| Foto : Muhammad Hadidi Islamic Law FAI UMM |
Artinya : “Barang siapa
yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan
baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang
demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun.
Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya
dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari
kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang
mengikutinya” (HR Muslim)
Sungguh hadits ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan contoh, apalagi sebagai orang tua, kita dituntut lebih hati-hati. Sengaja atau tidak, ada efek negatif maupun positif. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi dengan keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak.
Memang banyak tips dan cara untuk mendidik anak, ada
yang dengan metode A ada yang menyarankan dengan metode B. Namun, dari setiap
metode-metode yang selama ini saya baca, keteladanan adalah metode yang jitu
dalam pendidikan anak-anak di keluarga. Disini saya akan membahas fakta tentang
pendidikan di rumah, pentingnya keteladanan dalam pendidikan, dan bagaimana
orang tua agar mampu menjadi tauladan yang baik untuk anak.
Pertama, cara
mendidikan anak-anak dalam rumah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan
itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua
mengarahkan anak-anaknya dirumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu
tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan dirumah
yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa
diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan
institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi
pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling
awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan
pengetahuan, pengajaran dan pendidikan.
Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa tujuan
mereka mendidik anak-anaknya, apakah hanya sekedar bisa survive di dunia ini
ataukah menginginkan anak-anaknya menjadi generasi yang unggul. Tujuan utama
pendidikan adalah untuk melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam
(syakhshiyah Islamiyyah), atau dengan kata lain, tujuan
kita mendidik anak adalah untuk menjadikan mereka anak-anak yang
sholeh/sholehah. Dan ini merupakan tugas utama sebagai orang tua.
Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun diakherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggan keluarga, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah.
Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun diakherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggan keluarga, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah.
Kedua, pentingnya
teladanan dalam mendidikan. Sebagaimana kita ketahui, Allah juga memberikan
contoh-contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam
kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya
pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu)
bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari
Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang
Maha kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. al Mumtahanah [60]: 6).
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab
[33]: 21).
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan
hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang
bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri;
dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi
Maha Terpuji.” (Qs. Luqman
[31]: 12)
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan
sesungguhnya dia akan binasa” (Qs. al-Lahab [111]: 1)
Oleh karena itu, keteladanan dalam dunia pendidikan
adalah sangat penting, apalagi kita sebagai orang tua yang diamanahi Allah
berupa anak-anak, maka kita harus menjadi teladan yang baik buat anak-anak.
Kita harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, kita harus menjadi
panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini. Jadi jika
kita menginginkan anak-anak kita mencintai Allah dan RosulNya maka kita sendiri
sebagai orang tua harus mencintai Allah dan RosulNya pula, sehingga kecintaan
itu akan terlihat oleh anak-anak. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang
taat pada syari’at jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah.
Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Allah jika
kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke
ceramah-ceramah, dan akan terasa susah untuk membentuk anak yang mempunyai jiwa
pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika bapak
ibunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat
dengan kegiatan dakwah.
Sebagai contoh, apa yang terjadi di Palestina, setiap
generasi disana sejak kecil sudah menjadi mujahid, jiwa mereka sudah tidak ada
rasa takut terhadap kematian dan mereka siap melakukan apa saja demi kejayaan
Islam, ini semua karena orang tua mereka memberikan contoh nyata kepada mereka.
Disamping itu, tanpa keteladanan, apa yang kita
ajarkan kepada anak-anak kita akan hanya menjadi teori belaka, mereka seperti
gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah merealisasikan dalam kehidupan.
Kita selalu mengajarkan agar anak kita mencintai Allah, namun kita sendiri
lebih mencintai dunia…maka pengajaran tentang hal itu akan sulit untuk
direalisasikan.
Yang lebih utama lagi, metode keteladanan ini bisa kita lakukan
setiap saat dan sepanjang waktu. Dengan keteladanan pengajaran-pengajaran yang
kita sampaikan akan membekas dan metode ini adalah metode termurah dan tidak
memerlukan tempat tertentu. Jadi…mampukan kita menjadi uswatun hasanah bagi
anak-anak kita??
Untuk mampu menjadi uswatun hasanah, syarat utama
adalah kita sebagai orang tua harus tahu Islam secara menyeluruh, bagi yang
belum tahu Islam tidak ada kata terlambat, belajar Islam menjadi prioritas agar
kita menjadi uswah yang ideal buat anak-anak. Islam adalah landasan yang ideal
untuk membentuk suatu kepribadian, karena Islam adalah aturan yang menyeluruh
bagaimana manusia hidup di dunia ini.
Khatimah
Mempunyai
anak sholeh (anak yang berkepribadian Islam) adalah impian setiap orang tua,
dengan keteladanan sepanjang masa adalah metode paling efektif. Orang tua juga
harus mampu menjadi uswah yang baik buat anak-anaknya, namun janganlah lupa
untuk selalu berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi sholeh/sholehah.
Sumber :http://Adi.blogresss.com.id.wordpress.com/2010/02/07/keteladanan-adalah-kunci-pendidikan-sepanjang-masa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar