1 April 2013

Ideologi Pendidikan Bangsa Sudahkah Kita Pahami..!

   
                                                  Konservatisme Pendidikan 


Oleh
Muhammad Hadidi
Mahasiswa Universitas Muahammadiyah Malang
Ada dua tradisi mendasar dalam konservatisme pendidikan yang berkaitan dengan sikap-sikap yang menyangkut agama yaitu :
1.      Konservatisme pendidikan sekuler
Konservatisme pendidikan sekuler ini tidak mesti menolak aspek-aspek rohaniah dalam pendidikan, namun mereka cenderung untuk lebih memakai pendekatan utilitarian (asas manfaat) dan pendekatan praktis dalam soal persekolahan, jika di banding dengan mereka yang lebih condong ka arah agama. Kepedulian utama kaum konservatisme sekuler adalah terhadap peran sekolah dalam melestarikan dan menyalurkan lembaga-lembaga serta proses-proses sosial yang mapan, dan mereka ingin menumbuh-kembangkan jenis informasi serta ketrampilan yang diperlukan agar menjamin keberhasilan individu dalan hidupnya di masyarakat sekuler yang ada sekarang. 

2.      Konservatisme pendidikan religius
Konservatisme pendidikan religius lebih memperhatikan penyaluran keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang sudah mapan,  yakni ortodoksi moral dan keagamaan yang telah teruji oleh waktu yang dimiliki gerejanya sendiri atau aliran terlembaganya sendiri. Dan mereka menyakini pula bahwa pelatihan rohaniah merupakan aspek mendasar dalam tradisi-tradisi sosial yang mapan, dan bahwa sebagian pelajaran keagamaan dengan demikian merupakan aspek yang layak dan penting dalam pendidikan dasar seorang anak.

Ideologi mendasar kaum konservatif pendidikan dapat dirangkum sebagai berikut :
a.       Tujuan pendidikan secara keseluruhan adalah untuk melestarikan dan menyalurkan pola-pola perilaku sosial konvensional. 

b.      Sasaran-sasaran sekolah, sekolah diadakan karena dua alasan yaitu untuk mendorong tentang pemahaman dan penghargaan terhadap lembaga-lembaga, tradisi-tradisi, proses-proses budaya yang telah teruji oleh waktu, termasuk rasa hormat yang mendalam terhadap hukuman dan tatanan, dan untuk menyalurkan dan menanamkan informasi serta keperluan informasi yang diperlukan supaya berhasil di dalam tatanan sosial yang ada.
c.       Ciri-ciri umum konservatisme pendidikan adalah menganggap bahwa nilai dasar pengetahuan ada pada kegunaan sosialnya, menekankan peran manusia sebagai anggota sebuah negara yang mapan, menekankan penyesuaian diri yang bernalar, menyandarkan diri pada jawaban-jawaban terbaik dari masa silam sebagai tuntunan yang paling bisa dipercaya untuk memandu tindakan di masa kini. Dan memandang pendidikan sebagai sebuah pembelajaran (Sosialisasi) nilai-nilai sistem yang mapan. 

d.      Anak sebagai pelajar, siswa memerlukan bimbingan yang ketat serta pengarahan yang jelas sebelum ia menjadi terbelajarkan (tersosialisasikan) secara efektif sebagai seorang warga negara yang bertanggung jawab. Dan kesamaan-kesamaan individual lebih penting ketimbang perbedaan-perbedaannya, dan kesamaan-kesamaan itu menentukan dalam menetapkan program-program pendidikan yang tepat.
e.       Administrasi dan pengendalian, wewenang guru dilihat dari status sosial yang dimiliki sehingga dengan adanya wewenang ini maka pendidik mampu memiliki rasa hormat yang mendalam terdahap proses yang telah ditetapkan. 

f.       Hakikat kurikulum, sekolah harus menekankan pelatihan yang dasar dalam hal ketrampilan-ketrampilan belajar yang fundamental, sebuah tinjauan sepintas mengenai ilmu-ilmu alam yang mendasar, pendidikan fisik, serta pendekatan yang relatif bersifat akademis kepada ilmu-ilmu pengetahuan sosial yang lebih konvensional (sejarah bangsa/negara, lembaga politik negara, sejarah dunia, dan sebagainya).

g.      Metode-metode pengajaran dan penilaian hasil belajar, harus ada penyesuaian praktis antara tatacara-tatacara di ruang kelas yang tradisional dengan progresif, sang guru mesti menggunakan metode apa pun yang paling efektif dalam meningkatkan kegiatan belajar, namun ia harus lebih cenderung ke arah menyesuaikan tatacara-tatacara tradisonal dengan cara-cara baru seperti peragaan, studi lapangan, penelitian di laboratorium, dan sejenisnya. Yang terbaik adalah belajar dengan ditentukan dan diarahkan oleh guru. Tes-tes untuk mengukur keterampilan serta informasi yang dikuasai siswa lebih baik ketimbang tes-tes yang diberikan untuk menguji kemampuan analistis. Penekanan diletakkan kepada yang kognitif dengan penekanan kedua pada yang efektif serta yang bersifat antarpribadi. Bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan harus dibatasi hanya untuk siswa-siswi yang mengalami problema emosional yang berat, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar dalam situasi persekolahan yang  normal.
h.      Kendali di ruang kelas,  para guru umum harus bersifat non-permisif, namun wewenang guru mesti disisipi dengan penalaran. Pendidikan moral (pelatihan watak) adalah satu dari aspek-aspek penting persekolahan. 

2.      Liberalisme Pendidikan
Pendidikan yang di rumuskan oleh golongan liberalisme pendidikan adalah
a.       Tujuan pendidikan secara keseluruhan, tujuan utama pendidikan adalah untuk mempromosikan perilaku personal yang efektif
b.      Sarana-sarana sekolah, sekolah ada lantaran dua alasan mendasar yaitu untuk menyediakan informasi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk belajar secara efektif bagi dirinya sendiri, untuk mengajar para siswa bagaimana cara memecahkan masalah praktis lewat penerapan tatacara-tatacara penyelesaian masalah secara individual mapun kelompok yang didasarkan pada metode-metode ilmiah-rasional.

c.       Ciri-Ciri umum Liberalisme Pendidikan, menganggap bahwa pengetahuan terutama berfungsi sebagai sebuah alat untuk digunakan dalam pemecahan masalah secara praktis, bahwa pengetahuan adalah sebuah jalan kea rah tujuan berupa perilaku, bahwa pengetahuan adalah sebuah jalan ke arah tujuan berupa perilaku efektif dalam menangani situasi-situasi sehai-hari, menekankan kepribadian unik dalam diri tiap individu atau ketunggalan (singularitas) setiap pribadi sebagai sebuah pribadi, menekankan pemikiran efektif (kecerdasan praktis), mengarahkan perhatian utamanya kepada kemampuan setiap individu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan personalnya sendiri secara efektif, berdasarkan kepada sebuah sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan atau prakiraan-prakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan itu, pendidikan didirikan diatas tatacara-tatacara pembuktian secara ilmiah-rasional, menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi terletak pada pengetahuan yang diperoleh dari pembuktian eksperimental dan atau tatacara-tatacara pengambilan keputusan secara demokratis. 

d.      Peserta didik dalam ideologi pendidikan liberal, mengemukakan bahwa seorang anak pada umumnya cenderung untuk menjadi lebih baik (yakni, untuk menginginkan atau melakukan tindakan yang efektif dan tercerahkan) berdasarkan konsekuensi-konsekuensi alamiah dari perilakunya sendriri yang terus berkelanjutan. Anak-anak atau peserta didik secara moral setara, dan mereka pasti memiliki kesempatan-kesempatan untuk berjuang demi ganjaran-ganjaran social yang pada dasarnya disetarakan (dibagikan merata).
e.       Administrasi dan pengendalaian pendidikan, wewenang pendidikan harus ditanamkan di tangan para pendidik yang telah memperoleh latihan tingat tinggi, yang memiliki komitmen terhadap proses penyelidikan kritis dan yang mampu membuat perubahan-perubahan yang diperlukan sehubungan dengan informasi baru yang relevan, wewenang guru harus didasarkan terutama pada keterampilan-keterampilan yang dimilikinya dalam bidang pendidikan. 

f.       Sifat-sifat hakiki kurikulum adalah sekolah harus menekankan keefektifan personal, melatih anak untuk menyesuaikan diri secara efektif dengan tuntunan-tuntunan situasinya sendiri sebagaimana ia memahami situasi tersebut. Sekolah harus menekankan penjelajahan yang terbuka dan kritis ke dalam masalah-masalah dan isu-isu kontemporer sebagaimana itu semua dipahami sebagai hal-hal penting oleg para siswa sendiri. Penekanan utama harus di arahkan ke pendekatan-pendekatan pemecahan masalah yang berdasarkan kegiatan kelompok serta pemecahan masalah yang berdasarkan kegiatan kelompok serta bersifat antar-disipilin (kelimuan), melibatkan pelatihan dalam area-area tertentu seperti misalnya logika praktis, metode ilmiah, ilmu-ilmu pengetahuan social dan behavioral, dan sebagaian besar dari ilmu-ilmu alam serta humanistik. 

g.      Metode-metode pengajaran dan penilian hasil belajar : kegiatan belajar yang diarahkan oleh siswa, seiring dengan perencanaan pendidikan yang bersifat persekutuan (kaloboratif) antara guru dengan para siswa, adalah kegiatan belajar yang lebih baik ketimbang yang ditentukan dan diarahkan oleh guru. Ujian dilakukan dengan peragaan aktif (simulasi) yang bersifat praktis di kelas, tidak ada persaingan antar siswa dan penyusunan nilai siswa, tetapi lebih menekankan pada penekanan yang bersifat afektif (motivasi), yang membentuk dasar bagi yang kognitif, landasan-landasan indera-daya tangkap motorik-emosional. Dan penekanan diletakkan sesuai prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang ada sekarang dengan yang lebih baik. Bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan adalah aspek pusat persekolahan yang normal, sebab keduanya menjamin kondisi-kondisi atau syarat-syarat emosional yang diperlukan bagi berkelangsungan kegiatan belajar yang efektif.

h.      Kendali di ruang kelas : para guru secara umum harus bersifat demokratis dan objektif dalam menentukan tolak ukur tingkah laku, ia harus meminta nasihat atau usulan dan persetujuan siswa dalam memapankan aturan-aturan tentang perilaku di dalam kelas. Dengan demikian dari tindakan bermoral pada puncaknya adalah tindakan paling cerdas yang tersedia dalam situasi khusus yang manapun juga, dan bisa membantu menjadi jalan keluar tindakan guru membantu siswa untuk mengembangkan kemampuannya sendiri untuk memecahkan masalah secara efektif
3.      Anarkisme Pendidikan
Anarkisme adalah sudut pandang yang membela pemusnahan seluruh kekengan kelembagaan terhadap kebebasan manusia, sebagai jalan untuk mengujudkan sepenuh-penuhnya potensi-potensi manusia yang telah dibebaskan. Seorang anarkis menyetujui, pada prinsipnya, induvidualisme psikologis yang diajukan oleh kaum liberal. Tetapi ia akan lebih condong lagi kea rah determinisme social kaum liberasionis, jika persoalannya menyangkut tindakan praktis yang mendesak. 

Bagi kaum anarkis, pendidikan yang dipandang sebagai sebuah proses yang harus ada untuk belajar melalui pengalaman social alamiah manusia sendiri jangan sampai dikacaukan dengan persekolahan yang hanyalah sebuah corak pendidikan, dan yang hanya merupakan kaki-tangan Negara otoriter. Dengan memerosotkan tanggung jawab personal, Negara dan persekolahan membuat anak-anak jadi tak bisa dididik dalam arti pendidikan yang sejati mereka membantu membawahkan pendidika sejati dan meninggikan apa yang hanya sekadar pelatihan. 

Tiga corak dasar anarkisme pendidikan yaitu anarkisme taktis, kaum anarkis taktis itu, mereka merasa bahwa problema-problema pendidikan yang nyata di zaman kita adalah problema-problema sosial seperti kemiskinan, rasisme dan peperangan. Persoalan –persoalan yang juga berfungsi untuk membuat mayoritas anak dibekukan di tingkat-tingkat motivasional yang ada di bawah tingkat-tingkat yang diperlukan bagi pelaksanaan pendidikan yang efektif di sekolah-sekolah. 

Corak yang kedua adalah anarkisme revolusioner kaum anarkis revolusioner menganggap sekolah-sekolah sebagai alat (dari) budaya yang dominan. Lantaran itu, sekolah bukan saja tak berguna sebagai gugus depan pembaharuan atau perombakan sosial yang punya arti penting. Sekolah-sekolah itu nyatanya malah menjadi para penjaga gerbang utama stautus qua  kemapanan. 

Corak yang ketiga adalah Anarkisme utopis, kaum anarkis utopis menganggap bahwa dalam budaya kita saat ini, kita hidup di depan pintu masyarakat utopian paska industry yang dicirikan oleh kemakmuran dan kesenangan bagi semua orang. Jenis masyarakat di mana hanya sejumlah kecil pekerja terlatih yang diperlukan demi mempertahankan sebuah sisten produksi yang nyaris sepenuhnya otomatis. Sejalan dengan itu, sekolah-sekolah kita, diadakan terutama untuk memikul peran-peran kekaryaan (pekerjaan) yang berguna secara sosial dalam keseluruhan aparat industria, tak perlu ada lagi. Orang kini bebas untuk belajar demi dirinya sendiri, secara sukarela, berdasarkan minat spontannya sendiri sehingga akan secara alamiah memilih untuk mempelajari hal-hal yang diperlukan oleh masyarakat.   

Secara keseluruhan maka anarkisme dalam pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.       Tujuan pendidikan secara keseluruhan adalah untuk membawa pembaharuan atau perombakan berskala besar dan segera, di dalam masyarakat, dengan cara menghilangkan persekolahan wajib
b.      Tujuan-tujuan sekolah, sistem persekolahan formal dihapuskan dan digantikan dengan sebuah pola belajar sukarela serta mengarahkan diri sendiri, akses yang bebas dan universal ke bahan-bahan pendidikan serta kesempatan-kesempatan belajar mesti disediakan, namun tanpa sistem pengajaran wajib.
c.       Ciri-ciri umum Anarkisme pendidikan, menganggap bahwa pengetahuan adalah sebuah keluaran sampingan alamiah dari kehidupan sehari-hari, menganggap kepribadian individual sebagai sebuah nilai yang melampaui tuntutan-tuntutan masyarakat manapun, menekankan pilihan bebas dan penentuan nasib sendiri dalam sebuah latar belakang sosial yang waras dan humanistic, dan menganggap pendidikan sebagai sebuah fungsi alamiah dari kehidupan sehari-hari di dalam  lingkungan sosial yang rasional dan produktif. 

d.      Anak sebagai pelajar, anak-anak cenderung menjadi baik (yakni, menginginkan tindakan yang efektif dan tercerahkan ketika anak-anak itu diasuh dalam sebuah masyarakat yang baik (yakni yang rasional dan berkemanusiaan). Perbedaan-perbedaan antar individu bergerak menentang kebijakan-kebijakan meresepkan pengalaman-pengalaman pendidikam yang sama atau serupa bagi setiap orang. Anak-anak secara moral setara, dan mereka mesti mendapatkan kesempatan-kesempatan untuk belajar apapun yang mereka pilih sendiri, demi memperoleh tujuan apapun yang mereka anggap layak di kejar.
e.       Administrasi dan pengendalian, wewenang pendidikan mesti dikembalikan kepada rakyat dengan mengizinkan setiap orang untuk mengendalikan hakikat dan pelaksanaan perkembangan dirinya sendiri. Tak perlu wewenang khusus yang diberikan pada guru sebagai guru. 

f.       Sifat-sifat hakiki kurikulum, sekolah harus dihapuskan demi memperbesar pilihan personal yang bebas, pendidikan tidak sama dengan persekolahan, satu-satunya kegiatan belajar yang sebenarnya hanyalah belajar yang ditentukan sendiri dan ini hanya bisa berlangsung secara efektif di dalam sebuah masyarakat yang tanpa sekolah dan penekanan harus diletakkan pada pemungkinan tiap individu untuk menentukan tujuan-tujuan belajarnya sendiri. 

g.      Metode-metode pengajaran dan penilaian hasil belajar, siswa secara individual mesti menjadi penentu metode-metode pengajaran mana yang paling sesuai dengan tujuan-tujuan dan rancangan-rancangan pendidikannya sendiri, peran-peran tradisonal guru dan siswa yang  diterapkan oleh lembaga harus dihapuskan, guru adalah sebuah aspek yang bisa dihapus dan dibuang dari proses pendidikan, penilaian atau evaluasi yang terbaik adalah penilaian  diri sendri yang harus difungsikan hamper secara eksklusif untuk tujuan persaingan diri. Dan bimbingan dan penyuluhan individual, serta terapi kejiwaan sebagaimana itu dilaksanakan melalui sekolah-sekolah, hanyalah satu bagian dari sistem pembatasan sosial yang dalam kenyataan menyebabkan timbulnya berbagai problema kejiwaan yang mereka pura-pura sembuhkan. 

h.      Kendali di ruang kelas, anak-anak haruslah secara fundamental menentukan diri sendiri, dan gagasan bahwa anak-anak sama dengan murid-murid adalah pelanggaran tersirat atas anggapan ini. Hakikat serta isi pengalaman-pengalaman sekolah (jika ada) harus ditentukan oleh individu-individu yang terlibat dan tidak didiktekan oleh agen-agen dari luar. Tindakan moral tak pelak lagi merupakan keluaran-sampingan dari kehidupan moral dalam sebuah masyarakat moral. Sekolah-sekolah hanya memainkan satu peranan insidental dalam menentukan tingkah laku bermoral.    










  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar