Mata Kuliah
Psikologi Keluarga
Oleh
Muhammad Hadidi
Fakultas Agama
Islam Universtas Muhammadiyah Malang
A. Proses Awal Pembentukan Rumah Tangga
Kencan dan memilih pasangan merupakan
prose/langkah awal dalam
pembentukan sebuah keluarga,
kencan dan pemilihan pasangan umunya
dimulai oleh hubungan pertemanan, yang
kadang kalah berlanjut menjadi persahabatan. Pertemanan dan persahabatan, maupaun
hubungan cinta memilikki tingkat kedalaman emosional yang berbeda satu sama
lain.
Meskipun tidak semua hubungan cinta
didahului dengan persahabatan, namun beberapa pasangan mengakui bahwa hubungan
cinta yang berakar dari persahabatan jauh lebih kuat dan memilikki pola
problem solving yang lebih baik ketika
mengalami konflik. Dan intimacy didefinisikan sebagai suatu hubungan dekat dan
persaan hangat yang dimilikki oleh seseorang terhadap orang tertentu lainya.
B. Persahabatan
dan Hubungan Cinta
Sahabat adalah teman diaman induvidu dapat
menjalin komunikasi yang lebih intensif baik dalam frekuensi maupun dalam isi
pembicaraan, dalam bentuk pertukaraan ide dan rasa percaya, permintaan nasehat,
kritik, dan sebagainya.
Tujuh Komponen dalam hubungan persahabatan menurut Davis dan Todd (dalam Olson & DeFrain, 2003) sebagai berikut :
1) Kesenangan
dan kenikmatan, terutama dalam menghabiskan waktu dan aktifitas bersama,
meskipun kadangkalah tetap muncul perselisihan dan maupun perbedaan pendapat.
2) Penerimaan
apa adanya, tampa keingin untuk saling mengubah
sikap dan perilaku maupun kebiasaan yang berbeda.
3) Kepercayaan,
terutama sahabat tidak akan meniggalkan
ataupun menghianati seburuka apapun kondisi yang dimilikki
4) Penghargaan
satu sama lain yang dilandasi, pemikiaran bahwa sahabat pasti memilikki
pertimbangan atas segalah sesuatu yang dipilih atau dilakukanya.
5) Saling
menolong setiap kali dibutuhkan
6) Saling berbagi rahasia, baik mengenai
pengalaman mauapun prasaaan
8) Pengertian
tentang nilai-nilai dan perinsip yang dianut satu sama lain.
C. Mengembangkan
Intimacy
Intimacy
adalah suatu hubungan yang dekat dan
perasaan yang hangat yang dimilikki seseorang terhadap orang lain.
Menurut Olson ada 8 langkah untuk membangun
dan mempertahankan Intimacy adalah
sebagai berikut :
a) Meningkatkan
keterampilan dan keterbukaan dalam berkomunikasi;
b) Meningkatkan
keterampiran dalam mengatasi konflik;
c) Meningkatkan relasi seksual; (Pasutri)
d) Meningkatkan fleksibelitas pasangan;
e) Menjaga kedekatan antara pasangan dengan tetap mempertahankan kemandirian masing-masing
f) Menjaga
kedekatan dan kemauan untuk memahami
serta menerima keperibadian pasangan yang munkin berbeda;
g) Menjaga
hubungan baik dari keluarga maupun dari
teman pasangan
h) Saling berbagi nilai speritual yang di anut.
D. Kriteria
Mencari Pasangan
Mencari
pasangan yang tepat adalah suatu langkah
penting yang sangat menentukan
keharmonisan sebuah keluarga. Menurut Olson dan DeFrain (2003) kriteria
memilih pasangan seperti : daya tarik fisik, kperibadian, usia, keberhasilan
hidup yang telah dicapai, serta latar belakang budaya yang dimilikki. Pada
beberapa faktor religiusitas juga sering dijadikan pertimbangan utama dalam
memilih pasangan hidup yang sesuai.
Selanjutnya
secara khusus ada 7 langkah yang dapat
ditempuh untuk menentukan pasanagan hidup, yaitu :
1) Menjalani beberapa waktu untuk benar-benar
mengenal calon pasangan, baik kondisi fisik, keperibadian maupun latar
belakangnya.
2) Memilih pasangan dengan penuh kesadaran dan
pertimbangan, tampa ada rasa terpaksa oleh siapapun.
3) Menghindari
harapan dan tuntutan yang berlebihan terhadap pasangan dan tetap memilikki
kesadaran bahwa manusia pasti memilikki kekuarangan dan kelebihan
masing-masing.
4) Meningkatkan
pemahaman tentang keperibadian, prilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang dimilikki
calon pasangan agar perbedaan yang ada tidak menimbulkan permasalahan
dikemudian hari. Penting juga dalam hal ini untuk mengetahui berbagai persoalan
yang munkin perna dialami oleh pasangan , serta memastikan apakah permasalahan
tersebut sudah terselesaikan secara
tuntas atau belum.
5) Mencoba
mengatasi beberapa kesulitan atau situasi-siatuasi tertentu yang tidak menyenagkan bersama pasangan, agar dapat
saling memahami bagaimana gaya
penyelesaian maslah satu sama lain.
6) Memilih pasangan dengan cita-cita tujuan hidup
yang sejalan, meskipun perbedaan dalam mencapainya tidak dapat dielakkan, dalam
hal ini menegosiasikan cara pencapain suatu hala akan lebih mudah untuk dilakuakan dibandingkan dengan berkompromi untuk
menyamakan tujuan dan prinsip hidup yang
dimilikki.
7) Mengutamakan
orang-orang yang komunikatif dan terbuka
dalam mengemukakan keinginan maupun dalam mendengarkan dan menerima pendapat.
langkah
selanjutnya, mereka akan menguji kesesuaian satu sama lain dan membangaun
hubung ayang lebih permanen dengan membandingkaan oriengtasi masing-masing
terhadap serangkain nilai hidupa serta peran –peran tertentu dlam hubungan yang
akan dibentuk.
E. Teori
Pemilihan Pasangan
1. Homogamy
Versus Complementary Vs Complemtary
Homogamy Versus Complementary adalah merupakan
kecenderungan untuk menikahi seseorang yang memilikki latar belakang, etnis,
tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi, agama meupun nilai-nilai yang di anut.(
Berdasrkan study Blackwell dan Lichter,
serta Xu Ji dan Tung dalan Olson dan DeFrain, 2003). VS
Namun teori ini mendapatkan tangagapan
dari Robet Winch (dalan Olson &
DeFrai, 2003) yang mengemukakan teori komplementer, yaitu bahwa ketertarikkan seseorang terhadap orang lain justru
didasarkan kepada perbedaan keperibadian
yang dimilikki, dengan pertimbangan bahwa dengan perbedaan tersebut
justru akan dapat saling mengisi satu sama lain.
2. The Filter Theory
2. The Filter Theory
Teori
ini menjelaskan adanya serangkain proses seleksi dan penyaringaan yanga kan
ditempu seseorang dalam memilih
pasanganhidup dari beberapa pasangan yang tersedia.
3. The
Stimulus- Value-Role Theory
Menurut Murstein (dalam
Olson & DeFrain, 2003) menjelaskan bahwa seseorang akan saling tertarik
dengan yang lain di dasarkan pada stimulus awal. Pada awal langkah
selanjutnya, mereka akan menguji kesesuain satu sama lain dan mebangun
hubungan yang lebih permanen, dengan membandingkan orientasi masing-masing
terhadap serangkain nilai hidup serta peran-peran tertentu dalam hubungan yang
akan di bentuk. Berdasarkan uraian tersebut
Murstein (dalam Olson & DeFrein, 2003) kemudian memperbaharui
teorinya dengan mengemukakan 3 komponen yang saling terkait dalam membangaun
sebuah komitmen antara pasangan, ketiga
komponen tersebuat adalah:
Ø Stimulus
Ø Volue
complementarity
Ø Role
complementarity
4. Reiss’s
Wheel Theory of Love
Teori ini dibangun oleh empat komponen utama yang mendasari
sebuah hubungan cinta yang dgambarkan dalam sebua bentuk roda, yaitu, rapport, self-
revelation, mutual depedency, dan intimacy need fulfillment.
v Rapport
adalah proses komunikasi yang dilakukan oleh dua orang untuk membangun
kedekatan dan kepercayaan satu sama
lain.
v Self-revelation
adalah keterbukaaan terhadap segala informasi yang bersifat personal
v Mutuan
dependency adalah hubungan yang erat yang terbangun dari proses kedua di atas
sehingga menumbuhkan keinginan dan kebutuhan
yang lebih tinggi terhadap yang lain.
Konflik dan kekerasan dalam berkencan dan
berumah tangga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya, perbedaan keperibadian yang tidak dapat di
jembatani, kecemburuan yang begitu besar terhadap pasangan, penggunaan olkohol
dan obat-obat terlarang, maslah uang, anak atau ketidak puasaan seksual.
F. Hidup
Melajang dan menjadi Orang Tua Tunggal
Hidup melajang dan orang tua tunggal saaat
ini sudah bukan menjadi fenomena yang asing atau bahakan di pandang sebagai
“cacat sosial,” tetapi telah menjadi pilihan peribadi bagi sebagian orang.
Beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya keputusan untuk melajang dan
menjadi orang tua tunggal adalah :
a) Semakin
tinggi tingkat pendidikan dan kebutuhan untuk mengejar karir, termasuk
didalamnya karena perubahan kultur masyarakat;
b) Adanya
ketidak setaraan kebutuhan terhadap
perkawinan anatara laki-laki dan prempuan dibeberpa kelompok masyarakat;
c) Peningkatan dalam kemandirian dan perubahan
gaya hidup prempuan yang tidak lagi
bergantung sepenuhnya kepada laki-laki
d) Turunya
rata-rata keinginan untuk menikah pada beberpa pasangan yang sudah bercerai.
Daftar Pustaka
Olson, D.H. and
DeFrain, J. (2003). Marriage and Families. Boston :McGraw-Hill Hurlock, E.B.
(1980).
Psikologi Pekembangan, Pendekatan Sepanjang
Rentang Hidup.
Jakarta : Penerbit Erlangga.
e-Konsel. (2002).
Singeliness. Mailing Lis Publikasi Elektronik Pelayanan Konsling, 1 November
2002.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar