. Namun pagi itu warga tidak menemukan Kang Asep di masjid. Selepas shalat warga langsung menuju ke rumah Kang Asep. Ada apa gerangan? Apakah Kang Asep sakit keras? Atau pergi ke luar kota?

Warga tidak menemukan Kang Asep di rumahnya. Mereka hanya mendapat jawaban dari istrinya, bahwa Kang Asep semalam keluar. “Saya sudah melarangnya, Hujan lebat begini Bapak mau kemana? Kan Bapak lagi sakit, nanti sakitnya makin parah,” Bapak cuma menjawab katanya tugas penting. Itu saja. Bapak tidak menjelaskan tugas penting apa. Sampai pagi ini Kang Asep belum pulang. Warga makin bingung tugas penting apa kira-kira yang dilakukan Kang Asep sampai hujan-hujan tetap dijalankan. Belum sempat warga meninggalkan rumah Kang Asep, tersiar berita ditemukan mayat seorang laki-laki mengapung di pintu air. Warga langsung menghambur ke pintu air. Warga tidak ada yang berani mengangkat mayatnya sampai polisi datang. Tiba-tiba seorang wanita berteriak histeris, “Itu Kang Asep! Itu suami saya! Dari pakaiannya saya mengenali itu pakaian Kang Asep waktu meninggalkan rumah!” Tangis Bu Asep tak bisa dibendung. Suami yang dicintainya meninggal mengenaskan.

Akhirnya teka-teki yang selama ini terjawab. Penyebab banjir di komplek ini karena warga yang seenaknya membuang sampah di kali. Padahal di hilir terdapat pintu air. Sampah menumpuk di pintu air dan menyebabkan air tertahan dan terjadi banjir. Dulu waktu Kang Asep masih memungut sampah, beliau rajin membersihkan sampah-sampah itu sehingga tidak pernah terjadi banjir. Melihat hujan yang sangat lebat Kang Asep terpanggil jiwanya. Walaupun sudah tidak menjadi pemungut sampah, jiwa penolongnya tidak menghalanginya untuk melakukan tugas mulia. Dia korbankan jiwa dan raganya demi mendengar bencana yang akan menimpa saudara-saudaranya. Padahal Kang Asep tinggal di samping komplek yang lebih tinggi dan tidak pernah tersentuh air. Kalau dia hanya memikirkan dirinya sendiri niscaya tidak akan dilakukannya tugas mulia itu.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Seorang hamba yang mulia telah menemui-Mu dengan penuh rasa hormat. Kang Asep ibarat mata air di padang yang gersang masa kini. Di saat banyak orang butuh penghargaan, popularitas, dan balasan materi, dia korbankan jiwa raga tanpa perlu dilihat orang. Dia pahlawan yang tidak pernah dikenang.

Sosok Kang Asep membekas dalam hati saya. Walaupun penghasilannya pas-pasan, bahkan menurut saya kurang, tetapi dia tidak pernah mengeluh. Dia selalu pandai bersyukur. Dia selalu ceria dan bersahaja. Dia juga pandai mendidik istri dan anak-anaknya untuk selalu bersyukur dan menjaga harga diri. Sosok dia telah menginspirasi hidup saya. Ketika mengalami kesulitan keuangan, saya sering merasa sedih. Pada saat itu saya ingat Kang Asep dan langsung kesedihan itu hilang. Saya malu pada Kang Asep dengan penghasilan hanya 300 ribu rupiah sebulan dapat selalu bersyukur, sementara saya dengan penghasilan yang beberapa kali lipatnya sering mengalami kesedihan karena masalah keuangan. Saya malu pada Allah dengan mengambil ibrah kehidupan Kang Asep

Tidak ada komentar:

Posting Komentar