![]() |
| Artikel :Adid.com |
Mungkin banyak diantara kita kurang
memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang
merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya,
namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Sehingga tidak
dapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari kalangan awwam,
seperti ucapan : “Wah udah ngerti agama kok kurang ajar sama orang tua.” Atau
ucapan : “Dia sih agamanya bagus tapi sama tetangga tidak pedulian.”, dan
lain-lain.
Seharusnya ucapan-ucapan seperti ini ataupun
yang semisal dengan ini menjadi cambuk bagi kita untuk mengoreksi diri dan
membenahi akhlak. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak, bahkan islam
mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti
islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan
perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid
merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok
inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia
adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik
akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk
berarti lemah tauhidnya.
RASUL DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN
AKHLAK
Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul
kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlak beliau
sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4. bahkan beliau shalallahu
‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk
menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus
(oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad, lihat Ash Shahihah
oleh Asy Syaikh al Bani no.45 dan beliau menshahihkannya).
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang
sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum
pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan
rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang
lebih wangi dari bau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh
tahun saya melayani rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya
dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau
mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman
seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik
akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan
751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash
radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah
yang terbaik akhlaknya.”
KEUTAMAAN AKHLAK
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan
bahwa suatu saat rashulullah pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling
banyak masuk syurga. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Taqwa
kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga
diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat Riyadus Sholihin no.627, tahqiq Rabbah dan
Daqqaq). Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahu ‘alahi wasallam
menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk
bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia
berkata bahwa rashulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Bertaqwalah
kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah
dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadits
hasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali).
Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat
tidak ada yang lebih berat dari pada aklak yang baik, sebagaimana sabda
rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesuatu yang paling berat dalam
mizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud
dan Ahmad, dishahihkan Al Bani. Lihat ash Shahihah Juz 2 hal 535). Juga sabda
beliau : “ Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan)
pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, dishahihkan al
Bani. Lihat Ash Shahihah juz 2 hal.535).
Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata :
Rashulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang
yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat
ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan.
Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Ash
shahihah Juz 2 hal 418-419).
Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami
bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah
sepantasnya setiap muslimah mengambilakhlak yang baik sebagai perhiasannya.
Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang
menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat
yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai
jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya. Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan
pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat
syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan
kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar