Menulis itu
ketrampilan praktis dan tidak ada hubungannya dengan bakat. Artinya seorang
akan bisa menulis kalau latihan terus-menerus. Bedakan antara “belajar
berenang” dengan belajar “tentang berenang”. Jika seseorang ingin belajar
berenang maka ia harus terjun langsung ke air. Pertama-tama tentu akan sulit, bahkan diselingi dengan minum air, tetapi
lama-kelamaan akan bisa. Sedangkan belajar tentang berenang adalah belajar
“tentang” saja, dan ia ada dalam dunia imajinasi/abstrak.
2. Teori Kendi
Amati sebuah kendi.
Kendi itu hanya akan bisa dituangkan airnya untuk diminum kalau ia sudah diberi
air sebelumnya. Otak kita ibaratkan kendi itu tadi. Seberapa keras usaha kita
untuk menulis tetapi tidak pernah “memberi air” pada tubuh kita, sulit untuk tak
mengatakan tidak bisa menulis. “Air” yang dimaksud adalah membaca, mengamati,
mengikuti diskusi, membaca koran dll.
3. Filsafat Jalan Kaki
Orang menulis perlu
tahapan. Sama seperti orang jalan kaki harus dimulai dari satu langkah terlebih
dahulu. Bagaimana mungkin ia bisa langsung menapak dalam jarak 10 meter? Maka
menulis dimulai dari thema-thema ringan (dunia mahasiswa, remaja, televisi,
musik atau yang Anda senangi dulu), termasuk memilih media yang lebih gampang.
Suatu saat nanti “langkah” kita akan semakin menjauh. Jadi, jangan punya motto
“Nafsu besar, tenaga kurang”. “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat
(dalam kehidupan)” (Al Insyiqaq: 19).
4. Sekolah Dimana?
Menulis tidak perlu
sekolah formal. Siapa saja bisa menjadi penulis. Sekolah formal hanya katarsis (pemercepat proses) dan bukan faktor utama.
Sekolah menulis ada di masyarakat itu. Bukankah Emha, Soedjatmoko, Adam Malik,
Arswendo Atmowiloto sukses menulis tanpa pendidikan formal yang tinggi? Maka,
jangan ragu menulis karena tidak kuliah di Fakultas/Jurusan Komunikasi. Itu
belum jaminan.
C. Motivasi Menulis
1. Mendapatkan Penghasilan
2. Mencari Popularitas
3. Tanggungjawab Sosial
4. Syukur
D.
Unsur-Unsur Menulis
|
|
|||
![]() |
|||
E. Topik dan Judul
Topik
adalah suatu hal yang akan digarap menjadi tulisan. Topik merupakan jawaban
atas pertanyaan Masalah aoa yang akan ditulis? Atau Hendak menulis tentang apa?
Judul adalah perincian atau penjabaran
dari topik. Judul lebih spesifik dan sering telah menyiratkan permasalahan atau
variabel yang akan dibahas.
Topik
|
Judul
|
1. Pertandingan Sepak Bola Arema melawan Persib
|
a.
Mampukah Singo Edan
Meredam Maung Bandung?
b.
Arema Dan Persis
Akan Menggoyang Stadion Gajayana
c.
Ini Dia, Dua Musuh
Bebuyutan Adu Kekuatan Di Stadion Gajayana.
|
2. Putus Sekolah
|
a.
Kiat Menekan
Tingginya Angka Putus Sekolah
b.
Tingginya Angka
Putus Sekolah Merupakan Problema Pendidikan
c.
Masalah Tingginya
Angka Putus Sekolah, PR Bagi Pemerintahan SBY
|
Mempersempit topik
Untuk mempersempit pokok pembicaraan ada beberapa cara yang lazim
digunakan.
- Memecah
pokok pembicaraan menjadi bagian-bagian yang makin kecil yang disebut sub
topik.
- Menulis
pokok umum dan membuat daftar aspek khusus apa saja dari pokok itu secara
berurutan ke bawah.
|


|
|||
|
|||
Kemudian
Klub AC Milan dapat ditingkatkan menjadi topik. Kemudian bisa dibuat sub topik
sebagaimana terlihat dalam Bagan 2. Topik Pemilihan pemain adalah topik yang
paling sempit dan yang paling layak dipakai untuk membuat tulisan.
Clustering
Clustering adalah cara brainstorming lain yang dapat digunakan untuk
menggeneraslisasi gagasan pula. Tentu saja caranya agak berbeda dengan
langkah-langkah yang sudah kita bahas bersama di atas. Clustering bisa dilakukan dengan
prosedur sebagai berikut;
1.
Siapkan
kertas kosong.
2.
Tulis
sebuah topik di tengah kertas kosong tersebut dan buatlah lingkaran
mengelilingi topik itu (seperti balon).
Topik yang sudah kita pilih tersebut dinamakan pusat atau inti.
3.
Tulis
apapun gagasan yang muncul di dalam balon dengan melingkari inti itu.
4.
Tarik
garis lurus dan buatlah kata yang dilingkari yang berkaitan dengan topik yang
kita pilih. Jika kita sudah kehabisan kata yang berkaitan dengan topik yang
berada di tengah-tengah tersebut, buatlah tarikan dari kalimat yang ditarik
dari pusat. Jadi, pusat, tarikan pertama, dan tarikan kedua, begitu seterusnya
sampai detail. Lalu, pikirkan tentang masing-masing gagasan dan buat lebih
banyak balon melingkarinya.
Contohnya,
Anda suatu saat ingin menggambarkan seorang yang sangat dekat dengan Anda. Anda
bisa melakukan teknik clustering
untuk mendapat gambaran pengembangan gagasan Anda. Anda mungkin berkesempatan
menggambarkannya sebagai berikut;
Melihat
bagan balon-balon di atas, bisa
diterangkan bahwa kata “Pekerja keras” ternyata bisa diuraikan atau
dibuat balon-balon yang lebih banyak dibandingkan dengan “Suka Merokok”,
“Ramah”, “Suka Olah Raga”, dan “Religius”. Dengan demikian, akan lebih baik
manakala ide tentang “Ayahku” menjadikan “pekerja keras” sebagai ide pokok utama untuk membuat tulisan. Tentu saja ini
semua berdasarkan kekayaan pengetahuan penulis. Bisa jadi, penulis yang lain
akan mempunyai balon-balon yang lebih banyak dari kata “Religius” dengan
melihat kenyataan pada apa yang terjadi pada ayahnya sendiri.
F. Tema dan Tesis
Tema
berarti pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan disampaikan oleh
penulis melalui tulisannya. Tema adalah suatu yang melatarbelakangi dan
mendorong seseorang menuliskannya.
Contoh-contoh:
Topik
Tesis/tujuan
|
:
:
|
Dampak Buruk Aborsi
Membuktikan dampak buruk aborsi ditinjau dari sudut pandang
kesehatan, moral, dan agama
|
Topik
Tesis/tujuan
|
:
:
|
Kelangkaan BBM di beebrapa kota di Indonesia
Kelangkaan BMM di beberapa kota disebabkan oleh kelemahan sistem
manajemen Pertamina.
|
Dalam
contoh di bawah akan lebih jelas bagaimana kedudukan tema dalam suatu kerangka
tulisan.
Topik
|
:
|
Kemacetan Lalu Lintas
|
Sub topik
|
:
|
Upaya Mengatasi Kemacetan
Lalu Lintas
|
Judul
|
:
|
(dapat dirancang sesuai
selera penulis, asalkan tetap sesuai dengan topik di atas), misalnya:
“Macet, Penyakit
Modernisasi”
“Kemacetan Lalu Lintas
Memicu Stress”
“Kemacetan Lalin dan
Tanggung Jawab Pemerintah”
|
Uraian Tema
|
Upaya mengatasi kemacetan
lalu lintas bukanlah semata-mata
menjadi tanggung jawab aparat kepolisian, melainkan menjadi tanggung jawab
seluruh pemakai jalan. Permasalah lalu lintas tidak akan mungkin bisa
dipecahkan tanpa bantuan semua pihak yang terkait. Faktor manusia menjadi
titik penting untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
|
G. Membuat Kerangka/Outline
Tulisan
Kerangka tulisan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Fungsi utamanya
mengatur hubungan antara gagasan-gagasan
yanag ada.
Mengapa
kerangka tulisan penting?
- Akan mempermudah penulis menuliskan
tulisannya dan dapat mencegah penulis mengolah suatu ide sampai dua kali,
serta mencegah penulis keluar dari sasaran yang sudah ditetapkan.
- Akan membantu penulis mengatur atau
menempatkan klimaks yang berbeda-beda di dalam tulisannya.
- Bila kerangka sudah tersusun rapi,
berarti separuh tulisan sudah selesai karena semua ide sudah terkumpul,
dirinci, dan disusun dengan teratur. Penulis tinggal menyusun
kalimat-kalimatnya saja untuk “menyembunyikan” ide dan gagasannya.
- Kerangka tulisan merupakan miniatur
dari keseluruhan tulisan. Melalui kerangka tulisan, pembaca dapat
melihat intisari ide serta struktur tulisannya.
Contohnya sebagai berikut :
SEBAB-SEBAB KEKERASAN BURUH
|
|
A.
B.
|
Finansial
1.
Gaji Pokok
a.
buruh terampil
b.
buruh kasar
2.
Perumahan
a.
buruh yang sudah
berkeluarga
b.
buruh yang belum
berkeluarga
3.
Pemeliharaan
kesehatan
a.
buruh laki-laki
b.
buruh perempuan
Politik
1.
Pengaruh Serikat
Buruh Perusahaan
a.
pengaruh pada buruh
terampil
b.
pengaruh pada buruh
kasar
2.
Pengaruh dari Luar
Perusahaan
a.
organisasi politik
b.
partai politik
c.
politik
internasional
|
Langkah-langkah Menulis

|
|
|


|
||||||
![]() |
||||||
H. Perbedaan Tulisan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah
Karakteristik
|
Ilmiah
|
Semi Ilmiah/ilniah populer
|
Non ilmiah
|
Sumber
|
Pengamatan, faktual
|
Pengamatan faktual
|
Non faktual (rekaan)
|
Sifat
|
Objektif
|
Objektif + subjektif
|
Subjektif
|
Bobot
|
Ilmiah
|
Ilmiah populer
|
Non ilmiah
|
Alur
|
Sistematis, metodis
|
Sistematis, kronologis, kilas balik (flashback)
|
Bebas
|
Bahasa
|
Denotatif, ragam baku, istilah khusus
|
(Denotatif + konotatif) setengah resmi
|
Denotatif/konotatif, setengah resmi/tidak resmi/istilah
umum/daerah
|
Bentuk
|
Argumentasi, campuran
|
Eksposisi, persuasi, deskripsi, campuran
|
Narasi, deskripsi, campuran
|
Jenis tulisan
|
Penelitian, skripsi, tesis, disertasi
|
Artikel media cetak, editorial, feature, reportase
|
Novel, cerpen, cerber, hikayat, roman, puisi, naskah drama
|
I. Serangkai
kata frasa penghubung sebagai pengkait alinea
Fungsi
|
Contoh kata dan frasa
|
Menyatakan hubungan:
|
|
a. akibat/hasil
|
Akibatnya, karena itu, maka dari itu, oleh sebab itu, dengan
demikian, jadi
|
b. pertambahan
|
Berikutnya, demikian juga, kemudian, selain itu, lagi pula,
lalu, selanjutnya, tambahan lagi
|
c. perbandingan
|
Dalam hal yang sama, lain halnya dengan, sebaliknya, lebih baik
dari itu, berbeda dengan
|
d.pertentangan
|
Akan tetapi, bagaimanapun juga, meskipun begitu, namun,
sebaliknya, walaupun demikian
|
e.tempat
|
Berdekatan dengan itu, di sini, di seberang sana, tak jauh dari
sana, di bawah, persis di depan...., di sepanjang...
|
f.tujuan
|
Agar, untuk/guna, untuk maksud itu
|
g.waktu
|
Baru-baru ini, beberapa saat kemudian, mulai, sebelum, segera,
sesudah, sejak, ketika
|
h.singkatan
|
Singkatnya, ringkasnya, akhirnya, sebagai simpulan, pendek kata
|
Contoh-contoh:
a.
Contoh
(a) menyatakan akibat atau hasil -à “Tenaga kerja di pulau Jawa, Bali, Madura, dan Lombok kelebihan
sedangkan di pulau-pulau lain kekurangan. Oleh karena itu, sebagian
tenaga kerja dari keempat pulau tersebut dipindahkan ke pulau-pulau lain yang
kekurangan tenaga kerja. Dengan demikian, akan terjadi pemerataan tenaga
kerja di Indonesia”.
b.
Contoh
(b) menyatakan hubungan pertambahan à “Deterjen tidak hanya cocok dipakai untuk mencuci bahan yang
kasar, tetapi cocok untuk mencuci bahan
yang halus seperti sutera. Selain itu, deterjen dapat juga
dipakai untuk mencuci perabot dapur. Lagi pula, perabotan yang dicuci
dengan bubuk deterjen ini warna tidak pudar”.
J. Teknik Menulis Artikel
Menulis artikel itu
sangatlah gampang. Yang dibutuhkan adalah
latihan terus dan tak kenal putus asa. Menulis pada dasarnya mengolah
bahan mentah kemudian dituangkan dalam bahasa tulis. Bahasa artikel lebih
bersifat formal (tulis) dan bukan bahasa informal (lisan). Berikut ini
disajikan langkah-langkah dalam menulis artikel.
Menulai Menulis
1. Mencari Ide
-
Mengamati
Mengamati di sini adalah mencermati keadaan sekitar. Berbagai
fenomena di masyarakat itu semua merupakan bahan untuk menulis.
-
Membaca
Koran
Sering ide muncul setelah kita membaca koran. Bagaimana mungkin
kita akan bisa menemukan ide tanpa tahu informasi yang terjadi sehari-hari?
Maka, membaca koran adalah wajib.
-
Rencanakan
Tulis Apa Adanya
Ada kalanya penulis pemula malu untuk menulis. Rencanakan tulis
apa adanya. Biarkan teman yang lain menggunakan teori mutakhir. Tetapi bisa
jadi mereka hanya “pinter ngomong” saja dan tak bisa menulis. Maka, jangan
resah Anda belum menguasai “teori” itu. Suatu saat yakinlah semua akan bisa di
atasi.
2. Mengolah Ide
-
Merenung
-
Mengkaitkan
dengan hal lain
3. Menuang Ide
-
Tunggu
mood (suasana hati)
Ada kalanya mood muncul dalam situasi yang sepi. Maka, mood
biasanya muncul setelah jam 9 malam
atau sebelum Subuh. Meskipun, kalau kita sudah biasa menulis, mood bisa
muncul sewaktu-waktu.
-
Tulis Ada adanya
Tulislah dengan dikonsep dulu,
lakukan editing, suruh orang lain
membaca.
Mengatasi
Hambatan
1.
Mencari Data atau Teori yang Relevan
2.
Diskusi
3.
Buat Outline (lihat
bagian G)
4.
Senjata Awal Paragraf
(pastikan paragraph di awal tulisan menarik perhatian pembaca)
Misalnya dengan
paragraph Pro dan Kontra sbb:
PRO
KONTRA
Thesis: “ Inilah
pendirian penulis…”
“Memang dapat juga begitu…”
![]() |
“Tetapi…”
“Betul,
juga dapat dikatakan bahwa…”
“Tetapi, kalau demikian…”
“Ada
pula yang berpandangan…”
“Namun, bagaimanapun juga…”
“Penulis
akui bahwa…”
“Toh…”
“Kecuali itu…”
“Maka dari itu…”
Dengan paragraf model ini paling tidak kita
sudah mempunyai sebuah tulisan yang mengandung minimal 14 paragraf.
Memanfaatkan Keampuhan Paragraf-Kalimat
1. Kekuatan Paragraf
-
Padat (satu pikiran pokok setiap paragraf)
-
Pengkajian yang Logis
-
Penguraian yang teratur yang jelas (runtut dan tidak meloncat-loncat)
2.
Kekuatan Kalimat
-
Tulis yang relavan
dengan topik (tulisan harus terfokus).
-
Hindari pengungkapan kalimat yang basa-basi
Misal: “Sebelum kita membahas tentang pengaruh telenovela Carita De Ange,
saya akan menceritakan sejarah televisi dan perfilman di Amerika Latin”.
-
Hindari pengulangan
-
Hindari ajakan kepada
pembaca.
Misal:
“Saya menghimbau pada pembaca artikel ini untuk mendukung secara absolut pendapat
saya di atas”
-
Hindari generalisasi
sembarangan
Misal:
“Seluruh rakyat Indonesia tidak setuju kalau Megawati jadi presiden”
-
Hindari penggunaan
kalimat yang emosional
Misal:
“Tidak ada tempat bagi pecandu narkoba, kecuali neraka jahanam”
-
Hindari Penggunaan
kalimat asing berlebihan
-
Jangan menggurui
pembaca
Misal:
“Supaya pembaca tidak kuper, ada baiknya selalu melihat televisi”
-
Jangan menggunakan
kalimat yang panjang-panjang.
Menjaga
Kontinyuitas Menulis
1. Terus
Menulis
2. Diskusi
Sesama Penulis
3. Jaga
Budaya Baca
4.
Manfaatkan Kliping
Mengenal
Media Cetak
Perusahaan koran itu seperti toko roti. Ia
hanya akan menerima roti dan tidak menerima bahakan material untuk membangun
rumah. Sebagus apapun material Anda, akan ditolak oleh toko roti itu. Karena
toko itu hanya menyediakan roti dan tidak yang lain. Ini artinya, sebagus
apapun tulisan Anda kalau salah sasaran bisa tidak dimuat.
Disamping itu, kiat yang tak kalah pentingnya
adalah menembaklah seperti Rambo. Rambo kalau menembak jarang memakai pistol
karena peluang kena sedikit. Ia biasa memakai senapan dengan peluru yang
banyak. Menulislah artikel dan resensi buku sampai
redakturnya bosan, dan jangan kita yang bosan.
Ada beberapa hal lain yang perlau dicermati:
1. Koran itu bergerak di bidang apa?
2. Bagaimana Misi dan Visi Koran yang bersangkutan?
3. Berapa panjang tulisan yang diminta?
4. Bagaimana gaya penyajian tulisan yang dikehendaki?
5. Apakah koran itu “objektif” atau tidak?
6. Pelajari syarat-syarat artikel surat kabar
yang bersangkutan. Masing-masing Koran berbeda. Tetapi secara umum sebagai berikut:
a.
Asli, bukan jiplakan/saduran/terjemahan/belum pernah dimuat di koran lain.
b.
Topik aktual (sedang hangat dibicarakan)
c.
Mengandung unsur baru, baik data kongkrit, pandangan baru, saran-saran dan/atau
opini
d.
Menyangkut
kepentingan umum
e.
Cara penyajian tidak
berkepanjangan.
f.
Tulisan berbentuk
eksposisi/argumentasi
g.
Panjang karangan
antara 4-7 halaman kuarto spasi ganda.
Masalah
Teknis, Tapi Penting
1. Judul
harus populer (boleh dibuat belakangan setelah tulisan jadi)
2. Cantumkan nama penulis di bawah judul dan identitas penulis di akhir
naskah.
3. Tulislah dalam kertas HVS Kuarto/A4 dua
spasi, margin kiri 3,0, kanan cukup 2,5,
bawah dan atas cukup 2,5.
4. Jangan gunakan kertas bolak-balik
5. Jangan banyak coretan dalam naskah
6. Sampul amplop ditujukan kepada siapa
(redaktur opini, redaktur hiburan, redaktur agama dll.) Kiri atas tulis judul
atau thema artikel di dalamnya. Jika media itu mensyaratkan mengirim pakai
e-mail pastikan dikirim pakai file lampiran (attachment)
7. Ada media tertentu yang mensyaratkan ada
foto kopi KPT atau identitas lain.
8. Buat surat permohonan pemuatan.
9. Artikel yang dikirim hendaknya difoto copi
dulu atau disimpan di file. Jika tidak dimuat kita bisa ketik atau print
lagi.
10. Ada koran tertentu yang memperbolehkan
pengiriman lewat e-mail (file attachment), ada yang harus membawa disket
naskah dll.
11. Selamat mencoba.
DAFTAR PUSTAKA
Finosa, Lamuddin, 2005. Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa non
Jurusan Bahasa. Jakarta: Diksi Insan Media.
Gorys
Keraf. 2001. Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Hernowo. 2001. Mengikat Makna, Kiat-Kiat
Untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Bandung: Kaifa.
Nurudin. 2001. Menulis Artikel itu
Gampang. Semarang: Effhar.
_______. 2009. Kiat Meresensi
Buku di Media Cetak. Jakarta: Murai Kencana.
Schwartz,
David J. 1996. “The Magic of Thinking”,
dalam F.X. Budiyanto, penerj., Berpikir dan Berjiwa Besar. Jakarta:
Binarupa Aksara.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar