11 Maret 2015

Siapa Saya...?

Pada dasarnya setiap manusia cenderung untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi lebih baik, lebih matang dan lebih mantap. Namun kecenderungan seseorang untuk menimbulkan kemampuannya tidak terwujud begitu saja, tanpa ada upaya untuk pengembangan kepribadian yang dimilikinya, karena setiap manusia memiliki kemampuan dan keunikan tersendiri. Pengenalan diri sangat diperlukan dalam mengembangkan potensi-potensi yang positif serta meminimalisasi potensi-potensi yang negatif. Pengenalan diri dapat melalui (1) introspeksi diri, (2) feedback (umpan balik) dari orang lain, dan (3) test psikologi.

1.      Introspeksi diri
Introspeksi diri merupakan peninjauan terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri atau disebut juga dengan mawas diri. Introspeksi diri dilakukan, karena kita sendiri yang paling mengetahui diri sendiri, dengan mendengarkan suara hati yang paling dalam dan dilakukan secara jujur. Misalnya: merenungkan diri sendiri dan menuangkan potensi-potensi yang ada pada diri sendiri ke dalam tabel kekuatan diri dan kelemahan diri. Dalam cara ini, individu meluangkan waktu untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukannya, apa yang telah ia capai dan apa yang ia miliki sebagai suatu kelebihan yang dapat mendukung dan apa yang ia miliki sebagai suatu kekurangan yang menghambat tercapainya prestasi tinggi. Cara ini efektif bila individu bersikap jujur, terbuka pada dirinya sendiri, mau dengan sungguh-sungguh memperhatikan kata hati.

2.    Feedback dari orang lain
Dalam cara ini seseorang meminta masukan berupa informasi atau data penilaian tentang dirinya dari orang lain, apakah itu anggota keluarga, teman bahkan lawan sekalipun. Masukan berupa umpan balik (feedback) ini meliputi segala sesuatu tentang sikap dan perilaku seseorang yang tampak/terlihat, dipersepsi oleh orang lain yang bertemu, berinteraksi dengannya. Cara ini bertujuan untuk membantu seseorang menelaah dan memperbaiki tingkah laku. Beberapa persyaratan suatu feedback efektif adalah :
a.         Diberikan secara langsung kepada individu. Jika diberikan secara tidak langsung akan bermanfaat jika bukan berupa penilaian.
b.        Pernyataan yang disampaikan bersifat evaluatif dan deskriptif. Artinya akan lebih bijaksana mendeskripsikan tingkah laku yang dinilai ‘positif’ maupun ‘negatif’ karena tidak memberi ‘cap’ tertentu kepada individu yang diberi umpan balik.
c.         Diberikan sesuai kebutuhan dan dikehendaki penerima. Artinya individu yang memang membutuhkan umpan balik akan lebih mudah menerima penilaian tentang dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif sehingga memungkinkan perubahan yang signifikan pada tingkah lakunya.
d.        Disampaikan pada waktu yang tepat. Artinya umpan balik disampaikan kepada penerima pada saat penerima siap mendengarkan umpan balik, pada waktu yang khusus, misalnya tidak dihadapan orang lain, dan pada waktu yang tidak terlalu jauh dengan waktu terjadinya perilaku.
e.         Dicek pada si pengirim. Artinya umpan balik akan efektif bila penerima umpan balik mencek apa yang ia ‘tangkap’ dari pesan penilaian yang disampaikan oleh penerima.
f.         Dicek pada orang lain dalam kelompok. Untuk meyakinkan bahwa umpan balik yang diterima tidak salah dimaknakan, penerima bisa mencek juga kepada sesamanya dalam kelompok.

3.    Tes Psikologi
Pengenalan diri melalui test psikologis dilakukan karena potensi diri yang dimiliki tidak diketahui oleh kita sendiri dan orang lain. Tes Psikologi yang mengukur potensi psikologis individu dapat memberi gambaran kekuatan dan kelemahan individu pada berbagai aspek psikologis seperti kecerdasan/ kemampuan intelektual (kemampuan analisa, logika berpikir, berpikir kreatif, berpikir, numerical), potensi kerja (vitalitas, sumber energy kita, motivasi, ketahanan terhadap stress kerja), kemampuan sosiabilitas (stabilitas emosi, kepekaan perasaan, kemampuan membina relasi sosial), potensi kepemimpinan maupun kepribadian.
Cara yang paling cocok untuk lebih mengenal diri sendiri adalah berpulang kepada diri sendiri. Namun yang jelas, kita harus meluangkan waktu untuk melihat bagaimana keadaan diri kita yang sebenarnya secara terbuka dengan menerapkan kejujuran.Tanpa kejujuran dan keterbukaan, kita hanya menemukan topeng-topeng diri kita oleh karena itu dengarlah suara hati nurani kita.

B.  Konsep Diri
Allah SWT berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ
”...sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu keadaan kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat Al-Qur’an di atas adalah hukum perubahan dalam kehidupan di dunia. Oleh karenanya, keadaan anda tidak akan berubah dari satu kondisi menjadi kondisi yang lain, kecuali dengan peran anda sendiri.
Sejauhmana kita mengenal diri ini. Begitu banyak konsep-konsep jati diri menurut para pakar pengembangan diri. Namun sebagai muslim yang baik kita kembalikan pertanyaan, dan persoalan hidup ini kepada Al-Qur’an karena di sanalah kita akan menemukan konsep diri yang sebenarnya menurut Islam. Menurut pandangan islam, pemahaman konsep diri meliputi: Siapa Aku, untuk apa aku ada, dan mau kemana aku. Hanya Allah yang tahu siapa kita, untuk apa kita ada, dan mau kemana kita. Karena Allah yang menciptakan kita. Dan kita sering tak sadar dalam mencari konsep diri sesungguhnya sebagai manusia, selain hanya mengejar kesuksesan di dunia ini. Mari kita mulai mengenal jati diri yang sesungguhnya.
1.        Siapa aku.
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dari saripati tanah yang diberi potensi hati, akal dan jasad. Sehingga Allah menetapkan manusia sebagai makhluk tertinggi kedudukannya di antara makhluk lainnya, karena manusia memiliki potensi tersebut. Allah berfirman,
ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ٨ ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ٩
”Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.  Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS. As-Sajdah: 7-9)

Jadi terjawab sudah pertanyaan pertama, Aku adalah manusia yang diciptakan Allah dari sebaik-baiknya ciptaan melaui permulaannya dari saripati tanah, yang kemudian menjadikan keturunan ku dari saripati air hina, kemudian ditiupkan roh kedalam jasad, dibuatnya kita mendengar, melihat dan merasakan melalui hati.
Jika kita mengenal siapa kita, maka kita akan bersyukur atas penciptaan kita kepada Allah SWT. Namun sayang kebanyakan kita lupa hingga sedikit sekali kita bersyukur atas perlakuan Allah kepada kita. Kita adalah Manusia yang di ciptakan Allah SWT dari air hina dan di beri potensi yang sangat luar biasa hingga kita derajatnya lebih tinggi di bandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya.

2.        Untuk apa aku ada.
Manusia diciptakan memiliki dua tujuan dari Allah yaitu Sebagai Khalifah di muka bumi dan Beribadah kepada Allah SWT. Tak ada tujuan lain, semua aktifitas kehidupan kita sebagai manusia harus berlandaskan dua tujuan yang di berikan Allah tersebut. Dalam segala hal, baik dari segi pekerjaan, bergaul, dan segala macamnya harus berlandaskan dua tujuan tersebut. Maka dari itu kita diberikan Allah Akal, Hati dan Jasad agar mampu memikul beban dari ke 2 tujuan tersebut agar berjalan dengan baik. Allah SWT berfirman,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzaariyat Ayat : 56).

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. "Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah: 30)
Dengan demikian, manusia adalah titisan dari kebaikan dan kesempurnaan-Nya, secara potensial manusia adalah khalifah dan memiliki kewajiban beribadah kepada Allah SWT.

3.        Mau kemana aku ?
Bukan hanya sebagai orang yang tidak sukses menjadi orang yang sukses, bukan hanya dari miskin menjadi kaya, tetapi tujuan kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah Kampung Akhirat, yang hanya ada dua pilihan surga atau neraka.
Kesuksesan, kekayaan, banyak anak, dan mempunyai istri atau suami yang cantik atau ganteng hanyalah hiasan-hiasan dunia yang semu dan akan kita tinggalkan, karena sesungguhnya kita ini adalah makhluk yang akan kembali kepada Allah SWT. Disanalah rumah kita sesungguhnya, di surga atau neraka. Sekarang pilihan berada di tangan kita, kita mau memilih yang mana? dan pasti sebagian besar manusia memilih surga. Allah memberikan hukum-hukumnya di dalam Al-Quran, akan kita taati atau kita ingkari. Bila kita taati maka surga adalah rumah kita, bila kita ingkari maka nerakalah rumah kita. Adapun Firman Allah dalam meluruskan tujuan perjalanan kita di bumi adalah sebagai berikut.
أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ نُزُلَۢا بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٩ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ٢٠
”Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As-Sajdah: 19-20).
Akhirnya kita tahu siapa, dari mana, dan mau kemana hidup ini. Manusia yang berasal dari saripati air hina, di ciptakan sebagai khalifah dimuka bumi untuk beribadah kepada Allah, agar mendapatkan kesenangan yang abadi di surga.
Bila kita mengetahui konsep diri menurut Islam ini maka kita akan menjalani kehidupan ini dengan tenang dan tawakal kepada Allah, apa yang telah kita dapat, apa yang telah kita lakukan adalah untuk membantu sesama dan beribadah kepada Allah demi mencapai tujuan surga. Bila kita mengenali dari apa kita di ciptakan maka kita akan menjadi manusia yang tak berjalan dengan kesombongan di muka bumi dan senantiasa kita menjadi hambanya yang benar-benar bersyukur karena telah menjadi salah satu makhluk yang sempurna di bandingkan makhluk Allah lainnya.
Flowchart: Process: Dimensi konsep diri:
1. Pengetahuan
2. Harapan
3. Penilaian
Menurut John Robert Powers (1977),  konsep diri adalah ‘kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliputi : Siapa aku, apa kemampuanku, apa kekuranganku, apa kelebihanku, apa perananku, dan apa keinginanku.
Setiap orang perlu mengetahui dan memahami dirinya serta mampu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuannya. Setelah seseorang mengetahui dirinya, maka terbentuklah sikap dan perilaku dalam menentukan arah dan prinsip hidup yang diinginkan. Seseorang yang mempunyai konsep diri, dapat menilai dirinya dalam menjalankan peranan hidup berkeluarga atau dalam masyarakat tanpa merasa lebih atau kurang terhadap kemampuan dan bersikap kepada orang lain.
Konsep diri menjadi dasar perilaku hidup sehari-hari yang disadari. Kesadaran dan pemahaman akan dirinya semakin mencerminkan prinsip hidup dan kehidupannya. Dengan adanya pemahaman terhadap konsep diri, diharapkan :
a.         Tumbuhnya kesadaran seseorang untuk memahami dan mengenali dirinya serta mampu mengembangkan kemampuannya.
b.        Terbentuknya sikap dan perilaku percaya diri serta prinsip hidup menuju kehidupan yang sejahtera. Sikap dan perilaku percaya diri adalah kemampuan mengekspresikan diri atau mengemukakan hak-hak pribadi serta mempertahankannya tanpa melanggar hak orang lain.


1.    Dimensi Konsep Diri
Calhoun & Acocella (1990) membagi konsep diri ke dalam tiga dimensi, yaitu:
a.         Dimensi pengetahuan, yaitu deskripsi seseorang terhadap dirinya. Misalnya Identitas formal (jenis kelamin, etnis, ras, usia, berat badan, atau pekerjaan), kualitas pribadi, merupakan perbandingan antara diri kita dengan orang lain, ekspresi verbalnya ‘saya adalah …………….. ‘
b.        Dimensi harapan, yaitu kepemilikan seseorang terhadap satu set pandangan mengenai kemungkinan akan menjadi apa dirinya kelak. Misalnya idealisme mengenai diri seseorang, karakteristik pribadi, tujuan dari proses pembentukan jati diri seseorang, ekspreasi verbalnya  ‘saya seharusnya dapat  menjadi …………..’.
c.         Dimensi penilaian, yaitu penilaian tentang diri sendiri. Hasil penelitiannya Marsh (1987) menyimpulkan bahwa evaluasi atau penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dalam rangka untuk memperbaiki diri sendiri di masa mendatang akan memunculkan konsep diri yang sangat kuat.

2.    Karakteristik Konsep Diri Positif dan Negatif
Pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri bisa berada diantara 2 titik, yaitu ; konsep diri negatif sampai konsep diri positif. Dengan mengetahui posisinya, seseorang dapat menilai konsep dirinya mengarah kemana.

   Konsep diri  ( - )                                                          Konsep diri ( + )

a.        Konsep Diri Negatif :
Menurut Brook dan Emmert (dalam Rahmat : 1985), seseorang dikatakan memiliki konsep diri negatif, apabila :
·         Flowchart: Process: Konsep diri negatif dapat menimbulkan penilaian diri yang negatif pula

Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru.
·         Responsif terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung harga dirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain.
·         Cenderung bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
·         Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain. Sehingga sulit menciptakan keakraban dan kehangan dengan orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi (bermusuhan). 
·         Bersikap pesimis terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Pendapat lain menyebutkan bahwa individu yang memiliki konsep diri negatif memiliki ciri-ciri yaitu meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain.
Konsep diri negatif dapat menimbulkan penilaian diri yang negatif pula, di mana seseorang merasa sebagai pribadi yang ‘baik’.  Dengan demikian ciri konsep diri negatif adalah : kurang pengetahuan tentang diri sendiri, harapan-harapan yang tidak realistik dan terlalu tinggi, dan rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.

b.    Konsep Diri Positif
Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:
·         Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai rasa percaya dirisehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
·         Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah hati, tidak sombong, tidak mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain.
·         Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah hati, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
·         Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
·         Mampu memperbaiki diri karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya.

Flowchart: Process: Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri

Dasar konsep diri positif adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah pada kerendahan hati dan kedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan.Orang yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai konsep diri yang positif.
Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percaya diri sendiri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialami. Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
3.    Perubahan Konsep Diri dan Penerapannya Dalam Kehidupan Sehari-hari
Seperti telah diuraikan di atas, konsep diri merupakan informasi tentang diri seseorang, dan lebih bersifat subyektif.  Dalam konsep diri memuat perkiraan mengenai apa yang akan terjadi di masa mendatang, dan berusaha untuk bisa mewujudkannya. Perkiraan tersebut sebenarnya bisa negatif atau kurang tepat, dan seseorang dapat mengubahnya sehingga menghasilkan konsep diri yang baru, menyenangkan, dan berpengaruh bagi dirinya dan juga orang lain.
Dijelaskan oleh Al Hammadi (2010) bahwa orang yang tidak memiliki konsep diri tidak akan bisa menetapkan arah tujuan yang ingin dicapainya. Ia ibarat orang yang terkatung-katung dalam hidup ini, dan akan mudah terpuruk oleh rintangan yang pasti dijumpainya. Bukan hanya itu, perjalanan yang ditempuhnya pun dirasa semakin panjang. Bisa jadi ia tidak sadar bila ia hanya berputar-putar di poros yang sama, tanpa melakukan perjalanan apa-apa. Orang yang seperti ini akan melakukan pekerjaan banyak dan panjang, tetapi hasilnya sama saja seperti memulai pekerjaan itu.
Di lain sisi, hubungan antara konsep diri dan pola pikir sangatlah berbanding lurus antara satu sama lain. Hudha (2012) menjelaskan bahwa pikiran seseorang seringkali tertutup oleh adanya pengaruh paradigma yang salah yang diciptakannya sendiri, maupun dari pengaruh lingkungan. Bagaimana paredigma yang salah yang kita ciptakan sendiri dapat membelenggu pikiran sehingga kita tidak bisa melesat menuju kesuksesan ?
Banyak manusia kehilangan motivasi melepaskan diri dari kegagalan dan kesulitan yang membelenggu pikirannya karena pikirannya telah ter-“cover” oleh berbagai paradigma salah yang diciptakannya sendiri. Beberapa paradigma salah yang merupakan selubung yang membelenggu pikiran adalah :
·           Merasa diri kita orang gagal
·           Menganggap diri kita tidak mampu
·           Menganggap diri kita lemah
·           Menganggap diri kita bodoh.
Fenomena di atas dapat dijelaskan di dalam bagan sebagai berikut.










Belenggu “Cover” Pikiran

 























C.  Pengenalan Potensi Diri
كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا مِنۡ غَمٍّ أُعِيدُواْ فِيهَا وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ٢٢
Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini" (QS. Al-Hajj: 22).

Flowchart: Process: Semakin banyak yang diketahui orang dan kita juga tahu, berarti semakin kita kenal diri

Who am I  siapakah diri saya yang sebernarnya. Kita mencoba menilai pada posisi mana prestasi, tingkat ketaqwaan, kesehatan, kehidupan sosial, dan keharmonisan keluarga kita. Kita melakukan pencerminan bagaimana perilaku kita dan tanggapan orang terhadap perilaku kita selama ini.
Semakin banyak yang diketahui orang dan kita juga tahu, berarti semakin kita kenal diri (high self awarness). Maka, semakin sehat kepribadian kita. Dapat kita analogikan seperti pinguin yang berjalan penuh percaya diri dengan segala kelebihan maupun kekurangannya.
Text Box: Orang Lain Tidak TahuText Box: Orang Lain Tahu
 
















Sebaliknya semakin banyak kita tidak tahu tetapi orang lain tahu tentang kita, berarti semakin kita tidak kenal diri (low self awarness). Hal ini dapat dianalogikan seperti seekor anjing yang tidak sadar diri bahwa perilaku menyalaknya sering mengganggu orang tidur dan begitupun kebiasaannya buang kencing sembarangan sangat menjijikkan.
Text Box: Orang Lain Tidak TahuText Box: Orang Lain Tahu
 













Sedangkan semakin banyak yang kita tahu tapi orang lain tidak tahu, atau semakin banyak yang kita sembunyikan, maka lebih banyak energi kita habiskan untuk menutup rahasia tersebut. Ini berarti energi yang tersisa untuk melangkah maju semakin sedikit. Kita seperti seorang serdadu memanggul ransel yang sangat berat atau seperti seekor kura-kura dengan cangkang besar di punggung sehingga langkah menjadi begitu lambat.
Text Box: Orang Lain Tidak TahuText Box: Orang Lain 
Tahu
 














Melalui Johari Window pula kita akan dapat melihat bahwa ternyata tidak ada satupun manusia yang tidak punya kekurangan termasuk mungkin orang yang selama ini kita kagum atau bahkan iri dengan segala keberuntungannya, dan begitu pula dengan diri kita. Oleh karena itu tidak boleh ada seorangpun yang merasa rendah diri, tidak percaya diri, ataupun minder.
Lebih jauh lagi kita harus hati-hati dengan perasaan minder karena boleh jadi tanpa kita sadari telah menghina Allah yang mencipta kita.
 لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤
“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(At-Tiin : 4).
Sebaliknya kita juga akan melihat bahwa sejatinya setiap orang memiliki kelebihan, termasuk diri kita maupun mungkin orang yang selama ini sering kita pandang rendah dan kita olok-olok karenanya. Hal ini seharusnya menjadi kesadaran bahwa tidak selayaknya ada manusia termasuk kita yang menjadi sombong karena kelebihan kita, baik kecakapan rupa, fisik, kekayaan, kepandaian, gelar, maupun jabatan.
Di lain sisi Hudha (2012), menjelaskan bahwa banyak dari manusia hidupnya cenderung mengekor pada orang lain. Mereka bekerja, berkarya, dan melakukan berbagai tindakan bukan berdasarkan kehendak hatinya melainkan karena pengaruh orang lain. Mereka menjadikan orang lain sebagai model yang sangat memenuhi perilaku dan aktivitas hidupnya. Mereka lebih menyukai pengaruh orang lain, sehingga mengabaikan nilai-nilai keyakinan dalam hatinya.
Berikut adalah bagan kesalahan model hidup manusia :
KESALAHAN MODEL HIDUP
 


















D.  Tahapan Menuju Sukses
Kesuksesan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba layaknya bintang jatuh dari langit, ia merupakan hasil dari sebuah proses perjalanan yang bernama PERJUANGAN. Perjalanan tersebut melalui tangga-tangga yang setiapnya haruslah dilewati. Tangga pertama adalah berinisiatif melakukan perubahan diri, yang inisiatif tersebut kita wujudkan dengan mengucap BASMALLAH: “Bismillahirrohmanirrohiim”. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Melalui pengucapan Basmallah ini berarti kita janji melakukan perubahan yang perjanjian tersebut bukan hanya dengan diri kita sendiri melainkan juga dengan Allah. Selain itu dengan mengucap Basmallah yang kemudian kita yakini benar maka kekuatan kita untuk melangkah akan berlipat tak terbatas karena kita dibantu oleh kekuatan dari Sang Maha Kuat. Hambatan dan cobaan seberat apapun akan menjadi ringan karena ketika kita yakin Allah Maha Besar maka semua di dunia termasuk cobaan dan hambatan tersebut adalah kecil. Dalam proses perjalanannya pula kita tidak perlu gelisah karena tidak pernah sendirian, kita bersama Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
وَإِن تَوَلَّوۡاْ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَىٰكُمۡۚ نِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ٤٠
......maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (Al-Anfaal : 40)
Tangga Kedua adalah evaluasi diri menanyakan siapa diri kita sejatinya. Hal ini penting dilakukan untuk melihat posisi diri kita melalui refleksi diri maupun masukan yang kita terima dari orang di sekitar kita. Pengenalan potensi ini sangat penting karena apa yang kita tetapkan sebagai cita-cita kita nantinya berpijak pada apa yang menjadi potensi kita.
Tangga Ketiga adalah melakukan analisa diri. Kita melakukan analisa atas apa sebenarnya yang menjadi impian dan cita-cita kita, menentukan apa sesungguhnya bentuk kesuksesan bagi kita,  menetapkan koordinat tujuan hidup kita (sebagaiman dalam kompas saat pelayaran). Tahapan ini penting karena bagaimana kita bisa berjalan meniti hari (hidup) tanpa pernah tahu tujuan hendak kemana kita.
Pada Tangga Terakhir berarti kita tinggal ikhtiar atau berjalan dan bekerja mewujudkannya. Dalam proses ini sangat diperlukan kemampuan manajemen diri. Pengelolaan diri agar langkah kita tetap berda pada jalur kesuksesan yang kita tuju. Manajemen yang kita lakukan meliputi manajemen waktu sekaligus manajemen stress.

E.   Empat Komponen Pendukung Perubahan
Dijelaskan oleh Hudha (2012) bahwa melepaskan nilai realitas diri kemudian berpindah dalam nilai realitas pada situasi kehidupan yang berbeda memerlukan persiapan yang matang dan waktu yang panjang. Dikisahkan olehnya seorang Robert T. Kiyosaki, pengusaha dan penulis buku “Chashflow Quadran”, memerlukan waktu lebih dari 5 tahun untuk berhasil merasa nyaman berpindah ke dalam quadran kehidupan yang berbeda. Kini dia sudah menjadi seorang milioner dengan sumber penghasilan yang beragam dan memiliki kebebasan mengatur waktunya.
Menurut Kiyosaki, setidaknya diperlukan persiapan dalam 4 komponen kehidupan yang dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam perpindahan quadran kehidupan. Keempat komponen ini harus dilatih dan dipersiapkan terus menerus agar memiliki keberanian dalam melakukan perubahan nilai realitas diri kita dalam mewujudkan impian masa depan. Empat komponen yang mempengaruhi perubahan adalah :

Komponen pendukung Perubahan Realitas Diri





DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Agustian, Ary Ginanjar. (2001). ESQ. Penerbit Arga. Jakarta

Hudha, Atok Miftachul. (2012). Menjadi Pribadi Inovatif, Kreatif, dan Mandiri Yang Berspiritualitas.Aditya Media Publishing. Malang

Johnson, David W. (1993). Reaching Out 5th ed. Allyn & Bacon. Boston




















Penetapan Tujuan


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyir: 18).
 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (QS. An-Najm: 39).

Flowchart: Process: Tujuan lebih dari sekedar pernyataan tentang suatu keinginan, tetapi sesuatu yang diusahakan melalui perencanaan  yang matang

Jika segalanya diciptakan dua kali, maka kesuksesan hidup kitapun diciptakan dengan prinsip serupa. Sebelum melangkah menuju kesuksesan maka harus kita rumuskan dulu apa arti dan bentuk kesuksesan bagi kita. Lebih jauh lagi, kita ciptakan dulu tujuan akhir hidup kita, VISI HIDUP KITA.
Sebelum tubuh (fisik) kita terbentuk, Allah telah menciptakan ruh (mental) kita terlebih dahulu, dan menanamkan pada fisik kita saat kita berusia 40 hari dalam kandungan ibu. Belajar dari apa yang diajarkan Allah tersebut, maka dalam segala aktivitas penciptaan yang manusia lakukanpun juga demikian
Ambil contoh proses penciptaan rumah. Sebelum kita membangun rumah, maka jauh sebelum itu kita telah memiliki bayangan rumah seperti apa yang kita inginkan. Kita mempunyai bayangan sebuah rumah yang punya tiga kamar ataukah empat kamar, tingkat satu atau tingkat dua, model Spanyol dengan tiang-tiang yang besar, model tradisional Jawa, atau rumah mungil yang sederhana dengan taman dan kolam kecil di depannya? Kita telah melakukan proses kreatif terlebih dahulu, menciptakan bayangan rumah dalam imajinasi kita.
Setelah itu kita menuangkannya dalam cetak biru desain rumah kita. Untuk memperjelas agar gambar bayangan rumah kita tersebut lebih nyata, kita kadang meminta bantuan arsitek sekaligus untuk menghitung bahan bangunan yang kita butuhkan. Semua ini diciptakan jauh sebelum pasak dipasang dan pondasi dibangun. Jika tidak melalui proses ini, maka proses bongkar pasang pasti sering terjadi karena yang dibangun oleh para tukang tidak sesuai harapan kita. Biaya menjadi mahal dan waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama.
Baru setelah desain dibuat, pembangunanpun dimulai dengan merujuk pada desain yang telah kita buat. Jumlah dan ukuran kamar, letak dapur, bentuk tiang, luas taman dan semuanya dibangun merujuk pada desain tersebut. Hingga jadilah rumah yang kita idamkan.

A.  Apa Itu  Tujuan Hidup ?
Ibarat perjalanan, kehidupan manusia perlu diarahkan kesatu tujuan.tanpa adanya tujuan atau sasaran yang jelas maka kita mudah menjadi bingung dan mudah terombang- ambing tidak menentu.  Tujuan hidup adalah sesuatu yang ingin kita raih dalam hidup,membuat hidup kita lebih tertantang, mendorong kita berbuat sebaik mungkin, memungkinkan kita berhasil, memberi makna (arti) untuk meningkatkan kualitas hidup kita dimasa mendatang, dan sebagai perencanaan untuk menuju kepada tujuan-tujuan lainnya.
Apakah tujuan hidup sama dengan cita-cita ? Tujuan hidup mirip dengan cita-cita, karena menyangkut sasaran yang dicapai dimasa depan. Misalnya cita-cita atau tujuan hidup saya adalah menjadi pedagang yang berhasil, atau menjadi guru, atau menjadi orang tua yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak yang soleh, dan lain sebagainya.Tetapi cita-cita biasanya seringkali terlalu umum, tidak jelas atau kongkret, sedangkan tujuan hidup biasanya dibuat secara lebih jelas, baik sasaran maupun jangka waktu untuk mencapainya. Misalnya, dalam waktu 2 tahun saya ingin memiliki usaha sendiri, atau tahun depan saya sudah harus dapat menjadi penari, dan lain sebagainya.

B.  Buat Apa Kita Memiliki Tujuan Hidup
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
1.        Tujuan-tujuan mengarahkan perhatian
2.        Tujuan-tujuan mengatur upaya
3.        Tujuan-tujuan meningkatkan persistensi
4.        Tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
Disamping itu manfaat penetapan tujuan antara lain :
1.    Tujuan mempermudah proses pengambilan keputusan.
Dengan menetapkan tujuan, kita bisa menghemat waktu karena kita hanya berorientasi pada tujuan yang telah dirancang dan ini akan membantu kita menentukan keputusan apa yang harus ambil sesuai dengan prioritasnya.
2.    Tujuan meningkatkan kesehatan fisik dan mental.
Sering kali stres disebabkan oleh kebingungan dan ketakutan.Namun dengan memiliki tujuan, kita dapat meminimalkan kondisi tersebut. Penetapan tujuan dapat membantu seseorang dalam mengelola kondisi fisik dan mental karena kejelasan apa yang akan dilakukan.
3.    Tujuan bisa digunakan sebagai tolok ukur.
Tujuan sangat diperlukan sebagai tolok ukur atau standart pencapaian segala kegiatan yang telah dilakukan seseorang.Tujuan juga dapat menciptakan kepuasan psikologis orang akibat perasaan mampu dan berguna yang muncul saat melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
4.    Tujuan menghasilkan kegigihan.
Tujuan yang kita tetapkan akan menumbuhkan semangat dan kegigihan dalam melaksanakan setiap aktifitas dalam kehidupan. Tujuan akan senantiasa memberikan dorongan atau motivasi kita dalam berperilaku sehingga apa yang kita kerjakan menjadi terarah.
5.    Tujuan membuat kehidupan menjadi seimbang
       Makin dewasa seseorang, tujuan yang ingin dicapai umumnya lebih dari satu bidang.Misalnya dibidang pekerjaan, rumah tangga, dibidang sosial, dan lain sebagainya. Tujuan yang sukar dicapai disuatu bidang dapat diseimbangkan dengan menetapkan tujuan dibidang lain yang lebih mudah dicapai. Dengan demikian kita tetap dapat memiliki semangat untuk mencapai keberhasilan di bidang-bidang yang dapat kita raih.
6.    Tujuan membantu meningkatkan rasa percaya diri
Bila seseorang telah menetapkan tujuan dan dengan usaha keras mencapainya, maka ia akan bangga dan terdorong untuk selalu melakukan tindakan yang lebih baik dari yang pernah dicapai atau diraihnya.

C.   Langkah-Langkah dalam Menentukan Tujuan Hidup Anda
Flowchart: Process: Agar mencapai keberhasilan dalam mencapai tujuan :
1. Analisa kondisi internal dan eksternal
2. Mencari solusi untuk mengatasi kelemahan dan hambatan lingkungan


Hanya sekitar 4-5 % orang yang menetapkan tujuan dalam hidupnya, padahal lebih dari 90% orang yang berhasil menetapkan tujuan dapat mencapainya. Penetapan tujuan adalah cara yang cemerlang untuk meningkatkan peluang sukses dalam melakukan perubahan dan melaksanakan kegiatan, sehingga sangat penting bagi setiap orang untuk mempunyai dan menetapkan tujuan (hidupnya).
Penetapan tujuan ini penting karena perjalanan hidup sekaligus perjalanan menuju sukses adalah ibaratnya adalah suatu pengembaraan yang panjang. Dapatlah dibayangkan seseorang yang melakukan pengembaraan tanpa tahu kemana tujuan perjalanannya, maka orang tersebut hanya akan terus berjalan kebingungan tanpa arah. Tanpa tujuan hidup yang jelas, banyak sekali orang yang beraktivitas dengan luar biasa, namun kemudian terjerembab dalam kesadaran bahwa ia berada di ujung jalan yang salah. Ujung jalan yang bukan ia impikan. Banyak orang yang mendapatkan diri mereka mencapai kemenangan (kesuksesan) yang ternyata hampa, keberhasilan yang diperoleh dengan mengorbankan hal-hal yang tiba-tiba mereka sadari ternyata jauh lebih berharga bagi mereka. Banyak pula orang yang masih saja berkutat dengan kebingungannya mau kemana dia akan melangkah. Hingga usiapun merambat, hari-hari hilang dalam kesia-siaan. Tawapun menjadi tiada guna.
Sebaliknya melalui visi hidup yang jelas, kita akan tahu kemana melangkah dan dimana saat ini berada. Kita bisa menentukan prioritas dari setiap langkah kita, mengevaluasinya setiap hari, sesuai dengan tujuan kitakah atau menyimpang dan bertemu ujung jalan yang buntu dan sesat.Setiap kemajuan dalam peradaban manusia, penemuan-penemuan besar maupun kecil di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pada awalnya hanya merupakan sebuah gagasan yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah kenyataan.
Tujuan adalah sesuatu yang lebih dari impian.Ia adalah impian yang dilaksanakan dan diwujudkan. Tujuan lebih dari sekedar pernyataan tentang suatu keinginan, tetapi sesuatu yang diusahakan supaya tercapai melalui perencanaan yang matang.  Tanpa tujuan, seseorang hanya akan mengembara, berkeliaran dalam kehidupan ini.  Ia semata-mata bergerak tanpa mengetahui kemana, karena itu ia tak akan sampai di mana-mana.
Tak ada orang yang mencapai sukses tanpa ada tujuan.  Perlu diketahui dengan pasti dan jelas ke mana kita pergi dan tujuan apa yang hendak kita capai.  Berkaitan dengan tujuan-tujuan ini, yang penting bukanlah di mana kita sekarang, tetapi apa yang ingin kita capai.
Kita semua mempunyai hasrat dan keinginan. Kita semua ingin melaksanakan apa yang kita suka melaksanakannya. Akan tetapi, hanya beberapa saja yang bisa terpenuhi. Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan dalam menetapkan tujuan, antara lain:
1.    Mulai Dengan Bermimpi Dan Menuliskan Impian Anda
Anda mesti meluangkan waktu untuk membangun impian. Jika Anda tak punya impian, akan sulit untuk menentukan tujuan dalam hidup Anda. Sayangnya, kebanyakan orang jadi kehilangan kemampuan untuk bermimpi tentang apa yang paling diinginkan dan membangun motivasi untuk pencapaian. Jadi, untuk memulainya, luangkan waktu untuk bermimpi tentang apa yang paling Anda inginkan, Anda ingin seperti apa, atau bahkan tentang apa yang ingin Anda miliki. Begitu Anda menemukan impian Anda, selanjutnya tuliskan semuanya dalam kertas.
2.    Tanya ‘Kenapa?’
Setelah Anda menuliskan semua impian Anda, baca sekali lagi apa yang telah Anda tulis. Saat membacanya kembali, berhentilah pada tiap-tiap impian dan tanyakan ‘kenapa Anda mengimpikannya?’. Kenapa impian ini penting buat Anda? Jika Anda tak dapat menjawabnya dalam beberapa kalimat, kemungkinan itu bukan hal yang benar-benar Anda impikan, dan akhirnya harus Anda coret dari daftar.
Banyak orang yang sebenarnya punya impian yang dibentuk oleh orang lain. Jadi penting untuk menemukan apa benar, apa yang ingin Anda capai adalah tujuan Anda atau tujuan orang lain. Saat merancang tujuan, jika ternyata impian dan tujuan itu bukan yang Anda inginkan, coret saja dari daftar.
3.   Temukan Bagaimana Tujuan Ini Akan Mempengaruhi Kehidupan Anda
Setelah Anda membuat daftar yang benar tentang impian Anda, lihat kembali apa yang tertinggal. Masukkan impian yang tertinggal ini ke dalam daftar dan pikirkan bagaimana ini akan membawa pengaruh dalam hidup Anda. Apakah mencapai tujuan ini akan membuat Anda lebih bahagia daripada sekarang? Akankah memperbaiki rasa aman dan hubungan Anda dengan orang lain? Apa akan berpengaruh pada keuangan Anda secara positif? Jika ternyata impian ini tak membawa pengaruh positif dalam kehidupan Anda, mungkin seharusnya dikesampingkan. Jika Anda menemukan pencapaian Anda akan membawa pengaruh positif dalam kehidupan Anda, sebaiknya memiliki motivasi untuk mengejar dan mencapai semua tujuan ini.
4.   Kategorikan Impian Anda
Sekarang persempit lagi daftar untuk menemukan tujuan sejati, bukan hanya keinginan atau angan-angan Anda.Pada titik ini Anda perlu mengkategorikan tujuan ke dalam berbagai golongan, tergantung dari seberapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mencapainya. Anda akan memiliki tujuan jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk mencapainya, tujuan jangka pendek yang butuh waktu sebulan atau lebih untuk meraihnya, dan tujuan yang bisa tercapai sewaktu-waktu dari jangka waktu sebulan hingga setahun. Tapi ingat, Anda harus punya tujuan besar, dan pastikan memiliki tujuan dalam setiap kategori sehingga bisa secara terus-menerus berupaya meraih tujuan itu dalam kehidupan Anda.

5.   Rencanakan Bagaimana Cara Meraihnya
Anda membangun tujuan Anda, kini Anda perlu membuat rencana bagaimana akan mencapainya. Anda harus selalu berusaha mewujudkan tujuan Anda, bahkan jika itu hanya butuh sebuah langkah kecil untuk mencapainya.Pastikan tidak berlebihan dalam mengupayakan mewujudkannya. Sesekali dibutuhkan manajemen dan motivasi sebagai bagian rencana Anda dan untuk melengkapi tugas ini, tapi itu pasti akan jadi usaha yang berharga. Buat grafik pencapaian untuk membantu Anda mencapai tujuan, dan saat Anda sudah mencapainya beri tanda dalam grafik tersebut.
6.   Luruskan Pikiran Kita
Sesungguhnya, bayangan pikiran yang dimiliki setiap orang mengenai dirinya, mengenai apa yang akan dilakukan, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan pribadi. Seseorang bisa bangkit dari keterpurukan juga karena pikirannya. Jika pikirannya negatif terhadap dirinya, maka ia tidak akan dapat bangkit dari keterpurukan. Akan tetapi jika pikirannya positif terhadap dirinya, maka sesulit apapun ia akan bangkit karena dapat melihat sisi positif dari setiap masalah yang dihadapinya.
Kita dapat meluruskan pikiran dengan cara memberi kebahagiaan, serta menjadikan kita mampu mengatasi kecemasan dan kesusahan. Dengan demikian, kita akan hidup dengan senang dan bahagia meskipun diliputi masalah.
 7.   Hilangkan Penyakit Hati 
Penyakit yang menjalar dalam diri manusia adalah penyakit iri. Orang yang berpenyakit iri, akan lebih menyakiti dirinya sendiri dari pada menyakiti orang lain. Orang yang iri ini akan menyiksa diri sendiri karena satu hal yang bukan miliknya.
Allah SWT berfirman,
أَمۡ يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم مُّلۡكًا عَظِيمٗا ٥٤
”Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karnia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerjaaan yang besar” (An-Nisa’: 54)

Rasulullah SWT pernah bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim)
Sifat iri telah banyak terjadi pada kelompok-kelompok masyarakat. Banyak orang yang merasa kecewa saat melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, dia merasa bahwa Allah tidak adil dengan pembagian rezeki. Orang yang dalam hatinya tertanam sifat iri, tidak akan pernah puas dengan nikmat yang diperoleh dalam bentuk apapun. Jangan pernah iri krpada seseorang yang telah Allah berikan karunia-Nya. Dengan iri, sesungguhnya kita meyalahkan keadilan Allah azza wa jalla, Allah Maha Tinggi dari semua itu. Jika kita iri, maka seakan-akan kita mengatakan kapada Allah, ”Engkau telah memberi kepada seseorang yang tidak berhak menerimanya dan Engkau malah meninggalkanku.”
Jangan sampai kita menyiksa diri dengan sifat iri karena akan membuat kita gelisah, cemas dan tidak nyaman dalam menjalani kehidupan. Jangan pernah membenci seseorang yang Allah telah memberikan kepadanya sebagian dari karunia-Nya. Rezeki masing-masing orang sudah diatur oleh Allah Yang Maha Adil.
 8.   Berusaha dan Berdoa      
Usaha atau ikhtiar adalah hal yang penting dalam kehidupan kita. Usaha atau ikhtiar wajib dilakukan oleh setiap manusia karena tidak setiap kebutuhan manusia dapat diperoleh tanpa usaha secara langsung. Doa juga menjadi bagian penting dalam setiap usaha manusia. Berdoa berarti kita mengetahui bahwa Allah yang mnentukan segala usaha yang kita lakukan. Doa sebagai suatu permohonan dan pujian dalam bentuk ucapan dari hamba yang rendah kedudukannya kepada Allah Yang Maha Tinggi
Allah berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S Al-Baqarah: 186)

Doa dan usaha saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Sehingga ada yang mengatakan ”doa tanpa usaha akan sia-sia, begitu juga usaha tanpa doa juga akan sia-sia”. Manfaat doa sangat besar dalam kehidupan manusia, dengan berdoa pun kita bisa lebih dekat dengan Allah swt.

Berdasarkan langkah-langkah di atas, dapat kita simpulkan dengan sebutan SMART.
  • S - Specific (terperinci)
  • M - Measurable (dapat diukur)
  • A - Actionable (bisa dilakukan)
  • R – Reasonable (alasan untuk melakukan)
  • T - Time-bound (memiliki batas waktu)
Tujuan harus ditetapkan, kemudian dibuat perencanaan - perencanaan untuk mencapinya.  Perencanaan yang baik akan membantu kita mencapai tujuan tersebut.  Dua langkah berikut ini mungkin akan membantu:
Pertama; lukiskan (wujudkan dalam angan-angan) hari depan Anda dalam beberapa bidang kehidupan, misal kehidupan pendidikan, pekerjaan, rumah tangga, dan sosial.  Membagi kehidupan dalam bidang-bidang tersebut akan membantu kita agar tidak bingin dan mendapat pandangan yang jelas dan menyeluruh.
Kedua; usahakan memberi jawaban yang jelas dan seksama atas pertanyaan-pertanyaan: “Apa yang hendak saya capai dalam hidup saya?”  “Saya ingin menjadi apa?” “Apa yang bisa memuaskan saya?”
Setelah menetapkan tujuan, maka langkah selanjutnya melakukan analisa kondisi diri. Analisa dilakukan untuk melihat potensi positif yang kita miliki maupun sumber dukungan dari luar yang dapat membantu kita dalam mencapai tujuan hidup, sekaligus juga melihat potensi negatif ataupun hambatan dari lingkungan yang bisa menghalangi kita dalam mewujudkan tujuan hidup. Melalui analisa ini kita dapat merancang langkah-langkah (plan of action) yang paling efektif untuk mencapai kesuksesan yang menjadi tujuan hidup kita. Secara ringkasnya analisa dilakukan atas kondisi internal dan eksternal.
Analisa kondisi internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang berasal dari diri kita sendiri, baik berupa : bakat, minat, motivasi, kondisi fisik, ataupun karakter kepribadian tertentu. Kekuatan (strength) adalah potensi positif yang kita miliki dan dapat kita jadikan sumber daya untuk mewujudkan tujuan hidup kita. Contoh dari kekuatan misal adalah bakat menulis, fisik yang sehat atau tubuh yang tinggi, atau sikap kepemimpinan. Sedangkan kelemahan (weakness) adalah kekurangan-kekurangan dalam diri yang dapat menghambat kita dalam mewujudkan tujuan hidup. Contoh dari kelemahan adalah : sikap pemalas, kurangnya minat, atau adanya penyakit tertentu pada tubuh.
Sedangkan analisa kondisi eksternal meliputi menaksir dukungan (supports) dari lingkungan yang dapat kita manfaatkan, sekaligus hambatan (barriers) yang mungkin menghalangi kita. Contoh dari dukungan misalnya adalah : keuangan keluarga yang memadai, adanya beberapa saudara yang punya minat sama dalam hal musik misalnya, maupun keluarga yang demokratis dan selalu mendukung putusan kita. Sedangkan hambatan adalah hal-hal sebaliknya, contohnya bisa berupa : kondisi keuangan keluarga atau orang tua yang tidak menyetujui cita-cita kita.
Selanjutnya sesuai tujuan dari analisa kondisi diri, maka langkah kita berikutnya adalah mencari solusi (solution) untuk mengatasi kelemahan dan hambatan lingkungan tersebut sekaligus langkah-langkah untuk meningkatkan kekuatan sebagai sarana mewujudkan tujuan hidup kita. Kita menyusun rencana perjalanan menuju kesuksesan hidup kita.
Kelihatannya begitu mudah untuk melaksanakan semua tips di atas, tapi yang terpenting dari segalanya hanya tindakan yang akan membawa hasil buat kita. Selamat Mencoba!

D.  Hal-hal yang akan menghambat orang mencapai tujuannya.
Kita semua mempunyai hasrat dan keinginan. Kita semua ingin melaksanakan apa yang kita suka melaksanakannya. Akan tetapi, hanya beberapa saja yang bisa terpenuhi.Ada beberapa hal yang dapat menghambat orang mencapai dan melaksanakan keinginannya.  Hal-hal dibawah ini akan menghambat orang mencapai tujuannya.
1.   Kurang menghargai diri sendiri.  Banyak orang muda menghancurkan hasrat keinginannya dengan kurang menghargai diri sendiri, ”Saya ingin menjadi dokter, akan tetapi saya tidak pandai”.
  2. Ingin aman dan terjamin. Menggunakan senjata jaminan untuk membunuh hasrat dan impiannya, “Saya sudah sangat senang dengan keadaan saya sekarang”. Setiap manusia menginginkan kehidupan yang nyaris tanpa ada kesusahan, kesedihan, kekecewaan serta kegagalan. Banyak orang yang merasa takut jika gagal dalam melakukan segala sesuatu sehingga terkadang membuatnya takut untuk melangkah. Perlu diketahui, bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sehingga manusia seharusnya lebih bijaksana dalam menyikapi kehidupan ini. Kita pasti ingin kehidupan ini berjalan dengan semestinya atau berjalan sesuai dengan kehendak kita.
3.   Persepsi negatif tentang persaingan.  “Bidang itu sudah penuh”. “Orang-orang di bidang itu sangat berhasil”, adalah kata-kata yang akan cepat membunuh hasrat, merasatidak mampu dan takut bersaing.
4.   Didikte orang tua. “Saya sungguh ingin menjadi sesuai dengan harapanku, akan tetapi orang tua menginginkan saya menjadi sebagaimana keinginan mereka”. Kurang sabar menjelaskan keinginan pada orang tua, hanya menurut tanpa penjelasan.
5.   Tanggung jawab keluarga.  “Memang baik seandainya saya merubah pekerjaan yang telah lima tahun saya tekuni, tetapi sekarang saya tidak bisa berubah haluan”.  Tanggung jawab terhadap keluarga sering membuat orang tidak berani mengambil resiko.
Disamping berbagai hal yang telah tersebut diatas, ada hal – hal lain yang menyebabkan seseorang menghentikan pencapaian tujuan atau menetapkan tujuan, antara lain:
1.   Menunggu sesuatu terjadi. Seringkali kita tergoda untuk menelantarkan sesuatu atau mengalihkan tanggungjawab kita kepada orang lain dan menunggu apa yang akan terjadi
2.   Tidak mengetahui hal yang kita inginkan. Terkadang kita lebih mengetahui apa yang orang lain inginkan daripada apa yang kita inginkan, sehingga pada saat kita akan menentukan tujuan kita mengalami kesulitan.
3.   Berpikir bahwa kita akan mengerjakan seluruh kegiatan sekaligus. Memandang aatau berpikir bahwa kegiatan yang akan kita lakukan merupakan suatu proyek besar dan berat dapat membuat kita tidak berani memulai mengerjakannya.
4.   Takut gagal. Beberapa diantara kita memiliki keyakinan bahwa kita harus sempurna setiap saat dan kegagalan adalah hal yang buruk. Padahal kegagalan sering memberikan pelajaran dan inspirasi keberhasilan dan setiap orang mempunyai kelemahan-kelemahan.
5.   Membandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan dengan orang lain dapat membuat kita lebih termotivasi jika kita dapat mengelola dan mengetahui kekuatan dan kelemahan kita dengan baik. Namun jika perbandingan tersebut justru membuat harga diri kita turun dan melemahkan motivasi maka hal ini akan berakibat kurang baik dalam menetapkan tujuan.
6.   Lupa melibatkan dan mempengaruhi orang lain dalam membuat dan melaksanakan rencana. Setiap orang membutuhkan kehadiran orang lain untuk melaksanakan kegiatan yang telah kita rencanakan, sehingga melibatkan dan mempengaruhi orang lain (lingkungan) perlu kita lakukan karena kadang dari orang lain kita mendapatkan masukan yang berharga untuk melangkah.
7.   Gagal mengatur waktu. Hal lain yang sering menghalangi kita mencapai tujuan adalah memprioritaskan dan mengatur waktu yang kita miliki dengan baik.
8.   Merasa tidak memiliki kemampuan. Kita sering kurang percaya diri karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan. Dalam berbagai kasus kita tidak dapat mencapai tujuan karena kita tidak mampu mengenali kemampuan berharga yang kita miliki.
9.   Kurang kemauan. Memiliki keberanian dan kemauan untuk mencapai keinginan tidak selalu mudah terutama ketika ada rintangan, sehingga kita perlu menangani rasa takut dan membangun kemauan yang tinggi dalam melakukan sesuatu.

Dalamilah makna-makna tujuan Anda.  Jika Anda memusatkan diri kepada hasrat, keinginan dan cita-cita Anda, Anda akan mendapat kekuatan fisik dan semangat yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.  Disamping itu, tujuan itu sendiri akan bekerja di dalam bawah sadar Anda.  Tujuan tersebut akan memberikan pengarahan-pengarahan yang jelas dan tepat kepada Anda dalam segala kegiatan.  Tujuan tersebut membuat Anda peka terhadap semua tenaga yang mencoba mempengaruhi Anda.
Oleh karena itu mari mulai sekarang kita tetapkan tujuan akhir hidup kita dengan menjawab pertanyaan : Ingin jadi manusia seperti apa aku ketika di hadapan Allah kelak?
Setelah anda mendapatkan jawabannya, mulailah berjalan menuju jawaban anda (tujuan akhir) tersebut dengan menjadikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikutnya ini sebagai batu loncatan : Ingin dikenang seperti apa aku ketika meninggal kelak? Ingin jadi seperti apa aku 30 tahun kedepan? Ingin jadi seperti apa aku lima tahun kedepan? Dan ingin jadi seperti apa aku esok hari saat bangun tidur?
Selanjutnya agar impian tersebut tidak sekedar menjadi angan maka tiada jalan lain kita harus bangun, melangkah, bekerja keras, berusaha mewujudkannnya. Di dalam proses tersebut, jang lupa agar tetap berada di jalur yang menjadi tujuan hidup anda, ukur dan nilailah setiap langkah yang anda lakukan, “Apakah membawa aku ke tujuan?”. Jika jawabannya “tidak”, maka berhenti dan tinggalkanlah. Jika jawabnya “Iya”, maka teruskan langkah anda.
Disamping itu ada beberapa prinsip yang harus kita ingat saat kita menetapkan tujuan yaitu :
1.      Who am I now?
2.      What do I want to be?
3.      What is the right thing to do?

E.  Ikutilah Kata Hati Yang Menghidupkan Jiwamu
Dunia telah menghadirkan fakta sejarah bahwa orang-orang yang sukses, para pembaharu kehidupan, pribadi-pribadi unggul, dan mereka yang menghasilkan karya luar biasa bagi kehidupan adalah orang-orang yang memahami jati dirinya. Mereka mengagumi kehidupannya dan berorientasi pada kata hatinya, meyakini nilai-nilai di dalam dirinya dibandingkan dengan pengaruh orang lain dan berani memperjuangkan nilai-nilai baru yang diyakininya untuk menciptakan masa depannya sendiri maupun mempengaruhi masa depan kehidupan.
Contoh yang bisa kita tauladani adalah sosok Rosulullah Muhammad SAW ketika melihat sosok pribadi beliau yang sungguh mulia. Bagaimana tidak, seorang yahudi tua dan juga buta yang selalu menghina beliau SAW bisa masuk Islam dikarena kemuliaan akhlaknya yang lahir dari hati nurani yang bening ?
Dikisahkan dalam sejarah bahwa yahudi tua yang selalu menghina Rasulullah SAW di pojok pasar dengan ucapan yang sangat tidak sopan bisa masuk Islam justru setelah Rasulullah SAW telah wafat. Beliau SAW berpesan pada sahabatnya Abu Bakar agar tetap memberi makan kepada yahudi tua dan buta itu setiap hari. Hingga pada suatu saat, yahudi ini pun bertanya kepada orang yang memberi makan “siapakah engkau? kau bukanlah orang yang biasanya memberikan aku makan!” Abu Bakar pun menjawab “dari mana kau tahu aku bukanlah orang yang selalu memberikan engkau makan“? “padahal engkau tidak bisa melihat”. Yahudi itu pun menjawab “orang yang memberikan aku makan setiap harinya itu tidak hanya sekedar memberikan aku makan tapi juga menyuapiku”. Abu bakar pun tak kuasa menahan linangan air mata yang mengalir di sela-sela pipinya dan seraya  mengatakan bahwa “tahukah engkau siapa yang setiap hari memberikan engkau makan ?” Yahudipun menjawab “aku tidak tahu”. Abu Bakarpun mengatakan “ dialah orang yang setiap hari kau hina-hina. Kini Dia telah wafat dan mengamanahkan padaku agar tetap selalu memberimu makan setiap harinya”. Mendengar perkataan abu bakar tersebut, Yahudi ini pun ikut menangis seraya berkata “sungguh aku telah melakukan kesalahan” dan akhirnya memutuskan dirinya untuk masuk Islam.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Rosulullah SAW memiliki tujuan dalam hidup yang sangat jelas dalam mewujudkan visi dan misi dakwah Islam. Rosulullah SAW mampu berpikir sangat jauh ke depan bahwa setiap kebaikan yang diperbuat, cepat atau lambat akan menuai hasil walaupun  Beliau SAW telah tiada.
Berikut adala kiat-kiat yang perlu diperhatikan agar tujuan hidup kita dapat berjalan sesuai jalur yang telah ditetapkan :

F.   Tips Mewujudkan Tujuan Hidup
1.        Mulailah berjalan ke arah tujuan Anda yang terakhir dengan menjadikan segala apa yang Anda lakukan sebagai batu loncatan untuk melangkah ke depan, ke arah yang tepat.  Ukur dan nilailah setiap yang Anda lakukan, “Apakah  membawa saya ke tujuan?”  Jika jawabnya “Tidak”, tinggalkan!  Jika jawabnya “Ya”, jalan terus!
2.        Mawas dirilah. Tentukan hal-hal khusus apa yang Anda ingin laksanakan untuk membuat Anda lebih efektif.  Tekuni “hal-hal kecil” agar Anda siap untuk meraih “yang besar”.
3.        Berusaha Cepat Bangkit
Seorang mukmin tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya,” (HR. Muslim)
Jangan ukur seseorang dengan menghitung berapa kali dia jatuh, ukurlah ia dengan beberapa kali dia sanggup bangkit kembali. Seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa. Menyedihkan mendengar bahwa orang mereka setelah sekali dua kali gagal, memilih untuk menetap ditempat dan akhirnya mati sebagai orang yang sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.
Kuncinya adalah menarik hikmah, dan jangan menyerah. Orang gagal adalah orang yang malas mengulangi dan mencari jalan “baru” untuk menemukan tujuan, karena diantara resep sukses adalah mengulang-ulang proses sukses kecil berkali-kali untuk meraih sukses yang lebih besar.
4.        Milikilah Kesabaran dan Ketabahan. Kesabaran menjadikan seseorang mampu bertahan dalam menjunjung prinsipnya, meraih cita-citanya dan menempuh jalan yang telah dirintisnya. Sabar bila dijalani sebagaimanan mestinya akan mampu mengubah musibah menjadi karunia, tantangan menjadi peluang, hambatan menjadi kesempatan, keterbatasan menjadi anugerah. Oleh karena itu, “Kenalilah Allah saat suka, maka Dia akan mengenalmu saat susah.” Demikian pesan abadi Nabi untuk sadar dan selalu sabarkan diri.
Selain kesabaran diperlukan juga ketabahan, yakni kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah terjatuh. Seberapa jauh Anda jatuh tidak menjadi masalah, tetapi yang penting seberapa sering Anda bangkit kembali. Jika Anda terus mencoba setelah mengalami belasan kegagalan, ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri Anda.

Berikut ini merupakan kisah inspiratif dalam berfikir kreatif dan tidak mudah putus asa untuk meraih setiap impian yang ingin diwujudkan.
Selalu Ada Cara Yang Lebih Baik

Pada suatu ketika, seorang laki-laki yang buta duduk di antara dua telapak tangannya. Di samping terpampang papan yang berbunyi, “saya buta, saya mengharap anda membantu saya”. Setelah itu, ada seorang laki-laki lewat di depannya. Dia melihat topi tersebut tidak berisi apa-apa kecuali hanya beberapa uang receh. Kemudian laki-laki tersebut menaruh uangnya di topi laki-laki buta tersebut. Dengan tanpa meminta izin, laki-laki tersebut mengambil papan yang ada di sampingnya dan menulis tulisan yang berbeda dari tulisan yang terdahulu, kemudian mengembalikannya pada tempatnya semula. Setelah itu, laki-laki tersebut melanjutkan perjalanannya.
Laki-laki buta tersebut memperhatikan bahwa ternyata topinya telah penuh dengan uang receh dan uang kertas. Ia kemudian menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Setelah itu, ia bertanya kepada seorang pejalan kaki tentang apa yang tertulis di papan yang berada di sampingnya. Dia mendapati tulisan di papan tersebut berbunyi, “Kita berada di musim semi, namun saya tidak mampu melihat keindahan.”
Apakah ada perbedaan antara papan yang pertama dan papan yang kedua? Tentu saja ada perbedaan antara keduannya, meskipun keduannya sama-sama menunjukkan kepada pemiliknya yang buta. Apakah anda merasakan perbedaannya?
Ubahlah selalu cara Anda jika Anda ingin semuannya tidak biasa-biasa saja. Selalu ada cara yang lebih baik!


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Adil Fathi. 2004. Membangun Positive Thinking Secara Islam. Gema Insani Press: Jakarta.

Covey, Stephen. 1997. Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif.Covey Leadership Center, Inc.

Helmi Fadhila A & Ramdhani N. 2004.Modul Living Skills 2004. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta

Izzuddin, Sholikhin Abu. 2006. Zero To Hero: Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa. Pro-U Media: Yogyakarta.

Johnson, David W. (1993). Reaching Out 5th ed. Allyn & Bacon. Boston

Jackman, Ann. 2006. How to Get Things Done. Esensi: Jakarta














MANAJEMEN WAKTU


Flowchart: Process: Perbedaan orang yang berhasil dan gagal adalah bagaimana mengelola waktu yang dimilikinya

Tujuan kita mengelola (manajemen) waktu adalah agar hidup kita menjadi lebih efektif dan efisien serta berdayaguna secara optimal setiap potensi kita miliki. Banyak hal yang ingin kita lakukan dalam mulai dari ibadah (ritual agama), belajar, menyalurkan hobi, bermain, berorganisasi maupun bersenda gurau dengan keluarga dan teman.  Akan tetapi kita juga mesti ingat bahwa waktu yang diberikan Tuhan hanya 24 jam dalam sehari, sehingga perlu adanya pengelolaan yang baik terhadap waktu.
Waktu mengalir bak air yang tidak dapat dibendung dan tidak dapat pula ditabung.Yang perlu kita lakukan adalah mengalokasikan waktu tersebut untuk sejumlah kegiatan dan mengontrolnya agar penggunaannya sesuai dengan yang kita rencanakan, sehingga tidak ada waktu yang berlalu tanpa kita sadari.Hal ini tidak mudah karena membutuhkan suatu keterampilan dalam mengelola waktu tersebut.
Setiap orang apapun statusnya (presiden maupun sinden, direktur maupun kondektur) memperoleh jatah waktu sama, 52 minggu dalam setahun, 7 hari dalam seminggu dan 24 jam dalam sehari, namun tidak semua memperoleh hasil sama dalam waktu yang tersedia. Banyak orang hanya sekedar menjalani hidup dengan rutinitasnya, tidak mencoba mewujudkan seluruh potensi yang mereka miliki. Sementara, ada yang berhasil mewujudkan impian mereka, bahkan mungkin melebihi potensi yang ada padanya.  Perbedaan di antara mereka sebenarnya terletak pada bagaimana mereka bisa mengelola waktu yang mereka miliki dan hal ini sangat tergantung pada persepsinya tentang waktu itu sendiri, yang tentu saja dilatar belakangi oleh ‘mind-set’ yang ada padanya. Namun demikian secara umum ada beberapa hal prinsip yang bisa dijadikan pegangan bersama. Berikut kita akan membahasnya satu-persatu.

A.  Fakta Tentang Waktu
Pertama, waktu memiliki kurun obyektif (chronos) yang sama bagi semua orang, akan tetapi mempunyai pemaknaan subyektif yang berbeda beda dari orang ke orang, dari waktu ke waktu. Itu sebabnya manajemen waktu sifatnya personal dan subyektif.
Kedua, waktu berbeda dengan komoditi lainnya, tidak bisa dilihat, diraba, tidak pernah bisa di simpan, dikumpulkan atau di tabung. Kenyataan ini membuat kita sering tidak menyadaribahwa kita memilikinya dan kelak mempertanggung- jawabkannya kepada Sang Pencipta Pemberi waktu.
Ketiga, waktu sering dikatakan ’mengalir’, bergerak dan tidak pernah kembali ke titik asal. Kita memanfaatkannya atau tidak, sama saja waktu segera berlalu dari hadapan kita, menjadi ’masa lalu’ (Past time). Begitu pula kita merencanakan waktu di depan (future time), tetapi selalu mungkin yang terjadi lain sama sekali. Kita hanya bisa memanfaatkan waktu dengan sebaiknya tepat pada saat kini, bukan beberapa saat yang lalu ataupun beberapa saat kemudian. Bila demikian halnya, merupakan suatu kearifan apabila kita berupaya selalu berada secara sadar di masa kini, sehingga dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Tentu saja ada saat-saat dimana kita perlu ’napak tilas’, menapaki kembali ’masa lalu’, untuk mengambil pelajaran dan manfaat yang bisa diterapkan di masa kini. Begitu pula, kita kadang mencoba ’memasuki’ masa depan (future time), untuk mengantisipasi apa sekiranya yang akan terjadi sehingga kita bisa mempersiapkan sejumlah rencana dengan segala alternatifnya. Namun demikian, tentunya segala sesuatunya seyogyanya proporsional sesuai peruntukkan dan keterbatasannya.
Keempat, kenyataan bahwa hanya masa kini yang dapat kita pergunakan sebaik baiknya,perlu menjadi ingatan kita, terutama ketika kita merencanakan agenda dan mengalokasikan serta men-jadwalkannya (yang selalu merupakan waktu di masa datang). Itu sebabnya perlu sekali kita memiliki skill alokasi dan kendali ( kontrol) penggunaan waktu kita. Keduanya memungkinkan kita mengelola waktu kita dengan lebih optimal.



B.  Hal-Hal yang Perlu Dilakukan
Pertama, berkaitan dengan butir- butir sebelumnya, maka dalam rangka alokasi dan kontrol waktu ini, kita perlu saling menghargai bahwa setiap orang memiliki waktu yang sama, tetapi mempunyai agenda yang berbeda-beda, dan setiap orang akan mempertanggungjawabkan penggunaan waktu yang diberikan kepadanya dihadapan Yang Empunya Waktu. Oleh sebab itu, kita perlu menyadari bahwa tanggung jawab pengaturan waktu ada pada diri kita, sehingga seyogyanya kita yang menentukan penggunaan waktu kita. Namun demikian karena kita hidup bermasyarakat, hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, maka ada sejumlah waktu yang kita punya, menjadi ’waktu publik’ atau ’waktu bersama’ Tentu saja penggunaan waktu bersama diatur bersama pula. Oleh karena itu pula, kita perlu saling menghargai waktu masing-masing, tidak sembarangan mengambil/mencuri waktu sesama kita tanpa seijin penanggung jawabnya. Hal ini berhubungan dengan respek diri (self respect). Orang yang bisa menghargai dirinya, akan bisa juga menghargai orang lain. Sebaliknya apabila kita selalu bergaul dengan orang yang kurang respek diri, maka respek diri kitapun tercuri tanpa kita sadari. Kita perlu adil ke diri, tetapi juga adil ke orang lain, kita perlu menjaga penggunaan waktu kita sendiri, tetapi juga menghargai penggunaan waktu orang lain.
Kedua, berbicara tentang pengalokasian waktu, artinya kita berbicara tentang prioritas. Ketika kita menentukan prioritas, maka kita berhadapan dengan memilah mana yang penting dan tidak penting, bagi kita dan bagi siapa orang lain yang kita anggap relevan. Memilah pentingnya sesuatu bagi kita, amat ditentukan oleh tujuan yang hendak kita tuju dan nilai-nilai yang kita anut.Lagi-lagi secara ringkas, bisa kita katakan tergantung ’mindset’ kita. Penting menurut kita, belum tentu penting menurut orang lain; bahkan yang kita anggap penting hari ini, belum tentu masih kita anggap penting di hari esok. Itu sebabnya ketika kita merencanakan jadwal, kita perlu menyadari bahwa rencana itu kita buat ’saat kini’ tetapi untuk diberlakukan ’saat depan’, yang belum tentu bermakna sama. Jadi kita perlu menjaga komitmen tetapi juga membuka ruang fleksibilitas.
Ketiga, selain mengalokasi, kita pun perlu mengontrol waktu kita. Dengan perkataan lain, ketika kita sudah mengalokasikan waktu dengan baik untuk hal-hal yang kita anggap penting, selalu mungkin kita terjebak masuk kedalam hal-hal yang begitu mendesak –’urgent’ sehingga kita tidak kuasa menghindarinya, jadilah itu mengalahkan hal-hal penting kita. Berikut sebuah skema yang dapat memperjelas situasi ini :

MENDESAK
TIDAK MENDESAK
PENTING

KUADRAN I


KUADRAN II

TIDAK  PENTING

KUADRAN III


KUADRAN IV

                  Kwadran I, merupakan kwadran yang membuat kita ’heboh’ dan biasanya amat tertekan, karena berisi hal-hal yang penting sekaligus mendesak, mau tidak mau harus diselesaikan. Sedangkan pada kwadran II, terdapat hal-hal yang penting, tetapi tidak mendesak, sehingga sering terlupakan. Padahal, apabila hal tersebut dilakukan, akan memudahkan kita mengerjakan segala sesuatunya, sehingga waktu bisa dipergunakan dengan lebih efisien. Pada kwadran ke III terdapat hal-hal yang tak bisa dihindari, karena mendesak, meskipun bagi Anda tidak penting. Misalnya ada telepon berdering ditengah kesibukkan Anda mengerjakan tugas kwadran I, setelah diangkat ternyata salah sambung – amat sangat tidak penting bagi Anda, tetapi hal tersebut mendesak karena bunyi deringnya mengganggu Anda. Pada kwadran ke IV, berkumpul hal hal yang tidak mendesak maupun tidak penting. Namun celakanya, bagi kebanyakan orang merupakan hal-hal yang mengasyikkan. Contohnya bergunjing, gosip .Kita sadar itu tidak penting, da jugatidak mendesak, tetapi toh kita asyik melakukannya berjam-jam, sehingga menggeser kegiatan penting kita masuk ke kwadran I, lalu kita menjadi heboh dan panik. Demikianlah, masih banyak hal lain yang perlu kita bahas, tetapi kali ini, kelima hal di atas kiranya cukup memadai untuk kita mulai belajar mengalokasikan dan mengontrol waktu kita dengan lebih efisien dan efektif sesuai tujuan yang telah kita tetapkan.
Covey (1997) menggambarkan pengelolaan waktu dalam sebuah matriks berdasarkan dua aspek tersebut, penting dan mendesak (genting).

MENDESAK
TIDAK MENDESAK
PENTING
KUADRAN I
·   Krisis
·   Masalah yang mendesak
·   Proyek, tugas-tugas yang didesak deadline
KUADRAN II
·   Persiapan
·   Pencegahan
·   Penjelasan nilai-nilai
·   Perencanaan
·   Pembinaan hubungan dgn sesama
TIDAK PENTING
KUADRAN III
·   Interupsi
·   Rapat-rapat
·   Events atau kegiatan-kegiatan yang digemari
·   Hal-hal mendesak yang datang susul-menyusul
KUADRAN IV
·   Hal-hal remeh
·   Hal-hal yang membuang waktu
·   Aktivitas “pelarian”
·   Nonton TV berlebihan
·   Games

Setiap orang mempunyai masalah yang mendesak, yang ada pada kuadran I. Tetapi kuadaran ini mengkonsumsi banyak energi. Hal ini karena apa yang kita sebut krisis sering didasarkan pada prioritas dan harapan orang lain, bukan apa yang sesungguhnya penting sesuai visi kita. Apabila kita fokus pada kuadran ini, maka kuadran ini akan membesar dan mendominasi kita. Kita hanya akan berjuang bangkit hanya untuk jatuh kembali.

HASIL KUADRAN I
·         Stress
·         Letih
·         Manajemen krisis
II

III
IV

Sedang orang yang menghabiskan waktu hampir di kuadran III dan IV pada dasarnya menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab.
I
II
HASIL KUADRAN III
·         Fokus jangka pendek
·         Rencana & tujuan tak berharga
·         Reputasi : karakter bunglon
·         Hubungan dangkal
IV

I
II
III
  HASIL KUADRAN  IV
·         Sama sekali tak bertanggung jawab
·         Dipecat dari pekerjaan
·         Bergantung pada orang lain untuk hal-hal mendasar

Orang yang efektif berada diluar kuadran III dan IV karena, mendesak atau tidak, hal-hal tersebut memang tidak penting. Mereka juga mengurangi kuadran I, dengan menghabiskan lebih banyak waktu di kuadran II. Kudran II berhubungan dengan hal-hal penting tetapi tidak genting. Inilah inti dari manajemen pribadi.
Peter Drucker (pada Covey, 1997) mengemukakan bahwa orang yang efektif bukanlah orang yang pikirannya tertuju pada masalah; sebaliknya mereka adalah orang yang pikirannya tertuju pada peluang. Mereka menekankan pada berpikir preventif. Mereka memang memiliki keadaan darurat atau masalah genting yang harus mereka hadapi, tetapi jumlahnya kecil.
 












C.  Kiat Mengelola Waktu
Ada beberapa kiat dari Smith (2004) yang bisa kita lakukan untuk mengelola waktunya:
1.   Buatlah daftar mengenai hal apa saja yang perlu Anda lakukan, beri tanda yang menjadi prioritas atau penting. Juga beri tanda untuk yang telah Anda lakukan. Gunakan buku saku yang mudah dibawa kemana-mana. Jika merasa terbebani oleh banyaknya hal yang harus kita lakukan hari ini? Berhenti bekerja sejenak dan pikirkanlah, bagian mana yang harus selesai hari ini, berdasarkan tingkat kepentingannya.
2.   Berpikir realistis. Antusias untuk dapat mengerjakan semuanya boleh saja, tetapi berpikirlah realistis bahwa kita tidak dapat menambah waktu kita lebih dari 24 jam sehari.
3.   Belajarlah untuk berkata “Tidak”. Terlalu banyak hal yang menarik di dunia ini dan tidak mudah bagi kita untuk berkata “tidak” ketika kita menginginkannya. Belajarlah berkata “tidak” terhadap sesuatu yang Anda inginkan tetapi sebenarnya tidak Anda butuhkan.
4.   Aturlah barang-barang dengan rapi. Lebih baik menyediakan waktu barang 20 menit untuk menata kamar, dari pada kita harus membuang-buang waktu hingga lebih dari 30 menit hanya untuk menemukannya kembali.
5.   Sediakan waktu untuk sesuatu yang menyenangkan dan mengejutkan. Membuat jadwal yang teratur untuk hidup harus, tetapi jangan lupa, sesuatu yang menyenangkan tetap harus dapat kita lakukan. Jika sesuatu yang menyenangkan ini kita lakukan dengan spontan, akan menyegarkan fikiran dan membuat hidup tetap bersemangat.
Berikut ini beberapa aturan sederhana yang juga dapat diikuti untuk melakukan pengaturan waktu, antara lain :
a.   Jangan Menangguhkan.
Lakukan saat ini juga. Saat orang menunda sesuatu, itu berarti membunuh daya gerak pencapaian pada tujuan saat ini dan menghalangi kesempatan di masa mendatang lantaran waktu yang tersumbat. Cara untuk mencegah penundaan adalah dengan merancang deadline untuk tujuan yang harus dicapai. Menghindari deadline terakhir membawa penundaan yang diatur tujuan sebagai perantara untuk mencapai setingkat demi setingkat menuju tujuan.
b.   Lacak Aktivitas Anda.
Memori adalah penuntun yang payah, jika ini berhubungan dengan menetapkan bagaimana Anda melewatkan waktu Anda. Cara terbaik untuk merekam aktivitas Anda sepanjang hari adalah dengan mendata apa yang Anda lakukan. Kebanyakan orang akan menemukan kalau mereka memiliki tiga jam dalam tiap hari yang sebenarnya dapat digunakan untuk hal yang lebih membangun atau tindakan yang efisiean. Kurangi waktu yang Anda gunakan untuk bertelepon, membolak-balik majalah atau surfing di web yang tak mengahasilkan apapun, dan batasi kegiatan-kegiatan yang tak penting.
c.   Berkonsentrasi Pada Hasil.
Banyak orang melewatkan waktu mereka sepanjang hari dengan aktivitas yang hiruk-pikuk, tapi hanya sedikit membuahkan hasil.Itu semua terjadi karena mereka tak berkonsentrasi pada hal yang benar.Jangan terkecoh antara bekerja secara efisien dan bekerja secara efektif. Aktivitas memang kadang dapat membebaskan dari tekanan tapi itu tak mencapai tujuan Anda. Dengan lebih berkonsentrasi pada sedikit prioritas 'utama' secara teratur.Anda dapat mencapai lebih banyak hal dalam waktu singkat.
d.   Ingat Prisip 80/20.
Prinsip 80/ 20 adalah 20% kunci aktivitas Anda akan memberi Anda 80% dalam bentuk hasil. Tujuan Anda adalah mengubah ini untuk memastikan kalau Anda berkonsentrasi sebanyak usaha yang mungkin Anda lakukan untuk hasil tertinggi dari tujuan.
e.   Bangun Rancangan Aksi (Planning)
Sebuah rencana tindakan merupakan daftar pendek dari tugas yang harus dilengkapi untuk mencapai sebuah tujuan. Kapanpun Anda ingin mencapai sesuatu, buat gambaran gamblang dari rencana tindakan, ini akan memberi Anda kesempatan untuk lebih berkonsentrasi pada tahap pencapaian itu, dan memonitor kemajuannya dalam perwujudan.

f.    Merespon Dengan Cepat.
Sebagai contoh, urus mail Anda begitu Anda menerima surat. Jangan biarkan tagihan dan surat-surat itu membebani Anda. Jika Anda tak bisa membalas sebuah surat saat itu juga, buat file di tempat khusus yang mudah dilihat, dan tuliskan di amplop tindakan yang dibutuhkan serta tanggal dimana Anda dapat menyelesaikannya. Ketika memungkinkan, lakukan tindakan pada hari yang sama saat Anda menerimanya. Jangan biarkan komputer, meja dan pikiran Anda jadi bertumpuk dengan hal yang tak berguna.

D.  Waktu dalam Islam
Sesungguhnya manusia itu hanya terbagi dua yaitu manusia sukses dan manusia gagal. Kesuksesan dan kegagalan seseorang erat sekali kaitannya dengan kemampuan mengelola waktu. Jika ia mampu menggunakan waktu yang Allah berikan kepadanya untuk selalu meningkatkan keimanan, ilmu, amal shaleh, hidup dan dakwah di jalan Allah, maka ia akan menjadi orang yang beruntung. Namun sebaliknya, jika ia gagal memanfaatkan waktu yang ia lewati untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ilmu, amal shaleh dan aktivas dakwah, maka ia dipastikan akan menjadi orang yang merugi di dunia dan terlebih lagi di akhirat.
Sebab itu, waktu itu sangat mahal harganya, dan bahkan lebih mahal dari dunia dan seisinya.Salah dalam mengelola waktu bisa berakibat kerugian besar di dunia dan akhirat. Sebaliknya, berhasil mengelola waktu dengan baik, insya Allah akan berhasil pula dalam kehidupan di dunia yang singkat ini dan juga kehidupan akhirat yang abadi. Allah menjelaskan dalam surat Al-‘Ashr:
وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
“Dan demi masa(1), sesungguhnya manusia itu pasti dalam keadaan merugi(2), kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh dan mereka saling bertaushiyah (saling menasehati) dengan kebenaran dan saling bertaushiyah dengan kesabaran (3)”. (QS. Al-Ashr: 1-3)
Waktu bagi orang beriman adalah anugerah Allah yang tak ternilai harganya.Waktu juga bisa jadi sebab malapetaka jika disia-siakan begitu saja dan tidak dapat dimanfaatkan untuk membina keimanan, mencari ilmu, meningkatkan amal shaleh, menjalankan kehidupan secara Islami dan berbagai aktivitas dakwah lainnya. Oleh sebab itu, Allah sering bersumpah atas nama waktu, seperti: Demi Masa, Demi Waktu Dhuha, Demi Malam dan Demi Siang. Semua ini mengisyaratkan betapa mahalnya nilai waktu itu.Tanpa waktu, mustahil kita dapat hidup di dunia ini.
Yang lebih mengagumkan lagi, Allah ciptakan waktu itu dengan ukuran dan standar perhitungan yang amat mudah, yakni berdasarkan siang dan malam. Dengan adanya siang dan malam itulah kita bisa menjalankan berbagai aktivitas kehidupan dan sekaligus beristirahat. Dengan adanya siang dan malam itulah kita bisa mengelola kehidupan ini dengan mudah. Tanpa pergantian siang dan malam, kita akan sangat sulit menata dan mengelola berbagai aktivitas kehidupan kita di dunia termasuk kapan kita harus tidur, istirahat, mencari rezki, menuntut ilmu, silaturahmi dan sebagainya. Allah ciptakan siang dan malam sebagai wujud kasih sayang-Nya kepada kita, sebagaimana Dia jelaskan dalam surat Al-Qashash (28) : 71 – 73 :
قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلَّيۡلَ سَرۡمَدًا إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِضِيَآءٍۚ أَفَلَا تَسۡمَعُونَ ٧١ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلنَّهَارَ سَرۡمَدًا إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِلَيۡلٖ تَسۡكُنُونَ فِيهِۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٧٢ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٧٣
Katakan (wahai Muhammad)! Bagaimana pendapat kalian jika Allah menjadikan bagi kalian malam terus menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang dapat mendatangkan cahaya pada kalian? Mengapa kalian tidak mendengar (ayat-ayat Allah)?(71) Katakan (wahai Muhammad)! Jika Allah jadikan bagi kalian siang terus menerus sampai hari kiamat?Siapakah tuhan yang dapat mendatangkan malam bagi kalian untuk beristirahat padanya? Mengapa kalian tidak memperhatikan (ayat-ayat Allah).(72) dan di antara rahmat-Nya bahwa Dia menjadikan bagi kalian malam dan siang agar kalian dapat beristirahat (pada malam hari) dan mencari karunia (rezki)-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur (73).

Dilain sisi Firman Allah SWT dalam ayat yang lain :
وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ خِلۡفَةٗ لِّمَنۡ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوۡ أَرَادَ شُكُورٗا ٦٢
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)
Dalam ajaran Islam, disampaikan bahwa ciri-ciri seorang Muslim yang diharapkan adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya, sebab sudah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan.
Syiar Islam menempatkan ibadah ritual pada bagian-bagian waktu dalam sehari dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Sholat lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas dalam sehari, dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Dalam syariat Islam dinyatakan, bahwa malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk menetapkan waktu-waktu awal dan akhir pelaksanaan sholat lima waktu, agar menjadi panduan dan system yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami. Di samping itu, juga berfungsi untuk mengukur detik-detik sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu pentingnya umat Islam, untuk mempelajari manajemen waktu adalah karana hal-hal sebagai berikut:
1.    Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah;
2.    Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi;
3.    Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.
Jika kita sadar bahwa pentingnya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat seolah-olah akan mati esok hari, dan tentunya doa ini akan menjadi semboyan dalam hidup kita:
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١
“… Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan perliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah: 201)
Di samping itu perlu kita sadari, bahwa Allah SWT telah bersumpah dengan menggunakan waktu untuk menegaskan pentingnya waktu dan keagungan nilainya, seperti yang tersurat dan tersirat di dalam Al Qur’an Surah Al- Lail ayat 1-2, Al Fajr ayat 1-2, Adh-Dhuha ayat 1-2, dan Al’Ashr ayat 1-2.
Oleh karena itu, harus kita sadari betapa pentingnya mempelajari manajemen waktu bagi seorang Muslim. Namun sebelum kita mempelajari manajemen waktu, maka perlu kita sadari terlebih dahulu beberapa tabiat waktu agar kita benar-benar dapat memahami esensi dari waktu tersebut, yakni: Cepat berlalu; Tidak Mungkin kembali; Harta termahal. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa waktu adalah modal yang paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan tidak mungkin dapat disimpan tanpa digunakan, serta tidak mungkin mendapatkan waktu yang dibutuhkan meskipun dengan mengeluarkan biaya.
Berikut ini merupakan salah satu kisah inspiratif tentang seorang yang menyadari kesia-si

Terdapat seorang pemuda yang terbawa arus pusaran duniawi. Ia lupa akan makna hidupnya, sehingga yang dikerjakan hanyalah membawa kesia-siaan semata. Waktunya sering terbuang dan tercecer dengan percuma, namun akhirnya ia tersentak dari khayalan yang panjang itu berkat nasihat dan peringatan Shilah bin Asyam, salah seorang tabi’in mulia. Kita akan mendengarkan penuturan Shilah bil Asyam tentang pemuda yang telah sadar dan menyesali masa lalunya. Beliau berkata:
“Sudah menjadi kegiatan rutinku untuk selalu menyusuri padang pasir mencari ketenangan dalam beribadah. Dan setiap kali melintas sekelompok anak-anak mudah yang sedang duduk-duduk sambil bercanda di antara mereka, aku pernah berkata kepada mereka, ‘Apa pendapat kalian tentang suatu kaum yang bermaksud untuk bepergian, tetapi mereka lakukan di siang hari tanpa arah tujuan dan pada malam hari mereka tidur, lalu kapan mereka akan sampai ke tempat tujuan?’
Setiap kali aku melewati sekumpulan mereka, senantiasa pula kusampaikan berbagai nasihat yang berguna. Suatu hari saat aku memberikan nasihat yang sama sebagaimana ucapannya itu tadi, seketika itu ada seorang pemuda di antara mereka yang menyahut, ‘Wahai kawan-kawan! Sesungguhnya yang dimaksud Bapak ini adalah kita. Mari kita renungkan, bukankah di waktu siang kita habiskan dengan sekedar bermain-main dan malam harinya tidur mendengkur?’ Kemudian pemuda itu tampaknya mulai menangkap makna ucapan itu dan mulai timbul kesadaran dalam hati serta pikirannya. Pada akhirnya pemuda ini selalu mengikuti jejakku dan beribadah bersamaku kepada Allah SWT sampai akhir hayatnya.” (Ibnu Qudamah al-Maqdisy, at-Tawwabin, hlm. 244).
Sungguh suatu sikap yang patut diteladani oleh setiap orang yang telah menyia-nyiakan masa mudanya, namun berusaha bangkit dan memacu sisa-sisa umurnya untuk meniti jalan Allah SWT degnan berkendaraan amal-amal shaleh.
Untuk menutup perjumpaan kita dengan pemuda ini, marilah kita perhatikan bait syair berikut ini:
Saat-saat dzikir lebih bernilai dari harta kekayaan
Sedang saat lalai adalah kerugian dan kemelaratan

Mengelola waktu berarti menata diri dan merupakan salah satu tanda keunggulan dan kesuksesan.Oleh karena itu, bimbingan untuk mendalami masalah ini adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita semua, apapun jabatan dan profesi kita serta tidak memandang tinggi rendahnya kedudukan seseorang.
Dengan demikian, marilah kita mulai mempelajari manajemen waktu, sehingga dengan mempunyai bekal pengetahuan tentang waktu, kita dapat terampil mengelolanya dan dengan keinginan yang kuat, maka kita akan dapat menjadikan sebuah kebiasaan dalam pemanfaatan waktu.
Seorang penulis Manajemen Islami, M. Ahmad Abdul Jawwad, dalam sebuah bukunya, memaparkan kaidah-kaidah aplikatif yang dapat mengantarkan kita kepada kesuksesan mengelola waktu secara bertahap, selangkah demi selangkah hingga pada tingkat mahir dan effektif dalam mengelola waktu dalam 14 (empat belas) langkah. Langkah-langkah tersebut adalah:
1.   Analisalah sikap kita terhadap manajemen waktu dan kenalilah sejauh mana kemampuan kita dalam mengelola waktu!
2.   Sadarilah nilai dan urgensi waktu, serta sejauh mana kebutuhan kita pada manjemen waktu!
3.   Susunlah skala prioritas dan jangan lupa pada kewajiban waktu!
4.   Kenalilah hal-hal yang kita butuhkan dalam mengelola waktu secara efektif!
5.   Kenalilah hal-hal yang mengganggu manajemen waktu, lalu hindarilah!
6.   Perhatikanlah tokoh-tokoh yang berhasil mengelola waktu!
7.   Atasilah hal-hal yang dapat menyia-nyiakan waktu!
8.   Luruskan persepsi kita yang keliru mengenai efisiensi waktu!
9.   Pelajarilah cara mengadakan pertemuan singkat yang membawa hasil optimal!
10. Pelajarilah cara mendelegasikan secara effektif!
11. Pelajarilah cara mengoptimalkan waktu santai/ senggang!
12. Kajilah contoh-contoh aplikatif tentang manajemen dan optimalisasi waktu!
13. Didiklah anak-anak dan orang-orang di sekitar kita untuk menghargai waktu!
14. Latihlah orang lain tentang cara mengoptimalkan pemanfaatan waktu!
Perlu kita fahami bahwa, apabila seorang Muslim mampu mengelola waktu dengan baik, maka akan memperoleh optimalisasi dalam kehidupannya. Namun, apabila tidak mampu, maka seseorang tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun karena waktu merupakan modal dasar bagi kehidupan seorang Muslim yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّ فِي ٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَّقُونَ ٦
“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus: 6)





DAFTAR PUSTAKA

Achmat, Zakarija. Manajemen waktu dan pengelolaan diri. Membangun Diri Meraih Keunggulan Insani, Materi P2KK UMM 2005-2006. UMM Press. Malang.

Covey, Stephen. (1997). Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif. Covey Leadership Center, Inc.

Smith, Gregory P. (2004). The Art of Managing Time and Your Life.


http://www.eramuslim.com/khutbah-jumat/rahasia-mejemen-waktu-orang-orang sukses.htm#.UReoavLMBdg














MANAJEMEN STRESS

وَلَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ وَلَدَيۡنَا كِتَٰبٞ يَنطِقُ بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ٦٢
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS. Al-Mu’minun: 62)

A.  Pengertian
Flowchart: Process: Stres adalah respon penyesuaian seseorang terhadap situasi yang dipersepsinya mengancam

Dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa berhadapan dengan situasi atau kondisi yang membuat pikiran dan perasaan kita tertekan. Berbagai sebab dapat membuat kita merasa tertekan bahkan terancam oleh kondisi tersebut bahkan terkadang kita tidak mengatahui dengan baik apa yang menyebabkan perasaan kita tertekan atau pikiran kita tidak fokus dan perilaku kita berubah cenderung emosional. Keadaan seperti ini disadari atau tidak mungkin sering kita alami sehingga kita perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mengatasinya.
Kata stress sering diasosiasikan dengan adanya peristiwa yang menekan sehingga seseorang tidak berdaya dan biasanya menimbulkan dampak negatif seperti pusing, tekanan darah tinggi, mudah marah, sedih, sulti berkonsentrasi, tidak bisa tidur dan sebagainya. Dalam hal ini stress didekati melalui reaksi yang ditimbulkan dari stress (gejala stress).
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia ada 2 pengertian stress: (1) Gangguan atau kekacauan mental dan emosional (2) Tekanan. Secara psikologis, stress didefinisikan sebagai suatu respons penyesuaian seseorang terhadap situasi yang dipersepsinya menantang atau mengancam kesejahteraan orang bersangkutan. Jadi stress merupakan suatu respon fisiologik ataupun perilaku terhadap ‘stressor’ hal yang dipandang sebagai penyebab tekanan, gangguan keseimbangan (homeostasis), baik internal maupun eksternal. Dalam pengertian ini, bisa kita perjelas bahwa stress bersifat subjektif sesuai persepsi orang yang memandangnya. Dengan perkataan lain apa yang mencekam bagi seseorang belum tentu dipersepsi mencekam bagi orang lain.

B.  Sebab – sebab Stres
Adapun sumber-sumber (stressor) yang dipersepsi seseorang atau sekelompok orang memberi tekanan terhadap keseimbangan diri mereka yang bisa membut stress antara lain:
1.   Lingkungan yaitu lingkungan yang memberi berbagai tuntutan penyesuaian diri seperti :
§  Cuaca, kebisingan, kepadatan,
§  Tekanan waktu, standard prestasi, berbagai ancaman terhadap rasa aman dan harga diri
§  Tuntutan hubungan antar pribadi, penyesuaian diri dengan teman, pasangan, dengan perubahan keluarga
2.   Fisiologik, meliputi:
§  Perubahan kondisi tubuh: masa remaja haid, hamil, meno/andropause, proses menua, kecelakaan, kurang gizi, kurang tidur, adanya tekanan terhadap tubuh.
§  Reaksi tubuh : reaksi terhadap ancaman & perubahan lingkungan mengakibatkan perubahan pada tubuh kita, menimbulkan stress.
3.   Pikiran kita ~ pemaknaan diri dan lingkungan
Pikiran dapat menginterpretasi dan menerjemahkan pengalaman di luar dirinya. Ia dapat memberi makna terhadap pengalaman tersebut sehingga  pikiran dapat membuat kita relaks atau stress.
Menurut Selye (1984) stress bisa dibedakan atas dasar sifat stressornya, apakah peristiwa negative, disebut ’distress’; tetapi bisa juga stress diakibatkan peristiwa positif, misalnya tiba-tiba mendengar mendapat undian, atau hadiah besar yang tak terduga, dalam hal ini stressnya disebut ‘Eustress’ Lebih lanjut, sumber stressor tersebut bisa dibedakan dalam 3 bagian berdasarkan peluang penanganannya, yakni : Pertama, Stressor yang penanganannya hanya membutuhkan sedikit upaya seperti misalnya kebiasaan belajar, waktu bangun pagi, diet, daan sebagainya dimana upaya menanganinya dengan cara memgubah kebiasaan, membiasakan kebiasaan baru, maka dalam waktu satu-dua minggu dapat berubah. Kedua, Stressor yang untuk menanganinya membutuhkan upaya yang lebih sungguh-sungguh, seperti masalah kepercayaan diri, koflik interpersonal, komunikasi dan sebagainya, dimana diperlukan bantuan teknikal untuk menanganinya, seperti dibutuhkannya kemampuan komunikasi, manajemen konflik atau proses konseling individual. Ketiga, stressor yang memang tidak dapat ditangani seperti kematian orang yang dikasihi, maka penanganannya perlu belajar berdamai dengan diri menerima kenyataan tersebut, lalu diatasi dengan relaksasi dan upaya spiritual. Melihat kemungkinan sumber stressor di atas, maka setiap orang potensial untuk mengalami stress. Namun demikian, ada kelompok orang yang lebih mudah terkena stress (type kepribadian A), ada juga kelompok lain yang lebih memiliki ketahanan terhadap stress (type kepribadian B). 

Dampak Stress

Fisiologis
Psikologis-kognitif
Perilaku
 
Selanjutnya, di kalangan mahasiswa yang banyak menjadi sumber stressor antara lain sebagai berikut: Tuntutan untuk sukses; persoalan finansial, persoalan hubungan sosial, persoalan penggunaan waktu dan pergeseran nilai-nilai. Lebih jauh bisa kita simpulkan bahwa setiap orang bisa mengalami stress, sesekali stress dalam kehidupan merupakan ‘bumbu’ hidup dinamis, akan tetapi apabila terjadi stress yang sering dengan fluktuasi yang besar, maka sudah perlu mendapat perhatian khusus, artinya sudah perlu lebih serius menanganinya.

Stressor Kampus
-          Lingkungan fisik
-          Hubungan interpersonal
-          Organizational
 
 



                                                            Stress

 



Perbedaan Individual
 
           

Stressor non Kampus
 
 


C.  Indikasi/Gejala Stress
Bagaimana kita mengetahui apakah kita berada dalam keadaan stress atau tidak ? Apa gejalanya? Ada sejumlah gejala yang bisa diditeksi secara mudah yaitu :
1.      Gejala fisiologik, antara lain : denyut jantung bertambah cepat , banyak berkeringat (terutama keringat dingin), pernafasan terganggu, otot terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur, gangguan lambung, dst
2.      Gejala psikologik, antara lain : resah, sering merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, tidak enak perasaan, atau perasaan kewalahan ( exhausted) dsb
3.      Tingkah laku, antara lain : berbicara cepat sekali, menggigit kuku, menggoyang-goyangkan kaki, ticks, gemetaran, berubah nafsu makan ( bertambah atau berkurang).

D.  Dampak akibat stress
Dampak stress dibedakan dalam 3 kategori yaitu fisiologik, psikologik dan perilaku
1.   Dampak Fisiologik :
Secara umum orang yang mengalami stress mengalami sejumlah gangguan fisik seperti : mudah masuk angin, mudah pening-pening, kejang otot (kram), mengalami kegemukan atau menjadi kurus yang tidak dapat dijelaskan, juga bisa menderita penyakit yang lebih serius seperti cardiovasculer, hypertensi, suka melamun, sering lupa, mengasingkan diri,  dst. Dengan kata lain dampak fisiologis ini dapat berupa gangguan pada organ tubuh, system reproduksi maupun pada system pernafasan.
2.   Dampak Psikologik
Dampak psikologis yang biasanya berupa keletihan emosi, jenuh, depresi, terjadinya depersonalisasi (memperlakukan orang lain sebagai “sesuatu”), perasaan tidak berharga dan perasaan tidak mampu mencapai tujuan hidupnya.
3.   Dampak Perilaku
Manakala stress menjadi distress, maka prestasi belajar menurun dan sering terjadi tingkah laku yang tidak berterima oleh masyarakat. Level stress yang cukup tinggi berdampak negatif pada kemampuan mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah tepat. Pada mahasiswa sering muncul perilaku membolos atau tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.

E.  Respon Terhadap Stres
Ada 2 (dua) cara penilaian kognitif terhadap stressor yang dapat mengakibatkan terjadinya stress yaitu penilaian primer dan penilaian sekunder. Yang dimaksud dengan penilaian primer adalah penilaian atau evaluasi terhadap situasi apakah dinilai sebagai situasi yang mengancam atau menantang. Jika individu menilainya (mempersepsi) sebagai suatu yang mengancam maka ia akan cenderung menghindar, sebaliknya jika ia mempersepsi situasi tersebut sebagai situasi yang menantang maka ia akan cenderung mengatasi situasi tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan penilaian sekunder adalah penilaian terhadap sumber daya yang dimiliki baik secara fisik, psikologis, social maupun materi. Proses penilaian primer dan sekunder akan terjadi secara bersama-sama sehingga akan membentuk makna setiap peristiwa yang akan menentukan jenis perilaku untuk mengatasi hal tersebut (coping behavior).
Coping behavior bersifat dinamis yang artinya bahwa perilaku ini akan bergantung pada jenis situasi yang dipersepsikan dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu ada coping behavior yang bersifat emosional yaitu upaya-upaya yang dilakukan untuk meredakan emosi dan yang bersifat rasional yang meliputi

F.   Strategi Menangani Stress
Dalam menghadapi situasi yang dinilai sebagai sumber stress, seseorang dapat melakukan beberapa cara agar tidak menjadi stress yang berdampak secara negative kepada diri seseorang. Ada 3 (tiga) tingkatan perilaku yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya stress yaitu :
1.   Primary prevention, dengan cara merubah cara kita melakukan sesuatu. Untuk keperluan ini kita perlu memiliki beberapa ketrampilan yang relevan, seperti ketrampilan mengatur atau mengelola waktu, berusaha menerapkan positive thinking dalam setiap menghadapi situasi yang menekan atau mempersiapkan secara khusus mental-spiritual dalam menghadapi situasi yang dapat menimbulkan stress
2.   Secondary prevention, strategi yang kita lakukan adalah dengan menyiapkan diri menghadapi stressor melalui kegiatan olah raga (exercise), diet, rekreasi, istirahat, meditasi, mendekatkan diri kepada Allah melalui kegiatan amal ibadah yang dituntunkan.
3.   Tertiary prevention, strateginya adalah kita menangani dampak stress yang terlanjur ada, misalnya melalui bantuan professional yang berhubungan dengan penyebab stress atau dengan meminta bantuan jaringan supportive ( social-network).
Disamping strategi tersebut diatas, ada beberapa langkah yang dapat kita gunakan dalam menghadapi stress, antara lain :
1.   Mengetahui dengan kesadaran penuh bahwa diri kita sedang stress (tertekan).
2.   Menerima perasaan kita. Akui perasaan kita dan bagilah dengan orang lain karena perasaan (emosi) merupakan salah satu indikator apakah sesuatu itu berjalan dengan baik atau tidak.
3.   Mengembangkan kemampuan perilaku yang efektif. Kita harus menghindari untuk menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi, gunakan inisiatif untuk menangani masalah dan gunakan waktu yang tersedia dengan baik.
4.   Membangun jaringan pendukung yang kuat. Kita tidak perlu takut untuk meminta bantuan langsung dari orang lain, khususnya keluarga atau sahabat yang baik
5.   Kembangkan gaya hidup yang menguatkan kita untuk melawan stress. Melakukan olah raga secara rutin, melakukan kegiatan relaksasi, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berpotensi merusak kesehatan dapat membantu kita menghadapi stress akibat masalah yang kita hadapi
6.   Menjaga kesehatan mental. Kita harus berpikir positif dan menangani suara hati yang negatif dengan perilaku yang positif serta menggunakan waktu untuk kegiatan yang dapat mendukung mental positif kita.
7.   Doa. Terkadang apa yang telah kita lakukan di dalam menanggulangi stres mengalami hambata. Oleh karena itu kita harus menyertakan Allah Ta’ala dalam setiap pengambilan keputusan yang kita terapkan dalam menanggulagi stres.
 G.       Menangani Stress di Kampus
Flowchart: Process: Menangani stress di kampus :
1. Keterampilan belajar
2. Manajemen waktu
3. Istirahat
4. Makan dan olah raga
5. Percakapan diri
6. Dukungan sosial


Kampus yang merupakan lingkungan baru bagi mahasiswua yang akan menjalani masa studi di perguruan tinggi. Kampus dapat menjadi stressor bagi mahasiswa baik dalam aspek tuntutan tugas belajar, organisasi dan pergaulan dengan sesama.   Jika mahasiswa tidak mampu mempersiapkan diri dengan baik, stessor dapat berbuah stress yang negative dan mempengaruhi kondisi fisik, psikis dan socialnya. Secara sederhana, kita bisa menangani stress kehidupan kampus dengan memakai STRESS lagi, namun tentu saja dalam akronim yang berbeda.
1.   Study skills (Ketrampilan belajar)
Dalam kehidupan kampus ada banyak hal yang perlu dipelajari, mahasiswa juga ingin mengetahui banyak hal dan mengikuti banyak kegiatan, sementara waktu yang dimiliki terbatas. Oleh karena itu, agar tidak menjadi stress maka mahasiswa perlu memiliki berbagai ketrampilan belajar yang baik dan sesuai dengan kemampuannya sehingga bisa belajar secara efektif dan juga efisien dalam menggunakan daya dan waktu serta sumber lainnya.
2.   Time management (Manajemen waktu)
Mengingat waktu yang dimiliki oleh setiap mahasiswa adalah terbatas jika dibandingkan dengan keinginan untuk melakukan berbagai kegiatan baik di dalam kampus maupun di luar kampus, maka mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan mengelola waktu dengan baik sehingga dapat mengalokasikan dan mengontrol penggunaan waktu dengan baik. Manajemen waktu merupakan bagian penting dalam mengelola stress di lingkungan kampus selain ketrampilan belajar yang disebutkan diatas.
3.   Rest (Istirahat)
Tubuh kita bagaikan satuan mesin yang membutuhkan jeda atau waktu istirahat setelah melakukan banyak aktifitas. Istirahat dapat memberikan sebuah kesempatan fisiologis, kognitif dan psikologis kita untuk memperbaiki system tubuh dan mengatur kembali irama kerja tubuh dan dapat merefresh kondisi yang telah dialami sebelumnya, sehingga setelah istirahat beberapa saat kita dapat melakukan aktifitas lagi dengan lebih baik.
4.   Eating & Exercise ( Makan dan Olah raga)
Pada dasarnya setiap aktifitas yang kita lakukan, tubuh telah mengeluarkan banyak energy yang selama ini disimpan dan diolah oleh tubuh. Semakin banyak aktifitas yang kita lakukan maka semakin banyak tubuh membutuhkan asupan makanan yang seimbang. Disamping itu untuk mendapatkan kesegaran dan kebugaran kembali tubuh kita setelah beraktifitas, maka diperlukan pula olah raga (exercise) yang memadai sehingga dapat membantu tubuh memulihkan tenaga dan menyegarkan kembali otot-otot yang telah ikut terlibat dalam aktifitas sehari-hari.
5.   Self-talk (Percakapan diri – kalbu)
Sebenarnya setiap orang mempunyai satu alat (perlengkapan) yang melekat dalam dirinya sebagai teman sejak kecil. Perlengkapan ini percakapan dengan diri sendiri (percakapan kalbu) dimana kita dapat berbicara dengan diri kita sendiri, melihat, mendengar dan bahkan kita bisa menertawakan diri kita sendiri sebagai hasil evaluasi diri yang dilakukan. Isi percakapan tersebut bisa bernilai positif yang membuat kita selalu optimis dan melakukan perubahan-perubahan, tetapi juga bisa negative yang membuat kita semakin tertekan (stress). Kita harus lebih mengembangkan percakapan ini untuk mengevaluasi setiap aktifitas yang kita lakukan agar memberikan nilai tambah dalam kehidupan kita. Dalam hal menangani stress, kita perlu bisa secara sadar mengganti isi percakapan yang tidak mendukung dengan kalimat yang bisa mendukung kita.
6.   Social support  (Dukungan social)
Manusia adalah makhluk social yang pada hakikatnya tidak dapat hidup sendirian, membutuhkan orang lain yang memiliki kepedulian dan dukungan. Banyak situasi social yang menjadi pemicu munculnya stress, namun tidak sedikit pula lingkungan social yang dapat membantu mengurangi dan meminimalkan terjadinya stress. Dukungan orang-orang dekat seperti keluarga, teman bahkan masyarakat dapat memberikan kekuatan secara psikis baik secara langsung maupun tidak langsung kepada orang yang mengalami stess. Dalam keadaan stress sebaiknya kita berusaha bertemu dengan teman atau orang lain yang kita kenal sehingga situasi yang kita persepsikan sebagai sebuah stressor ini dapat juga dipahami oleh orang lain yang mungkin berbeda persepsinya, sehingga dapat memberikan pemaknaan baru terhadap situasi tersebut atau ikut memberikan solusi terhadap kondisi stress yang kita alami.
Selanjutnya secara praktis ada sejumlah latihan sederhana yang dapat dipelajari. Latihan-latihan tersebut meliputi pengaturan nafas, relaksasi otot dan visualisasi. Latihan pengaturan nafas dapat dilakukan hampir kapan saja dan dimana saja serta dapat dilakukan beberapa kali sehari. Kemudian diikuti dengan latihan relaksasi otot dan relaksasi yang lebih mendalam yaitu pada pikiran dengan visualisasi.

§  Latihan Pernafasan
Ketika stres meningkat, nafas menjadi lebih cepat dan dangkal. Dengan menyadari pernafasan dan belajar memperlambat dan memperdalam nafas akan membuat kita merasa lebih rileks. 
§  Latihan Relaksasi Otot
Ketika kita berada dalam situasi yang membuat stres, otot-otot menegang. Latihan relaksasi otot adalah suatu teknik untuk mengendurkan otot-otot yang tegang. Relaksasi dapat dibantu dengan mendengarkan musik yang lembut atau berada pada alam terbuka yang tenang.
§  Latihan Visualisasi
Visualisasi adalah berfikir dengan gambar, berimajinasi, membayangkan. Visualisasi adalah teknik yang sama bermanfaatnya dengan ketika kita mencoba memecahkan suatu masalah dan merangsang kreativitas. Kita membayangkan dan merasakan seolah-olah sedang berada dalam suatu situasi (tempat) yang nyaman, indah dan menyenangkan, misalnya berada di taman bunga, sedang dikelilingi kupu-kupu yang beterbangan atau berada di pantai dengan nyiur yang melambai-lambai. Idealnya, visualisasi dilakukan setelah latihan relaksasi otot. Jadi, setelah tubuh menjadi rileks, fikiran juga rileks.
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ ٢١٤
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)
Bagi orang Islam sendiri, Allah telah memberi sebuah metode manajemen stress yang luar biasa. Berikut beberapa diantaranya :
1.   Jika kita sedang marah (mendapat masalah), maka kita diminta beristigfar. Jika belum bisa mereda, diminta berdiri bila sebelumnya duduk atau duduk bila sebelumnya berdiri. Jika belum mereda juga, ambil wudhu dan sholat.
2.   Sholat dengan khusuk. Metode dari Allah ini luar biasa karena apabila kita jalankan dengan benar, maka latihan pernafasan, relaksasi, dan visualisasi (tujuan hidup) sudah lengkap ada di dalamnya.
3.   Membaca Al-Qur’an. Begitu banyak hikmah dalam Qur’an yang bisa kita ambil untuk memecahkan masalah kita. Lengkap untuk semua masalah karena memang Qur’an merupakan panduan langsung dari Allah.
4.   Bermunajat. Berdo’a pada Allah, berdialog memohon bantuan atas masalah kita karena Allah yang Maha Berkuasa. Jika kita benar-benar meyakini Allah Maha Besar, maka apapun masalah adalah kecil.

H.  Problem Solving
Lalu apa yang harus kita lakukan bila menghadapi masalah? Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan saat menghadapi masalah:
1.   Bersikap tenang dan jangan lari dari masalah. Setiap orang punya masalah dan masalah tidak akan terselesaikan kecuali kita menghadapi dan menyelesaikannya.
2.   Rumuskan dengan jelas apa yang menjadi masalah. Misal, bingung menentukan jurusan kuliah, atau tidak punya uang padahal ingin beli kaset. Jika sekedar dibayangkan maka apa yang menjadi fokus masalah sering tidak tergambar jelas.
3.   Apabila masalah lebih dari satu, buatlah urutan prioritas dari yang paling penting hingga tidak. Lalu fokus pada masalah yang terpenting.
4.   Cari alternatif solusi sebanyak mungkin. Misal,  solusi alternatif untuk tidak punya uang adalah : menghemat agar bisa menabung, menunda membeli kaset sampai orang tua ada uang, cari pinjaman uang pada teman.
5.   Pikir dan tuliskan untung rugi dari masing-masing alternatif solusi.
6.   Pilih solusi yang untung paling banyak dan rugi paling sedikit.
7.   Apabila kita tidak mampu menyelesaikan sendiri, maka cerita dan berbagilah dengan orang yang dekat dengan kita. Orang lain barangkali bisa melihat masalah kita dari perspektif lain yang memungkinkan bersama mencari solusinya.
8.   Penting untuk kita ketahui apakah kita sudah selesaikan semua yang memang bisa kita lakukan
9.   Janganlah kita menjadi super-man atau super-woman, artinya jadwalkanlah agenda yang wajar dan dapat diselesaikan oleh manusia normal
10. Janganlah biarkan diri kita stress oleh hal-hal yang berada di luar jangkauan kendali kita











DAFTAR PUSTAKA

Covey, Stephen. 1997. Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif. Covey Leadership Center, Inc.

Hall, C.S., & Lindzey, G. 2004. Theories of Personality; 4th ed. John Wiley & Sons, Inc. New York. USA.

Smith, Gregory P. 2004. The Art of Managing Time and Your Life. http://www.greaterdiversity.com/career_resources/movingforward/hippos.html


Jackman, Ann. 2006. How to Get Things Done. Esensi. Jakarta

http://www.kodam-jaya.mil.id/arsip-artikel-kontribusi/1217-manajemen-stres?start=2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar