| Foto : Muhammad Hadidi.Islamic Law FAI UMM |
Artinya :"Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia
dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan," (QS. An-Nahl: 97).
Allah
telah menciptakan alam dan isinya berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum
tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan
selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan
manusia, akan mengalami rotasi (perputaran) antara di bawah–di atas;
sukses-tidak sukses; bahagia-susah, dll. Begitu juga dengan iman kita. Iman
bisa datang dan pergi, naik dan turun.
Ibnu
Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat dimana ia
ingin beribadah dan ada saat dimana enggan beribadah. Diantara dua keadaan
itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib
manusia ditentukan.
Dalam
arti lain, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar
kemungkinan dalam kondisi ini akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya,
jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka
semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik. Pertanyaannya,
bagaimana cara mewujudkan kondisi pribadi yang berujung kebaikan, pribadi yang
pantang menyerah tersebut?
Pribadi
pantang menyerah (tangguh) adalah tidak lain sebutan bagi pribadi yang tidak
merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya
menganggap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya. Ia yakin betul bahwa
sekenario Allah itu tidak akan meleset sedikit pun.
Pribadi
pantang menyerah dan tangguh ini, tidak lain adalah pribadi yang memiliki
kemampuan untuk bersyukur apabila ia mendapat sesuatu yang berkaitan dengan
kebahagiaan, kesuksesan, medapat rezeki, dll. Sebaliknya, jika ia mendapati
sesuatu yang tidak diharapkannya, entah itu berupa kesedihan, kegagalan,
mendapat bala bencana, dll., maka ia memiliki ketahanan untuk selalu bersabar.
Dan pribadi seperti ini memposisikan setiap kejadian yang menimpanya adalah
atas ijin dan kehendak Allah. Ia pasrah dan selalu berusaha untuk bangkit
dengan cara mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut.
Pribadi
pantang menyerah ini bukan saja semata-mata dilihat secara fisik. Tetapi
lebih-lebih dan yang lebih penting justru adanya sifat positif dalam jiwanya
yang begitu tangguh dan kuat.
Seseorang
menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. Seseorang menjadi lemah,
karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan
untuk sukses. Dan seseorang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, ada
hadist Nabi yang menyebutkan bahwa: “Orang mukmin yang kuat lebih disukai dan
lebih baik dari mukmin yang lemah.†Jadi, manusia tangguh dam kuat itu, sudah
seharusnya menjadi cita-cita kita dalam rangka mengabdi kepada Allah.
Dalam
konteks ini, dapat disebutkan bahwa kesuksesan menurut pandangan Alquran itu
memiliki dua syarat pokok. Yakni iman dan ilmu (QS. 58: 11). Kedua hal ini,
kalau kita kaji secara rinci, jelas-jelas memiliki pengaruh sangat besar dalam
kehidupan manusia.
Dengan
kuatnya iman seseorang, maka ia akan sangat berpengaruh terhadap kualitas
kehidupan manusia. Menurut M. Ridwan IR Lubis (1985), ada tiga pengaruh iman
tersebut, yaitu berupa: kekuatan berpikir (quwatul idraak), kekuatan fisik
(quwatul jismi), dan kekuatan ruh (quwatur ruuh).
Sedangkan
menurut M. Yunan Nasution (1976), mengungkapkan pengaruh iman terhadap
kehidupan manusia itu berupa: iman akan melenyapkan kepercayaan kepada
kekuasaan benda; menanamkan semangat berani menghadapi maut; membentuk
ketentraman jiwa; dan membentuk kehidupan yang baik.
Untuk
mencapai dampak dari kekuatan iman itu, kuncinya terletak pada pribadi kita
masing-masing. Dan kalau kita cermati, sebenarnya pembentukan sifat pribadi
pantang menyerah dan tangguh ini adalah berawal dari sifat optimisme yang
menyelimuti pola pikir orang tersebut.
Menyikapi
keadaan seperti saat ini, kita seharusnya tidak menjadi pesimis dan berserah
diri. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam
hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini,
maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif, dan
percaya diri.
Setiap
manusia harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan ini. Dengan sikap
optimis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa
depan penuh dengan keyakinan terhadap Sang Pencipta. Karena garis kehidupan
setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Tugas kita adalah hanya berusaha, berpikir
dan berdoa agar sesuai dengan ridho-Nya.
Setelah
kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan
berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif kepada siapa?
Pertama, berpikir positif kepada Allah. Setiap kejadian, peristiwa dan fenomena
kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Tugas kita, hanya berpikir dan
membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, kita mengambil pelajaran dari
kejadian itu dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku
keseharian.
Kedua, berpikir positif terhadap diri sendiri. Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi
yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain.
Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya.
Sifat
dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar
untuk mencapai keleluasaan langkah kita menuju ridho-Nya. Bagaimana orang lain
akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak
‘mengangkatnya’.
Selain
itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang
juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang
disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu
kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, ‘sang juara’. Hal ini, kalau
kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
Ketiga,
berpikir positif pada orang lain. Orang lain itu, manusia biasa sama dengan
kita. Dia mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nuraninya tidak
menghendakinya. Pandanglah, orang lain itu dari sisi positifnya saja dan
menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.
Belajarlah
dari seekor burung Garuda. Ia mengajarkan anaknya untuk terbang dari tempat
yang tinggi dan menjatuhkannya. Lalu jatuh, diangkat lagi dan seterusnya sampai
ia bisa terbang sendiri. Hati Garuda juga bersih, tidak mendendam. Ia kalau
waktunya bermain ‘cakar-cakaran’. Tapi, kalau diluar itu ia akur, damai
kembali.
Keempat,
berpikir positif pada waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun
dia berada. Sebanyak 24 jam sehari atau 86.400 detik sehari. Waktu itu, ingin
kita apakan? Kita gunakan untuk tidur seharian, kerja keras, mengeluh,
berdemontrasi, bergunjing, santai, menuntut ilmu, menolong orang lain, melamun,
ibadah, dan lainnya. Waktu itu tidak akan protes.
Yang
jelas, setiap detik hidup kita akan diminta pertanggung jawabannya kelak, di
hadapan Allah SWT. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan
saleh dan berada dalam keimanan, maka ia akan memperoleh kehidupan yang lebih
baik. Allah berfirman, yang artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh,
baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan
dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan.†(QS. An-Nahl: 97).
Untuk
memaksimalkan sikap positif pada diri seseorang, lebih-lebih sebagai pembentuk
pribadi yang pantang menyerah, tangguh, ‘tahan banting’, sabar dan
istiqomah pada jalan-Nya. Tentu perlu dibagun pula dengan kebiasaan positif.
Semoga
tulisan ini menjadi bahan penilaian terhadap diri kita sendiri, terutama
kaitannya dengan keinginan pembentukan pribadi yang pantang menyerah. Dan kita
berdoa, semoga Allah memberi kemampuan terhadap kita untuk membangun pribadi
yang tangguh dan pantang menyerah sesuai tuntutan-Nya. (Mahasiswa Syariah Fakultas Agama Islam UMM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar