8 Maret 2015

Ayo menulis

Menulis itu ketrampilan praktis dan tidak ada hubungannya dengan bakat. Artinya seorang akan bisa menulis kalau latihan terus-menerus. Bedakan antara “belajar berenang” dengan belajar “tentang berenang”. Jika seseorang ingin belajar berenang maka ia harus terjun langsung ke air. Pertama-tama tentu akan sulit, bahkan diselingi dengan minum air, tetapi lama-kelamaan akan bisa. Sedangkan belajar tentang berenang adalah belajar “tentang” saja, dan ia ada dalam dunia imajinasi/abstrak.


2. Teori Kendi
Amati sebuah kendi. Kendi itu hanya akan bisa dituangkan airnya untuk diminum kalau ia sudah diberi air sebelumnya. Otak kita ibaratkan kendi itu tadi. Seberapa keras usaha kita untuk menulis tetapi tidak pernah “memberi air” pada tubuh kita, sulit untuk tak mengatakan tidak bisa menulis. “Air” yang dimaksud adalah membaca, mengamati, mengikuti diskusi, membaca koran dll.
3. Filsafat Jalan Kaki
Orang menulis perlu tahapan. Sama seperti orang jalan kaki harus dimulai dari satu langkah terlebih dahulu. Bagaimana mungkin ia bisa langsung menapak dalam jarak 10 meter? Maka menulis dimulai dari thema-thema ringan (dunia mahasiswa, remaja, televisi, musik atau yang Anda senangi dulu), termasuk memilih media yang lebih gampang. Suatu saat nanti “langkah” kita akan semakin menjauh. Jadi, jangan punya motto “Nafsu besar, tenaga kurang”. “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)” (Al Insyiqaq: 19).
4. Sekolah Dimana?
Menulis tidak perlu sekolah formal. Siapa saja bisa menjadi penulis. Sekolah formal hanya katarsis (pemercepat proses) dan bukan faktor utama. Sekolah menulis ada di masyarakat itu. Bukankah Emha, Soedjatmoko, Adam Malik, Arswendo Atmowiloto sukses menulis tanpa pendidikan formal yang tinggi? Maka, jangan ragu menulis karena tidak kuliah di Fakultas/Jurusan Komunikasi. Itu belum jaminan.

 

C. Motivasi Menulis

1. Mendapatkan Penghasilan
2. Mencari Popularitas
3. Tanggungjawab Sosial
4. Syukur

D. Unsur-Unsur Menulis

Bentuk-Bentuk:
1.Narasi
1.Deskirpsi
2.Eksposisi
3.Argumentasi
4.Persuasi
 
                                                       

Segi-segi:
1.Asas
2.Aturan
3.Teknik
4.Rangka
5.Langkah
 
 

































E. Topik dan Judul
Topik adalah suatu hal yang akan digarap menjadi tulisan. Topik merupakan jawaban atas pertanyaan Masalah aoa yang akan ditulis? Atau Hendak menulis tentang apa? Judul  adalah perincian atau penjabaran dari topik. Judul lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau variabel yang akan dibahas.

Topik
Judul
1. Pertandingan Sepak Bola Arema melawan Persib
a.       Mampukah Singo Edan Meredam Maung Bandung?
b.      Arema Dan Persis Akan Menggoyang Stadion Gajayana
c.       Ini Dia, Dua Musuh Bebuyutan Adu Kekuatan Di Stadion Gajayana.
2. Putus Sekolah
a.       Kiat Menekan Tingginya Angka Putus Sekolah
b.      Tingginya Angka Putus Sekolah Merupakan Problema Pendidikan
c.       Masalah Tingginya Angka Putus Sekolah, PR Bagi Pemerintahan SBY

Mempersempit topik
Untuk mempersempit pokok pembicaraan ada beberapa cara yang lazim digunakan.
  1. Memecah pokok pembicaraan menjadi bagian-bagian yang makin kecil yang disebut sub topik.
  2. Menulis pokok umum dan membuat daftar aspek khusus apa saja dari pokok itu secara berurutan ke bawah.

Klub AC Milan


Pelatih


Pemilihan Pemain


Strategi permainanan
 

Bagan 1
 

Bagan 2
 
 




Kemudian Klub AC Milan dapat ditingkatkan menjadi topik. Kemudian bisa dibuat sub topik sebagaimana terlihat dalam Bagan 2. Topik Pemilihan pemain adalah topik yang paling sempit dan yang paling layak dipakai untuk membuat tulisan.
Clustering
Clustering adalah cara brainstorming lain yang dapat digunakan untuk menggeneraslisasi gagasan pula. Tentu saja caranya agak berbeda dengan langkah-langkah yang sudah kita bahas bersama di atas.  Clustering bisa dilakukan dengan prosedur sebagai berikut;
1.      Siapkan kertas kosong.
2.      Tulis sebuah topik di tengah kertas kosong tersebut dan buatlah lingkaran mengelilingi topik itu (seperti balon).  Topik yang sudah kita pilih tersebut dinamakan pusat atau inti.
3.      Tulis apapun gagasan yang muncul di dalam balon dengan melingkari inti itu.
4.      Tarik garis lurus dan buatlah kata yang dilingkari yang berkaitan dengan topik yang kita pilih. Jika kita sudah kehabisan kata yang berkaitan dengan topik yang berada di tengah-tengah tersebut, buatlah tarikan dari kalimat yang ditarik dari pusat. Jadi, pusat, tarikan pertama, dan tarikan kedua, begitu seterusnya sampai detail. Lalu, pikirkan tentang masing-masing gagasan dan buat lebih banyak balon melingkarinya.
Contohnya, Anda suatu saat ingin menggambarkan seorang yang sangat dekat dengan Anda. Anda bisa melakukan teknik  clustering untuk mendapat gambaran pengembangan gagasan Anda. Anda mungkin berkesempatan menggambarkannya sebagai berikut;
 


































Melihat bagan balon-balon di atas, bisa  diterangkan bahwa kata “Pekerja keras” ternyata bisa diuraikan atau dibuat balon-balon yang lebih banyak dibandingkan dengan “Suka Merokok”, “Ramah”, “Suka Olah Raga”, dan “Religius”. Dengan demikian, akan lebih baik manakala ide tentang “Ayahku” menjadikan “pekerja keras” sebagai ide pokok  utama untuk membuat tulisan. Tentu saja ini semua berdasarkan kekayaan pengetahuan penulis. Bisa jadi, penulis yang lain akan mempunyai balon-balon yang lebih banyak dari kata “Religius” dengan melihat kenyataan pada apa yang terjadi pada ayahnya sendiri.

F. Tema dan Tesis
Tema berarti pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan disampaikan oleh penulis melalui tulisannya. Tema adalah suatu yang melatarbelakangi dan mendorong seseorang menuliskannya.
Contoh-contoh:
Topik
Tesis/tujuan
:
:
Dampak Buruk Aborsi
Membuktikan dampak buruk aborsi ditinjau dari sudut pandang kesehatan, moral, dan agama
Topik
Tesis/tujuan
:
:
Kelangkaan BBM di beebrapa kota di Indonesia
Kelangkaan BMM di beberapa kota disebabkan oleh kelemahan sistem manajemen Pertamina.

Dalam contoh di bawah akan lebih jelas bagaimana kedudukan tema dalam suatu kerangka tulisan.
Topik
:
Kemacetan Lalu Lintas
Sub topik
:
Upaya Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas
Judul
:
(dapat dirancang sesuai selera penulis, asalkan tetap sesuai dengan topik di atas), misalnya:
“Macet, Penyakit Modernisasi”
“Kemacetan Lalu Lintas Memicu Stress”
“Kemacetan Lalin dan Tanggung Jawab Pemerintah”
Uraian Tema

Upaya mengatasi kemacetan lalu lintas  bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab aparat kepolisian, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh pemakai jalan. Permasalah lalu lintas tidak akan mungkin bisa dipecahkan tanpa bantuan semua pihak yang terkait. Faktor manusia menjadi titik penting untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.

G. Membuat Kerangka/Outline Tulisan
Kerangka tulisan adalah rencana teratur tentang pembagian  dan penyusunan gagasan. Fungsi utamanya mengatur  hubungan antara gagasan-gagasan yanag ada.
Mengapa kerangka tulisan penting?
  1. Akan mempermudah penulis menuliskan tulisannya dan dapat mencegah penulis mengolah suatu ide sampai dua kali, serta mencegah penulis keluar dari sasaran yang sudah ditetapkan.
  2. Akan membantu penulis mengatur atau menempatkan klimaks yang berbeda-beda di dalam tulisannya.
  3. Bila kerangka sudah tersusun rapi, berarti separuh tulisan sudah selesai karena semua ide sudah terkumpul, dirinci, dan disusun dengan teratur. Penulis tinggal menyusun kalimat-kalimatnya saja untuk “menyembunyikan” ide dan gagasannya.
  4. Kerangka tulisan merupakan  miniatur  dari keseluruhan tulisan. Melalui kerangka tulisan, pembaca dapat melihat intisari ide serta struktur tulisannya.
Contohnya sebagai berikut :


SEBAB-SEBAB KEKERASAN BURUH
A.









B.

Finansial
1.      Gaji Pokok
a.       buruh terampil
b.      buruh kasar
2.      Perumahan
a.       buruh yang sudah berkeluarga
b.      buruh yang belum berkeluarga
3.      Pemeliharaan kesehatan
a.       buruh laki-laki
b.      buruh perempuan
Politik
1.      Pengaruh Serikat Buruh Perusahaan
a.       pengaruh pada buruh terampil
b.      pengaruh pada buruh kasar
2.      Pengaruh dari Luar Perusahaan
a.       organisasi politik
b.      partai politik
c.       politik internasional


Langkah-langkah Menulis

SUNTINGLAH
Kaidah bahasa, diksi, kalimat, dan alinea
 

SESUAIKAN
Bentuk dan jenis tulisan 
 

Pembuatan outline
 

Penyuntingan wacana
 
 










H. Perbedaan Tulisan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan  Non Ilmiah

Karakteristik
Ilmiah
Semi Ilmiah/ilniah populer
Non ilmiah
Sumber
Pengamatan, faktual
Pengamatan faktual
Non faktual (rekaan)
Sifat
Objektif
Objektif + subjektif
Subjektif
Bobot
Ilmiah
Ilmiah populer
Non ilmiah
Alur
Sistematis, metodis
Sistematis, kronologis, kilas balik (flashback)
Bebas
Bahasa
Denotatif, ragam baku, istilah khusus
(Denotatif + konotatif) setengah resmi
Denotatif/konotatif, setengah resmi/tidak resmi/istilah umum/daerah
Bentuk
Argumentasi, campuran
Eksposisi, persuasi, deskripsi, campuran
Narasi, deskripsi, campuran
Jenis tulisan
Penelitian, skripsi, tesis, disertasi
Artikel media cetak, editorial, feature, reportase
Novel, cerpen, cerber, hikayat, roman, puisi, naskah drama

I. Serangkai kata frasa penghubung sebagai pengkait alinea

Fungsi
Contoh kata dan frasa
Menyatakan hubungan:

a. akibat/hasil
Akibatnya, karena itu, maka dari itu, oleh sebab itu, dengan demikian, jadi
b. pertambahan
Berikutnya, demikian juga, kemudian, selain itu, lagi pula, lalu, selanjutnya, tambahan lagi
c. perbandingan
Dalam hal yang sama, lain halnya dengan, sebaliknya, lebih baik dari itu, berbeda dengan
d.pertentangan
Akan tetapi, bagaimanapun juga, meskipun begitu, namun, sebaliknya, walaupun demikian
e.tempat
Berdekatan dengan itu, di sini, di seberang sana, tak jauh dari sana, di bawah, persis di depan...., di sepanjang...
f.tujuan
Agar, untuk/guna, untuk maksud itu
g.waktu
Baru-baru ini, beberapa saat kemudian, mulai, sebelum, segera, sesudah, sejak, ketika
h.singkatan
Singkatnya, ringkasnya, akhirnya, sebagai simpulan, pendek kata

Contoh-contoh:
a.       Contoh (a) menyatakan akibat atau hasil -à “Tenaga kerja di pulau Jawa, Bali, Madura, dan Lombok kelebihan sedangkan di pulau-pulau lain kekurangan. Oleh karena itu, sebagian tenaga kerja dari keempat pulau tersebut dipindahkan ke pulau-pulau lain yang kekurangan tenaga kerja. Dengan demikian, akan terjadi pemerataan tenaga kerja di Indonesia”.
b.      Contoh (b) menyatakan hubungan pertambahan à “Deterjen tidak hanya cocok dipakai untuk mencuci bahan yang kasar, tetapi cocok untuk mencuci bahan  yang halus seperti sutera. Selain itu, deterjen dapat juga dipakai untuk mencuci perabot dapur. Lagi pula, perabotan yang dicuci dengan bubuk deterjen ini warna tidak pudar”.

J. Teknik Menulis Artikel
Menulis artikel itu sangatlah gampang. Yang dibutuhkan adalah  latihan terus dan tak kenal putus asa. Menulis pada dasarnya mengolah bahan mentah kemudian dituangkan dalam bahasa tulis. Bahasa artikel lebih bersifat formal (tulis) dan bukan bahasa informal (lisan). Berikut ini disajikan langkah-langkah dalam menulis artikel.

 

Menulai Menulis

1. Mencari Ide
-          Mengamati
Mengamati di sini adalah mencermati keadaan sekitar. Berbagai fenomena di masyarakat itu semua merupakan bahan  untuk menulis.
-          Membaca Koran
Sering ide muncul setelah kita membaca koran. Bagaimana mungkin kita akan bisa menemukan ide tanpa tahu informasi yang terjadi sehari-hari? Maka, membaca koran adalah wajib.
-          Rencanakan Tulis Apa Adanya
Ada kalanya penulis pemula malu untuk menulis. Rencanakan tulis apa adanya. Biarkan teman yang lain menggunakan teori mutakhir. Tetapi bisa jadi mereka hanya “pinter ngomong” saja dan tak bisa menulis. Maka, jangan resah Anda belum menguasai “teori” itu. Suatu saat yakinlah semua akan bisa di atasi.
2. Mengolah Ide
-          Merenung
-          Mengkaitkan dengan hal lain
3. Menuang Ide
-          Tunggu mood (suasana hati)
Ada kalanya mood muncul dalam situasi yang sepi. Maka, mood biasanya muncul      setelah jam 9 malam atau sebelum Subuh. Meskipun, kalau kita sudah biasa menulis, mood bisa muncul sewaktu-waktu.
-          Tulis Ada adanya
      Tulislah dengan dikonsep dulu, lakukan editing, suruh orang lain    membaca.

Mengatasi Hambatan
1.    Mencari Data atau Teori yang Relevan
2.    Diskusi
3.    Buat Outline (lihat bagian G)
4.    Senjata Awal Paragraf (pastikan paragraph di awal tulisan menarik perhatian pembaca)
Misalnya dengan paragraph Pro dan Kontra sbb:









    PRO                                                                            KONTRA
Thesis: “ Inilah pendirian penulis…”
 



                                                                              “Memang dapat juga begitu…”
 



“Tetapi…”
 



                                                                              “Betul, juga dapat dikatakan bahwa…”
 



“Meskipun demikian…”


                                                                              “Ada yang mungkin menganggap…”


“Tetapi, kalau demikian…”
 



                                                                              “Ada pula yang berpandangan…”


“Namun, bagaimanapun juga…”


                                                                              “Penulis akui bahwa…”


“Toh…”
 



“Sesungguhnya…”


“Kecuali itu…”
 



“Maka  dari itu…”
     
Dengan paragraf model ini paling tidak kita sudah mempunyai sebuah tulisan yang mengandung minimal 14 paragraf.

Memanfaatkan Keampuhan Paragraf-Kalimat
1. Kekuatan Paragraf
-          Padat (satu pikiran pokok setiap paragraf)
-          Pengkajian yang Logis
-          Penguraian yang teratur yang jelas (runtut dan tidak meloncat-loncat)
2. Kekuatan Kalimat
-          Tulis yang relavan dengan topik (tulisan harus terfokus).
-          Hindari pengungkapan kalimat yang basa-basi
Misal: “Sebelum kita membahas tentang pengaruh telenovela Carita De Ange, saya akan menceritakan sejarah televisi dan perfilman di Amerika Latin”.
-          Hindari pengulangan
-          Hindari ajakan kepada pembaca.
Misal: “Saya menghimbau pada pembaca artikel ini untuk mendukung secara absolut pendapat saya di atas”
-          Hindari generalisasi sembarangan
Misal: “Seluruh rakyat Indonesia tidak setuju kalau Megawati jadi presiden”
-          Hindari penggunaan kalimat yang emosional
Misal: “Tidak ada tempat bagi pecandu narkoba, kecuali neraka jahanam”
-          Hindari Penggunaan kalimat asing berlebihan     
-          Jangan menggurui pembaca
Misal: “Supaya pembaca tidak kuper, ada baiknya selalu melihat televisi”
-          Jangan menggunakan kalimat yang panjang-panjang.

Menjaga Kontinyuitas Menulis
1. Terus Menulis
2. Diskusi Sesama Penulis
3. Jaga Budaya Baca
4. Manfaatkan Kliping



Mengenal Media Cetak
Perusahaan koran itu seperti toko roti. Ia hanya akan menerima roti dan tidak menerima bahakan material untuk membangun rumah. Sebagus apapun material Anda, akan ditolak oleh toko roti itu. Karena toko itu hanya menyediakan roti dan tidak yang lain. Ini artinya, sebagus apapun tulisan Anda kalau salah sasaran bisa tidak dimuat.
Disamping itu, kiat yang tak kalah pentingnya adalah menembaklah seperti Rambo. Rambo kalau menembak jarang memakai pistol karena peluang kena sedikit. Ia biasa memakai senapan dengan peluru yang banyak. Menulislah artikel dan resensi buku sampai redakturnya bosan, dan jangan kita yang bosan.
Ada beberapa hal lain yang perlau dicermati:
1. Koran itu bergerak di bidang apa?
2. Bagaimana Misi dan Visi Koran yang bersangkutan?
3. Berapa panjang tulisan yang diminta?
4. Bagaimana gaya penyajian tulisan yang dikehendaki?
5. Apakah koran itu “objektif” atau tidak?
6. Pelajari syarat-syarat artikel surat kabar yang bersangkutan. Masing-masing Koran berbeda. Tetapi secara umum sebagai berikut:
a.       Asli, bukan jiplakan/saduran/terjemahan/belum pernah dimuat di koran lain.
b.      Topik aktual (sedang hangat dibicarakan)
c.       Mengandung unsur baru, baik data kongkrit, pandangan baru, saran-saran dan/atau opini
d.      Menyangkut kepentingan umum
e.       Cara penyajian tidak berkepanjangan.
f.       Tulisan berbentuk eksposisi/argumentasi
g.      Panjang karangan antara 4-7 halaman kuarto spasi ganda.

Masalah Teknis, Tapi Penting
1. Judul harus populer (boleh dibuat belakangan setelah tulisan jadi)
2. Cantumkan nama penulis di bawah judul dan identitas penulis di akhir naskah.
3. Tulislah dalam kertas HVS Kuarto/A4 dua spasi, margin kiri 3,0, kanan cukup 2,5,  bawah dan atas cukup 2,5.
4. Jangan gunakan kertas bolak-balik
5. Jangan banyak coretan dalam naskah
6. Sampul amplop ditujukan kepada siapa (redaktur opini, redaktur hiburan, redaktur agama dll.) Kiri atas tulis judul atau thema artikel di dalamnya. Jika media itu mensyaratkan mengirim pakai e-mail pastikan dikirim pakai file lampiran (attachment)
7. Ada media tertentu yang mensyaratkan ada foto kopi KPT atau identitas lain.
8. Buat surat permohonan pemuatan.
9. Artikel yang dikirim hendaknya difoto copi dulu atau disimpan di file. Jika tidak dimuat kita bisa ketik atau print lagi.
10. Ada koran tertentu yang memperbolehkan pengiriman lewat e-mail (file attachment), ada yang harus membawa disket naskah dll.
11. Selamat mencoba.

DAFTAR PUSTAKA

Finosa, Lamuddin, 2005. Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa non Jurusan Bahasa. Jakarta: Diksi Insan Media.

Gorys Keraf. 2001. Komposisi. Flores: Nusa Indah.

Hernowo. 2001.  Mengikat Makna, Kiat-Kiat Untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Bandung: Kaifa.

Nurudin. 2001. Menulis Artikel itu Gampang. Semarang: Effhar.

_______.  2009. Kiat Meresensi Buku di Media Cetak. Jakarta: Murai Kencana.

Schwartz, David J. 1996.  “The Magic of Thinking”, dalam F.X. Budiyanto, penerj., Berpikir dan Berjiwa Besar. Jakarta: Binarupa Aksara.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar