8 Maret 2015

Pilihlah Jalan Hidupmu....!

Sering sekali kita mendengar dalih dari orang yang melanggar ajaran agama atau melakukan dosa dengan mengatakan “Belum mendapatkan hidayah” atau “Sudah ditakdirkan begini” dan seterusnya. Apakah dalih yang demikian dapat dibenarkan oleh Islam? Apakah hidayah memang belum diberikan kepada manusia? Apakah baik dan buruknya manusia karena takdir atau karena pilihan manusia sendiri?
Dalih takdir sebagai alas an melakukan dosa adalah dalih yang digunakan oleh orang-orang musyrik karena kebodohannya akan ajaran yang benar dari Allah. Hal ini disebutkan dalam firman Allah:
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا ءَابَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ (الأنعام 148)
“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta” (Q.S. al-An’am 148).
Dalih takdir juga pernah diungkapkan oleh seorang pencuri di hadapan khalifah Umar bin al-Khaththab r.a.. Ketika itu ia ditanya:”Mengapa kamu mencuri?”, pencuri itu menjawab:”Ini sudah takdir”. Mendengar jawaban pencuri tersebut khalifah Umar memerintahkan agar pencuri itu dicambuk 30 kali kemudian dipotong tangannya. Ketika ditanyakan kepada Umar:”Mengapa harus dicambuk juga?”, Umar menjawab:”Ia harus dipotong tangannya karena ia mencuri, dan harus dicambuk karena ia telah mendustakan Allah”.

Dari kasus tersebut jelas sekali bahwa Umar bin al-Khaththab menganggap bahwa dalih takdir dalam menjalankan dosa adalah pendustaan kepada Allah sebab Allah tidak pernah menyuruh manusia berbuat dosa dan tidak pernah berbuat dlalim (aniaya) terhadap manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam beberapa ayat berikut:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (النحل 90)
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (Q.S. al-Nahl: 90)
وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا ءَابَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (الأعراف 28)
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji (dosa), mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji (dosa)." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Q.S. al-A’raf: 28)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ (النور 21)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar” (Q.S. al-Nur: 21)
Dari ayat-ayat al-Quran di atas dapat difahami bahwa dosa dan pelanggaran yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya adalah pilihannya sendiri karena mengikuti langkah-langkah syetan dan bukan karena takdir dari Allah Swt.. Oleh sebab itu tidak dibenarkan menggunakan dalih takdir sebagai alasan melakukan dosa.
Manusia sebagai makhluk Allah yang diciptakan paling sempurna dan diberi kemulyaan tugas sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi sebenarnya telah dibekali dengan berbagai potensi untuk mampu memilih jalan hidup yang benar yang akan mengantarkannya mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Manusia telah diberi potensi instink yang dengan potensi itu manusia akan tahu dengan sendirinya bahwa ia harus makan ketika lapar, ia harus minum ketika haus, ia harus tidur ketika mengantuk dan seterusnya. Manusia juga diberi potensi indera yang menjadikannya mampu melihat apa yang ia pandang, mendengar apa yang ia dengar, meraba dan merasakan apa yang ia sentuh. Dengan inderanya itu manusia mampu mengenali orang-orang yang ada di sekitarnya, menikmati makanan dan minuman, mengenali bentuk dan warna benda, mengenali berbagai suara, mengenali baik dan buruknya rupa sesuatu dan seterusnya.
Selanjutnya manusia diberi potensi lain yang lebih tinggi kemampuannya yaitu akal pikiran. Dengan potensi ini manusia mampu mengolah dan memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya untuk kemanfaatan dirinya. Selain itu manusia juga mampu membedakan, memilih dan memilah mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, mana yang menguntungkan dirinya dan mana yang akan merugikan dirinya. Namun demikian, ketiga potensi itu belum cukup menjadikan manusia memilih jalan hidup yang tepat dan mencapai kebenaran yang hakiki. Manusia dengan keragaman kemampuannya memiliki ukuran kebenaran yang berbeda antara satu dengan yang lain sehingga apa yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu benar menurut orang lain. Apa yang dianggap benar oleh manusia sebagai hasil pemanfaatan potensinya belum tentu benar dalam pandangan Allah. Oleh karena itu Allah kemudian menurunkan hidayah (petunjuk) kepada manusia dengan mengutus para nabi dan rasul serta menurunkan kitab-kitab suci agar para nabi tersebut menjadi referensi tentang kebenaran yang harus diikuti oleh manusia, dan agar sepeninggal para nabi manusia masih memiliki referensi untuk mengetahui kebenaran yang harus mereka ikuti. Dengan hidayah itu diharapkan manusia mampu menentukan pilihan jalan hidup secara adil dalam arti tepat sasaran dan tidak berbuat dlalim atau salah sasaran dalam meniti kehidupannya. Allah berfirman:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ (الحديد 25)
 “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan” (Q.S. Al-Hadid: 25)
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (الإنسان 3)
 “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya (manusia) jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (Q.S. Al-Insan: 3).
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (البلد 10)
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (Q.S. Al-Balad: 10).
Jika demikian kenyataannya, mengapa ada manusia yang melakukan dosa dan memilih jalan kesesatan? Bukankah potensi untuk membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah sudah dimiiki manusia bahkan petunjuk jalan hidup juga sudah diturunkan? Jawabannya terletak pada bagaimana manusia menggunakan potensinya itu secara cerdas dan maksimal dan bagaimana manusia memiliki kesiapan menerima jalan kebenaran itu. Mereka yang mau menggunakan potensinya dengan cerdas dan maksimal disertai dengan kesiapan menerima jalan kebenaran akan mampu dan berani memilih jalan hidup yang benar sehingga dengan senang hati mengikuti petunjuk jalan kebenaran dari Allah Swt. Sebaliknya mereka yang tidak mau menggunakan potensinya secara maksimal atau menggunakannya secara tidak cerdas, mereka akan salah memilih jalan hidup yang tepat atau minimal ragu-ragu menentukan jalan hidup yang benar sehingga hidupnya terombang-ambing dalam kebimbangan dan kebingungan dan akhirnya terperangkap dalam kesesatan.
Persoalan memilih jalan hidup adalah persoalan pilihan manusia bukan takdir dari Allah. Dengan potensi yang diberikan oleh Allah dan petunjuk yang diturunkan oleh Allah manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidup yang ia sukai. Oleh sebab itu menjadi tugas manusia untuk menggunakan secara cerdas dan maksimal potensi yang ia miliki agar mampu memilih jalan kebenaran secara tepat sehingga hidupnya akan selamat dan bahagia di dunia dan di akherat. Banyak manusia masuk neraka karena mereka tidak cerdas dan tidak maksimal menggunakan potensi yang ada pada dirinya. Manusia seperti ini (banyak melakukan dosa lalu masuk neraka) oleh Allah disamakan dengan binatang bahkan lebih buruk dari binatang. Allah berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف 179)
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Q.S. Al-A’raf: 179).
Demikianlah, dalam hidup ini di antara hal pentng yang mula-mula harus diputuskan oleh manusia dalam hidupnya ini adalah menentukan pilihan jalan hidup. Mana jalan hidup yang ia pilih, jalan kebenaran atau jalan kesesatan? Sebab gaya hidup manusia, penampilan dirinya, obsesi hidupnya, perilakunya, dan bahkan sorga dan neraka sebagai tempat tinggal masa depannya akan sangat tergantung pada pilihan jalan hidupnya. Kalau manusia memilih jalan kebenaran dalam hidupnya Allah akan memudahkannya menjadi orang yang sukses di dunia dan di akherat, sebaliknya jika manusia memilih jalan kesesatan dalam hidupnya Allahpun akan memberikan peluang-peluang yang membawanya pada keterpurukan dan kegagalan. Hidup ini akan berlangsung karena pilihan kita termasuk masuk sorga atau masuk neraka juga pilihan dan kemauan kita. Rasulullah Saw. menyatakan:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى (رواه البخاري)
“Semua umatku akan masuk sorga kecuali yang tidak mau masuk sorga. Ditanyakan kepada beliau:’Siapakah orang yang tidak mau masuk sorga itu wahai Rasulullah?’, Beliau menjawab:’Barangsiapa yang taat kepadaku, dia akan masuk sorga; dan barangsiapa yang tidak mau taat kepadaku, dialah orang yang tidak mau masuk sorga’”(H.R. al- Bukhari).
Oleh karena itu hendaknya kita menggunakan segala potensi kita; instink kita, indera kita, akal kita secara cerdas dan maksimal serta menyiapkan diri kita untuk menerima petunjuk yang benar agar kita mampu memilih dan mengikuti jalan kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah Swt.. Hanya orang-orang yang tidak cerdas dan tidak maksimal menggunakan potensinya serta tidak siap menerima petunjuk yang akan larut dalam dosa dan kemaksiatan. Semoga Allah selalu menunjuki kita jalan kebenaran. Aamiin. []

Referensi:
Al-Quran al-Karim
CD Aplikasi al-Kutub al-Tis’ah

Sayyid Sabiq. Al-Aqaid al-Islamiyah. Dar al-Fikr: Bairut. 1991

Tidak ada komentar:

Posting Komentar