Pada dasarnya setiap manusia cenderung
untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi lebih baik, lebih matang dan lebih
mantap. Namun kecenderungan seseorang untuk menimbulkan kemampuannya tidak
terwujud begitu saja, tanpa ada upaya untuk pengembangan kepribadian yang dimilikinya,
karena setiap manusia memiliki kemampuan dan keunikan tersendiri. Pengenalan diri sangat diperlukan
dalam mengembangkan potensi-potensi yang positif serta meminimalisasi
potensi-potensi yang negatif. Pengenalan diri dapat melalui (1) introspeksi
diri, (2) feedback (umpan balik) dari orang lain, dan (3) test psikologi.
1. Introspeksi
diri
Introspeksi diri merupakan peninjauan
terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri
atau disebut juga dengan mawas diri. Introspeksi diri dilakukan, karena kita
sendiri yang paling mengetahui diri sendiri, dengan mendengarkan suara hati
yang paling dalam dan dilakukan secara jujur. Misalnya: merenungkan diri
sendiri dan menuangkan potensi-potensi yang ada pada diri sendiri ke dalam tabel
kekuatan diri dan kelemahan diri. Dalam cara ini, individu meluangkan waktu
untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukannya, apa yang telah ia capai dan apa
yang ia miliki sebagai suatu kelebihan yang dapat mendukung dan apa yang ia
miliki sebagai suatu kekurangan yang menghambat tercapainya prestasi tinggi.
Cara ini efektif bila individu bersikap jujur, terbuka pada dirinya sendiri,
mau dengan sungguh-sungguh memperhatikan kata hati.
2. Feedback dari orang lain
Dalam cara ini seseorang meminta masukan berupa informasi
atau data penilaian tentang dirinya dari orang lain, apakah itu anggota
keluarga, teman bahkan lawan sekalipun. Masukan berupa umpan balik (feedback)
ini meliputi segala sesuatu tentang sikap dan perilaku seseorang yang
tampak/terlihat, dipersepsi oleh orang lain yang bertemu, berinteraksi
dengannya. Cara ini bertujuan untuk membantu seseorang menelaah dan memperbaiki
tingkah laku. Beberapa persyaratan suatu feedback efektif adalah :
a.
Diberikan secara
langsung kepada individu. Jika diberikan secara tidak langsung akan bermanfaat jika bukan berupa
penilaian.
b.
Pernyataan yang
disampaikan bersifat evaluatif dan deskriptif. Artinya akan lebih bijaksana mendeskripsikan
tingkah laku yang dinilai ‘positif’ maupun ‘negatif’ karena tidak memberi ‘cap’
tertentu kepada individu yang diberi umpan balik.
c.
Diberikan sesuai kebutuhan dan
dikehendaki penerima.
Artinya individu yang memang membutuhkan umpan balik akan lebih mudah menerima
penilaian tentang dirinya baik yang bersifat positif maupun negatif sehingga
memungkinkan perubahan yang signifikan pada tingkah lakunya.
d.
Disampaikan pada waktu yang
tepat. Artinya umpan balik
disampaikan kepada penerima pada saat penerima siap mendengarkan umpan balik,
pada waktu yang khusus, misalnya tidak dihadapan orang lain, dan pada waktu
yang tidak terlalu jauh dengan waktu terjadinya perilaku.
e.
Dicek pada si pengirim. Artinya umpan balik akan efektif bila penerima
umpan balik mencek apa yang ia ‘tangkap’ dari pesan penilaian yang disampaikan
oleh penerima.
f.
Dicek pada orang lain dalam
kelompok. Untuk meyakinkan
bahwa umpan balik yang diterima tidak salah dimaknakan, penerima bisa mencek
juga kepada sesamanya dalam kelompok.
3. Tes Psikologi
Pengenalan diri melalui test
psikologis dilakukan karena potensi diri yang dimiliki tidak diketahui oleh
kita sendiri dan orang lain. Tes Psikologi yang mengukur potensi psikologis
individu dapat memberi gambaran kekuatan dan kelemahan individu pada berbagai
aspek psikologis seperti kecerdasan/ kemampuan intelektual (kemampuan analisa,
logika berpikir, berpikir kreatif, berpikir, numerical), potensi kerja
(vitalitas, sumber energy kita, motivasi, ketahanan terhadap stress kerja),
kemampuan sosiabilitas (stabilitas emosi, kepekaan perasaan, kemampuan membina
relasi sosial), potensi kepemimpinan maupun kepribadian.
Cara yang paling cocok untuk lebih
mengenal diri sendiri adalah berpulang kepada diri sendiri. Namun yang jelas,
kita harus meluangkan waktu untuk melihat bagaimana keadaan diri kita yang
sebenarnya secara terbuka dengan menerapkan kejujuran.Tanpa kejujuran dan
keterbukaan, kita hanya menemukan topeng-topeng diri kita oleh karena itu
dengarlah suara hati nurani kita.
B. Konsep
Diri
Allah SWT berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا
بِأَنفُسِهِمۡۗ
”...sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu keadaan kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat Al-Qur’an di atas adalah hukum perubahan
dalam kehidupan di dunia. Oleh karenanya, keadaan anda tidak akan berubah dari
satu kondisi menjadi kondisi yang lain, kecuali dengan peran anda sendiri.
Sejauhmana
kita mengenal diri ini. Begitu banyak konsep-konsep jati diri menurut para
pakar pengembangan diri. Namun sebagai muslim yang baik kita kembalikan
pertanyaan, dan persoalan hidup ini kepada Al-Qur’an karena di sanalah kita
akan menemukan konsep diri yang sebenarnya menurut Islam. Menurut pandangan islam, pemahaman
konsep diri meliputi: Siapa Aku, untuk
apa aku ada, dan mau kemana aku. Hanya Allah yang tahu siapa kita,
untuk apa kita ada, dan mau kemana kita. Karena Allah yang menciptakan kita.
Dan kita sering tak sadar dalam mencari konsep diri sesungguhnya sebagai
manusia, selain hanya mengejar kesuksesan di dunia ini. Mari kita mulai mengenal
jati diri yang sesungguhnya.
1.
Siapa
aku.
Manusia adalah makhluk
yang diciptakan Allah dari saripati tanah yang diberi potensi hati, akal dan
jasad. Sehingga Allah menetapkan manusia sebagai makhluk tertinggi kedudukannya
di antara makhluk lainnya, karena manusia memiliki potensi tersebut. Allah berfirman,
ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ
مِن طِينٖ ٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ٨ ثُمَّ
سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ
وَٱلۡأَفِۡٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ٩
”Yang membuat
segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan
manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang
hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan
meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS.
As-Sajdah: 7-9)
Jadi terjawab sudah pertanyaan pertama, Aku adalah manusia yang diciptakan
Allah dari sebaik-baiknya ciptaan melaui permulaannya dari saripati tanah, yang
kemudian menjadikan keturunan ku dari saripati air hina, kemudian ditiupkan roh
kedalam jasad, dibuatnya kita mendengar, melihat dan merasakan melalui hati.
Jika
kita mengenal siapa kita, maka kita akan bersyukur atas penciptaan kita kepada
Allah SWT. Namun sayang kebanyakan kita lupa hingga sedikit sekali kita bersyukur
atas perlakuan Allah kepada kita. Kita adalah Manusia yang di ciptakan Allah
SWT dari air hina dan di beri potensi yang sangat luar biasa hingga kita
derajatnya lebih tinggi di bandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya.
2.
Untuk apa
aku ada.
Manusia diciptakan memiliki dua
tujuan dari Allah yaitu Sebagai Khalifah di muka bumi dan Beribadah kepada
Allah SWT. Tak ada tujuan lain, semua aktifitas kehidupan kita sebagai manusia
harus berlandaskan dua tujuan yang di berikan Allah tersebut. Dalam segala
hal, baik dari segi pekerjaan, bergaul, dan segala macamnya harus berlandaskan dua tujuan tersebut. Maka
dari itu kita diberikan Allah Akal, Hati dan Jasad agar mampu memikul beban
dari ke 2 tujuan tersebut agar berjalan dengan baik. Allah SWT berfirman,
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦
“Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzaariyat Ayat : 56).
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ
خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ
وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا
تَعۡلَمُونَ ٣٠
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para
Malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi. "Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah: 30)
Dengan demikian,
manusia adalah titisan dari kebaikan dan kesempurnaan-Nya, secara potensial
manusia adalah khalifah dan memiliki kewajiban beribadah kepada Allah SWT.
3.
Mau kemana aku ?
Bukan hanya
sebagai orang yang tidak sukses menjadi orang yang sukses, bukan hanya dari
miskin menjadi kaya, tetapi tujuan kita sebagai makhluk ciptaan Allah adalah
Kampung Akhirat, yang hanya ada dua pilihan surga atau neraka.
Kesuksesan,
kekayaan, banyak anak, dan mempunyai istri atau suami yang cantik atau ganteng
hanyalah hiasan-hiasan dunia yang semu dan akan kita tinggalkan, karena
sesungguhnya kita ini adalah makhluk yang akan kembali kepada Allah SWT.
Disanalah rumah kita sesungguhnya, di surga atau neraka. Sekarang pilihan
berada di tangan kita, kita mau memilih yang mana? dan pasti sebagian besar
manusia memilih surga. Allah memberikan hukum-hukumnya di dalam Al-Quran, akan
kita taati atau kita ingkari. Bila kita taati maka surga adalah rumah kita,
bila kita ingkari maka nerakalah rumah kita. Adapun Firman Allah dalam
meluruskan tujuan perjalanan kita di bumi adalah sebagai berikut.
أَمَّا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ
نُزُلَۢا بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٩ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ
فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ
أُعِيدُواْ فِيهَا وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ
تُكَذِّبُونَ ٢٠
”Adapun
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah
tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun
orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali
mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan
kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS.
As-Sajdah: 19-20).
Akhirnya
kita tahu siapa, dari mana, dan mau
kemana hidup ini. Manusia
yang berasal dari saripati air hina, di ciptakan sebagai khalifah dimuka bumi
untuk beribadah kepada Allah, agar mendapatkan kesenangan yang abadi di surga.
Bila
kita mengetahui konsep diri menurut Islam ini maka kita
akan menjalani kehidupan ini dengan tenang dan tawakal kepada Allah, apa yang telah kita dapat, apa yang telah kita lakukan adalah untuk
membantu sesama dan beribadah kepada Allah demi mencapai tujuan surga. Bila kita mengenali
dari apa kita di ciptakan maka kita akan menjadi manusia yang tak berjalan
dengan kesombongan di muka bumi dan senantiasa kita menjadi hambanya yang benar-benar bersyukur karena telah menjadi salah satu makhluk
yang sempurna di bandingkan makhluk Allah lainnya.
Menurut John Robert Powers
(1977), konsep diri adalah ‘kesadaran
dan pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliputi : Siapa aku, apa
kemampuanku, apa kekuranganku, apa kelebihanku, apa perananku, dan apa keinginanku.
Setiap orang perlu mengetahui dan
memahami dirinya serta mampu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuannya.
Setelah seseorang mengetahui dirinya, maka terbentuklah sikap dan perilaku
dalam menentukan arah dan prinsip hidup yang diinginkan. Seseorang yang
mempunyai konsep diri, dapat menilai dirinya dalam menjalankan peranan hidup
berkeluarga atau dalam masyarakat tanpa merasa lebih atau kurang terhadap
kemampuan dan bersikap kepada orang lain.
Konsep diri menjadi dasar
perilaku hidup sehari-hari yang disadari. Kesadaran dan pemahaman akan dirinya
semakin mencerminkan prinsip hidup dan kehidupannya. Dengan adanya pemahaman
terhadap konsep diri, diharapkan :
a.
Tumbuhnya kesadaran seseorang untuk
memahami dan mengenali dirinya serta mampu mengembangkan kemampuannya.
b.
Terbentuknya sikap dan perilaku
percaya diri serta prinsip hidup menuju kehidupan yang sejahtera. Sikap dan
perilaku percaya diri adalah kemampuan mengekspresikan diri atau mengemukakan
hak-hak pribadi serta mempertahankannya tanpa melanggar hak orang lain.
1. Dimensi
Konsep Diri
Calhoun & Acocella (1990) membagi
konsep diri ke dalam tiga dimensi, yaitu:
a.
Dimensi pengetahuan, yaitu deskripsi seseorang terhadap
dirinya. Misalnya Identitas formal (jenis kelamin, etnis, ras, usia, berat
badan, atau pekerjaan), kualitas pribadi, merupakan perbandingan antara diri
kita dengan orang lain, ekspresi verbalnya ‘saya adalah …………….. ‘
b.
Dimensi harapan, yaitu kepemilikan seseorang terhadap
satu set pandangan mengenai kemungkinan akan menjadi apa dirinya kelak.
Misalnya idealisme mengenai diri seseorang, karakteristik pribadi, tujuan dari
proses pembentukan jati diri seseorang, ekspreasi verbalnya ‘saya seharusnya dapat menjadi …………..’.
c.
Dimensi penilaian, yaitu penilaian tentang diri
sendiri. Hasil penelitiannya Marsh (1987) menyimpulkan bahwa evaluasi atau
penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri dalam rangka untuk memperbaiki
diri sendiri di masa mendatang akan memunculkan konsep diri yang sangat kuat.
2. Karakteristik
Konsep Diri Positif dan Negatif
Pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri bisa berada
diantara 2 titik, yaitu ; konsep diri negatif sampai konsep diri positif.
Dengan mengetahui posisinya, seseorang dapat menilai konsep dirinya mengarah
kemana.
a.
Konsep Diri
Negatif :
Menurut Brook dan Emmert (dalam Rahmat
: 1985), seseorang dikatakan memiliki konsep diri negatif, apabila :
·
Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau
naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu
tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi
hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha
untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep
diri negatif cenderung menghindari
dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai
logika yang keliru.
Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau
naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu
tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi
hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha
untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep
diri negatif cenderung menghindari
dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai
logika yang keliru.
·
Responsif
terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat
menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang seperti
ini, segala macam embel-embel yang menjunjung harga dirinya menjadi pusat
perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun
hiperkritis terhadap orang lain.
·
Cenderung
bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka
tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada
kelebihan orang lain.
·
Cenderung merasa
tidak disenangi oleh orang lain. Sehingga sulit menciptakan keakraban dan kehangan
dengan orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada
orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan
keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau
bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela atau bahkan
yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi (bermusuhan).
·
Bersikap pesimis
terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain
dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya melawan
persaingan yang merugikan dirinya.
Pendapat lain menyebutkan bahwa
individu yang memiliki konsep diri negatif memiliki ciri-ciri yaitu meyakini
dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa,
tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya
tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap pesimistik terhadap
kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai
kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri
negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan
akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain.
Konsep diri negatif dapat
menimbulkan penilaian diri yang negatif pula, di mana seseorang merasa sebagai
pribadi yang ‘baik’. Dengan demikian
ciri konsep diri negatif adalah : kurang pengetahuan tentang diri sendiri,
harapan-harapan yang tidak realistik dan terlalu tinggi, dan rendahnya
penghargaan terhadap diri sendiri.
b. Konsep
Diri Positif
Menurut Brooks dan Emmart (1976),
orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai
berikut:
·
Yakin akan
kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini mempunyai rasa percaya dirisehingga merasa
mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah,
dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
·
Merasa setara
dengan orang lain. Ia selalu merendah hati, tidak sombong, tidak mencela atau meremehkan
siapapun, selalu menghargai orang lain.
·
Menerima pujian
tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah
hati, jadi meskipun ia menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi
meremehkan orang lain.
·
Menyadari bahwa
setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak
seluruhnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan
menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh
masyarakat.
·
Mampu
memperbaiki diri karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang
tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi
dirinya sendiri sebelum menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk
mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima di lingkungannya.
Dasar konsep diri positif adalah
penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah
pada kerendahan hati dan kedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan.Orang
yang mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai konsep diri
yang positif.
Individu yang memiliki konsep diri
positif akan bersikap optimis, percaya diri sendiri dan selalu bersikap positif
terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialami. Kegagalan tidak
dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk
melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri positif akan mampu
menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang positif yang dapat
dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
3. Perubahan
Konsep Diri dan Penerapannya Dalam Kehidupan Sehari-hari
Seperti telah diuraikan di atas,
konsep diri merupakan informasi tentang diri seseorang, dan lebih bersifat
subyektif. Dalam konsep diri memuat
perkiraan mengenai apa yang akan terjadi di masa mendatang, dan berusaha untuk
bisa mewujudkannya. Perkiraan tersebut sebenarnya bisa negatif atau kurang
tepat, dan seseorang dapat mengubahnya sehingga menghasilkan konsep diri yang
baru, menyenangkan, dan berpengaruh bagi dirinya dan juga orang lain.
Dijelaskan oleh Al Hammadi (2010)
bahwa orang yang tidak memiliki konsep diri tidak akan bisa menetapkan arah
tujuan yang ingin dicapainya. Ia ibarat orang yang terkatung-katung dalam hidup
ini, dan akan mudah terpuruk oleh rintangan yang pasti dijumpainya. Bukan hanya
itu, perjalanan yang ditempuhnya pun dirasa semakin panjang. Bisa jadi ia tidak
sadar bila ia hanya berputar-putar di poros yang sama, tanpa melakukan
perjalanan apa-apa. Orang yang seperti ini akan melakukan pekerjaan banyak dan
panjang, tetapi hasilnya sama saja seperti memulai pekerjaan itu.
Di lain sisi, hubungan antara konsep
diri dan pola pikir sangatlah berbanding lurus antara satu sama lain. Hudha
(2012) menjelaskan bahwa pikiran seseorang seringkali tertutup oleh adanya
pengaruh paradigma yang salah yang diciptakannya sendiri, maupun dari pengaruh
lingkungan. Bagaimana paredigma yang salah yang kita ciptakan sendiri dapat
membelenggu pikiran sehingga kita tidak bisa melesat menuju kesuksesan ?
Banyak manusia kehilangan motivasi
melepaskan diri dari kegagalan dan kesulitan yang membelenggu pikirannya karena
pikirannya telah ter-“cover” oleh berbagai paradigma salah yang diciptakannya
sendiri. Beberapa paradigma salah yang merupakan selubung yang membelenggu
pikiran adalah :
·
Merasa diri kita orang gagal
·
Menganggap diri kita tidak mampu
·
Menganggap diri kita lemah
·
Menganggap diri kita bodoh.
Fenomena di atas dapat dijelaskan di dalam bagan sebagai
berikut.
Belenggu “Cover” Pikiran
![]() |
C. Pengenalan Potensi Diri
كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَا مِنۡ غَمٍّ
أُعِيدُواْ فِيهَا وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ٢٢
Setiap kali mereka
hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka
dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), "Rasailah azab yang
membakar ini" (QS. Al-Hajj: 22).
Who am I siapakah diri saya yang sebernarnya. Kita
mencoba menilai pada posisi mana prestasi, tingkat ketaqwaan, kesehatan,
kehidupan sosial, dan keharmonisan keluarga kita. Kita melakukan pencerminan
bagaimana perilaku kita dan tanggapan orang terhadap perilaku kita selama ini.
Semakin banyak yang diketahui orang
dan kita juga tahu, berarti semakin kita kenal diri (high self awarness). Maka, semakin sehat kepribadian kita. Dapat
kita analogikan seperti pinguin yang berjalan penuh percaya diri dengan segala
kelebihan maupun kekurangannya.
![]() ![]() ![]() |
Sebaliknya semakin banyak kita tidak
tahu tetapi orang lain tahu tentang kita, berarti semakin kita tidak kenal diri
(low self awarness). Hal ini dapat
dianalogikan seperti seekor anjing yang tidak sadar diri bahwa perilaku
menyalaknya sering mengganggu orang tidur dan begitupun kebiasaannya buang
kencing sembarangan sangat menjijikkan.
![]() |
Sedangkan semakin banyak yang kita
tahu tapi orang lain tidak tahu, atau semakin banyak yang kita sembunyikan,
maka lebih banyak energi kita habiskan untuk menutup rahasia tersebut. Ini
berarti energi yang tersisa untuk melangkah maju semakin sedikit. Kita seperti
seorang serdadu memanggul ransel yang sangat berat atau seperti seekor
kura-kura dengan cangkang besar di punggung sehingga langkah menjadi begitu
lambat.
![]() ![]() ![]() |
Melalui Johari Window pula kita akan
dapat melihat bahwa ternyata tidak ada satupun manusia yang tidak punya
kekurangan termasuk mungkin orang yang selama ini kita kagum atau bahkan iri
dengan segala keberuntungannya, dan begitu pula dengan diri kita. Oleh karena
itu tidak boleh ada seorangpun yang merasa rendah diri, tidak percaya diri,
ataupun minder.
Lebih jauh lagi kita harus hati-hati
dengan perasaan minder karena boleh jadi tanpa kita sadari telah menghina Allah
yang mencipta kita.
لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ
تَقۡوِيمٖ ٤
“Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(At-Tiin : 4).
Sebaliknya kita juga akan melihat
bahwa sejatinya setiap orang memiliki kelebihan, termasuk diri kita maupun
mungkin orang yang selama ini sering kita pandang rendah dan kita olok-olok
karenanya. Hal ini seharusnya menjadi kesadaran bahwa tidak selayaknya ada
manusia termasuk kita yang menjadi sombong karena kelebihan kita, baik
kecakapan rupa, fisik, kekayaan, kepandaian, gelar, maupun jabatan.
Di lain sisi Hudha (2012), menjelaskan
bahwa banyak dari manusia hidupnya cenderung mengekor pada orang lain. Mereka bekerja, berkarya, dan
melakukan berbagai tindakan bukan berdasarkan kehendak hatinya melainkan karena
pengaruh orang lain. Mereka menjadikan orang lain sebagai model yang sangat
memenuhi perilaku dan aktivitas hidupnya. Mereka lebih menyukai pengaruh orang
lain, sehingga mengabaikan nilai-nilai keyakinan dalam hatinya.
Berikut adalah
bagan kesalahan model hidup manusia :
KESALAHAN MODEL HIDUP
![]() |
|||
D. Tahapan
Menuju Sukses
Kesuksesan bukan sesuatu yang datang
tiba-tiba layaknya bintang jatuh dari langit, ia merupakan hasil dari sebuah
proses perjalanan yang bernama PERJUANGAN. Perjalanan tersebut melalui
tangga-tangga yang setiapnya haruslah dilewati. Tangga pertama adalah berinisiatif
melakukan perubahan diri, yang inisiatif tersebut kita wujudkan dengan
mengucap BASMALLAH: “Bismillahirrohmanirrohiim”.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Melalui
pengucapan Basmallah ini berarti kita janji melakukan perubahan yang perjanjian
tersebut bukan hanya dengan diri kita sendiri melainkan juga dengan Allah.
Selain itu dengan mengucap Basmallah yang kemudian kita yakini benar maka
kekuatan kita untuk melangkah akan berlipat tak terbatas karena kita dibantu oleh
kekuatan dari Sang Maha Kuat. Hambatan dan cobaan seberat apapun akan menjadi
ringan karena ketika kita yakin Allah Maha Besar maka semua di dunia termasuk
cobaan dan hambatan tersebut adalah kecil. Dalam proses perjalanannya pula kita
tidak perlu gelisah karena tidak pernah sendirian, kita bersama Sang Maha
Pengasih dan Penyayang.
وَإِن تَوَلَّوۡاْ فَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَىٰكُمۡۚ نِعۡمَ
ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ ٤٠
......maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu.
Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (Al-Anfaal : 40)
Tangga Kedua adalah evaluasi diri menanyakan
siapa diri kita sejatinya. Hal ini penting dilakukan untuk melihat posisi diri
kita melalui refleksi diri maupun masukan yang kita terima dari orang di sekitar
kita. Pengenalan potensi ini sangat penting karena apa yang kita tetapkan
sebagai cita-cita kita nantinya berpijak pada apa yang menjadi potensi kita.
Tangga Ketiga adalah melakukan analisa diri.
Kita melakukan analisa atas apa sebenarnya yang menjadi impian dan cita-cita
kita, menentukan apa sesungguhnya bentuk kesuksesan bagi kita, menetapkan koordinat tujuan hidup kita
(sebagaiman dalam kompas saat pelayaran). Tahapan ini penting karena bagaimana
kita bisa berjalan meniti hari (hidup) tanpa pernah tahu tujuan hendak kemana
kita.
Pada Tangga Terakhir berarti kita tinggal ikhtiar atau berjalan dan bekerja mewujudkannya.
Dalam proses ini sangat diperlukan kemampuan manajemen diri. Pengelolaan diri
agar langkah kita tetap berda pada jalur kesuksesan yang kita tuju. Manajemen
yang kita lakukan meliputi manajemen waktu sekaligus manajemen stress.
E. Empat Komponen Pendukung Perubahan
Dijelaskan oleh Hudha (2012) bahwa
melepaskan nilai realitas diri kemudian berpindah dalam nilai realitas pada
situasi kehidupan yang berbeda memerlukan persiapan yang matang dan waktu yang
panjang. Dikisahkan olehnya seorang Robert T. Kiyosaki, pengusaha dan penulis
buku “Chashflow Quadran”, memerlukan
waktu lebih dari 5 tahun untuk berhasil merasa nyaman berpindah ke dalam
quadran kehidupan yang berbeda. Kini dia sudah menjadi seorang milioner dengan
sumber penghasilan yang beragam dan memiliki kebebasan mengatur waktunya.
Menurut Kiyosaki, setidaknya
diperlukan persiapan dalam 4 komponen kehidupan yang dapat mempengaruhi
keberhasilan seseorang dalam perpindahan quadran kehidupan. Keempat komponen
ini harus dilatih dan dipersiapkan terus menerus agar memiliki keberanian dalam
melakukan perubahan nilai realitas diri kita dalam mewujudkan impian masa
depan. Empat komponen yang mempengaruhi perubahan adalah :
Komponen pendukung Perubahan Realitas Diri
|
![]() |
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
Al-Karim
Agustian, Ary Ginanjar. (2001). ESQ. Penerbit Arga. Jakarta
Hudha, Atok Miftachul. (2012). Menjadi Pribadi Inovatif, Kreatif, dan
Mandiri Yang Berspiritualitas.Aditya Media Publishing. Malang
Johnson, David W. (1993).
Reaching Out 5th ed. Allyn & Bacon. Boston
http://www.psikomedia.com/article/article/Psikologi-Kepribadian/ 1052/Aspek-aspek-Konsep-Diri/
Penetapan Tujuan
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ
نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا
تَعۡمَلُونَ ١٨
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyir: 18).
وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
٣٩
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain
apa yang telah diusahakannya (QS. An-Najm: 39).
Jika segalanya diciptakan dua kali, maka kesuksesan hidup
kitapun diciptakan dengan prinsip serupa. Sebelum melangkah menuju kesuksesan
maka harus kita rumuskan dulu apa arti dan bentuk kesuksesan bagi kita. Lebih
jauh lagi, kita ciptakan dulu tujuan akhir hidup kita, VISI HIDUP KITA.
Sebelum tubuh (fisik) kita terbentuk,
Allah telah menciptakan ruh (mental) kita terlebih dahulu, dan menanamkan pada
fisik kita saat kita berusia 40 hari dalam kandungan ibu. Belajar dari apa yang
diajarkan Allah tersebut, maka dalam segala aktivitas penciptaan yang manusia
lakukanpun juga demikian
Ambil contoh proses penciptaan rumah.
Sebelum kita membangun rumah, maka jauh sebelum itu kita telah memiliki
bayangan rumah seperti apa yang kita inginkan. Kita mempunyai bayangan sebuah
rumah yang punya tiga kamar ataukah empat kamar, tingkat satu atau tingkat dua,
model Spanyol dengan tiang-tiang yang besar, model tradisional Jawa, atau rumah
mungil yang sederhana dengan taman dan kolam kecil di depannya? Kita telah melakukan proses kreatif terlebih
dahulu, menciptakan bayangan rumah dalam imajinasi kita.
Setelah itu kita menuangkannya dalam cetak biru
desain rumah kita. Untuk memperjelas agar gambar bayangan rumah kita tersebut
lebih nyata, kita kadang meminta bantuan arsitek sekaligus untuk menghitung
bahan bangunan yang kita butuhkan. Semua ini diciptakan jauh sebelum pasak dipasang dan
pondasi dibangun. Jika tidak melalui proses ini, maka proses bongkar pasang
pasti sering terjadi karena yang dibangun oleh para tukang tidak sesuai harapan
kita. Biaya menjadi mahal dan waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama.
Baru setelah desain dibuat,
pembangunanpun dimulai dengan merujuk pada desain yang telah kita buat. Jumlah
dan ukuran kamar, letak dapur, bentuk tiang, luas taman dan semuanya dibangun
merujuk pada desain tersebut. Hingga jadilah rumah yang kita idamkan.
A. Apa Itu Tujuan Hidup ?
Ibarat perjalanan, kehidupan manusia
perlu diarahkan kesatu tujuan.tanpa adanya tujuan atau sasaran yang jelas maka
kita mudah menjadi bingung dan mudah terombang- ambing tidak menentu. Tujuan hidup adalah sesuatu yang ingin kita
raih dalam hidup,membuat hidup kita lebih tertantang, mendorong kita berbuat
sebaik mungkin, memungkinkan kita berhasil, memberi makna (arti) untuk
meningkatkan kualitas hidup kita dimasa mendatang, dan sebagai perencanaan
untuk menuju kepada tujuan-tujuan lainnya.
Apakah tujuan hidup sama dengan
cita-cita ? Tujuan hidup mirip dengan cita-cita, karena menyangkut sasaran yang
dicapai dimasa depan. Misalnya cita-cita atau tujuan hidup saya adalah menjadi
pedagang yang berhasil, atau menjadi guru, atau menjadi orang tua yang bisa mendidik
anak-anaknya menjadi anak yang soleh, dan lain sebagainya.Tetapi cita-cita
biasanya seringkali terlalu umum, tidak jelas atau kongkret, sedangkan tujuan
hidup biasanya dibuat secara lebih jelas, baik sasaran maupun jangka waktu
untuk mencapainya. Misalnya, dalam waktu 2 tahun saya ingin memiliki usaha
sendiri, atau tahun depan saya sudah harus dapat menjadi penari, dan lain
sebagainya.
B. Buat Apa Kita Memiliki Tujuan Hidup
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam
penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
1.
Tujuan-tujuan mengarahkan perhatian
2.
Tujuan-tujuan mengatur upaya
3.
Tujuan-tujuan meningkatkan persistensi
4.
Tujuan-tujuan menunjang
strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
Disamping itu manfaat penetapan tujuan antara lain :
1. Tujuan mempermudah proses pengambilan
keputusan.
Dengan menetapkan tujuan, kita bisa
menghemat waktu karena kita hanya berorientasi pada tujuan yang telah dirancang
dan ini akan membantu kita menentukan keputusan apa yang harus ambil sesuai
dengan prioritasnya.
2. Tujuan meningkatkan kesehatan fisik dan
mental.
Sering kali stres disebabkan oleh
kebingungan dan ketakutan.Namun dengan memiliki tujuan, kita dapat meminimalkan
kondisi tersebut. Penetapan tujuan dapat membantu seseorang dalam mengelola kondisi
fisik dan mental karena kejelasan apa yang akan dilakukan.
3. Tujuan bisa digunakan sebagai tolok ukur.
Tujuan sangat diperlukan sebagai tolok
ukur atau standart pencapaian segala kegiatan yang telah dilakukan
seseorang.Tujuan juga dapat menciptakan kepuasan psikologis orang akibat
perasaan mampu dan berguna yang muncul saat melakukan sesuatu sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai.
4. Tujuan menghasilkan kegigihan.
Tujuan yang kita tetapkan akan
menumbuhkan semangat dan kegigihan dalam melaksanakan setiap aktifitas dalam
kehidupan. Tujuan akan senantiasa memberikan dorongan atau motivasi kita dalam
berperilaku sehingga apa yang kita kerjakan menjadi terarah.
5. Tujuan membuat kehidupan menjadi seimbang
Makin dewasa seseorang, tujuan yang ingin
dicapai umumnya lebih dari satu bidang.Misalnya dibidang pekerjaan, rumah
tangga, dibidang sosial, dan lain sebagainya. Tujuan yang sukar dicapai disuatu
bidang dapat diseimbangkan dengan menetapkan tujuan dibidang lain yang lebih
mudah dicapai. Dengan demikian kita tetap dapat memiliki semangat untuk
mencapai keberhasilan di bidang-bidang yang dapat kita raih.
6. Tujuan membantu meningkatkan rasa percaya
diri
Bila seseorang telah menetapkan tujuan
dan dengan usaha keras mencapainya, maka ia akan bangga dan terdorong untuk
selalu melakukan tindakan yang lebih baik dari yang pernah dicapai atau
diraihnya.
C. Langkah-Langkah dalam Menentukan Tujuan Hidup
Anda
Hanya sekitar 4-5 % orang yang
menetapkan tujuan dalam hidupnya, padahal lebih dari 90% orang yang berhasil
menetapkan tujuan dapat mencapainya. Penetapan tujuan adalah cara yang
cemerlang untuk meningkatkan peluang sukses dalam melakukan perubahan dan
melaksanakan kegiatan, sehingga sangat penting bagi setiap orang untuk
mempunyai dan menetapkan tujuan (hidupnya).
Penetapan tujuan ini penting karena
perjalanan hidup sekaligus perjalanan menuju sukses adalah ibaratnya adalah
suatu pengembaraan yang panjang. Dapatlah dibayangkan seseorang yang melakukan
pengembaraan tanpa tahu kemana tujuan perjalanannya, maka orang tersebut hanya
akan terus berjalan kebingungan tanpa arah. Tanpa tujuan hidup yang jelas,
banyak sekali orang yang beraktivitas dengan luar biasa, namun kemudian
terjerembab dalam kesadaran bahwa ia berada di ujung jalan yang salah. Ujung
jalan yang bukan ia impikan. Banyak orang yang mendapatkan diri mereka mencapai
kemenangan (kesuksesan) yang ternyata hampa, keberhasilan yang diperoleh dengan
mengorbankan hal-hal yang tiba-tiba mereka sadari ternyata jauh lebih berharga
bagi mereka. Banyak pula orang yang masih saja berkutat dengan kebingungannya
mau kemana dia akan melangkah. Hingga usiapun merambat, hari-hari hilang dalam
kesia-siaan. Tawapun menjadi tiada guna.
Sebaliknya melalui visi hidup yang
jelas, kita akan tahu kemana melangkah dan dimana saat ini berada. Kita bisa
menentukan prioritas dari setiap langkah kita, mengevaluasinya setiap hari,
sesuai dengan tujuan kitakah atau menyimpang dan bertemu ujung jalan yang buntu
dan sesat.Setiap kemajuan dalam peradaban manusia, penemuan-penemuan besar
maupun kecil di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pada awalnya
hanya merupakan sebuah gagasan yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah
kenyataan.
Tujuan adalah sesuatu yang lebih dari
impian.Ia adalah impian yang dilaksanakan dan diwujudkan. Tujuan lebih dari
sekedar pernyataan tentang suatu keinginan, tetapi sesuatu yang diusahakan supaya
tercapai melalui perencanaan yang matang.
Tanpa
tujuan, seseorang hanya akan mengembara, berkeliaran dalam kehidupan ini. Ia semata-mata bergerak tanpa mengetahui
kemana, karena itu ia tak akan sampai di mana-mana.
Tak ada orang yang mencapai sukses
tanpa ada tujuan. Perlu diketahui dengan
pasti dan jelas ke mana kita pergi dan tujuan apa yang hendak kita capai. Berkaitan dengan tujuan-tujuan ini, yang
penting bukanlah di mana kita sekarang, tetapi apa yang ingin kita capai.
Kita semua mempunyai hasrat dan
keinginan. Kita semua ingin melaksanakan apa yang kita suka melaksanakannya.
Akan tetapi, hanya beberapa saja yang bisa terpenuhi. Ada beberapa langkah yang
dapat kita lakukan dalam menetapkan tujuan, antara lain:
1. Mulai Dengan Bermimpi Dan Menuliskan Impian
Anda
Anda mesti meluangkan waktu untuk
membangun impian. Jika Anda tak punya impian, akan sulit untuk menentukan
tujuan dalam hidup Anda. Sayangnya, kebanyakan orang jadi kehilangan kemampuan
untuk bermimpi tentang apa yang paling diinginkan dan membangun motivasi untuk
pencapaian. Jadi, untuk memulainya, luangkan waktu untuk bermimpi tentang apa
yang paling Anda inginkan, Anda ingin seperti apa, atau bahkan tentang apa yang
ingin Anda miliki. Begitu Anda menemukan impian Anda, selanjutnya tuliskan
semuanya dalam kertas.
2. Tanya ‘Kenapa?’
Setelah Anda menuliskan semua impian
Anda, baca sekali lagi apa yang telah Anda tulis. Saat membacanya kembali,
berhentilah pada tiap-tiap impian dan tanyakan ‘kenapa Anda mengimpikannya?’. Kenapa impian ini penting buat Anda?
Jika Anda tak dapat menjawabnya dalam beberapa kalimat, kemungkinan itu bukan
hal yang benar-benar Anda impikan, dan akhirnya harus Anda coret dari daftar.
Banyak orang yang sebenarnya punya
impian yang dibentuk oleh orang lain. Jadi penting untuk menemukan apa benar, apa yang ingin Anda capai adalah
tujuan Anda atau tujuan orang lain. Saat merancang tujuan, jika ternyata impian dan tujuan
itu bukan yang Anda inginkan, coret saja dari
daftar.
3. Temukan
Bagaimana Tujuan Ini Akan Mempengaruhi Kehidupan Anda
Setelah Anda membuat daftar yang benar
tentang impian Anda, lihat kembali apa yang tertinggal. Masukkan impian yang
tertinggal ini ke dalam daftar dan pikirkan bagaimana ini akan membawa pengaruh
dalam hidup Anda. Apakah mencapai tujuan ini akan membuat Anda lebih bahagia
daripada sekarang? Akankah memperbaiki rasa aman dan hubungan Anda dengan orang lain? Apa akan
berpengaruh pada keuangan Anda secara positif? Jika ternyata impian ini tak
membawa pengaruh positif dalam kehidupan Anda, mungkin seharusnya
dikesampingkan. Jika Anda menemukan pencapaian Anda akan membawa pengaruh
positif dalam kehidupan Anda, sebaiknya memiliki motivasi untuk mengejar dan
mencapai semua tujuan ini.
4. Kategorikan
Impian Anda
Sekarang persempit lagi daftar untuk
menemukan tujuan sejati, bukan hanya keinginan atau angan-angan Anda.Pada titik
ini Anda perlu mengkategorikan tujuan ke dalam berbagai golongan, tergantung
dari seberapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mencapainya. Anda akan
memiliki tujuan jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari dua tahun
untuk mencapainya, tujuan jangka pendek yang butuh waktu sebulan atau lebih
untuk meraihnya, dan tujuan yang bisa tercapai sewaktu-waktu dari jangka waktu
sebulan hingga setahun. Tapi ingat, Anda harus punya tujuan besar, dan pastikan
memiliki tujuan dalam setiap kategori sehingga bisa secara terus-menerus
berupaya meraih tujuan itu dalam kehidupan Anda.
5. Rencanakan
Bagaimana Cara Meraihnya
Anda membangun tujuan Anda, kini Anda
perlu membuat rencana bagaimana akan
mencapainya. Anda harus selalu berusaha mewujudkan tujuan Anda, bahkan jika itu
hanya butuh sebuah langkah kecil untuk mencapainya.Pastikan tidak berlebihan
dalam mengupayakan mewujudkannya. Sesekali dibutuhkan manajemen dan motivasi
sebagai bagian rencana Anda dan untuk melengkapi tugas ini, tapi itu pasti akan
jadi usaha yang berharga. Buat grafik pencapaian untuk membantu Anda mencapai
tujuan, dan saat Anda sudah mencapainya beri tanda dalam grafik tersebut.
6. Luruskan Pikiran Kita
Sesungguhnya, bayangan pikiran yang dimiliki
setiap orang mengenai dirinya, mengenai apa yang akan dilakukan, memberikan
pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan pribadi. Seseorang bisa bangkit dari
keterpurukan juga karena pikirannya. Jika pikirannya negatif terhadap dirinya,
maka ia tidak akan dapat bangkit dari keterpurukan. Akan tetapi jika pikirannya
positif terhadap dirinya, maka sesulit apapun ia akan bangkit karena dapat
melihat sisi positif dari setiap masalah yang dihadapinya.
Kita dapat
meluruskan pikiran dengan cara memberi kebahagiaan, serta menjadikan kita mampu
mengatasi kecemasan dan kesusahan. Dengan demikian, kita akan hidup dengan
senang dan bahagia meskipun diliputi masalah.
7. Hilangkan
Penyakit Hati
Penyakit yang menjalar dalam diri manusia
adalah penyakit iri. Orang yang berpenyakit iri, akan lebih menyakiti dirinya
sendiri dari pada menyakiti orang lain. Orang yang iri ini akan menyiksa diri
sendiri karena satu hal yang bukan miliknya.
Allah SWT berfirman,
أَمۡ
يَحۡسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۖ فَقَدۡ
ءَاتَيۡنَآ ءَالَ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَءَاتَيۡنَٰهُم
مُّلۡكًا عَظِيمٗا ٥٤
”Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad)
lantaran karnia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah
memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan
kepadanya kerjaaan yang besar” (An-Nisa’:
54)
Rasulullah SWT pernah bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh
ini ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila
ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim)
Sifat iri telah banyak terjadi pada
kelompok-kelompok masyarakat. Banyak orang yang merasa kecewa saat melihat
orang lain mendapatkan kenikmatan, dia merasa
bahwa Allah tidak adil dengan pembagian rezeki. Orang yang dalam hatinya
tertanam sifat iri, tidak akan pernah puas dengan nikmat yang diperoleh dalam
bentuk apapun. Jangan pernah iri krpada seseorang yang telah Allah berikan
karunia-Nya. Dengan iri, sesungguhnya kita meyalahkan keadilan Allah azza wa
jalla, Allah Maha Tinggi dari semua itu. Jika kita iri, maka seakan-akan kita
mengatakan kapada Allah, ”Engkau telah memberi kepada seseorang yang tidak
berhak menerimanya dan Engkau malah meninggalkanku.”
Jangan sampai kita menyiksa diri
dengan sifat iri karena akan membuat kita gelisah, cemas dan tidak nyaman dalam
menjalani kehidupan. Jangan pernah membenci seseorang yang Allah telah
memberikan kepadanya sebagian dari karunia-Nya. Rezeki masing-masing orang
sudah diatur oleh Allah Yang Maha Adil.
8. Berusaha
dan Berdoa
Usaha atau
ikhtiar adalah hal yang penting dalam kehidupan kita. Usaha atau ikhtiar wajib
dilakukan oleh setiap manusia karena tidak setiap kebutuhan manusia dapat
diperoleh tanpa usaha secara langsung. Doa juga menjadi bagian penting dalam
setiap usaha manusia. Berdoa berarti kita mengetahui bahwa Allah yang mnentukan
segala usaha yang kita lakukan. Doa sebagai suatu permohonan dan pujian dalam
bentuk ucapan dari hamba yang rendah kedudukannya kepada Allah Yang Maha Tinggi
Allah berfirman,
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا
دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S Al-Baqarah: 186)
Doa dan usaha
saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Sehingga ada yang mengatakan ”doa
tanpa usaha akan sia-sia, begitu juga usaha tanpa doa juga akan sia-sia”.
Manfaat doa sangat besar dalam kehidupan manusia, dengan berdoa pun kita bisa
lebih dekat dengan Allah swt.
Berdasarkan langkah-langkah di atas, dapat kita simpulkan dengan sebutan SMART.
- S - Specific (terperinci)
- M - Measurable (dapat diukur)
- A - Actionable (bisa dilakukan)
- R – Reasonable (alasan untuk
melakukan)
- T - Time-bound (memiliki batas
waktu)
Tujuan harus
ditetapkan, kemudian dibuat perencanaan - perencanaan untuk mencapinya. Perencanaan yang baik akan membantu kita
mencapai tujuan tersebut. Dua langkah
berikut ini mungkin akan membantu:
Pertama;
lukiskan (wujudkan dalam angan-angan) hari depan Anda dalam beberapa bidang
kehidupan, misal kehidupan pendidikan, pekerjaan, rumah tangga, dan
sosial. Membagi kehidupan dalam
bidang-bidang tersebut akan membantu kita agar tidak bingin dan mendapat
pandangan yang jelas dan menyeluruh.
Kedua; usahakan
memberi jawaban yang jelas dan seksama atas pertanyaan-pertanyaan: “Apa yang
hendak saya capai dalam hidup saya?”
“Saya ingin menjadi apa?” “Apa yang bisa memuaskan saya?”
Setelah
menetapkan tujuan, maka langkah selanjutnya melakukan analisa kondisi diri.
Analisa dilakukan untuk melihat potensi positif yang kita miliki maupun sumber
dukungan dari luar yang dapat membantu kita dalam mencapai tujuan hidup,
sekaligus juga melihat potensi negatif ataupun hambatan dari lingkungan yang
bisa menghalangi kita dalam mewujudkan tujuan hidup. Melalui analisa ini kita
dapat merancang langkah-langkah (plan of action) yang paling efektif
untuk mencapai kesuksesan yang menjadi tujuan hidup kita. Secara ringkasnya
analisa dilakukan atas kondisi internal dan eksternal.
Analisa kondisi
internal meliputi kekuatan dan kelemahan yang berasal dari diri kita sendiri,
baik berupa : bakat, minat, motivasi, kondisi fisik, ataupun karakter
kepribadian tertentu. Kekuatan (strength) adalah potensi positif yang
kita miliki dan dapat kita jadikan sumber daya untuk mewujudkan tujuan hidup
kita. Contoh dari kekuatan misal adalah bakat menulis, fisik yang sehat atau
tubuh yang tinggi, atau sikap kepemimpinan. Sedangkan kelemahan (weakness)
adalah kekurangan-kekurangan dalam diri yang dapat menghambat kita dalam
mewujudkan tujuan hidup. Contoh dari kelemahan adalah : sikap pemalas,
kurangnya minat, atau adanya penyakit tertentu pada tubuh.
Sedangkan
analisa kondisi eksternal meliputi menaksir dukungan (supports) dari
lingkungan yang dapat kita manfaatkan, sekaligus hambatan (barriers) yang
mungkin menghalangi kita. Contoh dari dukungan misalnya adalah : keuangan
keluarga yang memadai, adanya beberapa saudara yang punya minat sama dalam hal
musik misalnya, maupun keluarga yang demokratis dan selalu mendukung putusan
kita. Sedangkan hambatan adalah hal-hal sebaliknya, contohnya bisa berupa :
kondisi keuangan keluarga atau orang tua yang tidak menyetujui cita-cita kita.
Selanjutnya
sesuai tujuan dari analisa kondisi diri, maka langkah kita berikutnya adalah
mencari solusi (solution) untuk mengatasi kelemahan dan hambatan
lingkungan tersebut sekaligus langkah-langkah untuk meningkatkan kekuatan
sebagai sarana mewujudkan tujuan hidup kita. Kita menyusun rencana perjalanan
menuju kesuksesan hidup kita.
Kelihatannya
begitu mudah untuk melaksanakan semua tips di atas, tapi yang terpenting dari
segalanya hanya tindakan yang akan membawa hasil buat kita. Selamat Mencoba!
D. Hal-hal yang akan menghambat orang
mencapai tujuannya.
Kita semua
mempunyai hasrat dan keinginan. Kita semua ingin melaksanakan apa yang kita
suka melaksanakannya. Akan tetapi, hanya beberapa saja yang bisa terpenuhi.Ada
beberapa hal yang dapat menghambat orang mencapai dan melaksanakan
keinginannya. Hal-hal dibawah ini akan
menghambat orang mencapai tujuannya.
1. Kurang menghargai diri sendiri. Banyak orang muda menghancurkan hasrat
keinginannya dengan kurang menghargai diri sendiri, ”Saya ingin menjadi dokter,
akan tetapi saya tidak pandai”.
2. Ingin aman dan terjamin. Menggunakan senjata jaminan untuk
membunuh hasrat dan impiannya, “Saya sudah sangat senang dengan keadaan saya
sekarang”. Setiap manusia menginginkan
kehidupan yang nyaris tanpa ada kesusahan, kesedihan, kekecewaan serta
kegagalan. Banyak orang yang merasa takut jika gagal dalam melakukan segala
sesuatu sehingga terkadang membuatnya takut untuk melangkah. Perlu diketahui,
bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sehingga manusia seharusnya lebih
bijaksana dalam menyikapi kehidupan ini. Kita pasti ingin kehidupan ini
berjalan dengan semestinya atau berjalan sesuai dengan kehendak kita.
3. Persepsi negatif tentang persaingan. “Bidang itu sudah penuh”. “Orang-orang di
bidang itu sangat berhasil”, adalah kata-kata yang akan cepat membunuh hasrat,
merasatidak mampu dan takut bersaing.
4. Didikte orang tua. “Saya sungguh ingin
menjadi sesuai dengan
harapanku, akan
tetapi orang tua menginginkan saya menjadi sebagaimana keinginan mereka”. Kurang sabar menjelaskan keinginan
pada orang tua, hanya menurut tanpa penjelasan.
5. Tanggung jawab keluarga. “Memang baik seandainya saya merubah
pekerjaan yang telah lima tahun saya tekuni, tetapi sekarang saya tidak bisa
berubah haluan”. Tanggung jawab terhadap
keluarga sering membuat orang tidak berani mengambil resiko.
Disamping
berbagai hal yang telah tersebut diatas, ada hal – hal lain yang menyebabkan
seseorang menghentikan pencapaian tujuan atau menetapkan tujuan, antara lain:
1. Menunggu sesuatu terjadi. Seringkali
kita tergoda untuk menelantarkan sesuatu atau mengalihkan tanggungjawab kita
kepada orang lain dan menunggu apa yang akan terjadi
2. Tidak mengetahui hal yang kita inginkan.
Terkadang kita lebih mengetahui apa yang orang lain inginkan daripada apa yang
kita inginkan, sehingga pada saat kita akan menentukan tujuan kita mengalami
kesulitan.
3. Berpikir bahwa kita akan mengerjakan
seluruh kegiatan sekaligus. Memandang aatau berpikir bahwa kegiatan yang
akan kita lakukan merupakan suatu proyek besar dan berat dapat membuat kita
tidak berani memulai mengerjakannya.
4. Takut gagal. Beberapa diantara kita
memiliki keyakinan bahwa kita harus sempurna setiap saat dan kegagalan adalah
hal yang buruk. Padahal kegagalan sering memberikan pelajaran dan inspirasi
keberhasilan dan setiap orang mempunyai kelemahan-kelemahan.
5. Membandingkan diri dengan orang lain.
Membandingkan dengan orang lain dapat membuat kita lebih termotivasi jika kita
dapat mengelola dan mengetahui kekuatan dan kelemahan kita dengan baik. Namun
jika perbandingan tersebut justru membuat harga diri kita turun dan melemahkan
motivasi maka hal ini akan berakibat kurang baik dalam menetapkan tujuan.
6. Lupa melibatkan dan mempengaruhi orang
lain dalam membuat dan melaksanakan rencana. Setiap orang membutuhkan
kehadiran orang lain untuk melaksanakan kegiatan yang telah kita rencanakan,
sehingga melibatkan dan mempengaruhi orang lain (lingkungan) perlu kita lakukan
karena kadang dari orang lain kita mendapatkan masukan yang berharga untuk
melangkah.
7. Gagal mengatur waktu. Hal lain yang
sering menghalangi kita mencapai tujuan adalah memprioritaskan dan mengatur
waktu yang kita miliki dengan baik.
8. Merasa tidak memiliki kemampuan. Kita
sering kurang percaya diri karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk
mencapai tujuan. Dalam berbagai kasus kita tidak dapat mencapai tujuan karena
kita tidak mampu mengenali kemampuan berharga yang kita miliki.
9. Kurang kemauan. Memiliki keberanian
dan kemauan untuk mencapai keinginan tidak selalu mudah terutama ketika ada
rintangan, sehingga kita perlu menangani rasa takut dan membangun kemauan yang
tinggi dalam melakukan sesuatu.
Dalamilah
makna-makna tujuan Anda. Jika Anda
memusatkan diri kepada hasrat, keinginan dan cita-cita Anda, Anda akan mendapat
kekuatan fisik dan semangat yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Disamping itu, tujuan itu sendiri akan
bekerja di dalam bawah sadar Anda.
Tujuan tersebut akan memberikan pengarahan-pengarahan yang jelas dan
tepat kepada Anda dalam segala kegiatan.
Tujuan tersebut membuat Anda peka terhadap semua tenaga yang mencoba
mempengaruhi Anda.
Oleh karena itu
mari mulai sekarang kita tetapkan tujuan akhir hidup kita dengan menjawab
pertanyaan : Ingin jadi manusia seperti apa aku ketika di hadapan Allah kelak?
Setelah anda
mendapatkan jawabannya, mulailah berjalan menuju jawaban anda (tujuan akhir)
tersebut dengan menjadikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikutnya ini
sebagai batu loncatan : Ingin dikenang seperti apa aku ketika meninggal kelak? Ingin jadi seperti apa aku 30
tahun kedepan? Ingin jadi seperti apa aku lima tahun kedepan? Dan ingin jadi
seperti apa aku esok hari saat bangun tidur?
Selanjutnya agar
impian tersebut tidak sekedar menjadi angan maka tiada jalan lain kita harus
bangun, melangkah, bekerja keras, berusaha mewujudkannnya. Di dalam proses
tersebut, jang lupa agar tetap berada di jalur yang menjadi tujuan hidup anda,
ukur dan nilailah setiap langkah yang anda lakukan, “Apakah membawa aku ke
tujuan?”. Jika
jawabannya “tidak”, maka berhenti dan tinggalkanlah. Jika jawabnya “Iya”,
maka teruskan langkah anda.
Disamping itu
ada beberapa prinsip yang harus kita ingat saat kita menetapkan tujuan yaitu :
1. Who am I now?
2. What do I want to be?
3. What is the right thing to
do?
E. Ikutilah Kata Hati Yang Menghidupkan Jiwamu
Dunia telah
menghadirkan fakta sejarah bahwa orang-orang yang sukses, para pembaharu
kehidupan, pribadi-pribadi unggul, dan mereka yang menghasilkan karya luar
biasa bagi kehidupan adalah orang-orang yang memahami jati dirinya. Mereka
mengagumi kehidupannya dan berorientasi pada kata hatinya, meyakini nilai-nilai
di dalam dirinya dibandingkan dengan pengaruh orang lain dan berani
memperjuangkan nilai-nilai baru yang diyakininya untuk menciptakan masa
depannya sendiri maupun mempengaruhi masa depan kehidupan.
Contoh yang bisa
kita tauladani adalah sosok Rosulullah Muhammad SAW ketika melihat sosok
pribadi beliau yang sungguh mulia. Bagaimana tidak, seorang yahudi tua dan juga
buta yang selalu menghina beliau SAW bisa masuk Islam dikarena kemuliaan
akhlaknya yang lahir dari hati nurani yang bening ?
Dikisahkan dalam
sejarah bahwa yahudi tua yang selalu menghina Rasulullah SAW di pojok pasar dengan ucapan yang sangat tidak sopan bisa
masuk Islam justru setelah Rasulullah SAW
telah wafat. Beliau SAW berpesan pada sahabatnya Abu Bakar agar tetap memberi
makan kepada yahudi tua dan buta itu setiap hari. Hingga pada suatu saat,
yahudi ini pun bertanya kepada orang yang memberi makan “siapakah engkau? kau
bukanlah orang yang biasanya memberikan aku makan!” Abu Bakar pun menjawab
“dari mana kau tahu aku bukanlah orang yang selalu memberikan engkau makan“?
“padahal engkau tidak bisa melihat”. Yahudi itu pun menjawab “orang yang
memberikan aku makan setiap harinya itu tidak hanya sekedar memberikan aku
makan tapi juga menyuapiku”. Abu bakar pun tak kuasa menahan linangan air mata
yang mengalir di sela-sela pipinya dan seraya
mengatakan bahwa “tahukah engkau siapa yang setiap hari memberikan
engkau makan ?” Yahudipun menjawab “aku tidak tahu”. Abu Bakarpun mengatakan “
dialah orang yang setiap hari kau hina-hina. Kini Dia telah wafat dan
mengamanahkan padaku agar tetap selalu memberimu makan setiap harinya”.
Mendengar perkataan abu bakar tersebut, Yahudi ini pun ikut menangis seraya
berkata “sungguh aku telah melakukan kesalahan” dan akhirnya memutuskan dirinya
untuk masuk Islam.
Berdasarkan
pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Rosulullah SAW memiliki tujuan dalam
hidup yang sangat jelas dalam mewujudkan visi dan misi dakwah Islam. Rosulullah
SAW mampu berpikir sangat jauh ke depan bahwa setiap kebaikan yang diperbuat,
cepat atau lambat akan menuai hasil walaupun
Beliau SAW telah tiada.
Berikut adala
kiat-kiat yang perlu diperhatikan agar tujuan hidup kita dapat berjalan sesuai
jalur yang telah ditetapkan :
F. Tips
Mewujudkan Tujuan Hidup
1.
Mulailah berjalan ke arah tujuan Anda
yang terakhir dengan menjadikan segala apa yang Anda lakukan sebagai batu
loncatan untuk melangkah ke depan, ke arah yang tepat. Ukur dan nilailah setiap yang Anda lakukan,
“Apakah membawa saya ke tujuan?” Jika jawabnya “Tidak”, tinggalkan! Jika jawabnya “Ya”, jalan terus!
2.
Mawas dirilah. Tentukan hal-hal khusus
apa yang Anda ingin laksanakan untuk membuat Anda lebih efektif. Tekuni “hal-hal kecil” agar Anda siap untuk meraih “yang
besar”.
3.
Berusaha Cepat Bangkit
Seorang mukmin tidak akan
jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya,” (HR. Muslim)
Jangan ukur seseorang dengan
menghitung berapa kali dia jatuh, ukurlah ia dengan beberapa kali dia sanggup
bangkit kembali. Seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan
putus asa. Menyedihkan mendengar bahwa orang mereka setelah sekali dua kali
gagal, memilih untuk menetap ditempat dan akhirnya mati sebagai orang yang
sebenar-benarnya gagal, tersungkur, dan tidak bangkit lagi.
Kuncinya adalah menarik hikmah, dan
jangan menyerah. Orang gagal adalah orang yang malas mengulangi dan mencari
jalan “baru” untuk menemukan tujuan, karena diantara resep sukses adalah
mengulang-ulang proses sukses kecil berkali-kali untuk meraih sukses yang lebih
besar.
4.
Milikilah Kesabaran dan Ketabahan. Kesabaran menjadikan
seseorang mampu bertahan dalam menjunjung prinsipnya, meraih cita-citanya dan
menempuh jalan yang telah dirintisnya. Sabar bila dijalani sebagaimanan
mestinya akan mampu mengubah musibah menjadi karunia, tantangan menjadi
peluang, hambatan menjadi kesempatan, keterbatasan menjadi anugerah. Oleh karena itu, “Kenalilah Allah saat suka,
maka Dia akan mengenalmu saat susah.” Demikian pesan abadi Nabi untuk sadar dan selalu sabarkan diri.
Selain kesabaran diperlukan juga
ketabahan, yakni kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah
terjatuh. Seberapa jauh Anda jatuh tidak menjadi masalah, tetapi yang penting
seberapa sering Anda bangkit kembali. Jika Anda terus mencoba setelah mengalami
belasan kegagalan, ini berarti benih kejeniusan sedang tumbuh dalam diri Anda.
Berikut ini merupakan kisah inspiratif
dalam berfikir kreatif dan tidak mudah putus asa untuk meraih setiap impian
yang ingin diwujudkan.

Selalu Ada Cara Yang Lebih Baik
Pada suatu ketika, seorang laki-laki yang buta duduk di
antara dua telapak tangannya. Di
samping terpampang papan yang berbunyi, “saya buta, saya mengharap anda
membantu saya”. Setelah itu, ada seorang laki-laki lewat di depannya. Dia
melihat topi tersebut tidak berisi apa-apa kecuali hanya beberapa uang receh.
Kemudian laki-laki tersebut menaruh uangnya di topi laki-laki buta tersebut.
Dengan tanpa meminta izin, laki-laki tersebut mengambil papan yang ada di sampingnya
dan menulis tulisan yang berbeda dari tulisan yang terdahulu, kemudian
mengembalikannya pada tempatnya semula. Setelah itu, laki-laki tersebut
melanjutkan perjalanannya.
Laki-laki buta tersebut memperhatikan bahwa
ternyata topinya telah penuh dengan uang receh dan uang kertas. Ia kemudian
menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Setelah itu, ia bertanya kepada seorang
pejalan kaki tentang apa yang tertulis di papan yang berada di sampingnya. Dia
mendapati tulisan di papan tersebut berbunyi, “Kita berada di musim semi,
namun saya tidak mampu melihat keindahan.”
Apakah ada perbedaan antara papan yang pertama
dan papan yang kedua? Tentu saja ada perbedaan antara keduannya, meskipun
keduannya sama-sama menunjukkan kepada pemiliknya yang buta. Apakah anda
merasakan perbedaannya?
Ubahlah selalu cara Anda jika Anda ingin
semuannya tidak biasa-biasa saja. Selalu ada cara yang lebih baik!
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Adil Fathi.
2004. Membangun Positive Thinking Secara Islam. Gema Insani Press:
Jakarta.
Covey, Stephen.
1997. Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat
Efektif.Covey Leadership Center, Inc.
Helmi Fadhila A
& Ramdhani N. 2004.Modul Living
Skills 2004. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta
Izzuddin, Sholikhin
Abu. 2006. Zero To Hero: Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa.
Pro-U Media: Yogyakarta.
Johnson, David W. (1993). Reaching Out 5th ed. Allyn & Bacon.
Boston
Jackman, Ann. 2006. How to Get Things Done. Esensi: Jakarta
MANAJEMEN WAKTU
Tujuan kita mengelola (manajemen)
waktu adalah agar hidup kita menjadi lebih efektif dan efisien serta
berdayaguna secara optimal setiap potensi kita miliki. Banyak hal yang ingin
kita lakukan dalam mulai dari ibadah (ritual agama), belajar, menyalurkan hobi,
bermain, berorganisasi maupun bersenda gurau dengan keluarga dan teman. Akan tetapi kita juga mesti ingat bahwa waktu
yang diberikan Tuhan hanya 24 jam dalam sehari, sehingga perlu adanya
pengelolaan yang baik terhadap waktu.
Waktu mengalir bak air yang tidak
dapat dibendung dan tidak dapat pula ditabung.Yang perlu kita lakukan adalah
mengalokasikan waktu tersebut untuk sejumlah kegiatan dan mengontrolnya agar
penggunaannya sesuai dengan yang kita rencanakan, sehingga tidak ada waktu yang
berlalu tanpa kita sadari.Hal ini tidak mudah karena membutuhkan suatu
keterampilan dalam mengelola waktu tersebut.
Setiap orang apapun statusnya
(presiden maupun sinden, direktur maupun kondektur) memperoleh jatah waktu
sama, 52 minggu dalam setahun, 7 hari dalam seminggu dan 24 jam dalam sehari,
namun tidak semua memperoleh hasil sama dalam waktu yang tersedia. Banyak orang
hanya sekedar menjalani hidup dengan rutinitasnya, tidak mencoba mewujudkan seluruh
potensi yang mereka miliki. Sementara, ada yang berhasil mewujudkan impian
mereka, bahkan mungkin melebihi potensi yang ada padanya. Perbedaan di antara mereka sebenarnya
terletak pada bagaimana mereka bisa mengelola waktu yang mereka miliki dan hal
ini sangat tergantung pada persepsinya tentang waktu itu sendiri, yang tentu
saja dilatar belakangi oleh ‘mind-set’ yang ada padanya. Namun demikian secara
umum ada beberapa hal prinsip yang bisa dijadikan pegangan bersama. Berikut
kita akan membahasnya satu-persatu.
A. Fakta Tentang
Waktu
Pertama, waktu memiliki kurun
obyektif (chronos) yang sama bagi
semua orang, akan tetapi mempunyai pemaknaan subyektif yang berbeda beda dari
orang ke orang, dari waktu ke waktu. Itu sebabnya manajemen waktu sifatnya personal
dan subyektif.
Kedua, waktu berbeda dengan komoditi
lainnya, tidak bisa dilihat, diraba, tidak pernah bisa di simpan, dikumpulkan
atau di tabung. Kenyataan ini membuat kita sering tidak menyadaribahwa kita
memilikinya dan kelak mempertanggung- jawabkannya kepada Sang Pencipta Pemberi
waktu.
Ketiga, waktu sering dikatakan
’mengalir’, bergerak dan tidak pernah kembali ke titik asal. Kita
memanfaatkannya atau tidak, sama saja waktu segera berlalu dari hadapan kita,
menjadi ’masa lalu’ (Past time). Begitu
pula kita merencanakan waktu di depan (future
time), tetapi selalu mungkin yang terjadi lain sama sekali. Kita hanya bisa
memanfaatkan waktu dengan sebaiknya tepat pada saat kini, bukan beberapa saat
yang lalu ataupun beberapa saat kemudian. Bila demikian halnya, merupakan suatu
kearifan apabila kita berupaya selalu berada secara sadar di masa kini,
sehingga dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Tentu saja ada saat-saat
dimana kita perlu ’napak tilas’, menapaki kembali ’masa lalu’, untuk mengambil
pelajaran dan manfaat yang bisa diterapkan di masa kini. Begitu pula, kita
kadang mencoba ’memasuki’ masa depan (future
time), untuk mengantisipasi apa sekiranya yang akan terjadi sehingga kita
bisa mempersiapkan sejumlah rencana dengan segala alternatifnya. Namun
demikian, tentunya segala sesuatunya seyogyanya proporsional sesuai peruntukkan
dan keterbatasannya.
Keempat, kenyataan bahwa hanya masa
kini yang dapat kita pergunakan sebaik baiknya,perlu menjadi ingatan kita,
terutama ketika kita merencanakan agenda dan mengalokasikan serta
men-jadwalkannya (yang selalu merupakan waktu di masa datang). Itu sebabnya perlu sekali kita
memiliki skill alokasi dan kendali ( kontrol) penggunaan waktu kita. Keduanya
memungkinkan kita mengelola waktu kita dengan lebih optimal.
B. Hal-Hal yang
Perlu Dilakukan
Pertama, berkaitan dengan butir- butir
sebelumnya, maka dalam rangka alokasi dan kontrol waktu ini, kita perlu saling
menghargai bahwa setiap orang memiliki waktu yang sama, tetapi mempunyai agenda
yang berbeda-beda, dan setiap orang akan mempertanggungjawabkan penggunaan
waktu yang diberikan kepadanya dihadapan Yang Empunya Waktu. Oleh sebab itu,
kita perlu menyadari bahwa tanggung jawab pengaturan waktu ada pada diri kita,
sehingga seyogyanya kita yang menentukan penggunaan waktu kita. Namun demikian
karena kita hidup bermasyarakat, hidup dalam kebersamaan dengan orang lain,
maka ada sejumlah waktu yang kita punya, menjadi ’waktu publik’ atau ’waktu
bersama’ Tentu saja penggunaan waktu bersama diatur bersama pula. Oleh
karena itu pula, kita perlu saling menghargai waktu masing-masing, tidak
sembarangan mengambil/mencuri waktu sesama kita tanpa seijin penanggung
jawabnya. Hal ini berhubungan dengan respek diri (self respect). Orang yang bisa menghargai dirinya, akan bisa juga
menghargai orang lain. Sebaliknya apabila kita selalu bergaul dengan orang yang
kurang respek diri, maka respek diri kitapun tercuri tanpa kita sadari. Kita
perlu adil ke diri, tetapi juga adil ke orang lain, kita perlu menjaga
penggunaan waktu kita sendiri, tetapi juga menghargai penggunaan waktu orang
lain.
Kedua, berbicara tentang
pengalokasian waktu, artinya kita berbicara tentang prioritas. Ketika kita menentukan prioritas, maka kita berhadapan dengan memilah
mana yang penting dan tidak penting, bagi kita dan bagi siapa orang lain yang
kita anggap relevan. Memilah pentingnya sesuatu bagi kita, amat ditentukan oleh
tujuan yang hendak kita tuju dan nilai-nilai yang kita anut.Lagi-lagi secara
ringkas, bisa kita katakan tergantung ’mindset’ kita. Penting menurut kita,
belum tentu penting menurut orang lain; bahkan yang kita anggap penting hari
ini, belum tentu masih kita anggap penting di hari esok. Itu sebabnya ketika
kita merencanakan jadwal, kita perlu menyadari bahwa rencana itu kita buat
’saat kini’ tetapi untuk diberlakukan ’saat depan’, yang belum tentu bermakna
sama. Jadi kita perlu menjaga komitmen tetapi juga membuka ruang fleksibilitas.
Ketiga, selain mengalokasi, kita pun
perlu mengontrol waktu kita. Dengan perkataan lain, ketika kita sudah
mengalokasikan waktu dengan baik untuk hal-hal yang kita anggap penting, selalu
mungkin kita terjebak masuk kedalam hal-hal yang begitu mendesak –’urgent’ sehingga kita tidak kuasa
menghindarinya, jadilah itu mengalahkan hal-hal penting kita. Berikut sebuah skema yang
dapat memperjelas situasi ini :
MENDESAK
|
TIDAK MENDESAK
|
|
PENTING
|
KUADRAN I
|
KUADRAN II
|
TIDAK PENTING
|
KUADRAN III
|
KUADRAN IV
|
Kwadran I, merupakan kwadran yang
membuat kita ’heboh’ dan biasanya amat tertekan, karena berisi hal-hal yang
penting sekaligus mendesak, mau tidak mau harus diselesaikan. Sedangkan pada kwadran II, terdapat hal-hal yang
penting, tetapi tidak mendesak, sehingga sering terlupakan. Padahal, apabila
hal tersebut dilakukan, akan memudahkan kita mengerjakan segala sesuatunya,
sehingga waktu bisa dipergunakan dengan lebih efisien. Pada kwadran ke III terdapat hal-hal yang
tak bisa dihindari, karena mendesak, meskipun bagi Anda tidak penting. Misalnya
ada telepon berdering ditengah kesibukkan Anda mengerjakan tugas kwadran I,
setelah diangkat ternyata salah sambung – amat sangat tidak penting bagi Anda,
tetapi hal tersebut mendesak karena bunyi deringnya mengganggu Anda. Pada kwadran ke IV, berkumpul hal hal yang
tidak mendesak maupun tidak penting. Namun celakanya, bagi kebanyakan orang
merupakan hal-hal yang mengasyikkan. Contohnya bergunjing, gosip .Kita sadar
itu tidak penting, da jugatidak mendesak, tetapi toh kita asyik melakukannya
berjam-jam, sehingga menggeser kegiatan penting kita masuk ke kwadran I, lalu
kita menjadi heboh dan panik. Demikianlah, masih banyak hal lain yang perlu
kita bahas, tetapi kali ini, kelima hal di atas kiranya cukup memadai untuk
kita mulai belajar mengalokasikan dan mengontrol waktu kita dengan lebih
efisien dan efektif sesuai tujuan yang telah kita tetapkan.
Covey (1997)
menggambarkan pengelolaan waktu dalam sebuah matriks berdasarkan dua aspek
tersebut, penting dan mendesak (genting).
MENDESAK
|
TIDAK MENDESAK
|
|
PENTING
|
KUADRAN I
· Krisis
· Masalah yang
mendesak
· Proyek,
tugas-tugas yang didesak deadline
|
KUADRAN II
· Persiapan
· Pencegahan
· Penjelasan
nilai-nilai
· Perencanaan
· Pembinaan
hubungan dgn sesama
|
TIDAK PENTING
|
KUADRAN III
· Interupsi
· Rapat-rapat
· Events atau kegiatan-kegiatan yang
digemari
· Hal-hal
mendesak yang datang susul-menyusul
|
KUADRAN IV
· Hal-hal remeh
· Hal-hal yang
membuang waktu
· Aktivitas
“pelarian”
· Nonton TV
berlebihan
· Games
|
Setiap orang mempunyai masalah yang mendesak, yang ada pada kuadran I.
Tetapi kuadaran ini mengkonsumsi banyak energi. Hal ini karena apa yang kita
sebut krisis sering didasarkan pada prioritas dan harapan orang lain, bukan apa
yang sesungguhnya penting sesuai visi kita. Apabila kita fokus pada kuadran ini,
maka kuadran ini akan membesar dan mendominasi kita. Kita hanya akan berjuang
bangkit hanya untuk jatuh kembali.
HASIL KUADRAN I
·
Stress
·
Letih
·
Manajemen krisis
|
II
|
III
|
IV
|
Sedang orang
yang menghabiskan waktu hampir di kuadran III dan IV pada dasarnya menjalani
kehidupan yang tidak bertanggung jawab.
I
|
II
|
HASIL KUADRAN III
·
Fokus jangka pendek
·
Rencana & tujuan tak berharga
·
Reputasi : karakter bunglon
·
Hubungan dangkal
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
HASIL KUADRAN IV
·
Sama sekali tak bertanggung jawab
·
Dipecat dari pekerjaan
·
Bergantung pada orang lain untuk hal-hal mendasar
|
Orang yang efektif berada diluar
kuadran III dan IV karena, mendesak atau tidak, hal-hal tersebut memang tidak
penting. Mereka juga mengurangi kuadran I, dengan menghabiskan lebih banyak
waktu di kuadran II. Kudran II berhubungan dengan hal-hal penting tetapi tidak
genting. Inilah inti dari manajemen pribadi.
Peter Drucker (pada Covey, 1997)
mengemukakan bahwa orang yang efektif bukanlah orang yang pikirannya tertuju
pada masalah; sebaliknya mereka adalah orang yang pikirannya tertuju pada
peluang. Mereka menekankan pada berpikir preventif. Mereka memang memiliki
keadaan darurat atau masalah genting yang harus mereka hadapi, tetapi jumlahnya
kecil.
![]() |
C. Kiat Mengelola
Waktu
Ada beberapa
kiat dari Smith (2004) yang bisa kita lakukan untuk mengelola waktunya:
1. Buatlah
daftar mengenai hal apa saja yang perlu Anda lakukan, beri tanda yang menjadi prioritas
atau penting. Juga beri tanda untuk yang telah Anda lakukan. Gunakan buku
saku yang mudah dibawa kemana-mana. Jika merasa terbebani oleh banyaknya hal
yang harus kita lakukan hari ini? Berhenti bekerja sejenak dan pikirkanlah,
bagian mana yang harus selesai hari ini, berdasarkan tingkat kepentingannya.
2. Berpikir
realistis. Antusias untuk dapat mengerjakan semuanya boleh saja, tetapi
berpikirlah realistis bahwa kita tidak dapat menambah waktu kita lebih dari 24
jam sehari.
3. Belajarlah
untuk berkata “Tidak”. Terlalu banyak hal yang menarik di dunia ini dan
tidak mudah bagi kita untuk berkata “tidak” ketika kita menginginkannya.
Belajarlah berkata “tidak” terhadap sesuatu yang Anda inginkan tetapi
sebenarnya tidak Anda butuhkan.
4. Aturlah
barang-barang dengan rapi. Lebih baik menyediakan waktu barang 20 menit
untuk menata kamar, dari pada kita harus membuang-buang waktu hingga lebih dari
30 menit hanya untuk menemukannya kembali.
5. Sediakan
waktu untuk sesuatu yang menyenangkan dan mengejutkan. Membuat jadwal yang teratur
untuk hidup harus, tetapi jangan lupa, sesuatu yang menyenangkan tetap harus
dapat kita lakukan. Jika sesuatu yang menyenangkan ini kita lakukan dengan
spontan, akan menyegarkan fikiran dan membuat hidup tetap bersemangat.
Berikut ini
beberapa aturan sederhana yang juga dapat diikuti untuk melakukan pengaturan
waktu, antara lain :
a. Jangan
Menangguhkan.
Lakukan saat ini juga. Saat orang
menunda sesuatu, itu berarti membunuh daya gerak pencapaian pada tujuan saat
ini dan menghalangi kesempatan di masa mendatang lantaran waktu yang tersumbat.
Cara untuk mencegah penundaan adalah dengan merancang deadline untuk tujuan
yang harus dicapai. Menghindari deadline terakhir membawa penundaan yang diatur
tujuan sebagai perantara untuk mencapai setingkat demi setingkat menuju tujuan.
b. Lacak
Aktivitas Anda.
Memori adalah penuntun yang payah,
jika ini berhubungan dengan menetapkan bagaimana Anda melewatkan waktu Anda. Cara terbaik untuk merekam
aktivitas Anda sepanjang hari adalah dengan mendata apa yang Anda lakukan.
Kebanyakan orang akan menemukan kalau mereka memiliki tiga jam dalam tiap hari
yang sebenarnya dapat digunakan untuk hal yang lebih membangun atau tindakan
yang efisiean. Kurangi waktu yang Anda gunakan untuk bertelepon, membolak-balik
majalah atau surfing di web yang tak mengahasilkan apapun, dan batasi
kegiatan-kegiatan yang tak penting.
c. Berkonsentrasi
Pada Hasil.
Banyak orang melewatkan waktu mereka
sepanjang hari dengan aktivitas yang hiruk-pikuk, tapi hanya sedikit membuahkan
hasil.Itu semua terjadi karena mereka tak berkonsentrasi pada hal yang
benar.Jangan terkecoh antara bekerja secara efisien dan bekerja secara efektif.
Aktivitas memang kadang dapat membebaskan dari tekanan tapi itu tak mencapai
tujuan Anda. Dengan lebih berkonsentrasi pada sedikit prioritas 'utama' secara
teratur.Anda dapat mencapai lebih banyak hal dalam waktu singkat.
d. Ingat
Prisip 80/20.
Prinsip 80/ 20 adalah 20% kunci
aktivitas Anda akan memberi Anda 80% dalam bentuk hasil. Tujuan Anda adalah
mengubah ini untuk memastikan kalau Anda berkonsentrasi sebanyak usaha yang
mungkin Anda lakukan untuk hasil tertinggi dari tujuan.
e. Bangun
Rancangan Aksi (Planning)
Sebuah rencana tindakan merupakan
daftar pendek dari tugas yang harus dilengkapi untuk mencapai sebuah tujuan. Kapanpun
Anda ingin mencapai sesuatu, buat gambaran gamblang dari rencana tindakan, ini
akan memberi Anda kesempatan untuk lebih berkonsentrasi pada tahap pencapaian
itu, dan memonitor kemajuannya dalam perwujudan.
f. Merespon
Dengan Cepat.
Sebagai contoh, urus mail Anda begitu
Anda menerima surat. Jangan biarkan tagihan dan surat-surat itu membebani Anda.
Jika Anda tak bisa membalas sebuah surat saat itu juga, buat file di tempat
khusus yang mudah dilihat, dan tuliskan di amplop tindakan yang dibutuhkan serta
tanggal dimana Anda dapat menyelesaikannya. Ketika memungkinkan, lakukan
tindakan pada hari yang sama saat Anda menerimanya. Jangan biarkan komputer,
meja dan pikiran Anda jadi bertumpuk dengan hal yang tak berguna.
D. Waktu dalam Islam
Sesungguhnya manusia itu hanya terbagi
dua yaitu manusia sukses dan manusia gagal. Kesuksesan dan kegagalan seseorang
erat sekali kaitannya dengan kemampuan mengelola waktu. Jika ia mampu
menggunakan waktu yang Allah berikan kepadanya untuk selalu meningkatkan keimanan,
ilmu, amal shaleh, hidup dan dakwah di jalan Allah, maka ia akan menjadi orang
yang beruntung. Namun sebaliknya, jika ia gagal memanfaatkan waktu yang ia
lewati untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ilmu, amal shaleh dan aktivas
dakwah, maka ia dipastikan akan menjadi orang yang merugi di dunia dan terlebih
lagi di akhirat.
Sebab itu, waktu itu sangat mahal
harganya, dan bahkan lebih mahal dari dunia dan seisinya.Salah dalam mengelola
waktu bisa berakibat kerugian besar di dunia dan akhirat. Sebaliknya, berhasil
mengelola waktu dengan baik, insya Allah akan berhasil pula dalam kehidupan di
dunia yang singkat ini dan juga kehidupan akhirat yang abadi. Allah menjelaskan
dalam surat Al-‘Ashr:
وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ
لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ
٣
“Dan demi
masa(1), sesungguhnya manusia itu pasti dalam keadaan merugi(2), kecuali mereka
yang beriman dan beramal shaleh dan mereka saling bertaushiyah (saling menasehati)
dengan kebenaran dan saling bertaushiyah dengan kesabaran (3)”. (QS. Al-Ashr: 1-3)
Waktu bagi orang beriman adalah
anugerah Allah yang tak ternilai harganya.Waktu juga bisa jadi sebab malapetaka
jika disia-siakan begitu saja dan tidak dapat dimanfaatkan untuk membina
keimanan, mencari ilmu, meningkatkan amal shaleh, menjalankan kehidupan secara
Islami dan berbagai aktivitas dakwah lainnya. Oleh sebab itu, Allah sering
bersumpah atas nama waktu, seperti: Demi
Masa, Demi Waktu Dhuha, Demi Malam dan Demi Siang. Semua ini mengisyaratkan
betapa mahalnya nilai waktu itu.Tanpa waktu, mustahil kita dapat hidup di dunia
ini.
Yang lebih mengagumkan lagi, Allah
ciptakan waktu itu dengan ukuran dan standar perhitungan yang amat mudah, yakni
berdasarkan siang dan malam. Dengan
adanya siang dan malam itulah kita bisa menjalankan berbagai aktivitas
kehidupan dan sekaligus beristirahat. Dengan adanya siang dan malam itulah kita
bisa mengelola kehidupan ini dengan mudah. Tanpa pergantian siang dan malam,
kita akan sangat sulit menata dan mengelola berbagai aktivitas kehidupan kita
di dunia termasuk kapan kita harus tidur, istirahat, mencari rezki, menuntut
ilmu, silaturahmi dan sebagainya. Allah ciptakan siang dan malam sebagai wujud
kasih sayang-Nya kepada kita, sebagaimana Dia jelaskan dalam surat Al-Qashash
(28) : 71 – 73 :
قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلَّيۡلَ سَرۡمَدًا
إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِضِيَآءٍۚ
أَفَلَا تَسۡمَعُونَ ٧١ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلنَّهَارَ
سَرۡمَدًا إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم
بِلَيۡلٖ تَسۡكُنُونَ فِيهِۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٧٢ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ
لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ
وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٧٣
Katakan (wahai
Muhammad)! Bagaimana pendapat kalian jika Allah menjadikan bagi kalian malam
terus menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang dapat
mendatangkan cahaya pada kalian? Mengapa kalian tidak mendengar (ayat-ayat
Allah)?(71) Katakan (wahai Muhammad)! Jika Allah jadikan bagi kalian siang
terus menerus sampai hari kiamat?Siapakah tuhan yang dapat mendatangkan malam
bagi kalian untuk beristirahat padanya? Mengapa kalian tidak memperhatikan
(ayat-ayat Allah).(72) dan di antara rahmat-Nya bahwa Dia menjadikan bagi
kalian malam dan siang agar kalian dapat beristirahat (pada malam hari) dan
mencari karunia (rezki)-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur (73).
Dilain sisi Firman Allah SWT dalam ayat yang lain :
وَهُوَ ٱلَّذِي
جَعَلَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ خِلۡفَةٗ لِّمَنۡ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوۡ
أَرَادَ شُكُورٗا ٦٢
“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih
berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin
bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)
Dalam ajaran Islam, disampaikan bahwa
ciri-ciri seorang Muslim yang diharapkan adalah pribadi yang menghargai waktu.
Seorang Muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya,
sebab sudah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ajaran Islam menganggap
pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi
keimanan dan bukti ketaqwaan.
Syiar Islam menempatkan ibadah ritual
pada bagian-bagian waktu dalam sehari dan pada waktu-waktu tertentu dalam
setahun. Sholat lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas
dalam sehari, dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Dalam syariat
Islam dinyatakan, bahwa malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk menetapkan
waktu-waktu awal dan akhir pelaksanaan sholat lima waktu, agar menjadi panduan
dan system yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami. Di samping itu,
juga berfungsi untuk mengukur detik-detik sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya
matahari.
Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu
pentingnya umat Islam, untuk mempelajari manajemen waktu adalah karana hal-hal
sebagai berikut:
1. Ajaran Islam begitu besar perhatiannya
terhadap waktu, baik yang diamanatkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah;
2. Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi
pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan
generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang
bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang
tinggi;
3. Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini
justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang
membuang-buang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam
menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk
akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni
kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.
Jika kita sadar bahwa pentingnya manajemen waktu, maka tentu kita
akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk
akhirat seolah-olah akan mati esok hari, dan tentunya doa ini akan menjadi
semboyan dalam hidup kita:
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ
وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١
“… Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat dan perliharalah kami dari siksa neraka.” (QS
Al-Baqarah: 201)
Di samping itu perlu kita sadari,
bahwa Allah SWT telah bersumpah dengan menggunakan waktu untuk menegaskan
pentingnya waktu dan keagungan nilainya, seperti yang tersurat dan tersirat di
dalam Al Qur’an Surah Al- Lail ayat 1-2, Al Fajr ayat 1-2, Adh-Dhuha ayat 1-2,
dan Al’Ashr ayat 1-2.
Oleh karena itu, harus kita sadari
betapa pentingnya mempelajari manajemen waktu bagi seorang Muslim. Namun
sebelum kita mempelajari manajemen waktu, maka perlu kita sadari terlebih
dahulu beberapa tabiat waktu agar kita benar-benar dapat memahami esensi dari
waktu tersebut, yakni: Cepat berlalu;
Tidak Mungkin kembali; Harta termahal. Dengan demikian dapat disimpulkan,
bahwa waktu adalah modal yang paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan
tidak mungkin dapat disimpan tanpa digunakan, serta tidak mungkin mendapatkan
waktu yang dibutuhkan meskipun dengan mengeluarkan biaya.
Berikut ini merupakan salah satu kisah
inspiratif tentang seorang yang menyadari kesia-si
Terdapat seorang pemuda yang terbawa arus
pusaran duniawi. Ia lupa akan makna hidupnya, sehingga yang dikerjakan hanyalah
membawa kesia-siaan semata. Waktunya sering terbuang dan tercecer dengan
percuma, namun akhirnya ia tersentak dari khayalan yang panjang itu berkat
nasihat dan peringatan Shilah bin Asyam, salah seorang tabi’in mulia. Kita akan
mendengarkan penuturan Shilah bil Asyam tentang pemuda yang telah sadar dan
menyesali masa lalunya. Beliau berkata:
“Sudah menjadi kegiatan rutinku untuk selalu
menyusuri padang pasir mencari ketenangan dalam beribadah. Dan setiap kali
melintas sekelompok anak-anak mudah yang sedang duduk-duduk sambil bercanda di
antara mereka, aku pernah berkata kepada mereka, ‘Apa pendapat kalian tentang
suatu kaum yang bermaksud untuk bepergian, tetapi mereka lakukan di siang hari
tanpa arah tujuan dan pada malam hari mereka tidur, lalu kapan mereka akan
sampai ke tempat tujuan?’
Setiap kali aku melewati sekumpulan mereka,
senantiasa pula kusampaikan berbagai nasihat yang berguna. Suatu hari saat aku
memberikan nasihat yang sama sebagaimana ucapannya itu tadi, seketika itu ada
seorang pemuda di antara mereka yang menyahut, ‘Wahai kawan-kawan! Sesungguhnya
yang dimaksud Bapak ini adalah kita. Mari kita renungkan, bukankah di waktu
siang kita habiskan dengan sekedar bermain-main dan malam harinya tidur
mendengkur?’ Kemudian pemuda itu tampaknya mulai menangkap makna ucapan itu dan
mulai timbul kesadaran dalam hati serta pikirannya. Pada akhirnya pemuda ini
selalu mengikuti jejakku dan beribadah bersamaku kepada Allah SWT sampai akhir
hayatnya.” (Ibnu Qudamah al-Maqdisy, at-Tawwabin, hlm. 244).
Sungguh suatu sikap yang patut diteladani oleh
setiap orang yang telah menyia-nyiakan masa mudanya, namun berusaha bangkit dan
memacu sisa-sisa umurnya untuk meniti jalan Allah SWT degnan berkendaraan
amal-amal shaleh.
Untuk menutup perjumpaan kita dengan pemuda
ini, marilah kita perhatikan bait syair berikut ini:
Saat-saat dzikir lebih bernilai dari harta
kekayaan
Sedang saat lalai adalah kerugian dan
kemelaratan
Mengelola waktu berarti menata diri
dan merupakan salah satu tanda keunggulan dan kesuksesan.Oleh karena itu,
bimbingan untuk mendalami masalah ini adalah hal yang sangat penting dalam
kehidupan kita semua, apapun jabatan dan profesi kita serta tidak memandang
tinggi rendahnya kedudukan seseorang.
Dengan demikian, marilah kita mulai
mempelajari manajemen waktu, sehingga dengan mempunyai bekal pengetahuan
tentang waktu, kita dapat terampil mengelolanya dan dengan keinginan yang kuat,
maka kita akan dapat menjadikan sebuah kebiasaan dalam pemanfaatan waktu.
Seorang penulis Manajemen Islami, M.
Ahmad Abdul Jawwad, dalam sebuah bukunya, memaparkan kaidah-kaidah aplikatif
yang dapat mengantarkan kita kepada kesuksesan mengelola waktu secara bertahap,
selangkah demi selangkah hingga pada tingkat mahir dan effektif dalam mengelola
waktu dalam 14 (empat belas) langkah. Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Analisalah sikap kita terhadap manajemen
waktu dan kenalilah sejauh mana kemampuan kita dalam mengelola waktu!
2. Sadarilah nilai dan urgensi waktu, serta
sejauh mana kebutuhan kita pada manjemen waktu!
3. Susunlah skala prioritas dan jangan lupa pada
kewajiban waktu!
4. Kenalilah hal-hal yang kita butuhkan dalam
mengelola waktu secara efektif!
5. Kenalilah hal-hal yang mengganggu manajemen
waktu, lalu hindarilah!
6. Perhatikanlah tokoh-tokoh yang berhasil
mengelola waktu!
7. Atasilah hal-hal yang dapat menyia-nyiakan
waktu!
8. Luruskan persepsi kita yang keliru mengenai efisiensi
waktu!
9. Pelajarilah cara mengadakan pertemuan singkat
yang membawa hasil optimal!
10. Pelajarilah cara mendelegasikan secara
effektif!
11. Pelajarilah cara mengoptimalkan waktu santai/
senggang!
12. Kajilah contoh-contoh aplikatif tentang manajemen
dan optimalisasi waktu!
13. Didiklah anak-anak dan orang-orang di sekitar
kita untuk menghargai waktu!
14. Latihlah orang lain tentang cara mengoptimalkan
pemanfaatan waktu!
Perlu kita fahami bahwa, apabila
seorang Muslim mampu mengelola waktu dengan baik, maka akan memperoleh
optimalisasi dalam kehidupannya. Namun, apabila tidak mampu, maka seseorang
tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun karena waktu merupakan modal dasar
bagi kehidupan seorang Muslim yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّ فِي ٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ
فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَّقُونَ ٦
“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan
pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus: 6)
DAFTAR PUSTAKA
Achmat,
Zakarija. Manajemen waktu dan pengelolaan
diri. Membangun Diri Meraih Keunggulan Insani, Materi P2KK UMM 2005-2006.
UMM Press. Malang.
Covey,
Stephen. (1997). Tujuh Kebiasaan Manusia
Yang Sangat Efektif. Covey
Leadership Center, Inc.
Smith, Gregory P. (2004). The Art of Managing Time and Your Life.
http://www.eramuslim.com/khutbah-jumat/rahasia-mejemen-waktu-orang-orang
sukses.htm#.UReoavLMBdg
MANAJEMEN STRESS
وَلَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ وَلَدَيۡنَا كِتَٰبٞ
يَنطِقُ بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ٦٢
Kami tiada membebani seseorang
melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang
membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. (QS.
Al-Mu’minun: 62)
A. Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari kita
senantiasa berhadapan dengan situasi atau kondisi yang membuat pikiran dan
perasaan kita tertekan. Berbagai sebab dapat membuat kita merasa tertekan
bahkan terancam oleh kondisi tersebut bahkan terkadang kita tidak mengatahui
dengan baik apa yang menyebabkan perasaan kita tertekan atau pikiran kita tidak
fokus dan perilaku kita berubah cenderung emosional. Keadaan seperti ini
disadari atau tidak mungkin sering kita alami sehingga kita perlu mengetahui
apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mengatasinya.
Kata stress sering diasosiasikan
dengan adanya peristiwa yang menekan sehingga seseorang tidak berdaya dan
biasanya menimbulkan dampak negatif seperti pusing, tekanan darah tinggi, mudah
marah, sedih, sulti berkonsentrasi, tidak bisa tidur dan sebagainya. Dalam hal ini stress didekati
melalui reaksi yang ditimbulkan dari stress (gejala stress).
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia
ada 2 pengertian stress: (1) Gangguan atau kekacauan mental dan emosional (2)
Tekanan. Secara psikologis, stress didefinisikan sebagai suatu respons
penyesuaian seseorang terhadap situasi yang dipersepsinya menantang atau
mengancam kesejahteraan orang bersangkutan. Jadi stress merupakan suatu respon
fisiologik ataupun perilaku terhadap ‘stressor’ hal yang dipandang sebagai
penyebab tekanan, gangguan keseimbangan (homeostasis), baik internal maupun
eksternal. Dalam pengertian ini, bisa kita perjelas bahwa stress bersifat
subjektif sesuai persepsi orang yang memandangnya. Dengan perkataan lain apa
yang mencekam bagi seseorang belum tentu dipersepsi mencekam bagi orang lain.
B. Sebab – sebab
Stres
Adapun sumber-sumber (stressor) yang
dipersepsi seseorang atau sekelompok orang memberi tekanan terhadap
keseimbangan diri mereka yang bisa membut stress antara lain:
1. Lingkungan yaitu lingkungan yang memberi
berbagai tuntutan penyesuaian diri seperti :
§ Cuaca,
kebisingan, kepadatan,
§ Tekanan
waktu, standard prestasi, berbagai ancaman terhadap rasa aman dan harga diri
§ Tuntutan
hubungan antar pribadi, penyesuaian diri dengan teman, pasangan, dengan
perubahan keluarga
2. Fisiologik, meliputi:
§ Perubahan
kondisi tubuh: masa remaja haid, hamil, meno/andropause, proses menua,
kecelakaan, kurang gizi, kurang tidur, adanya tekanan terhadap tubuh.
§ Reaksi
tubuh : reaksi terhadap ancaman & perubahan lingkungan mengakibatkan
perubahan pada tubuh kita, menimbulkan stress.
3. Pikiran
kita ~
pemaknaan diri dan lingkungan
Pikiran dapat menginterpretasi dan
menerjemahkan pengalaman di luar dirinya. Ia dapat memberi makna terhadap
pengalaman tersebut sehingga pikiran
dapat membuat kita relaks atau stress.
Menurut Selye (1984) stress bisa
dibedakan atas dasar sifat stressornya, apakah peristiwa negative, disebut ’distress’; tetapi bisa juga stress
diakibatkan peristiwa positif, misalnya tiba-tiba mendengar mendapat undian,
atau hadiah besar yang tak terduga, dalam hal ini stressnya disebut ‘Eustress’ Lebih lanjut, sumber
stressor tersebut bisa dibedakan dalam 3 bagian berdasarkan peluang penanganannya,
yakni : Pertama, Stressor yang
penanganannya hanya membutuhkan sedikit upaya seperti misalnya kebiasaan
belajar, waktu bangun pagi, diet, daan sebagainya dimana upaya menanganinya
dengan cara memgubah kebiasaan, membiasakan kebiasaan baru, maka dalam waktu
satu-dua minggu dapat berubah. Kedua,
Stressor yang untuk menanganinya membutuhkan upaya yang lebih sungguh-sungguh,
seperti masalah kepercayaan diri, koflik interpersonal, komunikasi dan
sebagainya, dimana diperlukan bantuan teknikal untuk menanganinya, seperti
dibutuhkannya kemampuan komunikasi, manajemen konflik atau proses konseling
individual. Ketiga, stressor yang
memang tidak dapat ditangani seperti kematian orang yang dikasihi, maka
penanganannya perlu belajar berdamai dengan diri menerima kenyataan tersebut,
lalu diatasi dengan relaksasi dan upaya spiritual. Melihat kemungkinan sumber
stressor di atas, maka setiap orang potensial untuk mengalami stress. Namun
demikian, ada kelompok orang yang lebih mudah terkena stress (type kepribadian A),
ada juga kelompok lain yang lebih memiliki ketahanan terhadap stress (type
kepribadian B).
|
Selanjutnya, di kalangan mahasiswa
yang banyak menjadi sumber stressor antara lain sebagai berikut: Tuntutan untuk
sukses; persoalan finansial, persoalan hubungan sosial, persoalan penggunaan
waktu dan pergeseran nilai-nilai. Lebih jauh bisa kita simpulkan bahwa setiap
orang bisa mengalami stress, sesekali stress dalam kehidupan merupakan ‘bumbu’
hidup dinamis, akan tetapi apabila terjadi stress yang sering dengan fluktuasi
yang besar, maka sudah perlu mendapat perhatian khusus, artinya sudah perlu
lebih serius menanganinya.
|
|
|
C. Indikasi/Gejala
Stress
Bagaimana kita mengetahui apakah kita
berada dalam keadaan stress atau tidak ? Apa gejalanya? Ada sejumlah gejala
yang bisa diditeksi secara mudah yaitu :
1. Gejala fisiologik, antara lain : denyut jantung
bertambah cepat , banyak berkeringat (terutama keringat dingin), pernafasan
terganggu, otot terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur,
gangguan lambung, dst
2. Gejala psikologik, antara lain : resah, sering
merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, tidak enak
perasaan, atau perasaan kewalahan ( exhausted)
dsb
3. Tingkah laku, antara lain : berbicara cepat
sekali, menggigit kuku, menggoyang-goyangkan kaki, ticks, gemetaran, berubah
nafsu makan ( bertambah atau berkurang).
D. Dampak akibat stress
Dampak stress dibedakan dalam 3
kategori yaitu fisiologik, psikologik dan perilaku
1. Dampak
Fisiologik :
Secara umum orang yang mengalami
stress mengalami sejumlah gangguan fisik seperti : mudah masuk angin, mudah
pening-pening, kejang otot (kram), mengalami kegemukan atau menjadi kurus yang
tidak dapat dijelaskan, juga bisa menderita penyakit yang lebih serius seperti
cardiovasculer, hypertensi, suka melamun, sering lupa, mengasingkan diri, dst. Dengan kata lain dampak fisiologis ini
dapat berupa gangguan pada organ tubuh, system reproduksi maupun pada system
pernafasan.
2. Dampak
Psikologik
Dampak psikologis yang biasanya berupa
keletihan emosi, jenuh, depresi, terjadinya depersonalisasi (memperlakukan
orang lain sebagai “sesuatu”), perasaan tidak berharga dan perasaan tidak mampu
mencapai tujuan hidupnya.
3. Dampak
Perilaku
Manakala stress menjadi distress, maka
prestasi belajar menurun dan sering terjadi tingkah laku yang tidak berterima
oleh masyarakat. Level stress yang cukup tinggi berdampak negatif pada
kemampuan mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah tepat.
Pada mahasiswa sering muncul perilaku membolos atau tidak aktif mengikuti kegiatan
pembelajaran.
E. Respon Terhadap
Stres
Ada 2 (dua) cara penilaian kognitif
terhadap stressor yang dapat mengakibatkan terjadinya stress yaitu penilaian
primer dan penilaian sekunder. Yang dimaksud dengan penilaian primer adalah
penilaian atau evaluasi terhadap situasi apakah dinilai sebagai situasi yang
mengancam atau menantang. Jika individu menilainya (mempersepsi) sebagai suatu
yang mengancam maka ia akan cenderung menghindar, sebaliknya jika ia
mempersepsi situasi tersebut sebagai situasi yang menantang maka ia akan
cenderung mengatasi situasi tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan penilaian
sekunder adalah penilaian terhadap sumber daya yang dimiliki baik secara fisik,
psikologis, social maupun materi. Proses penilaian primer dan sekunder akan terjadi
secara bersama-sama sehingga akan membentuk makna setiap peristiwa yang akan
menentukan jenis perilaku untuk mengatasi hal tersebut (coping behavior).
Coping behavior bersifat dinamis yang artinya bahwa perilaku ini akan bergantung pada
jenis situasi yang dipersepsikan dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu
ada coping behavior yang bersifat
emosional yaitu upaya-upaya yang dilakukan untuk meredakan emosi dan yang
bersifat rasional yang meliputi
F. Strategi
Menangani Stress
Dalam menghadapi situasi yang dinilai
sebagai sumber stress, seseorang dapat melakukan beberapa cara agar tidak
menjadi stress yang berdampak secara negative kepada diri seseorang. Ada 3
(tiga) tingkatan perilaku yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya stress
yaitu :
1. Primary prevention, dengan cara
merubah cara kita melakukan sesuatu. Untuk keperluan ini kita perlu memiliki
beberapa ketrampilan yang relevan, seperti ketrampilan mengatur atau mengelola
waktu, berusaha menerapkan positive thinking dalam setiap menghadapi situasi
yang menekan atau mempersiapkan secara khusus mental-spiritual dalam menghadapi
situasi yang dapat menimbulkan stress
2. Secondary prevention, strategi yang
kita lakukan adalah dengan menyiapkan diri menghadapi stressor melalui kegiatan
olah raga (exercise), diet, rekreasi, istirahat, meditasi, mendekatkan diri
kepada Allah melalui kegiatan amal ibadah yang dituntunkan.
3. Tertiary prevention, strateginya
adalah kita menangani dampak stress yang terlanjur ada, misalnya melalui
bantuan professional yang berhubungan dengan penyebab stress atau dengan
meminta bantuan jaringan supportive ( social-network).
Disamping strategi tersebut diatas,
ada beberapa langkah yang dapat kita gunakan dalam menghadapi stress, antara
lain :
1. Mengetahui dengan kesadaran penuh bahwa diri
kita sedang stress (tertekan).
2. Menerima perasaan kita. Akui perasaan kita
dan bagilah dengan orang lain karena perasaan (emosi) merupakan salah satu
indikator apakah sesuatu itu berjalan dengan baik atau tidak.
3. Mengembangkan kemampuan perilaku yang
efektif. Kita harus menghindari untuk menyalahkan orang lain atas masalah yang
terjadi, gunakan inisiatif untuk menangani masalah dan gunakan waktu yang
tersedia dengan baik.
4. Membangun jaringan pendukung yang kuat. Kita
tidak perlu takut untuk meminta bantuan langsung dari orang lain, khususnya
keluarga atau sahabat yang baik
5. Kembangkan gaya hidup yang menguatkan kita
untuk melawan stress. Melakukan olah raga secara rutin, melakukan kegiatan
relaksasi, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang berpotensi merusak
kesehatan dapat membantu kita menghadapi stress akibat masalah yang kita hadapi
6. Menjaga kesehatan mental. Kita harus berpikir
positif dan menangani suara hati yang negatif dengan perilaku yang positif
serta menggunakan waktu untuk kegiatan yang dapat mendukung mental positif
kita.
7. Doa. Terkadang apa yang telah kita lakukan di
dalam menanggulangi stres mengalami hambata. Oleh karena itu kita harus
menyertakan Allah Ta’ala dalam setiap pengambilan keputusan yang kita terapkan
dalam menanggulagi stres.
G. Menangani
Stress di Kampus
Kampus yang merupakan lingkungan baru
bagi mahasiswua yang akan menjalani masa studi di perguruan tinggi. Kampus
dapat menjadi stressor bagi mahasiswa baik dalam aspek tuntutan tugas belajar,
organisasi dan pergaulan dengan sesama.
Jika mahasiswa tidak mampu mempersiapkan diri dengan baik, stessor dapat
berbuah stress yang negative dan mempengaruhi kondisi fisik, psikis dan
socialnya. Secara sederhana, kita bisa menangani stress kehidupan kampus dengan
memakai STRESS lagi, namun tentu
saja dalam akronim yang berbeda.
1. Study
skills (Ketrampilan belajar)
Dalam kehidupan kampus ada banyak hal
yang perlu dipelajari, mahasiswa juga ingin mengetahui banyak hal dan mengikuti
banyak kegiatan, sementara waktu yang dimiliki terbatas. Oleh karena itu, agar
tidak menjadi stress maka mahasiswa perlu memiliki berbagai ketrampilan belajar
yang baik dan sesuai dengan kemampuannya sehingga bisa belajar secara efektif
dan juga efisien dalam menggunakan daya dan waktu serta sumber lainnya.
2. Time
management (Manajemen waktu)
Mengingat waktu yang dimiliki oleh
setiap mahasiswa adalah terbatas jika dibandingkan dengan keinginan untuk
melakukan berbagai kegiatan baik di dalam kampus maupun di luar kampus, maka
mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan mengelola waktu dengan baik
sehingga dapat mengalokasikan dan mengontrol penggunaan waktu dengan baik.
Manajemen waktu merupakan bagian penting dalam mengelola stress di lingkungan
kampus selain ketrampilan belajar yang disebutkan diatas.
3. Rest
(Istirahat)
Tubuh kita bagaikan satuan mesin yang
membutuhkan jeda atau waktu istirahat setelah melakukan banyak aktifitas.
Istirahat dapat memberikan sebuah kesempatan fisiologis, kognitif dan
psikologis kita untuk memperbaiki system tubuh dan mengatur kembali irama kerja
tubuh dan dapat merefresh kondisi yang telah dialami sebelumnya, sehingga
setelah istirahat beberapa saat kita dapat melakukan aktifitas lagi dengan
lebih baik.
4. Eating
& Exercise ( Makan dan Olah raga)
Pada dasarnya setiap aktifitas yang
kita lakukan, tubuh telah mengeluarkan banyak energy yang selama ini disimpan
dan diolah oleh tubuh. Semakin banyak aktifitas yang kita lakukan maka semakin
banyak tubuh membutuhkan asupan makanan yang seimbang. Disamping itu untuk
mendapatkan kesegaran dan kebugaran kembali tubuh kita setelah beraktifitas,
maka diperlukan pula olah raga (exercise)
yang memadai sehingga dapat membantu tubuh memulihkan tenaga dan menyegarkan
kembali otot-otot yang telah ikut terlibat dalam aktifitas sehari-hari.
5. Self-talk (Percakapan
diri – kalbu)
Sebenarnya setiap orang mempunyai satu alat
(perlengkapan) yang melekat dalam dirinya sebagai teman sejak kecil.
Perlengkapan ini percakapan dengan diri sendiri (percakapan kalbu) dimana kita
dapat berbicara dengan diri kita sendiri, melihat, mendengar dan bahkan kita
bisa menertawakan diri kita sendiri sebagai hasil evaluasi diri yang dilakukan.
Isi percakapan tersebut bisa bernilai positif yang membuat kita selalu optimis
dan melakukan perubahan-perubahan, tetapi juga bisa negative yang membuat kita
semakin tertekan (stress). Kita harus lebih mengembangkan percakapan ini untuk
mengevaluasi setiap aktifitas yang kita lakukan agar memberikan nilai tambah
dalam kehidupan kita. Dalam hal menangani stress, kita perlu bisa secara sadar
mengganti isi percakapan yang tidak mendukung dengan kalimat yang bisa
mendukung kita.
6. Social support (Dukungan social)
Manusia adalah makhluk social yang pada
hakikatnya tidak dapat hidup sendirian, membutuhkan orang lain yang memiliki
kepedulian dan dukungan. Banyak situasi social yang menjadi pemicu munculnya
stress, namun tidak sedikit pula lingkungan social yang dapat membantu
mengurangi dan meminimalkan terjadinya stress. Dukungan orang-orang dekat
seperti keluarga, teman bahkan masyarakat dapat memberikan kekuatan secara psikis
baik secara langsung maupun tidak langsung kepada orang yang mengalami stess.
Dalam keadaan stress sebaiknya kita berusaha bertemu dengan teman atau orang
lain yang kita kenal sehingga situasi yang kita persepsikan sebagai sebuah
stressor ini dapat juga dipahami oleh orang lain yang mungkin berbeda
persepsinya, sehingga dapat memberikan pemaknaan baru terhadap situasi tersebut
atau ikut memberikan solusi terhadap kondisi stress yang kita alami.
Selanjutnya secara praktis ada
sejumlah latihan sederhana yang dapat dipelajari. Latihan-latihan tersebut meliputi
pengaturan nafas, relaksasi otot dan visualisasi. Latihan pengaturan nafas
dapat dilakukan hampir kapan saja dan dimana saja serta dapat dilakukan
beberapa kali sehari. Kemudian diikuti dengan latihan relaksasi otot dan
relaksasi yang lebih mendalam yaitu pada pikiran dengan visualisasi.
§ Latihan Pernafasan
Ketika stres meningkat, nafas menjadi
lebih cepat dan dangkal. Dengan menyadari pernafasan dan belajar memperlambat
dan memperdalam nafas akan membuat kita merasa lebih rileks.
§ Latihan Relaksasi Otot
Ketika kita berada dalam situasi yang
membuat stres, otot-otot menegang. Latihan relaksasi otot adalah suatu teknik untuk
mengendurkan otot-otot yang tegang. Relaksasi dapat dibantu dengan mendengarkan musik yang
lembut atau berada pada alam terbuka yang tenang.
§ Latihan Visualisasi
Visualisasi adalah berfikir dengan
gambar, berimajinasi, membayangkan. Visualisasi adalah teknik yang sama
bermanfaatnya dengan ketika kita mencoba memecahkan suatu masalah dan
merangsang kreativitas. Kita membayangkan dan merasakan seolah-olah sedang
berada dalam suatu situasi (tempat) yang nyaman, indah dan menyenangkan,
misalnya berada di taman bunga, sedang dikelilingi kupu-kupu yang beterbangan
atau berada di pantai dengan nyiur yang melambai-lambai. Idealnya, visualisasi
dilakukan setelah latihan relaksasi otot. Jadi, setelah tubuh menjadi rileks,
fikiran juga rileks.
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ
وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ
نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ ٢١٤
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal
belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum
kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah: 214)
Bagi orang Islam
sendiri, Allah telah memberi sebuah metode manajemen stress yang luar biasa.
Berikut beberapa diantaranya :
1. Jika kita sedang marah (mendapat masalah),
maka kita diminta beristigfar. Jika belum bisa mereda, diminta berdiri bila
sebelumnya duduk atau duduk bila sebelumnya berdiri. Jika belum mereda juga,
ambil wudhu dan sholat.
2. Sholat
dengan khusuk. Metode dari Allah ini luar biasa karena apabila kita
jalankan dengan benar, maka latihan pernafasan, relaksasi, dan visualisasi
(tujuan hidup) sudah lengkap ada di dalamnya.
3. Membaca
Al-Qur’an. Begitu banyak hikmah dalam Qur’an yang bisa kita ambil untuk
memecahkan masalah kita. Lengkap untuk semua masalah karena memang Qur’an
merupakan panduan langsung dari Allah.
4. Bermunajat.
Berdo’a pada Allah, berdialog memohon bantuan atas masalah kita karena Allah
yang Maha Berkuasa. Jika kita benar-benar meyakini Allah Maha Besar, maka
apapun masalah adalah kecil.
H. Problem Solving
Lalu apa yang harus kita lakukan bila
menghadapi masalah? Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan saat menghadapi
masalah:
1. Bersikap tenang dan jangan lari
dari masalah. Setiap orang punya masalah dan masalah tidak akan terselesaikan
kecuali kita menghadapi dan menyelesaikannya.
2. Rumuskan dengan jelas apa yang
menjadi masalah. Misal, bingung menentukan jurusan kuliah, atau tidak punya
uang padahal ingin beli kaset. Jika sekedar dibayangkan maka apa yang menjadi
fokus masalah sering tidak tergambar jelas.
3. Apabila masalah lebih dari satu,
buatlah urutan prioritas dari yang paling penting hingga tidak. Lalu fokus pada
masalah yang terpenting.
4. Cari alternatif solusi sebanyak
mungkin. Misal, solusi alternatif untuk
tidak punya uang adalah : menghemat agar bisa menabung, menunda membeli kaset
sampai orang tua ada uang, cari pinjaman uang pada teman.
5. Pikir dan tuliskan untung rugi
dari masing-masing alternatif solusi.
6. Pilih solusi yang untung paling banyak dan
rugi paling sedikit.
7. Apabila kita tidak mampu menyelesaikan
sendiri, maka cerita dan berbagilah dengan orang yang dekat dengan kita. Orang
lain barangkali bisa melihat masalah kita dari perspektif lain yang
memungkinkan bersama mencari solusinya.
8. Penting untuk kita ketahui apakah kita sudah
selesaikan semua yang memang bisa kita lakukan
9. Janganlah kita menjadi super-man atau
super-woman, artinya jadwalkanlah agenda yang wajar dan dapat diselesaikan oleh
manusia normal
10. Janganlah biarkan diri kita stress oleh hal-hal
yang berada di luar jangkauan kendali kita
DAFTAR PUSTAKA
Covey, Stephen.
1997. Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat
Efektif. Covey Leadership
Center, Inc.
Hall, C.S., & Lindzey, G.
2004. Theories of Personality; 4th ed.
John Wiley & Sons, Inc. New York. USA.
Smith, Gregory P. 2004. The Art of Managing Time and Your Life.
http://www.greaterdiversity.com/career_resources/movingforward/hippos.html
Jackman, Ann.
2006. How to Get Things Done. Esensi. Jakarta
http://www.kodam-jaya.mil.id/arsip-artikel-kontribusi/1217-manajemen-stres?start=2











Tidak ada komentar:
Posting Komentar