Slamet semenjak mahasiswa ini menjadi malas belajar. Ia lebih suka
menghabiskan waktunya untuk bermain PS ataupun ngobrol bersama teman-teman
sekostnya. Awalnya ia rajin belajar namun ia merasa bingung harus mulai dari
mana. Ketika SMU ia sebenarnya juga murid yang rajin dan senang belajar. Ia
merasa di SMU lebih enak karena soal ujian selalu tidak pernah menyimpang dari
apa yang disampaikan guru, tetapi di kuliah ini ia merasa terlalu banyak materi
yang ia harus pelajari, belum lagi buku-buku yang sangat tebal, dan sering
ternyata soal ujian tidak pernah ada dalam catatannya ataupun catatan teman
yang ia pinjam. Ia merasa otaknya tidak sanggup lagi dan karena pusing maka ia
lebih senang menghabiskan waktunya dengan bermain atau mengobrol saja. Akhirnya
hanya dua semester ia bertahan kuliah.
Sedangkan Rini setiap harinya lebih banyak menghabiskan waktunya
di kamar untuk belajar. Sangat jarang sepulang kuliah ia bermain dan iapun juga
tidak ikut kegiatan ekstrakurikuler. Namun demikian Rini sebenarnya agak kecewa
karena ternyata meski sudah belajar keras ternyata IPKnya tidak pernah lebih
dari 3,00.
Berbeda dengan Fauzan. Ia terlihat aktif ikut berbagai macam
kegiatan mahasiswa, dari organisasi intra hingga bermain futsal yang menjadi
hobinya. Ia juga jarang terlihat tekun belajar kecuali setiap habis isya’ ia
selalu membikin seperti catatan kuliah, tapi juga seperti menggambar entah apa
yang teman-teman satu kos juga kadang tidak paham. Selain itu sehabis sholat
subuh Fauzan terlihat membca buku sambil membikin ringkasan sekitar setengah
jam dan kemudian mandi lalu cari sarapan. Walau terlihat begitu santai namun
semua teman heran karena IPK Fauzan di atas 3,00.
Tiga contoh diatas adalah kasus-kasus umum yang sering terjadi
pada mahasiswa. Ada hal baru yang harus menyadarkan bahwa ternyata pola belajar di dunia kampus tidak sama dengan
di dunia SMU. Tidak sekedar dibutuhkan kemandirian dan kemauan keras untuk
dapat memahami apa yang diajarkan di dunia kuliah, tetapi lebih dari itu dan terpenting
adalah dibutuhkan strategi belajar yang efektif.
Belajar?
Ada empat tahapan yang dituju dalam belajar : mengenali,
menghapal, memahami, dan menguasai. Sering mahasiswa masih terjebak bahwa
belajar adalah menghapal. Pada akhirnya mahasiswa menjadi jenuh dengan belajar
dan otak menjadi mudah lelah karena terlalu penuh penat dengan tumpukan
hafalan. Dari empat tahapan diatas, sejatinya pintu utamanya adalah ‘memahami’.
Memahami adalah mampu menangkap maksud dari apa yang hendak kita pelajari.
Apabila kita telah mampu memahami maka dengan sendirinya kita akan hafal.
Sedangkan untuk ‘menguasai’ maka tiada jalan lain kecuali mencoba menerapkannya
dalam wujud nyata berulang kali.
Lalu bagaimana caranya memahami?
Otak kita
Sebagaimana materi dalam kepribadian yaitu langkah menuju sukses,
maka hal pertama untuk dapat sukses dalam belajar adalah mengenali diri kita.
Terkait belajar maka bagian dari yang harus kita kenali adalah otak kita.
Gelombang otak kita bekerja dalam bentuk logitudinal. Setiap kali
kemampuannya naik dalam waktu 30 menit dan turun setelahnya. Ini berarti,
sebagai misal apabila kita belajar selama 50 menit terus menerus maka yang
tersimpan di dalam memori kita hanyalah yang kita pelajari pada 30 menit pertama
sedang pada 20 menit sisanya melayang tanpa bekas di udara. Ini artinya setiap
kali 30 menit kita harus mengambil jeda sesaat apakah itu untuk sekedar
melemaskan leher ataupun berdiri sambil melihat pemandangan luar jendela untuk
kemudian belajar lagi selama 30 menit dan begitu berulang seterusnya.
Lalu bagaimana jika kita belajar dengan sistem kebut semalam (sks)
dari mulai jam 6 maghrib sampai pagi jam 6? Sama dengan di atas, sebenarnya
yang masuk ke otak kita hanyalah yang kita pelajari dari dari jam 6 sore
tersebut sampai jam 6.30 malam atau menjelang isya. Oleh karena itu maka
strategi belajar terbaik adalah rutin setiap hari sekalipun itu hanya satu atau
dua jam.

Pintu
memori
Selanjutnya berbicara memori maka dapat dikatakan ada tiga pintu
masuknya, pertama melalui mata kita (visual), kedua melalui pendengaran kita
(audio), dan terakhir melalui tulang dan tubuhh kita (kinestetik). Setiap orang
umumnya memiliki satu pintu yang lebih lebar ketimbang dua pintu lainnya.
Berikut cara mengenali pintu mana yang lebih lebar pada diri kita. Pertama
jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memberi tanda cawang pada jawaban
yang sesuai dengan diri kita.
Visual
no
|
Pertanyaan
|
sering
|
kadang
|
jarang
|
1.
|
Apakah anda rapi dan teratur?
|
|||
2.
|
Apakah anda lebih ingat apa yang anda baca ketimbang yang anda
dengar?
|
|||
3.
|
Apabila diperintah, apakah anda sering meminta perintah tersebut
diulang agar anda benar-benar paham?
|
|||
4.
|
Apakah anda lebih suka membaca daripada dibacakan?
|
|||
5.
|
Apakah anda suka mencoret-coret saat mendengarkan dosen
mengajar?
|
|||
6.
|
Apakah anda lebih menyukai membaca atau mengamati karya seni
daripada mendengarkan musik?
|
|||
Jumlah jawaban pada tiap sub :
|
=
|
=
|
=
|
|
Kalikan dengan pembilang :
|
X 2
|
X 1
|
X 0
|
|
Sub total
|
=
|
=
|
=
|
|
Total ketiga sub :
|
||||
Auditori
no
|
Pertanyaan
|
sering
|
kadang
|
jarang
|
1.
|
Apakah saat belajar anda mudah terganggu oleh keributan sedikit
saja?
|
|||
2.
|
Apakah anda suka menggerakkan bibir/melafalkan kata saat
membaca?
|
|||
3.
|
Apakah anda merasa menulis itu sulit dan lebih mudah bercerita?
|
|||
4.
|
Apakah anda lebih ingat apa yang anda dengar daripada yang anda
baca?
|
|||
5.
|
Apakah anda suka membaca buku dengan suara cukup keras?
|
|||
6.
|
Apakah anda lebih menyukai musik untuk mengisi waktu luang?
|
|||
Jumlah jawaban pada tiap sub :
|
=
|
=
|
=
|
|
Kalikan dengan pembilang :
|
X 2
|
X 1
|
X 0
|
|
Sub total
|
=
|
=
|
=
|
|
Total ketiga sub :
|
||||
Kinestetik
no
|
pertanyaan
|
sering
|
kadang
|
jarang
|
1.
|
Apakah anda menghafal sambil berjalan?
|
|||
2.
|
Apakah anda tak bisa duduk tenang untuk waktu cukup lama?
|
|||
3.
|
Apakah anda mengetuk-ngetuk jari atau pena saat mendengarkan
dosen menerangkan?
|
|||
4.
|
Apakah anda selalu menggerakkan tangan ataupun bagian tubuh
secara aktif saat menerangkan atau bercerita?
|
|||
5.
|
Apakah anda lebih senang belajar melalui mempraktekkannya?
|
|||
6.
|
Apakah anda lebih menyukai aktifitas fisik semacam olahraga
untuk mengisi waktu luang anda daripada kegiatan lain?
|
|||
Jumlah jawaban pada tiap sub :
|
=
|
=
|
=
|
|
Kalikan dengan pembilang :
|
X 2
|
X 1
|
X 0
|
|
Sub total
|
=
|
=
|
=
|
|
Total ketiga sub :
|
||||
Selanjutnya isi grafik dibawah dengan total yang sudah anda
hitung. Hubungkan setiap titik angka total dari visual, auditori, dan
kinestetik. Mana yang paling menonjol (tinggi) itulah pintu memori anda yang
terlebar.
20
|
|||
19
|
|||
18
|
|||
17
|
|||
16
|
|||
15
|
|||
14
|
|||
13
|
|||
12
|
|||
11
|
|||
10
|
|||
9
|
|||
8
|
|||
7
|
|||
6
|
|||
5
|
|||
4
|
|||
3
|
|||
2
|
|||
1
|
|||
Visual
|
Auditori
|
Kinestetik
|
Jika pintu terlebar anda adalah pintu visual maka membaca, membuat
catatan, dan berulang membaca adalah cara terbaik anda untuk memahami materi.
Jika pintu terlebar anda adalah auditori, membaca materi kuliah dan merekamnya
kemudian berulang kali mendengarkan adalah cara paling efektif, atau jika tidak
memiliki alat perekam maka jangan malu membaca dengan suara keras. Jika pintu
terlebar anda adalah kinestetik maka buatlah catatan dan kemudian berdirilah
lalu baca catatan itu sambil berjalan seolah anda sedang menerangkan di depan
kelas. Bilamana ingin bisa juga membuka semua pintu agar materi lebih banyak
masuk,caranya : dibaca, dibuat ringkasan, berdiri sambil terangkan pada diri
sendiri, ulangi hingga benar-benar paham.
Jam
Gelombang Otak
Selain perbedaan dalam hal pintu memori, setiap orang juga
memiliki kecenderungan metabolisme tubuh yang berbeda termasuk jam-jam dimana
fungsi otak bekerja paling optimal. Beberapa orang lebih baik kerja otak dan
daya memorinya saat siang hari, beberapa yang lain malam hari, dan beberapa
lagi saat pagi atau dini hari. Kenali pada saat mana jam otakmu? Jika sudah
maka pada saat itulah jam terbaikmu untuk belajar.
Berbicara gelombang otak, manusia memiliki empat macam gelombang
otak, yaitu alfa (konsentrasi yang santai), beta (awas dan aktif), teta
(keadaan hampir tidur dan dalam kondisi bermimpi), dan delta (tidur lelap).
Selanjutnya pada tahun 1970-an, Dr. Georgi Lozanov menemukan bahwa dari keempat
gelombang otak tersebut maka gelombang alfa-lah yang paling baik untuk kerja
otak.
Selanjutnya berikut adalah cara untuk masuk ke dalam kondisi alfa.
1.
Pejamkan mata. Tarik nafas berlahan, atur nafas berlahan, dan
rasakan udara masuk keluar melalui lubang hidung kita kemudian membuka
rongga-rongga dada kita. Rasakan damainya.
2.
Bayangkan diri kita berada di sebuah taman yang indah, tenang,
dengan bunga-bunganya yang berwarna-warni dan udaranya yang menyegarkan.
Sembari dalam hati ucapkan bacaan hamdallah.
3.
Setelah merasa lebih nyaman, baca bacaan basmallah dan do’a
sebelum belajar, lalu berlahan buka mata.
Strategi
Membaca Efektif
Membaca juga adalah kemampuan yang harus dipelajari dan memerlukan
strategi. Berikut adalah strategi membaca yang efektif:
1.
Masuki kondisi alfa. Langkah-langkahnya sebagaimana di atas.
2.
Lakukan superscan. Baca secara umum (global) keseluruhan halaman,
biarkan jari kita menari ski bolak-balik dan terus turun ke bawah, terakhir
buat simpulan prediksi: bacaan yang di depan kita secara umum mengenai apa.
3.
Selanjutnya baca secara teliti keseluruhan. Biarkan jari kita
menuntun mata kita. Setiap selesai satu alinea berhentilah, ambil jeda sembari
meresapkan apa yang barusan kita baca.
4.
Ulangi sambil membuat ringkasan. Ringkasan terbaik adalah yang
berbentuk peta pikiran.
Otak
kiri-kanan
Sebagaimana kita memiliki begitu banyak barang, maka cara agar
kita tidak lupa dimana menaruhnya adalah dengan mengelompokkan barang tersebut
dan kemudian menatanya dengan rapi. Memori kita menyimpan semua yang kita
lihat, rasakan, dan alami. Begitu banyak dan padat. Menjadi masalah adalah
bagaimana memanggil kembali memori kita tersebut saat dibutuhkan. Sebagaimana
cara kita mengatur barang-barang agar tidak lupa, maka memori kita juga harus
ditata dengan rapi. Hal yang sama juga berlaku saat membuat catatan. Lebih
mudah dipahami jika beralur, runtut, dan rapi. Dengan catatan yang runtut rapi
maka dengan mudah akan kita pahami dan simpan dalam memori.
Selain itu perlu diingat bahwa otak kita terdiri dari otak kiri
dan kanan yang memiliki fungsi masing-masing. Otak kiri cenderung logis, sedang
otak kanan cenderung imajinatif. Sebagaimana punya dua kaki namun memilih
berjalan hanya dengan satu kaki sehingga jalan menjadi lambat, maka cara
belajar termasuk membuat catatanpun sebaiknya memanfaatkan kedua otak kita agar
tidak mudah lelah dalam mengulang atau mempelajarinya. Runtut rapi sehingga
alurnya logis (otak kiri) namun juga indah berwarna warni sehingga tidak
membosankan saat membacanya (otak kanan).
Otak
dilihat dari bawah

Berikut adalah contoh catatan yang tidak menerapkan prinsip peta
pikiran dan catatan yang menerapkannya.
![]() |
Contoh catatan diatas cenderung tidak runtut sehingga tidak dapat
membentuk suatu peta kognitif yang memudahkan kita untuk memahaminya (kurang
memakai otak kanan). Selain itu juga tampil kaku sehingga membosankan dan mudah
lelah membacanya.
![]() |
![]() |
|||
![]() |
|||
Contoh catatan di atas sangat menyenangkan dilihat karena bisa
diwarna-warni serta dihias dengan gambar dan tidak membosankan karenanya (otak
kanan). Selain itu membuatnya juga menyenangkan karena memberi tempat kita
untuk menumpahkan seluruh imajinasi dan bahkan mungkin perasaan kita. Namun
demikian sekalipun terkesan penuh gambar dan hiasan, catatan di atas cukup
mudah dipahami dan sistematis sehingga mudah mengingatnya (otak kiri).
Kondisi Mental dan Lingkungan Sosial yang Perlu Diperhatikan
Setelah kita gunakan teknik belajar di atas, beberapa hal
yang harus diperhatikan yakni kondisi mental kita dan lingkungan sosial tempat
dimana kita tinggal. Anda yang tahu sendiri bagaimana keduanya itu. Beberapa
tips berikut harus diperhatikan.
1.
Kenalilah
kapan waktu anda bisa nyaman belajar. Tiap orang memiliki waktu-waktu
konsentrasi belajar yang tidak sama. Ada yang suka belajar di atas jam sembilan
malam. Ada juga yang suka memilih habis maghrib. Ada pula yang belajar habis
sholat shubuh.
2.
Tentukan
capaian-capaian dalam belajar. Ketika anda membaca buku atau membuat laporan,
sekalian anda tentukan, anda sampai titik/tahapan mana. Kemudian, tahapan itu
disempurnakan secara terus menerus.
3.
Dalam
belajar kita pasti akan menemui titik-titik jenuh. Kebanyakan dari kita tidak sanggup belajar terus menerus
tanpa menemui kejenuhan. Anda harus menyadari ini dan pandai-pandai bagaimana
mengelola ini. Melakukan kegiatan yang menyenangkan atau melakukan hobby anda,
sangat membantu keluar dari kejenuhan.
4.
Disiplin
dalam mengatur waktu. Tetapkan waktu rutin belajar anda. Kemudian, anda harus
tegas jika waktunya belajar harus belajar, terutama bagi mereka yang banyak
aktif di organisasi ketegasan ini sangat penting demi mencapai keberhasilan
belajar dan keberhasilan organisasi. Juga, belajar sedikit demi sedikit tetapi
rutin akan lebih baik dibanding belajar jika menghadapi ujian (SKS=sistem kebut
semalam).
5.
Teman
satu kelas, teman kost atau teman bermain sangat mempengaruhi kondisi belajar
anda. Dengan kata lain, lingkungan
sosial sangat menentukan pasang surut belajar anda. Jika teman-teman anda
semangat dan kompetitif anda akan sungguh-sungguh belajar. Sebaliknya, jika
mereka tidak rajin belajar maka sedikit banyak mempengaruhi. Kemampuan untuk
mengendalikan lingkungan sosial ini sangat penting untuk dipelajari.
6.
Sesuatu
yang anda dapatkan merupakan yang anda upayakan. Jangan berpikir keberuntungan
dalam mendapatkan nilai mata kuliah. Semuanya itu merupakan buah dari kerja
keras anda atau kalaupun sudah belajar sungguh-sungguh, tetapi nilai yang
keluar kok tidak seperti yang diharapkan, bukan berarti belajar anda sia-sia.
Dengan kita memahami cara strategi belajar yang efektif, kondisi mental dan kondisi lingkungan sosial
di sekitar kita, belajar akan lebih menyenangkan dan tidak melelahkan.
Terpenting lagi hasilnya, baik itu berupa pengetahuan ataupun nilai IPK, akan
memuaskan dan jadi semangat karenanya. Ayo siapa yang ingin belajar??
Daftar
Pustaka :
Buzan,
Tony. 1993. The Mind Map Book. Dutton, New York.
DePorter,
B., dkk. 1999. Quantum Teaching. Allyn & Bacon, Boston.
Solso,
Robert. 1995. Cognitive Psychology. Allyn & Bacon, Boston.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar