 |
| Wahai Pemuda Tundukkan Pandanganmu |
“Ciaaatttttt….”
Tubuh mungil Siou Lien terbang di udara seiring dengan gerakan kakinya yang
menghentak bumi.
“Wah.. bagus, Siao Lien, sekarang langsung pegang lutut
kamu, tundukkan kepala dan banting punggungmu ke depan.” Segera aku memberi
aba-aba pada Siao Lien. Dia langsung mengikuti petunjukku. Dipegangnya lututnya
dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut itu hingga tubuhnya kini
tampak membulat. Dari jauh, persis seperti seekor trenggiling yang sedang
meluncur dari puncak bukit, hanya saja trenggiling yang satu ini memakai jilbab
warna putih.
“Yak… Sekarang. Banting ke depan !” Sioa Lien gugup,
konsentrasinya buyar. Jangankan mendorong punggungnya ke depan, melepas pelukan
kedua tangannya di lututpun dia lupa hingga masih dalam keadaan membulat dia
meluncur bebas menuju bumi. Tiiiiiiiiiiiiing… BUK !
“Aduh… “ Siao Lien
tampak terhempas dengan sisi tubuh sebelah kirinya terlebih dahulu menghantam
tanah. Aku segera berlari menghampirinya. Wajahnya tampak meringis, jilbab
putihnya pun tampak berantakan hingga beberapa helai rambutnya tampak mengintip
ke luar.
“Sakit Lien ?“
“Nggak, enak kok.. Mantaf…” Di tengah
wajah meringisnya dia masih menyelipkan kalimat canda. Hmm, pertanyaanku yang
rasanya bodoh. Tentu saja sakit jatuh dari ketinggian satu meter di atas tanah
seperti tadi. Dalam diam, kugosokkan balsem ke sekujur tubuhnya sambil
memijitnya perlahan-lahan. Siao Lien tampak menikmati pijitanku sambil sesekali
berteriak kesakitan jika aku menyentuh bagian tertentu dari permukaan kulitnya
yang mulai terlihat lebam.
“Duh.. maaf yah kak. Lien tuh susah banget yah
diajarinnya. Habis, Lien gugup banget sih kak.” Aku hanya tersenyum mendengar
permintaan maafnya.
“Nggak papah Lien. Mungkin kakak saja yang terlalu
bernafsu ngajarin kamu. Habis, kejuaraan sebentar lagi kan diadakan di ibukota.
Kakak pingin kamu bisa tampil dan meraih setidaknya yah harapan satu atau
harapan dualah di kejuaraan itu. Hmm, jurus berputar di udara itu adalah jurus
Angin Berputar yang dimiliki hanya oleh perguruan kita. Kakak mempelajarinya
dari kakek guru almarhum dan sudah memodifikasinya sedemikian rupa sehingga
gerakan itu lebih kaya sekarang. “
“Harusnya kakak saja yang muncul
kak.”
“Iyah.. tapi kamu kan tahu sendiri bahwa kakak harus turun gunung
besok siang, karena ada musibah di desa Sampan Jauh. Kakak harus membantu
penduduk di sana yang sedang dilanda perang saudara dengan desa di sebelahnya.
Jadi, kita bagi tugas. Masing-masing kita berjuang dengan peranan masing-masing.
Mengenai latihan… kakak sudah punya rencana sendiri khusus untuk kamu.” Aku
terus memijit kaki Siou Lien sementara Siou Lien sudah berkurang suara
mengaduhnya.
“Apa rencana kakak buat aku ?” Siou Lien lebih tertarik pada
rencana yang belum kuucapkan ketimbang lebam di tubuhnya. Aku tersenyum dan dari
arah belakang kami terdengar suara teriakan salam.
“Assalamu’alaikum !”
Dengan kompak aku dan Lien menjawab salam tersebut. Wah.. tepat waktu. Aku
berbalik punggung dan di depanku kini telah tampak seorang pemuda kekar yang
memakai kacamata hitam dan sedang tersenyum lebar.
“Lien… Ini rencana
kakak. Sementara kakak pergi, kamu akan dilatih oleh Kak Li Ping Tse… Hmm..
kenalan dulu kali yah. Li Ping, ini Siou Lien, Siou Lien, ini Li Ping. Li Ping
ini kakak perguruan kamu yang dua tahun lalu belajar ke gunung sebelah dan
sekarang kakak panggil pulang untuk melatih kamu.” Aku memandang mereka berdua
yang sama-sama menunduk dalam diam.
“Lien.. kamu bisa istirahat
sekarang, kakak mau bicara dengan Li Ping.” Kutepuk pundak Siou Lien dan sedetik
berikutnya Siou Lien sudah melesat pergi.
Kini tinggal aku berdua dengan
Li Ping Tse. Kujelaskan semua jurus modifikasiku pada Li Ping Tse yang
mendengarnya dengan penuh khikmat. Matahari sudah semakin condong ke arah barat,
ba’da ashar aku sudah harus turun gunung agar ketika maghrib tiba, aku sudah
berada di kota. Sebelum pergi meninggalkan Li Ping Tse, kudekati dia
hati-hati.
“Jaga Pandangan kamu yah terhadap Siou Lien. Ingat, kalian
tetap berlainan jenis dan non muhrim. ” Dengan tegas kuberi Li Ping Tse
peringatan.
“Siip kak. Lihat, perbekalan sudah memadai.” Li Ping Tse
memperlihatkan kacamata hitam pekat yang masih bertengger di atas hidungnya
sambil memamerkan senyum lebarnya yang khas.
---ooo000000ooo---
Wahh..
tak terasa sudah enam bulan aku meninggalkan perguruan. Rindu rasanya pada semua
adik-adik perguruan, juga pada pohon Cemara di depan jendela kamarku, yang
selalu meliuk rendah sekali jika angin datang menerpanya. Atau pada kitiran
angin yang terbuat dari bambu dengan sehelai bulu sayap burung elang di ujungnya
hingga bambu itu akan berputar riang jika tertiup angin. Putaran bulu elang
inilah yang memberikan inspirasi pada modifikasi gerakan tendangan angin
berputar perguruanku. Tiga bulan lalu, Siou Lien memberiku kabar bahwa tahun ini
perguruan kami berhasil memenangkan pertandingan antar perguruan hingga
perguruan kami diakui sebagai perguruan yang patut diperhitungkan di dunia
persilatan. Alhamdulillah.
Dari jauh kulihat Li Ping Tse sedang duduk
menipu seruling di atas batu cadas ceper yang ada di depan gerbang perguruan.
Lagu yang dinyanyikannya sedih sekali. Tumben. Biasanya, keceriaan dan senyum
tidak pernah hilang dari perilakunya sehari-hari. Dengan sekali hentak, kuputar
tubuhku melayang di udara hingga dalam sekejap bisa berada tepat di depan Li
Ping Tse.
“Assalamu”alaikum !” Li Ping Tse tampak terkejut dan segera
bangkit dari duduk bersilanya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh… Ahlan Kak Chou CHou, kapan datang ?” Dengan gugup Li Ping Tse
tampak gugup dan grogi menyembunyikan serulingnya. Dia pasti malu karena dalam
hal ini dia benar-benar sudah kehilangan kewaspadaannya. Bayangkan jika yang
datang itu musuh, tentu dengan mudah dia sudah dikalahkan dan musuh bisa dengan
mudah masuk ke dalam perguruan kami tanpa ada perlawanan apa-apa.
“Bagaimana kabar kamu dan adik-adik ?”
“Baik alhamdulillah.”
Sekilas kulihat dia menelan air liurnya dengan susah payah. Hei, tidak biasanya
Li Ping Tse begini gugup. Kucari wajahnya yang menunduk sangat dalam tersebut
dan menatapnya dengan seksama, membuat wajahnya yang dihiasi kacamata hitam itu
kian bersemu merah.
“Ada apa ?” Tidak ada jawaban selain gelengan kepala.
Secara sekelebat di kepalaku terlintas wajah Siou Lien. Apakah ada hubungannya
?
“Bagaimana kabar Siou Lien setelah kutitipkan dia padamu ?” Li Ping Tse
tampak langsung menelan kembali air liurnya, keringatnya tampak membayang di
pelipisnya. Membuatku kian khawatir.
“Ada apa dengan dia ?” Pertanyaanku
semakin memburu.
“Tidak.. tidak ada apa-apa. Sungguh kak. Hubungan kami
baik, sangat baik. Dia menganggapku seperti kakaknya sendiri…,” Kalimat Li Ping
Tse terasa menggantung.
“Lalu ?” Aku kian penasaran. Tak peroleh jawaban,
tapi sebaliknya Li Ping Tse mulai terisak. Loh ? Ada Apa ini ? Permainan apa
lagi yang mau ditunjukkannya. Dari dulu, Li Ping Tse memang terkenal sebagai
murid yang paling selengek’an, sehingga guru menugaskan dia untuk belajar di
gunung sebelah.
“Loh ?… Ih, bingungin, kamu kenapa sih ?” Aku
mengggaruk-garuk kepala kebingungan berhadapan dengan Li Ping Tse kali ini. Tapi
pemuda di depanku ini malah terisak kian hebat. Wah.. memalukan. Tubuh kekarnya
jadi tidak lagi berarti. Pendekar kok menangis. Apa kata dunia
persilatan?
“Hei…cup.. cup.. kenapa ?” Tiba-tiba Li Ping Tse menghentikan
tangisnya dan memamerkan senyum lebarnya yang khas. Itu senyum isengnya, aku
sudah hapal sekali. Jika ini senyum isengnya, artinya tadi itu air mata
buayanya. Wah. Aku mundur beberapa langkah menjauhi Li Ping Tse dan mengambil
sikap bersiaga menghadapinya.
“Sedih kak, karena aku pingin dia tidak
menganggapku sebagai kakaknya, tapi.. sebagai …nggnn…. kekasihnya.”
“Wayooooooo…” Aku berteriak spontan. Ih, gemes banget deh menghadapi
anak ini, sungguhan.
“Kamu kan aku beri amanat untuk jaga pandangan kamu
Li Ping, ingat. “
“Yup. Sudah. Lihat. Aku tidak pernah melepas
kacamataku, kami tidak pernah bertatapan secara langsung dalam waktu yang lama,
pokoknya murni profesional. Tapi kan, mana tahu kalau keadaan jadi begini,
sebab..” Huh, aku benci melihat gaya LI Ping Tse menguraikan alasannya.
“Stoooopppppp.. Jangan bicara lagi, sebel dengarnya. Jaga pandangan itu
tidak harus berbentuk fisik tidak melihat secara langsung atau menggunakan
bantuan benda seperti kacamata, bukan hanya itu. Tapi jaga pandangan itu juga
harus diiringi dengan jaga hati, jangan mengotori hati kamu begitu saja. Huhhh…
kamu tuh sudah mengecewakanku deh. Sekarang, aku beri hitungan sampai tiga untuk
kamu menyelamatkan diri dari hukumanku. Sudah gatal rasanya kakiku untuk
menendangmu. Ayo.. satu….” Li Ping Tse yang sedang tersenyum lebar tergagap dan
tampak kebingungan menengok ke kiri dan ke kanan.
“Dua…” Melihat
kesungguhanku dalam berhitung juga kuda-kudaku yang mulai terpasang, Li Ping Tse
segera tahu bahwa aku memang sungguhan akan memberinya hukuman. Segera dia
berlari sekuat tenaga meniti anak tangga yang jumlahnya ratusan ke atas gunung,
tempat perguruan kami berada. Bajunya dari belakang tampak berkibar-kibar
tertiup angin.
“Tiga… Tendangan Angin berputar, terima ini.
Ciaaaaaattttttttt..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar