Konservatisme Pendidikan
Muhammad Hadidi
Mahasiswa Universitas Muahammadiyah Malang
Ada
dua tradisi mendasar dalam konservatisme pendidikan yang berkaitan dengan
sikap-sikap yang menyangkut agama yaitu :
1.
Konservatisme pendidikan sekuler
Konservatisme pendidikan sekuler ini
tidak mesti menolak aspek-aspek rohaniah dalam pendidikan, namun mereka
cenderung untuk lebih memakai pendekatan utilitarian (asas manfaat) dan
pendekatan praktis dalam soal persekolahan, jika di banding dengan mereka yang
lebih condong ka arah agama. Kepedulian utama kaum konservatisme sekuler adalah
terhadap peran sekolah dalam melestarikan dan menyalurkan lembaga-lembaga serta
proses-proses sosial yang mapan, dan mereka ingin menumbuh-kembangkan jenis
informasi serta ketrampilan yang diperlukan agar menjamin keberhasilan individu
dalan hidupnya di masyarakat sekuler yang ada sekarang.
2.
Konservatisme pendidikan religius
Konservatisme pendidikan religius lebih
memperhatikan penyaluran keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang sudah
mapan, yakni ortodoksi moral dan
keagamaan yang telah teruji oleh waktu yang dimiliki gerejanya sendiri atau
aliran terlembaganya sendiri. Dan mereka menyakini pula bahwa pelatihan
rohaniah merupakan aspek mendasar dalam tradisi-tradisi sosial yang mapan, dan
bahwa sebagian pelajaran keagamaan dengan demikian merupakan aspek yang layak
dan penting dalam pendidikan dasar seorang anak.
Ideologi
mendasar kaum konservatif pendidikan dapat dirangkum sebagai berikut :
a.
Tujuan pendidikan secara keseluruhan
adalah untuk melestarikan dan menyalurkan pola-pola perilaku sosial
konvensional.
b.
Sasaran-sasaran sekolah, sekolah
diadakan karena dua alasan yaitu untuk mendorong tentang pemahaman dan
penghargaan terhadap lembaga-lembaga, tradisi-tradisi, proses-proses budaya
yang telah teruji oleh waktu, termasuk rasa hormat yang mendalam terhadap hukuman
dan tatanan, dan untuk menyalurkan dan menanamkan informasi serta keperluan
informasi yang diperlukan supaya berhasil di dalam tatanan sosial yang ada.
c.
Ciri-ciri umum konservatisme pendidikan
adalah menganggap bahwa nilai dasar pengetahuan ada pada kegunaan sosialnya,
menekankan peran manusia sebagai anggota sebuah negara yang mapan, menekankan
penyesuaian diri yang bernalar, menyandarkan diri pada jawaban-jawaban terbaik
dari masa silam sebagai tuntunan yang paling bisa dipercaya untuk memandu tindakan
di masa kini. Dan memandang pendidikan sebagai sebuah pembelajaran
(Sosialisasi) nilai-nilai sistem yang mapan.
d.
Anak sebagai pelajar, siswa memerlukan
bimbingan yang ketat serta pengarahan yang jelas sebelum ia menjadi
terbelajarkan (tersosialisasikan) secara efektif sebagai seorang warga negara
yang bertanggung jawab. Dan kesamaan-kesamaan individual lebih penting
ketimbang perbedaan-perbedaannya, dan kesamaan-kesamaan itu menentukan dalam
menetapkan program-program pendidikan yang tepat.
e.
Administrasi dan pengendalian, wewenang
guru dilihat dari status sosial yang dimiliki sehingga dengan adanya wewenang
ini maka pendidik mampu memiliki rasa hormat yang mendalam terdahap proses yang
telah ditetapkan.
f.
Hakikat kurikulum, sekolah harus menekankan
pelatihan yang dasar dalam hal ketrampilan-ketrampilan belajar yang
fundamental, sebuah tinjauan sepintas mengenai ilmu-ilmu alam yang mendasar,
pendidikan fisik, serta pendekatan yang relatif bersifat akademis kepada
ilmu-ilmu pengetahuan sosial yang lebih konvensional (sejarah bangsa/negara,
lembaga politik negara, sejarah dunia, dan sebagainya).
g.
Metode-metode pengajaran dan penilaian
hasil belajar, harus ada penyesuaian praktis antara tatacara-tatacara di ruang
kelas yang tradisional dengan progresif, sang guru mesti menggunakan metode apa
pun yang paling efektif dalam meningkatkan kegiatan belajar, namun ia harus
lebih cenderung ke arah menyesuaikan tatacara-tatacara tradisonal dengan
cara-cara baru seperti peragaan, studi lapangan, penelitian di laboratorium,
dan sejenisnya. Yang terbaik adalah belajar dengan ditentukan dan diarahkan
oleh guru. Tes-tes untuk mengukur keterampilan serta informasi yang dikuasai
siswa lebih baik ketimbang tes-tes yang diberikan untuk menguji kemampuan
analistis. Penekanan diletakkan kepada yang kognitif dengan penekanan kedua
pada yang efektif serta yang bersifat antarpribadi. Bimbingan dan penyuluhan
personal serta terapi kejiwaan harus dibatasi hanya untuk siswa-siswi yang
mengalami problema emosional yang berat, yang mempengaruhi kemampuan mereka
untuk belajar dalam situasi persekolahan yang
normal.
h.
Kendali di ruang kelas, para guru umum harus bersifat non-permisif,
namun wewenang guru mesti disisipi dengan penalaran. Pendidikan moral (pelatihan
watak) adalah satu dari aspek-aspek penting persekolahan.
2. Liberalisme Pendidikan
Pendidikan
yang di rumuskan oleh golongan liberalisme pendidikan adalah
a.
Tujuan pendidikan secara keseluruhan,
tujuan utama pendidikan adalah untuk mempromosikan perilaku personal yang
efektif
b.
Sarana-sarana sekolah, sekolah ada
lantaran dua alasan mendasar yaitu untuk menyediakan informasi dan
keterampilan-keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk belajar secara
efektif bagi dirinya sendiri, untuk mengajar para siswa bagaimana cara
memecahkan masalah praktis lewat penerapan tatacara-tatacara penyelesaian
masalah secara individual mapun kelompok yang didasarkan pada metode-metode
ilmiah-rasional.
c.
Ciri-Ciri umum Liberalisme Pendidikan,
menganggap bahwa pengetahuan terutama berfungsi sebagai sebuah alat untuk
digunakan dalam pemecahan masalah secara praktis, bahwa pengetahuan adalah
sebuah jalan kea rah tujuan berupa perilaku, bahwa pengetahuan adalah sebuah
jalan ke arah tujuan berupa perilaku efektif dalam menangani situasi-situasi
sehai-hari, menekankan kepribadian unik dalam diri tiap individu atau
ketunggalan (singularitas) setiap pribadi sebagai sebuah pribadi, menekankan
pemikiran efektif (kecerdasan praktis), mengarahkan perhatian utamanya kepada
kemampuan setiap individu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan personalnya
sendiri secara efektif, berdasarkan kepada sebuah sistem penyelidikan
eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan
atau prakiraan-prakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan itu, pendidikan
didirikan diatas tatacara-tatacara pembuktian secara ilmiah-rasional,
menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi terletak pada pengetahuan yang
diperoleh dari pembuktian eksperimental dan atau tatacara-tatacara pengambilan
keputusan secara demokratis.
d.
Peserta didik dalam ideologi pendidikan
liberal, mengemukakan bahwa seorang anak pada umumnya cenderung untuk menjadi
lebih baik (yakni, untuk menginginkan atau melakukan tindakan yang efektif dan
tercerahkan) berdasarkan konsekuensi-konsekuensi alamiah dari perilakunya
sendriri yang terus berkelanjutan. Anak-anak atau peserta didik secara moral
setara, dan mereka pasti memiliki kesempatan-kesempatan untuk berjuang demi
ganjaran-ganjaran social yang pada dasarnya disetarakan (dibagikan merata).
e.
Administrasi dan pengendalaian
pendidikan, wewenang pendidikan harus ditanamkan di tangan para pendidik yang
telah memperoleh latihan tingat tinggi, yang memiliki komitmen terhadap proses
penyelidikan kritis dan yang mampu membuat perubahan-perubahan yang diperlukan
sehubungan dengan informasi baru yang relevan, wewenang guru harus didasarkan
terutama pada keterampilan-keterampilan yang dimilikinya dalam bidang
pendidikan.
f.
Sifat-sifat hakiki kurikulum adalah sekolah
harus menekankan keefektifan personal, melatih anak untuk menyesuaikan diri
secara efektif dengan tuntunan-tuntunan situasinya sendiri sebagaimana ia
memahami situasi tersebut. Sekolah harus menekankan penjelajahan yang terbuka
dan kritis ke dalam masalah-masalah dan isu-isu kontemporer sebagaimana itu
semua dipahami sebagai hal-hal penting oleg para siswa sendiri. Penekanan utama
harus di arahkan ke pendekatan-pendekatan pemecahan masalah yang berdasarkan
kegiatan kelompok serta pemecahan masalah yang berdasarkan kegiatan kelompok
serta bersifat antar-disipilin (kelimuan), melibatkan pelatihan dalam area-area
tertentu seperti misalnya logika praktis, metode ilmiah, ilmu-ilmu pengetahuan
social dan behavioral, dan sebagaian besar dari ilmu-ilmu alam serta
humanistik.
g.
Metode-metode pengajaran dan penilian
hasil belajar : kegiatan belajar yang diarahkan oleh siswa, seiring dengan
perencanaan pendidikan yang bersifat persekutuan (kaloboratif) antara guru
dengan para siswa, adalah kegiatan belajar yang lebih baik ketimbang yang
ditentukan dan diarahkan oleh guru. Ujian dilakukan dengan peragaan aktif
(simulasi) yang bersifat praktis di kelas, tidak ada persaingan antar siswa dan
penyusunan nilai siswa, tetapi lebih menekankan pada penekanan yang bersifat
afektif (motivasi), yang membentuk dasar bagi yang kognitif, landasan-landasan
indera-daya tangkap motorik-emosional. Dan penekanan diletakkan sesuai
prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang ada sekarang dengan yang lebih baik.
Bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan adalah aspek pusat
persekolahan yang normal, sebab keduanya menjamin kondisi-kondisi atau
syarat-syarat emosional yang diperlukan bagi berkelangsungan kegiatan belajar
yang efektif.
h.
Kendali di ruang kelas : para guru
secara umum harus bersifat demokratis dan objektif dalam menentukan tolak ukur
tingkah laku, ia harus meminta nasihat atau usulan dan persetujuan siswa dalam
memapankan aturan-aturan tentang perilaku di dalam kelas. Dengan demikian dari
tindakan bermoral pada puncaknya adalah tindakan paling cerdas yang tersedia
dalam situasi khusus yang manapun juga, dan bisa membantu menjadi jalan keluar
tindakan guru membantu siswa untuk mengembangkan kemampuannya sendiri untuk
memecahkan masalah secara efektif
3. Anarkisme Pendidikan
Anarkisme
adalah sudut pandang yang membela pemusnahan seluruh kekengan kelembagaan
terhadap kebebasan manusia, sebagai jalan untuk mengujudkan sepenuh-penuhnya
potensi-potensi manusia yang telah dibebaskan. Seorang anarkis menyetujui, pada
prinsipnya, induvidualisme psikologis yang diajukan oleh kaum liberal. Tetapi
ia akan lebih condong lagi kea rah determinisme social kaum liberasionis, jika
persoalannya menyangkut tindakan praktis yang mendesak.
Bagi
kaum anarkis, pendidikan yang dipandang sebagai sebuah proses yang harus ada
untuk belajar melalui pengalaman social alamiah manusia sendiri jangan sampai
dikacaukan dengan persekolahan yang hanyalah sebuah corak pendidikan, dan yang
hanya merupakan kaki-tangan Negara otoriter. Dengan memerosotkan tanggung jawab
personal, Negara dan persekolahan membuat anak-anak jadi tak bisa dididik dalam
arti pendidikan yang sejati mereka membantu membawahkan pendidika sejati dan
meninggikan apa yang hanya sekadar pelatihan.
Tiga
corak dasar anarkisme pendidikan yaitu anarkisme taktis, kaum anarkis taktis
itu, mereka merasa bahwa problema-problema pendidikan yang nyata di zaman kita
adalah problema-problema sosial seperti kemiskinan, rasisme dan peperangan.
Persoalan –persoalan yang juga berfungsi untuk membuat mayoritas anak dibekukan
di tingkat-tingkat motivasional yang ada di bawah tingkat-tingkat yang
diperlukan bagi pelaksanaan pendidikan yang efektif di sekolah-sekolah.
Corak
yang kedua adalah anarkisme revolusioner kaum anarkis revolusioner menganggap
sekolah-sekolah sebagai alat (dari) budaya yang dominan. Lantaran itu, sekolah
bukan saja tak berguna sebagai gugus depan pembaharuan atau perombakan sosial
yang punya arti penting. Sekolah-sekolah itu nyatanya malah menjadi para
penjaga gerbang utama stautus qua kemapanan.
Corak
yang ketiga adalah Anarkisme utopis, kaum anarkis utopis menganggap bahwa dalam
budaya kita saat ini, kita hidup di depan pintu masyarakat utopian paska
industry yang dicirikan oleh kemakmuran dan kesenangan bagi semua orang. Jenis
masyarakat di mana hanya sejumlah kecil pekerja terlatih yang diperlukan demi
mempertahankan sebuah sisten produksi yang nyaris sepenuhnya otomatis. Sejalan
dengan itu, sekolah-sekolah kita, diadakan terutama untuk memikul peran-peran
kekaryaan (pekerjaan) yang berguna secara sosial dalam keseluruhan aparat
industria, tak perlu ada lagi. Orang kini bebas untuk belajar demi dirinya
sendiri, secara sukarela, berdasarkan minat spontannya sendiri sehingga akan
secara alamiah memilih untuk mempelajari hal-hal yang diperlukan oleh
masyarakat.
Secara
keseluruhan maka anarkisme dalam pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.
Tujuan pendidikan secara keseluruhan
adalah untuk membawa pembaharuan atau perombakan berskala besar dan segera, di
dalam masyarakat, dengan cara menghilangkan persekolahan wajib
b.
Tujuan-tujuan sekolah, sistem
persekolahan formal dihapuskan dan digantikan dengan sebuah pola belajar
sukarela serta mengarahkan diri sendiri, akses yang bebas dan universal ke
bahan-bahan pendidikan serta kesempatan-kesempatan belajar mesti disediakan,
namun tanpa sistem pengajaran wajib.
c.
Ciri-ciri umum Anarkisme pendidikan, menganggap
bahwa pengetahuan adalah sebuah keluaran sampingan alamiah dari kehidupan
sehari-hari, menganggap kepribadian individual sebagai sebuah nilai yang
melampaui tuntutan-tuntutan masyarakat manapun, menekankan pilihan bebas dan
penentuan nasib sendiri dalam sebuah latar belakang sosial yang waras dan
humanistic, dan menganggap pendidikan sebagai sebuah fungsi alamiah dari
kehidupan sehari-hari di dalam lingkungan
sosial yang rasional dan produktif.
d.
Anak sebagai pelajar, anak-anak
cenderung menjadi baik (yakni, menginginkan tindakan yang efektif dan
tercerahkan ketika anak-anak itu diasuh dalam sebuah masyarakat yang baik
(yakni yang rasional dan berkemanusiaan). Perbedaan-perbedaan antar individu
bergerak menentang kebijakan-kebijakan meresepkan pengalaman-pengalaman
pendidikam yang sama atau serupa bagi setiap orang. Anak-anak secara moral
setara, dan mereka mesti mendapatkan kesempatan-kesempatan untuk belajar apapun
yang mereka pilih sendiri, demi memperoleh tujuan apapun yang mereka anggap
layak di kejar.
e.
Administrasi dan pengendalian, wewenang
pendidikan mesti dikembalikan kepada rakyat dengan mengizinkan setiap orang
untuk mengendalikan hakikat dan pelaksanaan perkembangan dirinya sendiri. Tak
perlu wewenang khusus yang diberikan pada guru sebagai guru.
f.
Sifat-sifat hakiki kurikulum, sekolah
harus dihapuskan demi memperbesar pilihan personal yang bebas, pendidikan tidak
sama dengan persekolahan, satu-satunya kegiatan belajar yang sebenarnya
hanyalah belajar yang ditentukan sendiri dan ini hanya bisa berlangsung secara
efektif di dalam sebuah masyarakat yang tanpa sekolah dan penekanan harus
diletakkan pada pemungkinan tiap individu untuk menentukan tujuan-tujuan
belajarnya sendiri.
g.
Metode-metode pengajaran dan penilaian
hasil belajar, siswa secara individual mesti menjadi penentu metode-metode
pengajaran mana yang paling sesuai dengan tujuan-tujuan dan rancangan-rancangan
pendidikannya sendiri, peran-peran tradisonal guru dan siswa yang diterapkan oleh lembaga harus dihapuskan,
guru adalah sebuah aspek yang bisa dihapus dan dibuang dari proses pendidikan,
penilaian atau evaluasi yang terbaik adalah penilaian diri sendri yang harus difungsikan hamper
secara eksklusif untuk tujuan persaingan diri. Dan bimbingan dan penyuluhan
individual, serta terapi kejiwaan sebagaimana itu dilaksanakan melalui
sekolah-sekolah, hanyalah satu bagian dari sistem pembatasan sosial yang dalam
kenyataan menyebabkan timbulnya berbagai problema kejiwaan yang mereka
pura-pura sembuhkan.
h.
Kendali di ruang kelas, anak-anak
haruslah secara fundamental menentukan diri sendiri, dan gagasan bahwa
anak-anak sama dengan murid-murid adalah pelanggaran tersirat atas anggapan
ini. Hakikat serta isi pengalaman-pengalaman sekolah (jika ada) harus
ditentukan oleh individu-individu yang terlibat dan tidak didiktekan oleh
agen-agen dari luar. Tindakan moral tak pelak lagi merupakan keluaran-sampingan
dari kehidupan moral dalam sebuah masyarakat moral. Sekolah-sekolah hanya
memainkan satu peranan insidental dalam menentukan tingkah laku bermoral.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar