8 Maret 2015

STRATEGI BELAJAR EFEKTIF


Slamet semenjak mahasiswa ini menjadi malas belajar. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain PS ataupun ngobrol bersama teman-teman sekostnya. Awalnya ia rajin belajar namun ia merasa bingung harus mulai dari mana. Ketika SMU ia sebenarnya juga murid yang rajin dan senang belajar. Ia merasa di SMU lebih enak karena soal ujian selalu tidak pernah menyimpang dari apa yang disampaikan guru, tetapi di kuliah ini ia merasa terlalu banyak materi yang ia harus pelajari, belum lagi buku-buku yang sangat tebal, dan sering ternyata soal ujian tidak pernah ada dalam catatannya ataupun catatan teman yang ia pinjam. Ia merasa otaknya tidak sanggup lagi dan karena pusing maka ia lebih senang menghabiskan waktunya dengan bermain atau mengobrol saja. Akhirnya hanya dua semester ia bertahan kuliah.


Sedangkan Rini setiap harinya lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar untuk belajar. Sangat jarang sepulang kuliah ia bermain dan iapun juga tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler. Namun demikian Rini sebenarnya agak kecewa karena ternyata meski sudah belajar keras ternyata IPKnya tidak pernah lebih dari 3,00.
Berbeda dengan Fauzan. Ia terlihat aktif ikut berbagai macam kegiatan mahasiswa, dari organisasi intra hingga bermain futsal yang menjadi hobinya. Ia juga jarang terlihat tekun belajar kecuali setiap habis isya’ ia selalu membikin seperti catatan kuliah, tapi juga seperti menggambar entah apa yang teman-teman satu kos juga kadang tidak paham. Selain itu sehabis sholat subuh Fauzan terlihat membca buku sambil membikin ringkasan sekitar setengah jam dan kemudian mandi lalu cari sarapan. Walau terlihat begitu santai namun semua teman heran karena IPK Fauzan di atas 3,00.
Tiga contoh diatas adalah kasus-kasus umum yang sering terjadi pada mahasiswa. Ada hal baru yang harus menyadarkan bahwa ternyata  pola belajar di dunia kampus tidak sama dengan di dunia SMU. Tidak sekedar dibutuhkan kemandirian dan kemauan keras untuk dapat memahami apa yang diajarkan di dunia kuliah, tetapi lebih dari itu dan terpenting adalah dibutuhkan strategi belajar yang efektif.


Belajar?
Ada empat tahapan yang dituju dalam belajar : mengenali, menghapal, memahami, dan menguasai. Sering mahasiswa masih terjebak bahwa belajar adalah menghapal. Pada akhirnya mahasiswa menjadi jenuh dengan belajar dan otak menjadi mudah lelah karena terlalu penuh penat dengan tumpukan hafalan. Dari empat tahapan diatas, sejatinya pintu utamanya adalah ‘memahami’. Memahami adalah mampu menangkap maksud dari apa yang hendak kita pelajari. Apabila kita telah mampu memahami maka dengan sendirinya kita akan hafal. Sedangkan untuk ‘menguasai’ maka tiada jalan lain kecuali mencoba menerapkannya dalam wujud nyata berulang kali.
Lalu bagaimana caranya memahami?
Otak kita
Sebagaimana materi dalam kepribadian yaitu langkah menuju sukses, maka hal pertama untuk dapat sukses dalam belajar adalah mengenali diri kita. Terkait belajar maka bagian dari yang harus kita kenali adalah otak kita.
Gelombang otak kita bekerja dalam bentuk logitudinal. Setiap kali kemampuannya naik dalam waktu 30 menit dan turun setelahnya. Ini berarti, sebagai misal apabila kita belajar selama 50 menit terus menerus maka yang tersimpan di dalam memori kita hanyalah yang kita pelajari pada 30 menit pertama sedang pada 20 menit sisanya melayang tanpa bekas di udara. Ini artinya setiap kali 30 menit kita harus mengambil jeda sesaat apakah itu untuk sekedar melemaskan leher ataupun berdiri sambil melihat pemandangan luar jendela untuk kemudian belajar lagi selama 30 menit dan begitu berulang seterusnya.
Lalu bagaimana jika kita belajar dengan sistem kebut semalam (sks) dari mulai jam 6 maghrib sampai pagi jam 6? Sama dengan di atas, sebenarnya yang masuk ke otak kita hanyalah yang kita pelajari dari dari jam 6 sore tersebut sampai jam 6.30 malam atau menjelang isya. Oleh karena itu maka strategi belajar terbaik adalah rutin setiap hari sekalipun itu hanya satu atau dua jam.

Pintu memori
Selanjutnya berbicara memori maka dapat dikatakan ada tiga pintu masuknya, pertama melalui mata kita (visual), kedua melalui pendengaran kita (audio), dan terakhir melalui tulang dan tubuhh kita (kinestetik). Setiap orang umumnya memiliki satu pintu yang lebih lebar ketimbang dua pintu lainnya. Berikut cara mengenali pintu mana yang lebih lebar pada diri kita. Pertama jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memberi tanda cawang pada jawaban yang sesuai dengan diri kita.
Visual
no
Pertanyaan
sering
kadang
jarang
1.       
Apakah anda rapi dan teratur?



2.       
Apakah anda lebih ingat apa yang anda baca ketimbang yang anda dengar?



3.       
Apabila diperintah, apakah anda sering meminta perintah tersebut diulang agar anda benar-benar paham?



4.       
Apakah anda lebih suka membaca daripada dibacakan?



5.       
Apakah anda suka mencoret-coret saat mendengarkan dosen mengajar?



6.       
Apakah anda lebih menyukai membaca atau mengamati karya seni daripada mendengarkan musik?



Jumlah jawaban pada tiap sub :
=
=
=
Kalikan dengan pembilang :
X 2
X 1
X 0
Sub total
=
=
=
Total ketiga sub :


Auditori
no
Pertanyaan
sering
kadang
jarang
1.
Apakah saat belajar anda mudah terganggu oleh keributan sedikit saja?



2.
Apakah anda suka menggerakkan bibir/melafalkan kata saat membaca?



3.
Apakah anda merasa menulis itu sulit dan lebih mudah bercerita?



4.
Apakah anda lebih ingat apa yang anda dengar daripada yang anda baca?



5.
Apakah anda suka membaca buku dengan suara cukup keras?



6.
Apakah anda lebih menyukai musik untuk mengisi waktu luang?



Jumlah jawaban pada tiap sub :
=
=
=
Kalikan dengan pembilang :
X 2
X 1
X 0
Sub total
=
=
=
Total ketiga sub :



Kinestetik
no
pertanyaan
sering
kadang
jarang
1.
Apakah anda menghafal sambil berjalan?



2.
Apakah anda tak bisa duduk tenang untuk waktu cukup lama?



3.
Apakah anda mengetuk-ngetuk jari atau pena saat mendengarkan dosen menerangkan?



4.
Apakah anda selalu menggerakkan tangan ataupun bagian tubuh secara aktif saat menerangkan atau bercerita?



5.
Apakah anda lebih senang belajar melalui mempraktekkannya?



6.
Apakah anda lebih menyukai aktifitas fisik semacam olahraga untuk mengisi waktu luang anda daripada kegiatan lain?



Jumlah jawaban pada tiap sub :
=
=
=
Kalikan dengan pembilang :
X 2
X 1
X 0
Sub total
=
=
=
Total ketiga sub :


Selanjutnya isi grafik dibawah dengan total yang sudah anda hitung. Hubungkan setiap titik angka total dari visual, auditori, dan kinestetik. Mana yang paling menonjol (tinggi) itulah pintu memori anda yang terlebar.
20



19



18



17



16



15



14



13



12



11



10



9



8



7



6



5



4



3



2



1




Visual
Auditori
Kinestetik

Jika pintu terlebar anda adalah pintu visual maka membaca, membuat catatan, dan berulang membaca adalah cara terbaik anda untuk memahami materi. Jika pintu terlebar anda adalah auditori, membaca materi kuliah dan merekamnya kemudian berulang kali mendengarkan adalah cara paling efektif, atau jika tidak memiliki alat perekam maka jangan malu membaca dengan suara keras. Jika pintu terlebar anda adalah kinestetik maka buatlah catatan dan kemudian berdirilah lalu baca catatan itu sambil berjalan seolah anda sedang menerangkan di depan kelas. Bilamana ingin bisa juga membuka semua pintu agar materi lebih banyak masuk,caranya : dibaca, dibuat ringkasan, berdiri sambil terangkan pada diri sendiri, ulangi hingga benar-benar paham.

Jam Gelombang Otak
Selain perbedaan dalam hal pintu memori, setiap orang juga memiliki kecenderungan metabolisme tubuh yang berbeda termasuk jam-jam dimana fungsi otak bekerja paling optimal. Beberapa orang lebih baik kerja otak dan daya memorinya saat siang hari, beberapa yang lain malam hari, dan beberapa lagi saat pagi atau dini hari. Kenali pada saat mana jam otakmu? Jika sudah maka pada saat itulah jam terbaikmu untuk belajar.
Berbicara gelombang otak, manusia memiliki empat macam gelombang otak, yaitu alfa (konsentrasi yang santai), beta (awas dan aktif), teta (keadaan hampir tidur dan dalam kondisi bermimpi), dan delta (tidur lelap). Selanjutnya pada tahun 1970-an, Dr. Georgi Lozanov menemukan bahwa dari keempat gelombang otak tersebut maka gelombang alfa-lah yang paling baik untuk kerja otak.
Selanjutnya berikut adalah cara untuk masuk ke dalam kondisi alfa.
1.      Pejamkan mata. Tarik nafas berlahan, atur nafas berlahan, dan rasakan udara masuk keluar melalui lubang hidung kita kemudian membuka rongga-rongga dada kita. Rasakan damainya.
2.      Bayangkan diri kita berada di sebuah taman yang indah, tenang, dengan bunga-bunganya yang berwarna-warni dan udaranya yang menyegarkan. Sembari dalam hati ucapkan bacaan hamdallah.
3.      Setelah merasa lebih nyaman, baca bacaan basmallah dan do’a sebelum belajar, lalu berlahan buka mata.
Strategi Membaca Efektif
Membaca juga adalah kemampuan yang harus dipelajari dan memerlukan strategi. Berikut adalah strategi membaca yang efektif:
1.      Masuki kondisi alfa. Langkah-langkahnya sebagaimana di atas.
2.      Lakukan superscan. Baca secara umum (global) keseluruhan halaman, biarkan jari kita menari ski bolak-balik dan terus turun ke bawah, terakhir buat simpulan prediksi: bacaan yang di depan kita secara umum mengenai apa.
3.      Selanjutnya baca secara teliti keseluruhan. Biarkan jari kita menuntun mata kita. Setiap selesai satu alinea berhentilah, ambil jeda sembari meresapkan apa yang barusan kita baca.
4.      Ulangi sambil membuat ringkasan. Ringkasan terbaik adalah yang berbentuk peta pikiran.

Otak kiri-kanan
Sebagaimana kita memiliki begitu banyak barang, maka cara agar kita tidak lupa dimana menaruhnya adalah dengan mengelompokkan barang tersebut dan kemudian menatanya dengan rapi. Memori kita menyimpan semua yang kita lihat, rasakan, dan alami. Begitu banyak dan padat. Menjadi masalah adalah bagaimana memanggil kembali memori kita tersebut saat dibutuhkan. Sebagaimana cara kita mengatur barang-barang agar tidak lupa, maka memori kita juga harus ditata dengan rapi. Hal yang sama juga berlaku saat membuat catatan. Lebih mudah dipahami jika beralur, runtut, dan rapi. Dengan catatan yang runtut rapi maka dengan mudah akan kita pahami dan simpan dalam memori.
Selain itu perlu diingat bahwa otak kita terdiri dari otak kiri dan kanan yang memiliki fungsi masing-masing. Otak kiri cenderung logis, sedang otak kanan cenderung imajinatif. Sebagaimana punya dua kaki namun memilih berjalan hanya dengan satu kaki sehingga jalan menjadi lambat, maka cara belajar termasuk membuat catatanpun sebaiknya memanfaatkan kedua otak kita agar tidak mudah lelah dalam mengulang atau mempelajarinya. Runtut rapi sehingga alurnya logis (otak kiri) namun juga indah berwarna warni sehingga tidak membosankan saat membacanya (otak kanan).
Otak dilihat dari bawah


Berikut adalah contoh catatan yang tidak menerapkan prinsip peta pikiran dan catatan yang menerapkannya.
Folded Corner: Penelitian terbagi dua jenis, yaitu kuantitatif dan kualitatatif. Penelitian kuantitatif adalah untuk membuktikan hipotesis dan menguji variabel. Sedang penelitian kualitatif  ingin mendapatkan gambaran tentang sesuatu.
Ada yang mirip dengan variabel yaitu konsep dan konstruk. Konsep adalah abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi hal-hal yang khusus. Contoh konsep adalah : berat.
Sedang konstruk sebenarnya adalah konsep namun ada tambahan yaitu sengaja diciptakan dan untuk keperluan khusus. Contohnya adalah : intelegensi
Sedang variabel adalah konstruk yang padanya sudah kita lekatkan niai sehingga bisa diukur. Contohnya adalah : tingkat intelegensi, bisa tinggi misal diatas 120 bisa juga rendah misal dibawah 80. Variabel terbagi dua yaitu dikotomis semisal laki-laki dan perempuan, bisa juga politomis semisal tingkat pendidikan : sd, smp, smu, d3, dan sarjana.
 











Contoh catatan diatas cenderung tidak runtut sehingga tidak dapat membentuk suatu peta kognitif yang memudahkan kita untuk memahaminya (kurang memakai otak kanan). Selain itu juga tampil kaku sehingga membosankan dan mudah lelah membacanya.




 



                                           


 








Contoh catatan di atas sangat menyenangkan dilihat karena bisa diwarna-warni serta dihias dengan gambar dan tidak membosankan karenanya (otak kanan). Selain itu membuatnya juga menyenangkan karena memberi tempat kita untuk menumpahkan seluruh imajinasi dan bahkan mungkin perasaan kita. Namun demikian sekalipun terkesan penuh gambar dan hiasan, catatan di atas cukup mudah dipahami dan sistematis sehingga mudah mengingatnya (otak kiri).
Kondisi Mental dan Lingkungan Sosial yang Perlu Diperhatikan
            Setelah kita gunakan teknik belajar di atas, beberapa hal yang harus diperhatikan yakni kondisi mental kita dan lingkungan sosial tempat dimana kita tinggal. Anda yang tahu sendiri bagaimana keduanya itu. Beberapa tips berikut harus diperhatikan.
1.      Kenalilah kapan waktu anda bisa nyaman belajar. Tiap orang memiliki waktu-waktu konsentrasi belajar yang tidak sama. Ada yang suka belajar di atas jam sembilan malam. Ada juga yang suka memilih habis maghrib. Ada pula yang belajar habis sholat shubuh.
2.      Tentukan capaian-capaian dalam belajar. Ketika anda membaca buku atau membuat laporan, sekalian anda tentukan, anda sampai titik/tahapan mana. Kemudian, tahapan itu disempurnakan secara terus menerus.
3.      Dalam belajar kita pasti akan menemui titik-titik jenuh. Kebanyakan dari  kita tidak sanggup belajar terus menerus tanpa menemui kejenuhan. Anda harus menyadari ini dan pandai-pandai bagaimana mengelola ini. Melakukan kegiatan yang menyenangkan atau melakukan hobby anda, sangat membantu keluar dari kejenuhan.
4.      Disiplin dalam mengatur waktu. Tetapkan waktu rutin belajar anda. Kemudian, anda harus tegas jika waktunya belajar harus belajar, terutama bagi mereka yang banyak aktif di organisasi ketegasan ini sangat penting demi mencapai keberhasilan belajar dan keberhasilan organisasi. Juga, belajar sedikit demi sedikit tetapi rutin akan lebih baik dibanding belajar jika menghadapi ujian (SKS=sistem kebut semalam).
5.      Teman satu kelas, teman kost atau teman bermain sangat mempengaruhi kondisi belajar anda. Dengan kata lain,  lingkungan sosial sangat menentukan pasang surut belajar anda. Jika teman-teman anda semangat dan kompetitif anda akan sungguh-sungguh belajar. Sebaliknya, jika mereka tidak rajin belajar maka sedikit banyak mempengaruhi. Kemampuan untuk mengendalikan lingkungan sosial ini sangat penting untuk dipelajari.
6.      Sesuatu yang anda dapatkan merupakan yang anda upayakan. Jangan berpikir keberuntungan dalam mendapatkan nilai mata kuliah. Semuanya itu merupakan buah dari kerja keras anda atau kalaupun sudah belajar sungguh-sungguh, tetapi nilai yang keluar kok tidak seperti yang diharapkan, bukan berarti belajar anda sia-sia.
Dengan kita memahami cara strategi belajar yang efektif,  kondisi mental dan kondisi lingkungan sosial di sekitar kita, belajar akan lebih menyenangkan dan tidak melelahkan. Terpenting lagi hasilnya, baik itu berupa pengetahuan ataupun nilai IPK, akan memuaskan dan jadi semangat karenanya. Ayo siapa yang ingin belajar??

Daftar Pustaka :
Buzan, Tony. 1993. The Mind Map Book. Dutton, New York.
DePorter, B., dkk. 1999. Quantum Teaching. Allyn & Bacon, Boston.
Solso, Robert. 1995. Cognitive Psychology. Allyn & Bacon, Boston.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar