Mahasiswa adalah komunitas yang cukup bhinneka, kebhinnekaan ini dapat dikenali baik dari asal keluarganya seperti kelas social, tingkat penghasilan, pekerjaan orang tua maupun diri mahasiswa itu sendiri yang meliputi orientasi hidup, tujuan dan motivasi menjadi mahasiswa, gaya hidup dan lain sebagainya. Kebhinekaan atau heterogenitas ini seyogyanya disikapi secara arif oleh mahasiswa.
Hal ini dikarenakan banyak orang mengenal mahasiswa
sebagai sosok pribadi yang dewasa, mandiri, bertanggungjawab dan mampu menjaga
diri dengan baik.Dalam aktifitas pembelajaran di perguruan tinggi, mahasiswa
akan menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang menuntut adanya penampilan
yang sesuai dengan status perguruan tinggi sebagai tempat pembelajaran formal
di dunia pendidikan.
Mahasiswa akan lebih banyak berhadapan dengan situasi
kampus yang menuntut sikap dan perilaku yang professional sebagai sosok
intelektual dalam bagian civitas
akademika perguruan tinggi. Untuk itu, mahasiswa harus mampu menempatkan
diri dalam pergaulan di dunia kampus yang memiliki karakteristik unik dibanding
lembaga pendidikan lain, khususnya yang tidak formal. Mahasiswa diharapkan
dapat berfikir dan bersikap ilmiah manakala berhadapan dengan proses pengajaran
yang memberikan banyak ilmu dan pengetahuan sesuai bidang keilmuannya.
Mahasiswa harus bisa menempatkan diri dengan performance yang baik manakala berdialog
dan berdiskusi dengan para pengajar atau staf administrasi dan mahasiswapun
diharapkan dapat memberikan ketauladanan saat berada di lingkungan masyarakat
luar dengan penampilan dan perilaku yang santun sebagai seorang akademisi.
Untuk menjaga dan menuntaskan harapan-harapan ini tidak
ada jalan lain bagi seorang mahasiswa mulai belajar bagaimana harus
berpenampilan, berperilaku dan bergaul dengan sesama civitas akademika sesuai dengan nilai-nilai dunia perguruan tinggi
sebagai lembaga akademik keilmuan dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang
dipilih di dunia perguruan tinggi dalam mengembangkan institusinya. Nilai-nilai inilah yang diharapkan dapat ikut
menuntun dan menjadi pedoman mahasiswa untuk berperilaku sehari-hari baik di
dalam kampus maupun di luar kampus. Bahkan nilai-nilai inilah yang akan menjadi
control eksternal jika mahasiswa salah dalam mengambil sikap dan perilaku.
Pada dasarnya performance (penampilan) itu dibagi
dua macam, yaitu penampilan fisik dan penampilan batin. Penampilan fisik dapat
dilihat dan diukur. Sedangkan penampilan batin sebaliknya, sebab merupakan
sesuatu yang abstrak. Ada beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam berpenampilan, antara lain yang terkait
dengan pakaian, kesucian/kebersihan dan sikap diri. Islam telah
mengatur bagaimana cara dalam menjaga kesucian atau kebersihan dengan jelas,
berikut penjelasannya.
1. Islam
menetapkan bahwa pakaian yang dikenakan hendaklah menutup aurat. Ulama
berkesimpulan bahwa pada hekekatnya menutup aurat adalah fitrah manusia yang diaktualkan pada saat ia memiliki
kesadaran. Salah satu cara dalam menutup aurat adalah dengan menggunakan
pakaian sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
2. Islam juga
menetapkan perlunya menjaga kebersihan atau kesucian pakaian
dan tubuh serta keindahannya. Hal ini bukan saja akan menambah baik
penampilannya juga akan memelihara dirinya dari berbagai penyakit. Misalnya
mandi, berwudlu, mensucikan pakaian, membersihkan, dan
merapikan bagian-bagian tubuh dan sebagainya.
3. Islam juga meminta kita memperhatikan sikap berjalan. Ada yang
mengatakan bahwa perilaku dalam berjalan dapat mencerminkan kondisi psikologis
atau kepribadian seseorang. Islam meminta kita tidak berjalan dengan
kesombongan yang ditandai dengan tidak memperhatikan lingkungan sekitar, tidak
menyapa saat bertemu dengan teman atau orang lain, sulit tersenyum atau bermuka
masam.
Disamping itu dalam membahas hubungan dengan penampilan
dan pergaulan, Islam pada dasarnya tidak melarang mentah-mentah pergaulan
antara laki-laki dengan peempuan sebagaimana tidak membiarkan sebebas-bebasnya
pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Islam telah memberikan rambu-rambu
agar pergaulan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan itu menjadi
pergaulan yang sehat dan benar. Di
antara rambu-rambu tersebut adalah:
1. Islam melarang keras berdua-duaan antara laki-laki dengan perempuan yang
bukan muhrimnya, sebab
hal ini akan menjadi pemicu terjadinya perbuatan dosa.
2.
Islam melarang memandang lain jenis dengan syahwat, sebab pandangan mata kepada
lain jenis yang disertai dengan syahwat adalah pintu pembuka terjadinya
kejahatan.
3.
Islam melarang melihat atau
mempertontonkan aurat.Larangan agar tidak melihat atau
memperlihatkan aurat kepada orang lain dimaksudkan agar manusia mampu menjaga
kemulyaan dirinya. Termasuk dalam menjaga aurat adalah memilih mode dan bentuk
pakaian, sebab banyak ditemukan model-model pakaian yang membungkus aurat akan
tetapi justru menonjolkan aurat. Misalnya pakaian-pakaian yang ketat yang menampakkan
lekuk-lekuk tubuh pemakainya, atau pakaian yang memiliki sobekan panjang yang
dengan gerakan tertentu dapat terlihat aurat pemakai.
4.
Islam mengajarkan agar membudayakan rasa malu. Budaya
malu yang dimaksudkan disini adalah malu kepada Allah apabila melakukan
perbuatan yang dilarang oleh Allah. Dengan memiliki budaya malu orang akan
senantiasa menyadari bahwa dirinya selalu dalam pantauan dan penglihatan Allah
sehingga takut berbuat hal-hal yang menyimpang dari aturan Allah. Ia menyadari
bahwa segala yang diperbuatnya akan ditanyakan oleh Allah dan akan ia
pertanggungjawabkan di hadapan-Nya sekecil apapun perbuatan itu. Budaya malu semacam ini termasuk
bagian dari pada iman.
Disamping
permasalahan pergaulan yang sering menjadi faktor kegagalan mahasiswa dalam
menuntaskan studi di perguruan tinggi, ada beberapa permasalahan yang perlu
mendapat perhatian khusus dari mahasiswa, antara lain:
1.
Menghindari Perilaku
Konsumtif
|
Hindari perilaku konsumtif, pergaulan bebas, seks di
luar nikah dan konsumsi miras dan Napza
|
Konsumtif
adalah suatu sikap hidup yang gemar secara berlebihan untuk berbelanja dan
keinginannya untuk berbelanja tersebut seringkali tidak memperhatikan tingkat
prioritas dari barang-barang yang dibeli sehingga secara otomatis tidak
memperhatikan kemampuan keuangan (besar
pasak daripada tiang). Akibat yang ditimbulkan dari perilaku konsumtif ini
adalah gaya hidup boros, gali lubang tutup lubang dan pada akhirnya terjebak
pada krisis keuangan yang serius (kebiasaan berhutang, memiliki utang yang
besar dan bahkan muncul tindakan kriminal). Kondisi ini tentunya akan
mempengaruhi konsentrasi dan perilaku dalam perkuliahan, sehingga tidak sedikit
mahasiswa yang tidak mampu melanjutkan study
akibat dari perilaku konsumtif ini.
Secara
umum perilaku konsumtif mahasiswa ini dapat dikaji melalui berbagai kondisi,
antara lain kondisi psikologis mahasiswa yang rentan dengan pola konsumsi
berlebihan (masa remaja). Mahasiswa yang merupakan masa peralihan masa remaja
dan dewasa memiliki pola keinginan pengakuan sosial yang lebih besar. Pengakuan sosial ini diartikan oleh mahasiswa
dalam bentuk fisik semata, sehingga konsep “Aku
Berbelanja maka Aku Ada” lebih dominan dalam pola penerimaan sosial bagi mahasiswa. Disamping itu
strategi produsen dalam memasarkan barang dagangannya diserta dengan
menjamurnya mall makin mempengaruhi
perilaku konsumtif pada mahasiswa. Mall
seringkali menjadi rumah kos alternatif bagi sebagian mahasiswa dan menjadi
tempat menyimpan uang dari hasil jerih payah orang tua serta mampu menjadi
pilihan utama dalam kegiatan refreshing
setelah kesibukan perkuliahan. Dengan berbagai cara baik melalui iklan,
memunculkan trend baru dalam
berpakaian maupun mengembangkan imajinasi konsumtif, produsen mampu menarik
keinginan mahasiswa untuk membeli barang yang sebetulnya tidak menjadi
prioritas kebutuhannya.
Perilaku konsumtif sebenarnya dapat dibedakan antara
perilaku konsumtif yang wajar dan tidak wajar. Perilaku konsumtif yang wajar
dapat dikenali dengan perilaku belanja yang “tidak besar pengeluaran
daripada pendapatan.” Sebaliknya apabila perilaku belanjanya ”besar pengeluaran daripada pendapatan”
maka mahasiswa tersebut telah terjebak dalam perilaku konsumtif yang serius dan
perlu mendapatkan perhatian dari orang-orang terbaik disekitarnya.
Pada stadium perilaku konsumtif yang supar (sudah parah), mahasiswa seringkali lupa diri sehingga
bukannya sadar melainkan justru menuntut orang tua memberikan kiriman yang
lebih banyak dan menjadikan uang kuliah menjadi uang jajannya. Pada kondisi
tertentu mahasiswa dapat melakukan perbuatan kriminal dan diluar perhitungan
diri sendiri karena ketidakmampuan mengendalikan perilaku belanjanya. Kondisi
ini akan semakin parah manakala support
teman (peer group) mengarah kepada
hal-hal yang negatif (menguatkan perilaku konsumtif) dan orang tua tidak
memberikan perhatian lebih banyak terhadap perilaku tersebut.
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa
untuk mengurangi perilaku konsumtif tersebut, antara lain: mengarahkan pikiran
ke hal-hal yang produktif (wirausaha), mencari kelompok teman (peer group) yang mendukung
kegiatan-kegiatan positif, khususnya peningkatan prestasi akademik, mengikuti
kegiatan pengembangan minat dan bakat (kemahasiswaan), memberikan perhatian
lebih tinggi terhadap kegiatan perkuliahan dan mengingat kembali tujuan dan
target kuliah, khususnya dikaitkan dengan harapan keluarga.
Berkumpul dengan teman-teman yang mengajak kepada kebaikan bukan hanya
memberikan keuntungan sementara namun keuntungan jangaka panjang. Hal ini
dikarenakan salah satu perubahan sikap seseorang dapat terjadi pada lingkungan
yang baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar