20 Desember 2012

Kencan dan Memilih Pasangan

Mata Kuliah Psikologi Keluarga
Oleh
Muhammad Hadidi
Fakultas Agama Islam Universtas Muhammadiyah Malang

Cari Pasangan Berawal Dari Persahabat karena Diyakini Akan Lebih Bahagia
A.    Proses  Awal Pembentukan Rumah  Tangga
    Kencan  dan  memilih pasangan  merupakan  prose/langkah awal dalam  pembentukan  sebuah keluarga, kencan dan pemilihan  pasangan umunya dimulai  oleh hubungan pertemanan, yang kadang kalah berlanjut menjadi persahabatan. Pertemanan dan persahabatan, maupaun hubungan cinta memilikki tingkat kedalaman emosional yang berbeda satu sama lain.
   Meskipun tidak semua hubungan cinta didahului dengan persahabatan, namun beberapa pasangan mengakui bahwa hubungan cinta yang berakar dari persahabatan jauh lebih kuat dan memilikki pola problem  solving yang lebih baik ketika mengalami konflik. Dan intimacy didefinisikan sebagai suatu hubungan dekat dan persaan hangat yang dimilikki oleh seseorang terhadap orang tertentu lainya.

B.     Persahabatan dan Hubungan Cinta
   Sahabat adalah teman diaman induvidu dapat menjalin komunikasi yang lebih intensif baik dalam frekuensi maupun dalam isi pembicaraan, dalam bentuk pertukaraan ide dan rasa percaya, permintaan nasehat, kritik, dan sebagainya.
  
  Tujuh Komponen dalam hubungan persahabatan menurut Davis dan Todd (dalam Olson & DeFrain, 2003) sebagai berikut :
1) Kesenangan dan kenikmatan, terutama dalam menghabiskan waktu dan aktifitas bersama, meskipun kadangkalah tetap muncul perselisihan dan maupun perbedaan pendapat.
2)      Penerimaan apa adanya, tampa keingin untuk saling mengubah  sikap dan perilaku maupun kebiasaan yang berbeda.
3)      Kepercayaan, terutama sahabat  tidak akan meniggalkan ataupun menghianati seburuka apapun kondisi yang dimilikki
4)      Penghargaan satu sama lain yang dilandasi, pemikiaran bahwa sahabat pasti memilikki pertimbangan atas segalah sesuatu yang dipilih atau dilakukanya.
5)  Saling menolong setiap kali dibutuhkan

6) Saling berbagi rahasia, baik mengenai pengalaman  mauapun prasaaan
8)   Pengertian tentang nilai-nilai dan perinsip yang dianut satu sama lain.

C.     Mengembangkan Intimacy

Intimacy adalah  suatu hubungan yang dekat dan perasaan yang hangat yang dimilikki seseorang terhadap orang lain.
 Menurut Olson ada 8 langkah untuk membangun dan mempertahankan  Intimacy adalah sebagai berikut :
a)      Meningkatkan keterampilan dan keterbukaan dalam berkomunikasi;
b)      Meningkatkan keterampiran dalam mengatasi konflik;
c)       Meningkatkan relasi seksual; (Pasutri)
d)      Meningkatkan fleksibelitas pasangan;
e)       Menjaga kedekatan antara pasangan  dengan tetap mempertahankan kemandirian masing-masing
f)       Menjaga kedekatan dan kemauan  untuk memahami serta menerima keperibadian pasangan yang munkin berbeda;
g)      Menjaga hubungan  baik dari keluarga maupun dari teman pasangan
h)       Saling berbagi nilai speritual yang di anut.

D.    Kriteria Mencari Pasangan
Mencari pasangan yang tepat adalah suatu langkah  penting yang sangat menentukan  keharmonisan sebuah keluarga. Menurut Olson dan DeFrain (2003) kriteria memilih pasangan seperti : daya tarik fisik, kperibadian, usia, keberhasilan hidup yang telah dicapai, serta latar belakang budaya yang dimilikki. Pada beberapa faktor religiusitas juga sering dijadikan pertimbangan utama dalam memilih pasangan hidup yang sesuai.
Selanjutnya secara khusus ada 7 langkah  yang dapat ditempuh untuk menentukan pasanagan hidup, yaitu :
1)       Menjalani beberapa waktu untuk benar-benar mengenal calon pasangan, baik kondisi fisik, keperibadian maupun latar belakangnya.
2)        Memilih pasangan dengan penuh kesadaran dan pertimbangan, tampa ada rasa terpaksa oleh siapapun.
3)      Menghindari harapan dan tuntutan yang berlebihan terhadap pasangan dan tetap memilikki kesadaran bahwa manusia pasti memilikki kekuarangan dan kelebihan masing-masing.
4)      Meningkatkan pemahaman tentang keperibadian, prilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang dimilikki calon pasangan agar perbedaan yang ada tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Penting juga dalam hal ini untuk mengetahui berbagai persoalan yang munkin perna dialami oleh pasangan , serta memastikan apakah permasalahan tersebut sudah terselesaikan  secara tuntas atau belum.
5)      Mencoba mengatasi beberapa kesulitan atau situasi-siatuasi tertentu yang tidak  menyenagkan bersama pasangan, agar dapat saling memahami bagaimana   gaya penyelesaian  maslah satu sama lain.
6)       Memilih pasangan dengan cita-cita tujuan hidup yang sejalan, meskipun perbedaan dalam mencapainya tidak dapat dielakkan, dalam hal ini menegosiasikan cara pencapain suatu hala akan lebih mudah untuk dilakuakan  dibandingkan dengan berkompromi untuk menyamakan  tujuan dan prinsip hidup yang dimilikki.
7)      Mengutamakan orang-orang yang komunikatif  dan terbuka dalam mengemukakan keinginan maupun dalam mendengarkan  dan menerima pendapat.



langkah selanjutnya, mereka akan menguji kesesuaian satu sama lain dan membangaun hubung ayang lebih permanen dengan membandingkaan oriengtasi masing-masing terhadap serangkain nilai hidupa serta peran –peran tertentu dlam hubungan yang akan dibentuk.
E.     Teori Pemilihan Pasangan
1.      Homogamy Versus Complementary Vs  Complemtary
 Homogamy Versus Complementary adalah merupakan kecenderungan untuk menikahi seseorang yang memilikki latar belakang, etnis, tingkat pendidikan, status sosial, ekonomi, agama meupun nilai-nilai yang di anut.( Berdasrkan study  Blackwell dan Lichter, serta Xu Ji dan Tung dalan Olson dan DeFrain, 2003). VS
 Namun teori ini mendapatkan tangagapan dari  Robet Winch (dalan Olson & DeFrai, 2003) yang mengemukakan teori komplementer, yaitu bahwa ketertarikkan  seseorang terhadap orang lain justru didasarkan kepada perbedaan keperibadian  yang dimilikki, dengan pertimbangan bahwa dengan perbedaan tersebut justru akan dapat saling mengisi satu sama lain. 
2.      The Filter Theory
  Teori ini menjelaskan adanya serangkain proses seleksi dan penyaringaan yanga kan ditempu seseorang  dalam memilih pasanganhidup dari beberapa pasangan yang tersedia.
3.      The Stimulus- Value-Role Theory
Menurut Murstein (dalam Olson & DeFrain, 2003) menjelaskan bahwa seseorang akan saling tertarik dengan yang lain di dasarkan pada stimulus awal. Pada awal langkah selanjutnya, mereka akan menguji kesesuain satu sama lain dan mebangun hubungan yang lebih permanen, dengan membandingkan orientasi masing-masing terhadap serangkain nilai hidup serta peran-peran tertentu dalam hubungan yang akan di bentuk. Berdasarkan uraian tersebut  Murstein (dalam Olson & DeFrein, 2003) kemudian memperbaharui teorinya dengan mengemukakan 3 komponen yang saling terkait dalam membangaun sebuah komitmen  antara pasangan, ketiga komponen tersebuat adalah:
Ø  Stimulus
Ø  Volue complementarity
Ø  Role complementarity


4.      Reiss’s Wheel Theory of Love
Teori ini dibangun  oleh empat komponen utama yang mendasari sebuah hubungan cinta yang dgambarkan dalam sebua bentuk roda, yaitu, rapport, self- revelation, mutual depedency, dan intimacy need fulfillment.

v  Rapport adalah proses komunikasi yang dilakukan oleh dua orang untuk membangun kedekatan dan kepercayaan  satu sama lain.
v  Self-revelation adalah keterbukaaan terhadap segala informasi yang bersifat personal
v  Mutuan dependency adalah hubungan yang erat yang terbangun dari proses kedua di atas sehingga menumbuhkan keinginan dan kebutuhan  yang lebih tinggi terhadap yang lain.


    Konflik dan kekerasan dalam berkencan dan berumah tangga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya,  perbedaan keperibadian yang tidak dapat di jembatani, kecemburuan yang begitu besar terhadap pasangan, penggunaan olkohol dan obat-obat terlarang, maslah uang, anak atau ketidak puasaan seksual.

F.      Hidup Melajang dan menjadi Orang Tua Tunggal
     Hidup melajang dan orang tua tunggal saaat ini sudah bukan menjadi fenomena yang asing atau bahakan di pandang sebagai “cacat sosial,” tetapi telah menjadi pilihan peribadi bagi sebagian orang.
 Beberapa faktor yang mempengaruhi  meningkatnya keputusan untuk melajang dan menjadi orang tua tunggal adalah :
a)      Semakin tinggi tingkat pendidikan dan kebutuhan untuk mengejar karir, termasuk didalamnya karena perubahan kultur masyarakat;
b)      Adanya ketidak setaraan kebutuhan  terhadap perkawinan anatara laki-laki dan prempuan dibeberpa kelompok masyarakat;
c)       Peningkatan dalam kemandirian dan perubahan gaya hidup prempuan  yang tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada laki-laki
d)     Turunya rata-rata keinginan untuk menikah pada beberpa pasangan yang sudah bercerai.



Daftar Pustaka

Olson, D.H. and DeFrain, J. (2003). Marriage and Families. Boston :McGraw-Hill Hurlock, E.B. (1980).
 Psikologi Pekembangan, Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup.
Jakarta :  Penerbit Erlangga.
e-Konsel. (2002). Singeliness. Mailing Lis Publikasi Elektronik Pelayanan Konsling, 1 November 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar