21 Juni 2016

Pergaulan Sehat Dan Islami


Mahasiswa adalah komunitas yang cukup bhinneka, kebhinnekaan ini dapat dikenali baik dari asal keluarganya seperti kelas social, tingkat penghasilan, pekerjaan orang tua maupun diri mahasiswa itu sendiri yang meliputi orientasi hidup, tujuan dan motivasi menjadi mahasiswa, gaya hidup dan lain sebagainya. Kebhinekaan atau heterogenitas ini seyogyanya disikapi secara arif oleh mahasiswa.


Hal ini dikarenakan banyak orang mengenal mahasiswa sebagai sosok pribadi yang dewasa, mandiri, bertanggungjawab dan mampu menjaga diri dengan baik.Dalam aktifitas pembelajaran di perguruan tinggi, mahasiswa akan menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang menuntut adanya penampilan yang sesuai dengan status perguruan tinggi sebagai tempat pembelajaran formal di dunia pendidikan.
Mahasiswa akan lebih banyak berhadapan dengan situasi kampus yang menuntut sikap dan perilaku yang professional sebagai sosok intelektual dalam bagian civitas akademika perguruan tinggi. Untuk itu, mahasiswa harus mampu menempatkan diri dalam pergaulan di dunia kampus yang memiliki karakteristik unik dibanding lembaga pendidikan lain, khususnya yang tidak formal. Mahasiswa diharapkan dapat berfikir dan bersikap ilmiah manakala berhadapan dengan proses pengajaran yang memberikan banyak ilmu dan pengetahuan sesuai bidang keilmuannya.
Mahasiswa harus bisa menempatkan diri dengan performance yang baik manakala berdialog dan berdiskusi dengan para pengajar atau staf administrasi dan mahasiswapun diharapkan dapat memberikan ketauladanan saat berada di lingkungan masyarakat luar dengan penampilan dan perilaku yang santun sebagai seorang akademisi.

Untuk menjaga dan menuntaskan harapan-harapan ini tidak ada jalan lain bagi seorang mahasiswa mulai belajar bagaimana harus berpenampilan, berperilaku dan bergaul dengan sesama civitas akademika sesuai dengan nilai-nilai dunia perguruan tinggi sebagai lembaga akademik keilmuan dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang dipilih di dunia perguruan tinggi dalam mengembangkan institusinya. Nilai-nilai inilah yang diharapkan dapat ikut menuntun dan menjadi pedoman mahasiswa untuk berperilaku sehari-hari baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Bahkan nilai-nilai inilah yang akan menjadi control eksternal jika mahasiswa salah dalam mengambil sikap dan perilaku.
Pada dasarnya performance (penampilan) itu dibagi dua macam, yaitu penampilan fisik dan penampilan batin. Penampilan fisik dapat dilihat dan diukur. Sedangkan penampilan batin sebaliknya, sebab merupakan sesuatu yang abstrak. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berpenampilan, antara lain yang terkait dengan pakaian, kesucian/kebersihan dan sikap diri. Islam telah mengatur bagaimana cara dalam menjaga kesucian atau kebersihan dengan jelas, berikut penjelasannya.
1.   Islam menetapkan bahwa pakaian yang dikenakan hendaklah menutup aurat. Ulama berkesimpulan bahwa pada hekekatnya menutup aurat adalah fitrah manusia yang diaktualkan pada saat ia memiliki kesadaran. Salah satu cara dalam menutup aurat adalah dengan menggunakan pakaian sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
2.   Islam juga menetapkan perlunya menjaga kebersihan atau kesucian pakaian dan tubuh serta keindahannya. Hal ini bukan saja akan menambah baik penampilannya juga akan memelihara dirinya dari berbagai penyakit. Misalnya mandi, berwudlu, mensucikan pakaian, membersihkan, dan merapikan bagian-bagian tubuh dan sebagainya.
3.   Islam juga meminta kita memperhatikan sikap berjalan. Ada yang mengatakan bahwa perilaku dalam berjalan dapat mencerminkan kondisi psikologis atau kepribadian seseorang. Islam meminta kita tidak berjalan dengan kesombongan yang ditandai dengan tidak memperhatikan lingkungan sekitar, tidak menyapa saat bertemu dengan teman atau orang lain, sulit tersenyum atau bermuka masam.
Disamping itu dalam membahas hubungan dengan penampilan dan pergaulan, Islam pada dasarnya tidak melarang mentah-mentah pergaulan antara laki-laki dengan peempuan sebagaimana tidak membiarkan sebebas-bebasnya pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Islam telah memberikan rambu-rambu agar pergaulan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan itu menjadi pergaulan yang sehat dan benar. Di antara rambu-rambu tersebut adalah:
1.      Islam melarang keras berdua-duaan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrimnya, sebab hal ini akan menjadi pemicu terjadinya perbuatan dosa.
2.      Islam melarang memandang lain jenis dengan syahwat, sebab pandangan mata kepada lain jenis yang disertai dengan syahwat adalah pintu pembuka terjadinya kejahatan.
3.      Islam melarang melihat atau mempertontonkan aurat.Larangan agar tidak melihat atau memperlihatkan aurat kepada orang lain dimaksudkan agar manusia mampu menjaga kemulyaan dirinya. Termasuk dalam menjaga aurat adalah memilih mode dan bentuk pakaian, sebab banyak ditemukan model-model pakaian yang membungkus aurat akan tetapi justru menonjolkan aurat. Misalnya pakaian-pakaian yang ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuh pemakainya, atau pakaian yang memiliki sobekan panjang yang dengan gerakan tertentu dapat terlihat aurat pemakai.
4.      Islam mengajarkan agar membudayakan rasa malu. Budaya malu yang dimaksudkan disini adalah malu kepada Allah apabila melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Dengan memiliki budaya malu orang akan senantiasa menyadari bahwa dirinya selalu dalam pantauan dan penglihatan Allah sehingga takut berbuat hal-hal yang menyimpang dari aturan Allah. Ia menyadari bahwa segala yang diperbuatnya akan ditanyakan oleh Allah dan akan ia pertanggungjawabkan di hadapan-Nya sekecil apapun perbuatan itu. Budaya malu semacam ini termasuk bagian dari pada iman.
Disamping permasalahan pergaulan yang sering menjadi faktor kegagalan mahasiswa dalam menuntaskan studi di perguruan tinggi, ada beberapa permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus dari mahasiswa, antara lain:
1.        Menghindari Perilaku Konsumtif
Hindari perilaku konsumtif, pergaulan bebas, seks di luar nikah dan konsumsi miras dan Napza


Mahasiswa terutama yang indekost memiliki aneka kebutuhan belanja yang beragam, disamping tentu saja kebutuhan untuk kuliahnya. Keberagaman kebutuhan ini memang cukup menyesakkan bahkan memusingkan bila dipikirkan, terutama oleh kelompok mahasiswa dengan kantong pas-pasan. Kebutuhan hidup akan semakin meningkat dan sulit dipenuhi manakala sudah tercampur dengan keinginan-keinginan pribadi akibat dorongan sosial mahasiswa.
Konsumtif adalah suatu sikap hidup yang gemar secara berlebihan untuk berbelanja dan keinginannya untuk berbelanja tersebut seringkali tidak memperhatikan tingkat prioritas dari barang-barang yang dibeli sehingga secara otomatis tidak memperhatikan kemampuan keuangan (besar pasak daripada tiang). Akibat yang ditimbulkan dari perilaku konsumtif ini adalah gaya hidup boros, gali lubang tutup lubang dan pada akhirnya terjebak pada krisis keuangan yang serius (kebiasaan berhutang, memiliki utang yang besar dan bahkan muncul tindakan kriminal). Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi konsentrasi dan perilaku dalam perkuliahan, sehingga tidak sedikit mahasiswa yang tidak mampu melanjutkan study akibat dari perilaku konsumtif ini.
Secara umum perilaku konsumtif mahasiswa ini dapat dikaji melalui berbagai kondisi, antara lain kondisi psikologis mahasiswa yang rentan dengan pola konsumsi berlebihan (masa remaja). Mahasiswa yang merupakan masa peralihan masa remaja dan dewasa memiliki pola keinginan pengakuan sosial yang lebih besar. Pengakuan sosial ini diartikan oleh mahasiswa dalam bentuk fisik semata, sehingga konsep “Aku Berbelanja maka Aku Ada” lebih dominan dalam pola penerimaan sosial bagi mahasiswa. Disamping itu strategi produsen dalam memasarkan barang dagangannya diserta dengan menjamurnya mall makin mempengaruhi perilaku konsumtif pada mahasiswa. Mall seringkali menjadi rumah kos alternatif bagi sebagian mahasiswa dan menjadi tempat menyimpan uang dari hasil jerih payah orang tua serta mampu menjadi pilihan utama dalam kegiatan refreshing setelah kesibukan perkuliahan. Dengan berbagai cara baik melalui iklan, memunculkan trend baru dalam berpakaian maupun mengembangkan imajinasi konsumtif, produsen mampu menarik keinginan mahasiswa untuk membeli barang yang sebetulnya tidak menjadi prioritas kebutuhannya.
Perilaku konsumtif sebenarnya dapat dibedakan antara perilaku konsumtif yang wajar dan tidak wajar. Perilaku konsumtif yang wajar dapat dikenali dengan perilaku belanja yang tidak besar pengeluaran daripada pendapatan. Sebaliknya apabila perilaku belanjanya ”besar pengeluaran daripada pendapatan” maka mahasiswa tersebut telah terjebak dalam perilaku konsumtif yang serius dan perlu mendapatkan perhatian dari orang-orang terbaik disekitarnya.
Pada stadium perilaku konsumtif yang supar (sudah parah), mahasiswa seringkali lupa diri sehingga bukannya sadar melainkan justru menuntut orang tua memberikan kiriman yang lebih banyak dan menjadikan uang kuliah menjadi uang jajannya. Pada kondisi tertentu mahasiswa dapat melakukan perbuatan kriminal dan diluar perhitungan diri sendiri karena ketidakmampuan mengendalikan perilaku belanjanya. Kondisi ini akan semakin parah manakala support teman (peer group) mengarah kepada hal-hal yang negatif (menguatkan perilaku konsumtif) dan orang tua tidak memberikan perhatian lebih banyak terhadap perilaku tersebut.
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk mengurangi perilaku konsumtif tersebut, antara lain: mengarahkan pikiran ke hal-hal yang produktif (wirausaha), mencari kelompok teman (peer group) yang mendukung kegiatan-kegiatan positif, khususnya peningkatan prestasi akademik, mengikuti kegiatan pengembangan minat dan bakat (kemahasiswaan), memberikan perhatian lebih tinggi terhadap kegiatan perkuliahan dan mengingat kembali tujuan dan target kuliah, khususnya dikaitkan dengan harapan keluarga. Berkumpul dengan teman-teman yang mengajak kepada kebaikan bukan hanya memberikan keuntungan sementara namun keuntungan jangaka panjang. Hal ini dikarenakan salah satu perubahan sikap seseorang dapat terjadi pada lingkungan yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar