Oleh
Muhammad Hadidi
Mahasiswa Islamic Law University Muhammadiyah Of Malang
|
Jalur
sukses para pemimpin hebat memang tidak mudah. Betapa tidak, bukan hanya
masalah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ada hak suskses yang harus diambil,
namun juga bisik rayu para peragu di sekitarnya, dan hujan masalah eksternal
yang deras menimpanya. Melemahkan pasti, namun ia menolak untuk berhenti.
Darimana para pemimpin hebat itu memiliki cadangan energi yang demikian besar?
Mengapa ia terus melaju, sementara yang lain terjatuh? Semuanya berawal karena
ia memiliki visi yang menggairahkan. Visi yang tergambar jelas di alam
imajinasinya. Visi yang menggairahkan semangatnya untuk berjalan, sesulit apapun
ia terus berusaha melangkah. Visi yang kerap ia senandungkan hingga ke alam
bawah sadarnya. Visi yang ia tatap tajam dengan keyakinan akan keberhasilan.
Sebuah organisasi besar hanya akan dapat dibangun oleh mereka yang memiliki
visi besar. Visi yang kuat mengakar dalam diri dan organisasi yang dipimpinnya.
Sehingga visi itu menjelma menjadi motivasi dan aksi yang besar.
Ada
perbedaan mendasar yang memberi jarak tegas akan makna dari impian dan visi.
Impian adalah embrio dari visi. Impian-impian yang memiliki narasi yang jelas
akan menjelma menjadi sebuah visi. Semakin detail impian itu, maka akan semakin
kuat visi tercipta. Hadirnya visi dalam diri seorang pemimpin, laksana sumber
energi yang melimpah ruah. Semakin kuat alirannya, maka energi ini akan
mengalir keluar mengisi ruang imajinasi individu lain yang masih memiliki ceruk
dalam impiannya. Mereka yang tidak memiliki visi yang kuat, pada akhirnya akan
menerima visi orang lain menjadi bagian dari tujuan hidupnya. Dengan demikian
juga kita dapat menjelaskan kepada orang-orang yang hanya “bermimpi di siang
bolong” adalah karena embrio itu gagal berkembang. Pada akhirnya ia akan
meratapi dan menyesali kelemahan tekadnya di penghujung usianya.
Memiliki
impian adalah fitrah dasar kemanusiaan. Sejak kecil kita adalah pemimpi, bahkan
pemimpi terbaik. Tak kenal takut dan putus asa, kita menemukan kebahagiaan kita
dari alam imajinasi yang dengan mudah kita ciptakan. Namun beranjak dewasa,
imajinasi kita mulai berkenalan dengan dimensi realitas dan batasan aturan yang
ada. Sebagian peristiwa mendewasakan impian kita, namun sebagian yang lain
membuat kita menjadi pribadi pesimis. Berhenti berharap dan berinovasi.
Mensiasati keterbatasan dan tidak bergerak untuk menciptakan keberlimpahan.
Bertahan menghadapi kenyataan hidup dengan remahan mimpi yang pernah
dimilikinya. Karenanya orang bijak dahulu berpesan kepada kita untuk
menghindari mati sebelum datangnya kematian. Mati rasa dan cita. Bila keduanya
telah mati, bagaimana inovasi tercipta?
Harapan
akan kebahagiaanlah yang kemudian mendorong manusia bergerak dan berbuat lebih.
Harapan ini telah bertransformasi menjadi visi yang memberikan gairah dalam
aktifitas hidupnya. Memberinya ide segar untuk berkreasi, kekuatan untuk maju,
dan keteguhan menghadapi setiap kesulitan. Dengan visi para pemimpin memberikan
keyakinan pada mereka yang meragu. Dengan visi juga ia memberikan naungan dan
arah bagi mereka yang bimbang. Para pemimpin adalah orang pertama yang
mengabarkan visi ini sekaligus orang terakhir yang tetap meyakini tercapainya
kesuksesan. Mereka bahkan memiliki visi yang melampaui zamannya. Terkadang ini
pula yang menyebabkan mereka terkadang sulit dimengerti. Imajinasi liar mereka
menembus batasan keumuman dan pendapat kolektif. Tercatat dalam sejarah bagaimana
visi tentang penaklukan konstantinopel telah mengantarkan seorang Muhammad
Al-Fatih memerintahkan untuk mengangkat armada kapal tempurnya melintasi bukit
dalam satu malam. Impian mendapatkan gelar sebagai komandan terbaik yang
memimpin pasukan terbaik, membuatnya melakukan inovasi dan aksi yang diluar
nalar manusia di zamannya. Para pemimpin sejati hanya percaya pada sukses,
karena ia meyakini itu adalah haknya. Karena kegagalan hanya usaha yang belum
bertemu dengan momentum keberhasilan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar